Alea

IA menaruh kardus berisi buku-buku itu di kamarku, di samping lemari. Katanya ia akan menitipkannya beberapa lama. Sampai kapan?. “Belum tahu.” Ia tak banyak bicara malam itu. Tak biasanya. Bahkan sekiranya aku tak melewatkan satu momen pun sejak kedatangannya, ia sama sekali tak tersenyum. Wajah ovalnya kini tersembunyi di balik helm berwarna hitam. Aku tak lagi bisa melihat bibir merahnya yang kusukai.

“Tolong jaga buku-buku ini.” Siap. “Jangan sampai kena air.” Kamarku tak bocor. “Jangan sampai jadi sarang kecoa atau laba-laba.” Tenang saja, nanti akan kususun di meja belajar. Kedua tangannya memegang stang. Mesin motornya menyala. Hati-hati, kataku. Ia hanya menoleh sebentar lalu melaju. Aku masih berdiri di depan pagar hingga ia benar-benar lenyap di tikungan. Dingin. Malam sudah sangat sunyi. Jarum jam di tanganku menunjuk angka dua dan tiga.

Tiba di kamar aku langsung menutup pintu dan menguncinya. Lampu neon kumatikan, kuganti dengan lampu warna hijau yang kutempel di stop kontak. Kini kamar jadi redup, namun masih ada cukup cahaya untuk membaca. Tapi aku bukan akan membaca. Aku hanya ingin memastikan buku-buku apa saja yang dititipkannya itu.

Kubuka kardus itu. Kulihat-lihat isinya. Novel, cerpen, puisi, esai. Macam-macam. Sastra, sejarah, filsafat, agama, politik. Macam-macam. Seleranya belum berubah. Ia masih orang yang sama.

Minat Alea dalam membaca membuatku kagum. Aku sendiri tak suka membaca. Berani bertaruh, satu novel dalam kardus ini pun tak akan habis aku baca. Aku cepat bosan orangnya. Membaca hanya kulakukan jika ada tugas kuliah atau sudah dekat-dekat ke ujian. Itu pun sambil menyiksa diri: merendam kaki telanjang di air hangat. Kalau tidak begitu, huruf-huruf di depanku akan bersegera merapatkan diri, menyatu. Baris menjadi garis. Tebal. Apa yang tertulis di kertas itu seperti mantra yang membuatku mengantuk.

Ini ketujuh kalinya ia menitipkan buku-bukunya padaku. Ibunya mungkin akan datang dalam beberapa hari, dan ia pastinya tak akan tahan mendengar ibunya mengoceh ini-itu. Dan ocehan itu bisa berubah jadi kutukan seandainya ibunya tahu bahwa ia banyak membaca buku yang tak ada hubungannya dengan perkuliahannya. Ia anak Matematika. Sudah bertahun-tahun ia menyembunyikan buku-buku itu dari ibunya. Sudah satu tahun ia terlambat menjadi sarjana.

Di meja belajarku kebetulan tak banyak buku. Buku-buku tentang Ilmu Komputer sengaja kusimpan di dalam lemari, paling bawah, biar meja belajar tak terkesan penuh. Sebab penuh berarti sesak. Dan sesak berarti sempit. Aku menyukai sesuatu yang luas, atau terkesan luas. Tapi mau tak mau, buku-buku dalam kardus ini harus kususun di rak meja belajar. Mungkin rak paling atas dan satu rak di bawahnya cukup untuk menampung semuanya. Meja belajar pasti akan terlihat penuh dan sesak. Tapi bagiku, itu masih lebih baik ketimbang membiarkan sebuah kardus berada di dekat lemari. Tak enak dilihat. Lagipula, aku tadi sudah berkata akan menyusunnya.

Aku menguap. Kelopak mataku kembali berat. Aku baru ingat kalau hari ini ada janji bertemu dosen pukul delapan. Kuputuskan untuk menyusun buku-buku itu sepulangnya konsultasi saja.

 
PERTAMA kali aku bertemu Alea adalah tujuh atau delapan tahun lalu, di tahun pertamaku di SMA. Saat itu kami satu kelas dan satu meja. Awalnya aku tak begitu akrab dengannya sebab ia orangnya pendiam, seolah-olah lidahnya diprogram untuk mengatakan hal-hal yang penting saja. Basa-basi tak pernah dilakukannya. Ia pun selalu memasang tampang curiga, seperti seorang buronan yang menganggap setiap orang di sekitarnya adalah mata-mata. Aku kadang tak nyaman dengan caranya menatapku. Aku bahkan sempat berpikir untuk pindah ke kursi di meja lain, bertukar tempat dengan seseorang. (Di kelas kami waktu itu ada beberapa orang—lelaki—yang menurutku sangat mau satu meja dengannya. Kuakui, ia memang cantik.) Tapi niat itu kubatalkan, gara-gara suatu hari aku melihatnya meneteskan air mata begitu saja. Tak ada isak tangis. Tak tergambar kesedihan di wajahnya. Hanya air mata yang menetes. Pelan.

Mungkin sudah jadi sifatku sejak kecil, melihat seseorang di dekatku meneteskan air mata membuatku gelisah. Aku selalu ingin tahu apa yang membuat air mata orang itu menetes. Apalagi orang itu perempuan. Aku pun mulai menanyainya macam-macam, mendesaknya, memaksanya menceritakan masalahnya padaku. Ia menatapku tajam. Kukira ia akan kesal dan menyuruhku untuk tak ikut campur dalam urusan pribadinya. Tapi aku salah. Meski terkesan tak bersahabat dan penyendiri, sesungguhnya ia membutuhkan perhatian dari orang lain. Saat itu untuk pertama kalinya aku mendengar ia bicara panjang lebar.

Ia mengaku anak tunggal, dan ibunya seorang pengatur. Setiap malam ia wajib diam di kamarnya, belajar. Pulang sekolah ia sudah dititipkan ibunya ke berbagai tempat les. Tak tanggung-tanggung. Mulai dari vokal, biola, bahasa Inggris, Mandarin, semua diambilnya. Ia hampir-hampir tak punya waktu untuk beristirahat. “Hari Minggu pun kadang ada kegiatan,” katanya. Kalau memang terlalu padat, kenapa tidak dikurangi saja? tanyaku. Ia menjawab, “Bukan aku yang menentukan, tapi Ibu.” Kamu tak mencoba protes? “Kalau protesku ada gunanya, aku tak akan ada di sini sekarang.” Lalu di mana? “Entahlah. Yang pasti jauh darinya.”

Aku masih ingin mendengar kisah hidupnya, tapi bel tanda berakhirnya jam istirahat sudah berbunyi. Aku pun memintanya untuk melanjutkan ceritanya sepulang sekolah, tapi ia menggeleng. “Hari ini aku ada les Mandarin,” katanya. Bolos saja sekali-kali, kataku, bercanda. Tapi ia menanggapinya dengan serius, “Ibu akan tahu kalau aku bolos, dan ia akan semakin mengekangku. Ia seperti menempatkan mata-mata di setiap tempat.” Apa pekerjaan ibumu, kalau boleh tahu? “Arsitek.” Apakah ia orang yang sibuk? “Sangat.” Kalau ayahmu? “Aku tak punya ayah.” Oh.. tiba-tiba aku menyesal telah menanyakannya. Guru Biologi masuk. Pelajaran dimulai.

Sejak saat itu kami mulai dekat, mulai akrab. Aku lebih banyak mendengarkan, ia lebih banyak bercerita. Suatu hari ia pernah bilang, “Seandainya saja aku dilahirkan dari rahim perempuan lain.” Aku langsung menegurnya. Jangan berkata seperti itu. Bagaimanapun dia adalah ibumu, kataku. Seandainya pun kamu dilahirkan dari rahim perempuan lain, belum tentu kamu bahagia, lanjutku.

Gara-gara aku menasehatinya ia mendiamkanku hingga bel pulang berbunyi hari itu. Besoknya ia masih mendiamkanku. Baru pada hari ketiga ia mulai bicara lagi denganku, dan yang pertama kali diucapkannya adalah, “Bawa aku kabur!” Aku diam, tak mengerti. Kabur? Ke mana? “Ke mana saja. Yang penting jauh dari kota ini.” Ia sepertinya sangat tertekan. Aku mulai khawatir. Apa yang terjadi? tanyaku. Beberapa saat ia diam, lalu berkata, “Aku memukul Ibu hingga pingsan.” Kembali aku diam. Kembali aku tak mengerti. “Kini ia akan semakin mengekangku,” katanya. Kenapa kamu memukulnya? “Karena ia terus menamparku. Berkali-kali. Berkali-kali…” Air matanya menetes, dan seperti yang pernah kulihat sebelumnya, di wajahnya tak tergambar kesedihan. Ujung bolpoinnya kulihat meninggalkan jejak emosi di bukunya. Di salah satu halaman di buku itu ia baru saja menggambar sesuatu, semacam sketsa: sesosok manusia berambut panjang berteriak-teriak kesakitan saat sebuah gunting raksasa memotong lehernya… Kukira, sosok berambut panjang itu adalah ibunya. Di samping sosok berambut panjang itu, sesosok manusia lain memegang gunting raksasa itu dengan kedua tangannya. Dia tersenyum lebar, tapi airmatanya deras berjatuhan. Gila! Tiba-tiba saja aku merinding… Aku merasa iba padanya. Di saat yang sama, aku pun cemas.

Dan ketika esok harinya ia tak masuk sekolah, aku semakin cemas. Pasti terjadi sesuatu, pikirku. Memasuki jam istirahat, kudengar keributan di ruang guru, kudengar nama Alea disebut-sebut. Seorang perempuan kurus berkacamata membuat ruang guru yang biasanya sepi jadi begitu ramai. Ia datang mencari anaknya. Anaknya tak pulang sejak kemarin.

Kepala sekolah berjanji akan mencari anaknya itu. Perempuan kurus berkacamata itu meninggalkan ruang guru dengan langkah-langkah cepat yang gusar. Kami sempat berpapasan, dan ia sempat sesaat mengamatiku. Aku tiba-tiba memalingkan muka, seperti takut ia mengenaliku. Padahal, itu adalah pertama kalinya aku melihatnya.

Besoknya perempuan kurus berkacamata itu datang lagi. Anaknya belum juga pulang. Keributan kembali terjadi di ruang guru. Kecemasankuku menjadi-jadi. Aku berpikir untuk ikut mencari anaknya, tapi tak tahu mesti memulai dari mana. Perempuan itu mengaku telah mendatangi tempat-tempat les anaknya namun tak juga mendapatkan petunjuk. Ia berencana meminta bantuan polisi jika sore harinya anaknya belum juga pulang. Aku, pada akhirnya, hanya bisa berdoa: semoga Alea baik-baik saja.

Dan seperti tak pernah terjadi apa-apa, teman semejaku itu duduk di kursinya saat besok harinya aku masuk ke kelas. Nyaris tak ada yang berubah darinya. Segalanya terlihat sama. Sikapnya yang pendiam, ekspresinya yang datar, semua sama. Seolah-olah dua hari sebelumnya hanyalah mimpi. Ketika aku tanyakan padanya kemana saja dua hari itu, ia menjawab singkat, “Aku bertemu Sitha.” Siapa Sitha? “Malaikat.” Hah? Ia tersenyum. Baru pertama kali kulihat ia tersenyum. Sejak saat itu, ia tak pernah lagi mengeluh tentang jadwal padatnya ataupun sikap ibunya. Aku lega ia kembali, meski pada saat yang sama juga cemas. Siapa itu Sitha?

 
KALAU saja Alea tak bertemu Sitha, mungkin ia tak akan mengenal buku-buku ini. Kukira penyair perempuan itu adalah sosok yang ditunggu-tunggu olehnya, seperti seorang nabi yang ditunggu-tunggu kaum tertentu. Ia menganggap perempuan itu menyelamatkan hidupnya dari kegelapan pikiran dan membawanya memahami kehidupan dari kacamata yang berbeda. Bagi Alea, Sitha adalah seorang kakak sekaligus seorang ibu, mungkin juga kekasih. Ia memang tak punya kakak, sehingga kemunculan Sitha sungguh melegakan baginya. Sementara meski ia punya ibu, sosok ibu yang ia inginkan tak didapatkannya. Itulah sebabnya ia mencari orang lain untuk dikukuhkannya sebagai ibunya. Bisa dibilang, Sitha adalah tempat ia melarikan jiwanya yang membutuhkan kebebasan.

Aku baru sekali bertemu Sitha, dua tahun lalu. Penyair itu berkunjung untuk alasan riset, mencari ilham. Kukira itu cuman alasan. Malam harinya mereka pergi ke hotel. Besok paginya hanya Alea yang kembali. Dia tampak kesal. Kenapa? tanyaku. “Dia sudah selesai denganku,” jawabnya, ketus. “Dia memutuskan untuk sepenuhnya menjadi hetero. Semalam kami melakukan upacara perpisahan. Dari jam sembilan sampai jam tiga,” lanjutnya. Saat itu aku tiba-tiba marah. Jika saja perempuan itu ada di depanku, mungkin ia sudah kubentak habis-habisan, mungkin juga kutampar beberapa kali. Kamu biarin dia pergi? tanyaku. Ia mengangguk. Kenapa? Bukannya dia itu malaikatmu? “Aku sudah menduga ini akan terjadi. Sejak bersuami ia jadi berbeda. Tapi sudahlah, toh perempuan di dunia ini bukan hanya dia.” Ia mencoba tersenyum, meski gagal. Di beberapa waktu aku memergokinya berbicara dengan Sitha, lewat telepon. Kukira mereka masih sama-sama saling merindukan. Mungkin juga masih sama-sama saling menyukai.

Tapi di beberapa waktu yang lain, aku memergoki Alea memaki-maki perempuan itu. Ia keluarkan selembar foto dari dompetnya. Di foto itu ia dan Sitha sedang berangkulan, tersenyum. Ia ambil gunting di laci meja belajarku. Dipisahkannya dengan kasar dua sosok di foto itu. Bagian yang satu ia simpan kembali ke dalam dompetnya. Yang satu lagi ia bakar. Menyaksikan wajah Sitha terbakar, ia kembali memaki-makinya. Aku kadang ketakutan. Sepertinya Alea bisa menjadi sangat kejam ketika ia cemburu, atau ketika ia merasa disakiti. Ia dan Sitha sudah lima-enam tahun berhubungan. Entah sudah berapa kali mereka tidur bersama. Wajar saja kurasa jika Alea merasa disakiti dan dikhianati.

Ibunya tentu saja tak tahu kalau ia seorang lesbian. Bisa kembali terjadi perang dingin jika hal ini diketahuinya. Sejak kemunculan Sitha, Alea sebisa mungkin tak peduli pada sikap ibunya yang pengatur dan keras kepala. Meski jadwal hariannya padat, entah kenapa ia selalu punya waktu dan energi untuk bertemu Sitha seminggu satu-dua kali. Sitha meminjaminya buku-buku, membuatnya candu membaca, dan berulangkali menyarankan agar ia melawan kediktatoran ibunya. “Sitha bilang kalau aku ini manusia, bukan robot,” kata Alea suatu hari. Itu benar, kataku. Tapi Alea tak juga melawan perintah ibunya. Ia seperti membiarkan perempuan itu mengganti baterai-nya setiap hari dan memberinya tugas-tugas yang sama dan terpola. Menjemukan memang. Kalau aku jadi dia, aku mungkin sudah melarikan diri bersama Sitha. Tapi kata orang, surga itu ada di telapak kaki ibu. Melawan ibumu sendiri berarti menolak surga. Kata-kata seorang ibu bisa menjadi kutukan. Ibu punya semacam hak veto terhadap anak-anaknya. Anak tak punya wewenang apa-apa terhadap ibunya. Apalagi jika ibunya seorang diktator. “Saat ini aku masih serumah dengannya. Saat kuliah nanti, ia tak bisa lagi mengaturku,” katanya.

Dan memang, sejak menjadi mahasiswa, ia mulai banyak tersenyum dan tertawa. Ia seperti mengalami kelahiran kembali. Sebulan sekali ia pulang. Dua kali setahun ibunya mengunjunginya. Aku tak pernah lagi bertemu ibunya. Ia merahasiakan keberadaanku darinya, termasuk buku-bukunya yang ia titipkan padaku. Kini buku-buku itu sudah tersusun rapi di meja belajarku, di rak paling atas dan satu rak di bawahnya. Entah kapan ia akan mengambilnya. Biasanya, buku-buku ini dititipkan tak lebih dari empat hari. Ini masih hari pertama.(*)

Bogor, April-Juli 2011

  
*) Cerpen ini termaktub dalam kumpulan cerpen saya yang terbit tahun 2011, Pendamping.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s