Layang-layang, Domba, dan Kita

SEMALAM Ara kembali bertanya kenapa kamu belum juga pulang. Kukatakan padanya: ayahmu sedang mencari layang-layang yang pernah diterbangkannya dulu. Tentu saja ia tak percaya. Tapi aku tak sepenuhnya membual. Kamu memang sedang mencari layang-layang yang pernah kamu terbangkan dulu. Layang-layang itu, perempuan itu, adalah sesuatu dari masa lalumu, cinta pertamamu. Aku bisa menjadi maklum ketika kamu memutuskan untuk mencarinya. Cinta pertama memang selalu egois dan sok berkuasa. Kenangan-kenangan tentangnya seringkali muncul mengganggu kehidupan yang sedang kita jalani. Melupakan sepenuhnya kenangan-kenangan itu tidaklah mudah, apalagi jika hampir tak ada yang perlu dilupakan. Dan ketika kamu berkata ingin berpisah denganku lalu mencarinya, aku merasa tak punya kekuatan dan alasan yang cukup untuk menahanmu: Pergilah! Aku tak apa-apa. Sudah sembilan bulan. Mungkin kamu sudah menemukannya. Mungkin kamu telah menjadi benang bagi layang-layangmu itu, mengikatnya, terbang bersamanya. Sedangkan aku, masih bersama Via. Aku masih enggan mencari benang. Aku belum mau terikat lagi.

Via kadang-kadang main ke rumah. Dua-tiga kali sebulan. Beberapa kali ia menanyakanmu. Katanya ia kangen padamu. Tentu saja ia bercanda. Ia tahu kamu tak menyukainya, bahkan mungkin membencinya. Kamu menyebutnya orang keempat, satu dari dua alasan kenapa kita berpisah. Alasan lainnya tentu saja si orang ketiga, perempuan dari masa lalumu itu. Aku paham. Aku paham. Tak perlu menjelaskan betapa ia begitu berarti bagimu. Setelah delapan tahun tak ada kabar, tiba-tiba ia menghubungimu dan menceritakan rumah tangganya yang gagal. Ia ingin bercerai dengan suaminya, dan ingin kembali padamu. Ia kabur meninggalkan suami dan anaknya, dan ia ingin kamu mencarinya di suatu tempat di Bogor. Rumit dan tak masuk akal. Setidaknya bagiku. Jika memang ia ingin bertemu denganmu, kenapa tak menentukan tempat saja untuk bertemu? Bogor itu luas. Kamu tahu itu. Tapi kamu tetap melakukannya. Kamu telah memilihnya. Dan aku, mau tak mau, harus merelakanmu untuknya. Sebagai gantinya, kamu pun merelakanku untuk Via. Barangkali ini yang dinamakan cinta segiempat. Segiempat tak beraturan.

Terakhir kali Via main ke rumah adalah sepuluh hari yang lalu. Ia terlihat… gemuk. Pipinya bulat. Matanya yang pipih semakin pipih saja. Perceraian sepertinya memberi dampak positif baginya. “Aku berpisah dengannya dan aku memilihmu.” Haha… dasar. Coba kalau anak-anaknya tahu hal ini, bisa-bisa mereka membencinya. “Yang penting kamu tak membenciku.” Haha… perempuan ini lebih gombal daripada kamu, Ned. Aku ingin tahu apakah ia juga segombal ini kepada mantan suaminya dulu. “Aku bawa sesuatu.” Apa? Oh… ia membawa mangga muda. “Pemberian dari Bu Irma.” Bu Irma? Aha… ia pasti mencurinya. Seingatku Bu Irma, tetangganya itu, sangat pelit. Dan Via tak pernah bisa akur dengannya. Dasar. Sudah lesbi, gombal, pencuri lagi. “Aku bukan lesbi.” Terus apa? “Biseks.” Hahaha… Sinting! “Kamu juga biseks.” Hahaha…

Kami pun menyantap mangga muda itu di teras belakang. Via yang membuat sambal, dan pedasnya luar biasa. Aku serius. Jika kamu mencobanya, aku bertaruh satu teko air putih akan habis kamu minum. Via terbahak-bahak melihatku kepedasan. Aku pastinya mirip anjing saat itu. Lidahku menjulur-julur. Gelas demi gelas air kuminum, tapi lidahku masih saja menjulur-julur. Hanya sepersekian detik sampai aku menyadari bibirnya menyentuh bibirku. Perlahan-lahan rasa pedas itu lenyap. Kamu tahu, Ned, bibirnya manis seperti permen. Hihihi…

Sudah sembilan bulan. Sudah sembilan bulan sejak kita memutuskan untuk berpisah. Aku masih istrimu. Kamu masih suamiku. Kita sepakat untuk berpisah tanpa bercerai. Ara butuh seorang ayah. Saat mendaftarkannya ke SD di dekat rumah enam bulan lalu, aku menuliskan namamu di formulirnya. Kamu orangtuanya. Meski kamu sudah tak lagi tinggal bersamanya, kamu tetap ayahnya. Aku harap kamu tak mengingkari kesepakatan kita. Setiap tanggal muda aku selalu mengecek uang di rekening. Aku senang kamu masih mengirim sebagian gajimu untuk kami. Setidaknya, kamu memenuhi kewajibanmu secara finansial. Membesarkan Ara seorang diri bukan hal mudah.

Kadang aku bertanya-tanya apa yang sedang kamu lakukan saat ini. Setiap bulan aku mengirimu surat—kukirimkan ke alamat yang kamu berikan padaku di hari kita berpisah—tapi kamu tak pernah membalas suratku. Apakah surat-suratku itu sampai di tanganmu? Apakah kamu membacanya? Aku harap kamu ingat, bahwa saling mengirim surat adalah satu dari beberapa poin kesepakatan kita.

Harus kuakui, Ned, sejak kamu pergi, banyak waktuku yang terasa kosong. Bangun di pagi hari, tak ada tangan-tanganmu yang memelukku, tak ada bau tubuhmu yang biasanya kucium. Kadang aku menukar bantalku dengan bantalmu dan hidungku berusaha mencari-cari baumu. Tak begitu sia-sia. Sedikit baumu masih ada di bantal itu. (Bantal itu tak pernah lagi kucuci.) Namun sekedar bau tak pernah bisa menggantikan dirimu. Juga bayanganmu, yang sesekali muncul saat aku bercermin—memelukku dari belakang, tak pernah bisa menggantikan kehadiranmu. Sempat terbersit niat untuk meneleponmu, atau sekadar mengirimimu pesan singkat. Namun setelah kupikir-pikir, aku lebih baik tak melakukannya. Aku tak mau mengganggumu. Aku tak mau merusak kehidupanmu lagi. Satu kesalahan sudah cukup.

Hari mulai gelap dan adzan magrib terdengar. Aku melajukan mobil lumayan cepat, sebab aku ingin segera tiba di rumah. Aku khawatir pada Ara. Beberapa hari ini nafsu makannya hilang. Aku bahkan harus menyuapinya. Dan itu pun tak selalu berhasil. Entah apakah ia sakit. Ia juga mengaku sulit buang air besar. Aku belum sempat memeriksakannya ke dokter. Kerjaanku sedang banyak. Yossi, salah satu klienku saat ini, tengah mengalami depresi yang hebat. Ia jatuh cinta pada adik kandungnya sendiri, padahal adik kandungnya itu akan segera menikah, dan ia sendiri bersuami. Ia mengaku beberapa kali memimpikan adik kandungnya itu sehabis bersetubuh dengan suaminya. Rumit. Dan semakin rumit saja ketika adik kandungnya itu merespons ketertarikannya. Kata Yossi, adik kandungnya pernah mengajaknya bersetubuh.

Ah, paling-paling kamu akan berkata, “Suruh saja dia jujur. Biar plong.” Kamu memang menyukai kejujuran, dan selalu berusaha untuk jujur, termasuk ketika kamu menunjukkan foto perempuan itu padaku, menceritakan beberapa malam yang pernah kalian lalui bersama, dan mengakui bahwa kamu masih mencintainya. Jadi selama hampir enam tahun kita menikah, perempuan itu masih ada di hatimu? Ah, biarlah. Itu sudah terjadi. Kamu sudah memilih. Aku sudah rela tak kamu pilih.

Rumah Sakit Cimacan baru saja kulewati. Kuputar setir ke kanan. Tiga menit lagi aku akan tiba di rumah. Aku harap Ara baik-baik saja. Aku harap Beni mengasuhnya dengan baik. Oh ya, kamu mungkin belum tahu. Beni adalah pembantu baru di rumah. Baru seminggu ini ia bekerja. Lifa telah kupecat. Aku kasihan padanya. Lifa sesungguhnya tak bersalah. Jika ada yang bersalah, itu adalah aku. Namun aku memecatnya demi kebaikannya sendiri, juga demi Ara. Beni laki-laki. Kesalahan yang sama tak akan terulang. Selain itu, Beni bisa menerbangkan layang-layang. Ia bisa mengajari Ara menerbangkan layang-layang. Satu hal yang tak sempat kamu lakukan.

 
HARI sudah malam tapi Ara bersikeras ingin memainkan layang-layang di halaman depan. Kukatakan padanya bahwa hanya orang gila yang bermain layang-layang di malam hari, t.api ia mengaku tak keberatan disebut orang gila. Ia ingin menerbangkan layang-layang itu, saat ini juga. Disembunyikannya layang-layang itu di belakang tubuhnya. Layang-layang itu, Ned, adalah yang kamu belikan dulu untuknya. Kuharap kamu masih ingat, dulu kita membelinya bertiga di warung yang jaraknya sekitar empat ratus meter dari rumah. Kita bertiga berjalan ke sana, berpegangan tangan. Hari begitu cerah. Agak redup. Sesuatu yang menyenangkan untuk diingat. Ah.. Ara membuka pintu dan berlari keluar. Dasar anak itu. Mau tak mau aku harus keluar juga.

“Tadi Beni menunjukkan padaku bagaimana caranya.” Anak itu tampak bersemangat. Beberapa kali ia tersenyum. Terlihat percaya diri. Barangkali dalam beberapa hari ini Beni memang mengajarinya menerbangkan layang-layang. Sekali-kali aku pun ingin memintanya mengajariku. Aku juga ingin bisa menerbangkan layang-layang. “Lihat baik-baik ya, Ma! Jangan berkedip!” Anak itu seperti kamu, Ned. Aku ingat di suatu hari Sabtu, kamu menerbangkan layang-layang itu di sini—tentunya bukan malam—sedangkan aku dan Ara berada di belakangmu sambil terus mengoceh, mirip supporter sepakbola di stadion. Ekspresi kamu saat itu mirip ekspresinya saat ini. “Argh.. kenapa ini?!” Hahaha… Ia mulai kesal, Ned. Layang-layang itu tak juga terbang. Mungkin tak ada cukup angin. Ekspresi penuh percaya dirinya mulai berganti jadi kekecewaan. Tapi ia tetap lucu. Anak kita selalu lucu.

Tiba-tiba saja hujan. Tak ada angin, tak ada petir, tiba-tiba saja hujan. Ups… maaf, bicaraku ngawur. Aku segera menuntun Ara ke rumah. Di dalam rumah, Ara terus menggerutu karena dua hal. Pertama, ia gagal menerbangkan layang-layang itu. Kedua, layang-layang itu basah kuyup. Masih untung tidak sobek, kataku. Ia berhenti menggerutu, namun kini memberengut. Kami duduk di sofa, berdua, menatap keluar. Tak ada siapa-siapa di luar. Hanya beberapa ekor domba. Tujuh. Eh, delapan. Domba-domba itu akan dipotong di Hari Raya Kurban nanti.

“Domba-domba itu diadu lagi tadi.” Benarkah? “Iya. Kasihan.” Ara memang anakmu, Ned. Kamu penyayang binatang, Ara juga. Memang sedikit mengerikan melihat domba-domba itu diadu. Aku melihatnya hari Minggu kemarin. Dua ekor domba dipisahkan dari yang lainnya, lalu diadu. Ada bunyi keras dan padat saat tanduk mereka bertemu. Aku memalingkan muka. Ngeri. Seandainya Nabi Sulaiman menyaksikannya pastilah ia bisa mendengar apa yang dikatakan domba-domba itu. Mungkin, mereka merasakan sakit. Mungkin, mereka menangis. Ugh, kasihan.

Tapi ada satu hal yang selalu membuatku tertawa. Domba-domba yang sedang diadu itu terkadang berusaha menunggangi lawannya. Meski dari jauh, aku bisa melihat alat kelaminnya memanjang. Mungkin dia mengira lawannya itu betina. Hahaha… Dasar bodoh. Dasar hewan. Punya otak tapi tak punya akal. “Kalau manusia, Ma?” Kalau manusia, selain punya otak, juga punya akal. “Apa itu benar?” Iya. Tentu saja benar. Memangnya kenapa? Ara seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi tak jadi. Kata-kata yang telah disiapkannya di ujung lidahnya seakan-akan kembali tertelan. Kamu mau bilang apa? tanyaku. “Nggak ada,” jawabnya. Kedua matanya masih memandangi domba-domba itu.

Aku jadi penasaran. Anak kita tak pernah seperti ini sebelumnya. Tak biasanya ia menyembunyikan sesuatu dariku. Meskipun tadi ia mengaku tak ada yang ingin ia katakan, tapi dari ekspresi wajahnya, jelas sekali ia gelisah. Ia sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Entah apa. “Aduuh…” katanya tiba-tiba. Ada apa? tanyaku. Tangan kiri Ara kini menyentuh celah di antara pantatnya. Aku heran. Kenapa? tanyaku lagi. “Sakit,” katanya. Apanya yang sakit? “Ini,” tangan kirinya masih di sana. “Aduuh…” katanya lagi.

Lalu tiba-tiba semua menjadi jelas. Domba, pertanyaannya tadi, ekspresi gelisah di wajahnya, dan sumber rasa sakit yang ditunjukkan tangannya. Sesuatu telah terjadi padanya. Sesuatu yang buruk. Siapa yang berani melakukannya? Ah, Beni. Mungkin Beni yang melakukannya. Ketika kutanyakan itu pada Ara, setelah beberapa kali menyangkal, akhirnya ia mengakuinya. Beni telah melakukan anal seks terhadap anak kita! Kamu dengar itu, Ned? Kamu dengar itu? Ah, mungkin tidak. Mungkin saat ini kamu sedang bersama perempuan itu, di suatu tempat, dan entah melakukan apa.

 
ARA sakit, Ned. Dia demam. Katanya seharian di sekolah dia berdiri menghormat tiang bendera. Dia dihukum Wali Kelasnya karena tak bisa diam di kelas. Pantatnya sakit, dan dia tak bisa duduk lama-lama. Besok akan kubawa dia ke dokter.

Soal Beni, aku telah memecatnya tadi. Kurang ajar dia! Bisa-bisanya melakukan hal itu terhadap anak kita. Aku memarahinya habis-habisan, tapi sia-sia. Dia tak merasa bersalah. Bahkan dia malah meminta gaji sembilan hari bekerja. Goblok! Mana mungkin aku memberinya uang, sedangkan dia melakukan sesuatu yang tak semestinya kepada anak kita? Masih untung aku tak melaporkannya ke polisi. Masih untung aku tak menyebarkan aib ini ke tetangga. Namun dia begitu pongah di hadapanku, seolah-olah ingin menegaskan bahwa dia lebih besar dariku, bahwa dia laki-laki dan aku perempuan. Kukatakan padanya—sambil mengarahkan pisau—bahwa perempuan seperti aku pun bisa membunuh lelaki sepertinya. Serius. Aku bisa saja membunuhnya. Tapi aku menahan diri. Dia pergi dengan menggerutu.

Ara mengigau di tempat tidurnya. Aku terus mengompresnya. Aku jadi sedikit menyesal telah memecat Lifa. Tidak seperti Beni, Lifa tak mungkin melakukannya. Tak bisa. Lagipula sebenarnya, Lifa orang yang cukup menyenangkan. Ia memang tak bisa menerbangkan layang-layang, dan karenanya tak bisa mengajari Ara menerbangkan layang-layang, tapi ia sering mengajak Ara menangkap udang di sungai. Kamu ingat, Ned, tak jauh dari rumah ada sebuah tempat yang sering dipakai untuk lokasi syuting. Di tempat itu ada sungai yang airnya jernih dan arusnya lambat. Di sanalah mereka menangkapnya. Sekali waktu aku pun ikut menangkap udang-udang itu. Tak mudah, tapi menyenangkan. Aku pernah tergelincir dan jatuh. Aku kuyup. Lifa malah tertawa. Aku menarik tangannya dan ia pun terjatuh, kuyup sepertiku. Kami terlalu asyik berdua. Ara melihat kami dengan tatapan aneh, dan penuh tanya.

Satu-satunya alasan aku memecat Lifa adalah karena aku menyukainya, dan kami pernah sama-sama telanjang saat Ara tiba-tiba muncul—ia baru pulang sekolah saat itu. Aku diam. Terkejut. Diam. Hingga petang aku mengunci diri di kamar. Ya ya ya… aku tahu. Perempuan menyukai perempuan. Mungkin itu alasan ketiga mengapa kita berpisah. Kamu tak bisa menerimanya. Aku tak bisa menerima sikapmu yang menghakimiku. Kamu pikir para koruptor lebih baik daripada aku? Kamu pikir orang-orang yang mengaku beragama tapi membunuh orang lain lebih baik daripada aku? Biar Tuhan yang menentukannya, Ned. Kamu bukan Tuhan. Aku bukan Tuhan. Kita tak perlu menjadi Tuhan. Tak perlu mendahului-Nya menghakimi orang.

Ara mengigau lagi, Ned. Ia ingin bermain layang-layang. (*)

Bogor, Februari 2011

  
*) Cerpen ini termaktub dalam kumpulan cerpen saya yang terbit tahun 2011, Pendamping.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s