Kebun di Samping Rumah*

PEMILIK kebun di samping rumahku bukan Ibu maupun Ayah, tapi Kakek, ayah dari Ayah. Setiap hari aku melihat Kakek mendatangi kebun itu. Pagi dan sore. Ia akan datang dengan langkah-langkah lambat dan tenang, juga dengan raut muka yang tak menunjukkan apapun selain kepasrahan. Kadang aku berpikir, Kakek seperti seorang manusia yang telah kehilangan gairah hidup. Selama di kebun ia hampir tak pernah bicara. Dibiarkannya anak-anak seusiaku bermain kelereng di sekitar pintu pagar. Dibiarkannya orang-orang dewasa memasuki pagar untuk menuju warung lalu kembali lewat jalan yang sama. Kakek tak peduli pada semua itu. Ia hanya peduli pada pohon-pohon di kebunnya, yang kabarnya ditanam sendiri olehnya. Ia baru akan bereaksi ketika orang-orang yang masuk ke kebun itu menganggu pohon-pohonnya.

Hanya Kakek yang merawat kebun itu. Jika ia sakit, kebun itu nyaris terlantar. Memang ada anak-anak berdatangan memasuki kebun. Tapi mereka hanya bermain kelereng. Memang ada beberapa orang dewasa memasuki kebun. Tapi bukannya merawat, mereka malah mengambil beberapa buah mangga. Aku geram melihatnya. Ingin sekali aku keluar dan memaki mereka, menyuruh mereka untuk mengembalikan buah-buah mangga itu. Tapi Ibu malah melarangku. “Biarkan saja,” katanya. Aku jadi heran. Harta mertuanya sendiri dicuri orang, Ibu malah membiarkan hal itu terjadi. Barangkali benar kata Ayah: Ibu membenci Kakek.

Kata Ayah, dulu aku punya seorang Bibi. Dia adalah adik bungsu Ayah, anak bungsu Kakek, satu-satunya perempuan dalam keluarga itu. Ibu suka sekali menghabiskan waktu dengan Bibi. Mengobrol, memasak, berkebun (rupanya Ibu dulu ikut merawat kebun). Bagi Ibu, Bibi mungkin semacam penawar atas rasa sepi dan rindunya pada adik-adiknya di kota yang jauh. Adik-adik Ibu semuanya perempuan. Tak heran jika Ibu menganggap Bibi sebagai adik kandungnya sendiri. Dan ketika Bibi meninggalkan rumah, kabur dari kekangan Kakek, Ibu begitu kehilangan. Kata Ayah, kaburnya Bibi adalah bentuk penolakannya atas keputusan Kakek yang ingin menikahkannya dengan seorang tentara, anak dari kenalan Kakek. Bibi rupanya tidak suka hal-hal berbau militer, meski dua dari tiga kakak laki-lakinya adalah tentara. Satu di angkatan udara. Satu di angkatan darat. Hanya Ayah yang gagal dipaksa Kakek menjadi tentara. Ayah lebih suka menjadi PNS. Ayah bekerja di Kebun Raya Cibodas.

Barangkali Kakek punya semacam keinginan untuk memiliki keluarga tentara, keluarga militer. Kata Ayah, saat ia masih kecil, Kakek sering bercerita padanya bagaimana dulu tentara-tentara berjuang mengusir penjajah. “Belanda, Inggris, Jepang, diusirnya mereka semua,” kata Ayah, menirukan suara Kakek yang berat. “Kalau kamu jadi tentara, orang-orang bakal hormat padamu,” kata Ayah lagi, menirukan suara Kakek. Ayah tak menyangkal hal itu, tapi tak mau dipaksa menjalani profesi itu. Bagi Ayah, profesi semacam itu akan memaksanya menanggalkan rasa kemanusiaannya sewaktu-waktu. Di masa perang, misalnya, seorang tentara mau tak mau harus membunuh orang-orang yang menjadi musuhnya. Sedangkan Ayah tak ingin membunuh siapapun semasa hidupnya. Berulangkali Kakek mengingatkan Ayah untuk menempuh jalan hidup yang dipilihkannya, berulang kali Ayah menolak. Nenek menjadi penengah. Ayah kemudian memilih kuliah di luar kota ketika anak-anak lelaki Kakek yang lain pada usia itu memasuki pendidikan militer. Di dua semester awal Ayah harus bekerja keras. Uang kiriman Nenek jauh dari cukup untuk bertahan hidup. Kemudian, tanpa diduga, semester-semester selanjutnya Kakek selalu mengirimi Ayah uang. Rupanya Kakek mengalah juga.

“Kakekmu memang keras kepala,” kata Ayah, “Tapi Ayah lebih keras kepala,” lanjutnya, tertawa. Namun Bibi tidak seperti Ayah, tidak sekeras Ayah mempertahankan apa yang diyakininya. Barangkali karena ia perempuan. Sedangkan di keluarga ini, juga di kampung ini, peran perempuan dalam keluarga masih dianggap sebatas pendukung, penyokong suami. Tugas perempuan adalah di rumah, mengurus anak, memasak, mencuci. Laki-laki yang bekerja. Laki-laki yang memiliki suara. Laki-laki yang memutuskan. Aku tidak setuju! sergahku. Ayah menyentuh hidungku lalu menariknya. “Bibimu juga tidak setuju,” katanya. “Setiap kali calon suami pilihan Kakekmu bertamu, Bibimu selalu mengurung diri di kamar, dan Kakekmu selalu memaksanya keluar.” Aku jadi kasihan pada Bibi, dan mulai tak suka pada Kakek. “Suatu hari Bibimu tiba-tiba menemui Ayah. Dia ingin meminjam uang.” Untuk apa? tanyaku. “Bibimu ingin pergi ke luar negeri. Dia ingin jadi TKW.” Aku terdiam. “Pada awalnya Ayah tidak mau meminjaminya uang. Ayah tak setuju dengan niatnya menjadi TKW. Sudah terlalu banyak TKW yang bernasib buruk. Tapi Ibumu memarahi Ayah. Dia mendesak Ayah meminjami Bibimu uang. Menurut Ibumu, menjadi TKW atas pilihan sendiri masih lebih baik daripada menjadi istri seseorang yang dipilihkan orang lain.” Jadi, Ayah meminjami Bibi uang? “Ya. Besok harinya Bibimu pergi. Sampai saat ini, belum ada kabar darinya. Sudah hampir sepuluh tahun.” Sepuluh tahun? Lama sekali. Saat itu aku masih meringkuk di rahim Ibu. “Kadang Ayah bermimpi bertemu Bibimu. Ibumu juga. Mungkin Kakekmu juga.” Hemm.. begitu.

 

HARI Minggu. Kakek sudah sembuh dan mulai berkebun lagi. Aku sengaja mendekatinya, dan ia langsung menyuruhku membantunya mengumpulkan sampah juga daun-daun kering untuk ia bakar. Aku pun membantunya. Sambil memunguti sampah-sampah plastik itu, di kepalaku kembali terbayang peristiwa-peristiwa yang menimpa Bibi. Benarkah Kakek begitu keras kepala? Di wajahnya yang sudah dipenuhi banyak keriput itu, aku hanya melihat keteduhan, juga kepasrahan. Barangkali kepergian Bibi telah membuat Kakek berubah. Kakek saat ini mungkin tidak sama dengan Kakek sepuluh tahun lalu. Tapi Ibu masih membenci Kakek. Tadi saat aku mengajak Ibu untuk membantu Kakek berkebun, Ibu malah memunggungiku dan menyibukkan dirinya di dapur. Entah ia akan memasak apa. Ayah sama saja. Ia mungkin lelah sehingga di hari ia libur ia lebih memilih bersantai menonton televisi atau tidur seharian. Hanya aku yang merasa punya waktu luang dan keinginan untuk membantu Kakek. Kukumpulkan sampah dan daun-daun kering itu di dekat sumur yang sudah tak dipakai. Banyak juga. Kakek mengeluarkan pemantik dan mulai membakarnya. Tak lama kemudian api tampak dan asap mulai membubung ke udara.

“Kalau Kakek meninggal nanti, kamu harus merawat kebun ini,” katanya tiba-tiba, di sela-sela memindahkan tumpukan daun dari satu tempat ke tempat lain yang apinya lebih besar. “Kalau saja saat ini Nenekmu masih hidup, Kakek tak akan khawatir. Dulu Nenekmu yang suka mengumpulkan sampah dan membakarnya seperti ini.” Aku diam saja, mendengarkan. Kakek sepertinya kesepian. Dia seperti hidup sebatang kara, tanpa anak dan saudara. Anak-anaknya yang tentara itu jarang sekali pulang kampung. Paling-paling di Hari Lebaran. Sedangkan Ayah, meski tinggal di kampung yang sama dengannya, terlihat tak peduli. Ayah mungkin tidak seperti Ibu yang membenci Kakek. Tapi dugaanku, pengalaman pahit Ayah semasa kecil sangat mempengaruhi sikapnya terhadap Kakek. Saat Kakek sakit pun, Ayah enggan menengoknya.

Dulu, selain keras kepala, kabarnya Kakek juga suka menyiksa. Nenek sering dipukulnya setiap kali melawan. Kakak pertama Ayah pernah dilemparnya ke kolam dan hampir mati tenggelam. Kakak kedua Ayah sering dikurung di gudang, dibiarkan berjam-jam menghirup bau segala rupa yang bercampur jadi ramuan ampuh pembuat mual. Ayah sendiri pernah beberapa kali ditamparnya, dibentur-benturkannya ke dinding, ditendang-tendang. Setiap siksaan dan hukuman itu adalah respon Kakek terhadap sikap orang-orang yang melawannya. Barangkali karena itu juga lah anak-anaknya yang tentara itu jarang pulang. Saat Nenek masih hidup, kunjungan mereka bisa dua-tiga kali setahun. Saat Nenek sakit, mereka memaksakan diri untuk pulang. Saat Kakek sakit, tak satu pun yang datang. Aku jadi merasa kasihan, meski di saat yang sama juga kesal. Kakek begitu otoriter dan kasar. Untunglah saat ini Kakek tidak lagi seperti itu.

Kabarnya sikap kasar Kakek mulai berkurang sejak kelahiran Bibi. Bibi satu-satunya anak perempuannya, dan ia memanjakannya. Dari keempat anaknya, hanya Bibi yang tak pernah merasakan siksaannya. Dan semakin Bibi tumbuh menjadi perempuan yang cantik, sikap kasar Kakek semakin lenyap. Baik Nenek, Ayah, maupun dua anak laki-lakinya yang lain, tidak pernah lagi mengalami tekanan secara fisik. Akan tetapi, tekanan secara psikologis masih terus diberikannya. Sikap otoriternya belum pergi kemana-mana. Diam-diam keempat anaknya pun menyusun rencana untuk melepaskan diri dari kekangannya.

Itulah yang diceritakan Ibu padaku. Ibu mendapat cerita ini dari Ayah. Kini, di hadapanku, Kakek tampak seperti sebuah kota yang ditinggalkan, seperti sebuah rumah yang tak pernah lagi dihuni. Sejak Nenek meninggal tiga tahun yang lalu, dia seperti hidup seorang diri. Tak ada motivasi. Tak ada pemotivasi.

 

KAKEK sedang sedih. Kulihat air menggenang di matanya. Sedari tadi aku membantunya menyirami pohon-pohon di kebun ini, Kakek belum juga bicara. Setiap kali aku mendekat, dan mencoba mengatakan sesuatu, ia langsung memunggungiku. Aku jadi bingung. Mungkinkah ada hubungannya dengan berita yang kutonton semalam, tentang bentrokan yang terjadi antara tentara dengan petani. Sekawanan tentara dengan senjata lengkap mendatangi para petani dan menembaki mereka. Beberapa petani tewas. Kabarnya, gudang persenjataan yang diledakkan menjadi penyebab tentara itu menyerang para petani.

Usai melihat berita itu aku meringis, bahkan ingin menangis. Aku merasa ngeri membayangkan sekelompok orang bersenjata datang dan begitu saja melepaskan tembakan kepada orang-orang tak bersenjata. “Kakekmu mungkin kecewa. Mungkin juga menyesal,” kata Ibu. Apa yang sesungguhnya membuat Kakek kecewa? Apa yang sesungguhnya membuat Kakek menyesal? Saat kutanyakan hal itu kepada Ayah malam harinya, ia menjawab, “Kakekmu menginginkan anak-anak lelakinya menjadi tentara dengan sebuah kebanggaan bahwa tentara adalah pahlawan yang mengusir penjajah. Tapi kini, ia harus mendengar kabar tentara-tentara menembaki para petani. Mungkin karena itu ia sedih.” Hemm.. begitu. Aku ingin menanyakannya langsung kepada Kakek, tapi tak tega. Aku tak tahan melihat seseorang meneteskan air mata tepat di hadapanku.

 

SUDAH satu bulan ini kebun tak ada yang merawat. Rumput-rumput liar tumbuh di beberapa tempat. Ayam dan unggas lainnya bebas berkeliaran di sana, meninggalkan berak dan bau tak sedap. Anak-anak kecil masih suka bermain kelereng. Sore selalu ramai. Warung masih ada, dan orang-orang masih memasuki kebun untuk sekadar lewat. Ada juga yang dengan isengnya mengambil jambu batu yang berada dalam jangkauan tangan. Ada juga yang sungguh berniat memanjat pohon kelapa lalu memetik satu-dua buahnya. Ingin sekali aku berteriak memaki-maki mereka, mengusir mereka. Tapi saat ini, aku sedang terlampau sedih. Aku sedih memikirkan Kakek. Aku sedih memikirkan kebun.

Di rumah, setiap malam, Ayah dan Ibu mendiskusikan nasib kebun itu, akan dijual kepada siapa. Mereka merasa tak punya waktu dan keinginan untuk mengurusnya. Aku kecewa. Aku menawarkan diri untuk mengurus kebun, tapi mereka tak menanggapinya. “Mengurus kamarmu saja kamu belum bisa,” kata Ibu. Ayah mengangguk-ngangguk membenarkan kata-kata Ibu. Aku kesal. Aku meminta bantuan Kakak, tapi Kakak malah tak acuh. Kakak sedang sering mengurung diri di kamar. Katanya belajar. Memang, sebentar lagi Ujian Nasional.

Di saat-saat seperti ini, aku sering bertanya-tanya, ke mana anak-anak Kakek yang lain. Sudah satu bulan ini Kakek hanya berbaring di ranjangnya. Setiap hari aku dan Ibu menengoknya, dan ia kesusahan bahkan untuk menyuruhku mengambilkannya segelas air. Pipi Kakek jadi tirus. Keriput-keriput di wajahnya seperti menebal. Saat ia memaksakan diri untuk bicara, aku akan mendengar suara serak yang pecah, dan mencium bau busuk yang menyeruak dari mulutnya. Barangkali itu lah bau kematian. Ibu bilang, orang yang banyak dosanya akan menderita di akhir hayatnya. Apakah dosa Kakek banyak? Apakah Kakek akan segera meninggal? Apakah Kakek menderita? Ibu tak menjawab. Aku mengamati Kakek begitu lama, dan air mataku selalu jatuh begitu saja.

Aku jadi teringat Nenek. Di saat-saat terakhir hidupnya, aku ada di dekatnya. Saat itu juga ada Ayah dan para paman, Ibu dan istri-istri paman, juga para sepupu. Dengan mataku sendiri aku menyaksikan Kakek berusaha membimbing Nenek mengucapkan syahadat, tapi Nenek bersikeras mencoba mengatakan sesuatu yang lain. Nenek memandangi anak-anak lelakinya satu per satu. Air matanya jatuh. Air mataku jatuh. Air mata Kakek jatuh. Dengan susah payah Nenek mengucapkan satu kata itu: maafkan. Saat itu aku tak memahaminya. Untuk apa Nenek meminta maaf? Kini, saat kondisi Kakek semakin buruk, dan hampir tak ada yang menjenguk dan mengurusnya, aku mulai paham. Nenek saat itu bukan sedang meminta maaf kepada anak-anaknya, ia sedang meminta anak-anaknya kelak memaafkan Kakek.(*)

Bogor.April.2011

*Dimuat di antologi “Setia Tanpa Jeda”, LeutikaPrio, 2011.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s