Air dan Seorang Perempuan*

TIGA puluh tujuh hitungan sejak kucing itu ditenggelamkannya. Ia tak lagi merasakan penolakan yang kuat. Gerakan keempat kaki kucing itu semakin lambat. Dan gelembung-gelembung udara yang muncul ke permukaan semakin sedikit. Mata kucing itu menemukan matanya. Mata yang pekat oleh rasa takut akan maut. Mata yang pekat oleh dendam dan kebencian. Tapi ia tak peduli. Ia telah menghitung dan masih akan terus menghitung. Ia tahu, sebelum hitungan keseratus, kucing itu akan mati.

Sebelas tahun yang lalu, ia ingat, ia mengalami apa yang dialami kucing itu. Ia merasakan sendiri betapa sulit menghirup udara di dalam air, sementara tangan seorang lelaki mencengkeram lehernya begitu kuat. Ia berontak, mencoba melawan. Namun tekanan yang diberikan lelaki itu terlalu kuat untuknya. Dari dalam air, ia melihat wajah lelaki itu berbayang, semakin samar dan samar. Ketakutan mulai melilitnya seperti ular. Kematian mulai menampakkan dirinya di samping lelaki itu. Seperti sebuah bayangan. Hitam. Dan bayangan itu seperti ditakdirkan untuk menyaksikan ia berjuang menghindari maut. Ia belum mau mati. Belum. Ia masih terlalu kecil saat itu.

Apa yang membuat lelaki itu menenggelamkannya? Ia tak tahu. Ia tak bisa membaca isi kepala lelaki itu. Tak pernah. Ia hanya bisa menebak-nebak. Dugaannya, lelaki itu membencinya, seperti ular membenci perempuan pertama dalam Alkitab. Bedanya, ular berpura-pura menjadi teman, lelaki itu tidak. Sudah dua bulan sejak lelaki itu mengenalkan dirinya sebagai tokoh antagonis. Sudah dua bulan sejak lelaki itu menjadi iblis yang selalu memburu jiwanya. Sudah dua bulan sejak lelaki itu menjadi kegelapan bagi setiap cahaya yang datang padanya. Sudah dua bulan sejak saat itu. Ya, dua bulan. Saat itu adalah untuk pertama kalinya ia menemukan sesuatu yang lain dalam dirinya: seorang perempuan. Dan lelaki itu memergokinya. Dan lelaki itu mengutuknya sebagai pendosa.

“Anak lelaki memakai baju perempuan! Apa-apaan ini?!” ia akan selalu ingat suara serak itu. Ia juga akan selalu ingat tamparan lelaki itu yang membuatnya terjatuh. Tanpa bisa melawan, ia biarkan lelaki itu melucuti pakaian yang ia kenakan, hingga ia telanjang dan meringkuk di lantai yang dingin, seperti bayi dalam rahim seorang perempuan. Bedanya, bayi ini telah mengenal rasa takut. Bayi ini juga mengerti setiap amarah yang terlontar pada kata-kata lelaki itu. Malam itu, lelaki itu menyeretnya ke kamar mandi, mematikan lampu, menguncinya di sana. Berjam-jam ia hanya diam. Berjam-jam di sana ia mencoba menemukan kembali sesuatu yang baru saja ditemukannya. Seorang perempuan. Ya, seorang perempuan. Seorang anak perempuan yang lucu, yang selama ini hanya diam di dalam dirinya. Malam itu, ia mencoba mengenalinya. Perempuan itu menemaninya. Seketika, ia merasa hangat, seakan-akan perempuan itu memeluknya. “Jangan takut. Aku adalah dirimu,” bisik perempuan itu. Sejak saat itu ia menyadari satu hal: ia adalah perempuan yang terjebak dalam tubuh laki-laki.

Namun hanya ia yang mengerti. Ayahnya tak mengerti. Tidak juga ibunya. Setiap kali ibunya menemukan baju perempuan di dalam tasnya, ibunya akan memandangnya dengan rasa cemas yang akut. Ia mengambil baju itu dalam perjalanan pulang, di jemuran salah satu rumah yang dilewatinya. Entah sejak kapan ia jadi terampil mencuri. Barangkali perempuan itu yang membantunya. Atau bisa jadi, perempuan itu lah yang mencuri baju itu. Ia saat itu mungkin hanya menonton. Dengan kata lain, perempuan itu sedang menguasai tubuhnya. Namun ia tak lagi memikirkannya. Meskipun perempuan itu terus membuatnya celaka, kena marah, dihukum, ia tak membencinya. Tak akan. Ia menyayangi perempuan itu lebih daripada siapapun. Ia tak akan membiarkan perempuan itu pergi. Ia merasa nyaman setiap kali perempuan itu ada bersamanya.

Tapi lelaki itu, ayahnya, si ular dalam Kitab Kejadian, selalu berusaha mengganggu perempuan itu. Ketika suatu hari perempuan itu tengah mematut-matut dirinya di depan cermin, dengan pakaian yang lagi-lagi dicurinya dalam perjalanan pulang, lelaki itu menemukannya dan langsung menyemprotkan kemarahannya seperti air dari keran yang telah lama tersumbat. Perempuan itu ketakutan. Perempuan itu kembali ke tempatnya berasal: sebuah kamar kosong jauh di dalam dirinya. Dan ia lah yang harus menghadapi lelaki itu. Dan ia lah yang harus merasakan betapa kejamnya seorang ayah yang menganggap anaknya adalah suatu kegagalan, aib, penyakit.

Lelaki itu kembali menyeretnya ke kamar mandi. Tapi pakaian perempuan di tubuhnya tidak dilucutinya. Atau belum. Di kamar mandi, lampu dibiarkan menyala, pintu dibiarkan terbuka, dan lelaki itu berdiri tepat di hadapannya. “Jangan menangis!” teriak lelaki itu. Ia tak akan melupakan napasnya yang dipenuhi aroma penyesalan. Penyesalan dari seorang ayah terhadap anak laki-lakinya. Ia juga tak akan melupakan gayung demi gayung air yang disiramkan lelaki itu ke kepalanya. Tujuh kali. Di setiap air itu jatuh di rambutnya, ia bisa merasakan kekecewaan yang berat. Lelaki itu kecewa. Lelaki itu kecewa padanya. Tapi ia tak peduli. Ia telah memutuskan untuk tak peduli. Ia tahu, setelah lelaki itu meninggalkannya di kamar mandi, dengan pintu tertutup dan lampu yang mati, perempuan itu akan kembali menemaninya, mengajaknya bicara, memeluknya. Dan ia akan merasa hangat. Ia menyayangi perempuan itu lebih daripada siapapun.

Ketika pintu kamar mandi dibuka, dan lampu menyala, ia tak pernah ingat berapa lama ia diam di sana. Perempuan itu seketika pergi, bersembunyi di balik pepohonan di dalam dirinya. Semakin lama ia semakin tahu, di dalam dirinya ada sebuah dunia yang tak pernah dijelajahi siapa pun kecuali oleh dirinya dan perempuan itu. Dan perempuan itu bersembunyi. Dan ia merasa tenang. Lalu seorang perempuan yang lain muncul mendekatinya, merangkulnya, sambil terisak-isak. Tak lama kemudian perempuan itu mengeringkan tubuhnya, membantunya berpakaian—pakaian  laki-laki, dan menemaninya di tempat tidur. Dengan lembut, perempuan itu menyelimutinya, mencium pipi dan keningnya, lalu mulai bercerita. Ia tahu, perempuan itu akan bercerita tentang hal yang sama. Tentang Sodom dan Gomora.

“Dua kota itu telah dihancurkan,” kata perempuan itu. Kenapa? tanyanya, untuk kesekian kalinya. “Sebab para penduduknya adalah pendosa. Dan Tuhan membenci para pendosa,” jawab perempuan itu. Namun ia tak puas dengan jawaban itu. Tak pernah. Jawaban itu malah melahirkan lebih banyak pertanyaan dalam dirinya. Dan ia mulai memahami satu hal: Tuhan suka sekali bermain-main.

“Hush.. kamu tak boleh bilang begitu,” kata perempuan itu, tampak khawatir dan cemas. Ia ingin sekali bilang: kenapa tak boleh? Tapi kecemasan yang tergambar jelas di mata perempuan itu membuatnya tak jadi mengatakannya. Ia tak ingin melihat perempuan itu lebih cemas lagi. “Mulai sekarang, kamu harus membaca Injil setiap hari. Lebih sering lebih baik,” kata perempuan itu. Ia mengangguk saja. Ia tak ingin melihat perempuan itu lebih cemas lagi.

Dan ia melakukan apa yang dikatakan perempuan itu. Setiap hari ia membuka Alkitab. Membacanya. Ayat demi ayat. Pasal demi pasal. Kitab demi kitab. Ia pun sudah membaca kisah Sodom dan Gomora, kisah Lot dan istrinya, kisah Abraham dan permintaannya. Namun ia tak juga mengerti mengapa Tuhan harus menghancurkan dua kota itu. Menanggapinya, perempuan itu hanya akan berkata, “Sebab kamu bukan Abraham, bukan pula Lot. Dan imanmu tidak sama dengan iman mereka. Belum. Dan karenanya kamu belum bisa memahami kehendak Tuhan.”

Sekali lagi ia tak puas dengan jawaban seperti itu. Dan perempuan di dalam dirinya kembali muncul. Perlahan-lahan. Perlahan-lahan. Seperti bayangan yang memanjang mengikuti pergerakan matahari. Mata perempuan itu menemukan matanya. Mulut perempuan itu terbuka, dan kata-katanya serupa bisikan yang gaib, “Istri Lot diubah-Nya menjadi tiang garam, padahal ia hanya menoleh untuk melihat kota yang ditinggalkannya.” Ia lalu menyadari satu hal: sebagian manusia sama sekali tak berharga di mata Tuhan. Ia juga menyadari hal lainnya: ia dan Tuhan memiliki cara pikir yang berbeda. Dan barangkali benar apa yang dikatakan ibunya, ia belum bisa memahami kehendak Tuhan. Belum? Apakah kata ini tepat? Entahlah. Ia tak tahu.

Satu hal yang ia tahu, dan itu pasti: ia adalah jiwa yang terjebak dalam tubuh yang salah. Ia adalah perempuan yang kerapkali muncul mengajaknya bicara. Ia dan perempuan itu adalah satu, adalah sama. Dan ada satu hal yang tak juga ia pahami, belum: mengapa Tuhan menyisipkan sesosok jiwa ke tubuh yang salah? Apakah Tuhan pernah melakukan kesalahan? ia tanyakan itu kepada dirinya sendiri. Perempuan di dalam dirinya tiba-tiba bangkit dan berbisik di telinganya, “Tuhan telah menggulirkan dadu, dan di keenam sisinya kini tertulis kata yang sama: dosa.” Lama-lama, ia mulai merasa perempuan itu adalah ular dalam Alkitab. Ular yang lain. Dan ia adalah si perempuan pertama yang terus-menerus dibisikinya. Tapi ia menyayangi perempuan itu. Selalu. Dan kehadirannya selalu membuatnya merasa nyaman. Ia tak akan membiarkan siapa pun menjauhkan perempuan itu darinya. Tak akan.

Tapi ayahnya, ular yang ia benci, tak pernah lelah menghukumnya setiap kali ia mencoba mengenali dirinya yang perempuan. Sekali waktu ia melawan, dan ayahnya kembali menyeretnya ke kamar mandi. Kali itu ia bukan hanya diguyur, tapi diangkat dan ditenggelamkan di bak mandi. Ia panik. Ia telah cukup banyak berurusan dengan air. Dan air baginya adalah tangan-tangan yang mencoba menariknya ke sebuah dunia yang gelap. Ia panik. Ia ingin segera keluar dari bak mandi. Tapi tangan ayahnya mencengkeram lehernya dan menekannya hingga ia sepenuhnya tenggelam.

Tangan itu kuat. Begitu kuat. Dan ia semakin kesulitan untuk bernapas. Sebisa mungkin ia melawan, mencoba bangkit, berontak, tapi sia-sia. Ia mulai merasa degup jantungnya melambat. Atau barangkali, waktu yang sengaja melambatkan dirinya. Di balik permukaan air, di luar sana, ada sesosok bayangan di samping ayahnya. Hitam. Dari dalam dirinya, sesuatu muncul, keluar. Perempuan itu. Ya, perempuan itu. Mata perempuan itu menemukan matanya. Tangan perempuan itu menyentuh lehernya. Lalu entah bagaimana, kepalanya tiba-tiba muncul di permukaan. Tangan ayahnya masih ada di lehernya, tapi tak lagi mencengkeram, hanya memegang. Lamat ia mendengar suara di belakang ayahnya. Suara yang sering ia dengar di tempat tidur, di malam-malam ketika ia merasa sendiri.

HITUNGAN kedelapanpuluhtiga. Kucing itu akhirnya mati. Namun ia masih terus menghitung. Baru pada hitungan keseratus, ia mengangkatnya. Air dalam bathtub dipenuhi bulu-bulu kucing itu. Ia akan membersihkannya, tapi nanti. Sekarang ia akan membawa kucing itu ke kamarnya untuk mengeringkannya dengan hair-dryer, memotretnya beberapa kali dengan kamera digital, lalu membawanya ke halaman belakang dan menguburkannya di sana. Sudah ada dua belas kuburan kucing. Kini ia akan menggali kuburan ketigabelas.

Pertama kali ia menenggelamkan seekor kucing adalah sepuluh tahun yang lalu, beberapa jam setelah ia ditenggelamkan teman-temannya di sungai di dekat sekolah. Teman-temannya menyadari, bahwa air dalam debit yang banyak membuatnya takut. Dan kabar pun telah tersebar, bahwa ia sering mengenakan pakaian perempuan dan mematut-matut dirinya di depan cermin. Dan orang-orang telah mengetahui, bahwa ia lah yang selama setahun terakhir mencuri pakaian-pakaian anak perempuan di jemuran. Tiga hal itu membuatnya mengalami hari-hari yang sulit di sekolah. Ayah dan ibunya pernah datang ke sekolah memenuhi surat panggilan. Muka ayahnya saat itu memerah dan ibunya sedikit-sedikit meletakkan tangannya di wajahnya. Teman-temannya membicarakannya di belakangnya. Di depannya, mereka tersenyum dan tertawa. Bahkan guru yang masuk ke kelas pun sesekali memandangnya dengan jijik. Ia merasa dikhianati oleh apa yang selama ini ia percayai. Ia ingin segera pulang dan tak pernah lagi kembali ke kelas itu, ke sekolah itu. Tapi ia hanya seorang anak yang ternyata harus patuh pada perintah orangtuanya. Ia tetap pergi ke sekolah, meski hari-harinya seperti mimpi buruk. Dan ia pun harus melupakan sebuah dunia yang pernah diyakininya ada di dalam dirinya. Juga perempuan itu, anak perempuan yang berdiam di dalam dirinya, terpaksa ia lupakan. Ia tak ingat, kapan persisnya ia mengusir perempuan itu. Dan perempuan itu tak pernah kembali. Ia saat itu benar-benar merasa seorang diri.

Dini hari, ia sering tiba-tiba terbangun dan menemukan dirinya berada di dalam air. Sulit baginya untuk bernapas, dan setiap gerakan terasa berat. Padahal, di lehernya tak ada tangan yang mencengkeram. Dan di balik permukaan air, tak ada wajah ayahnya. Tapi sesuatu tampak. Sesuatu yang hitam. Bayangan, yang dulu pernah muncul ke hadapannya. Bayangan itu mengingatkannya bahwa kematian pernah hampir memeluknya. Dan ketika ia melihat kembali bayangan itu, hawa dingin menjalar di sekujur tubuhnya, bergerak dari kaki hingga ke leher. Ia mati rasa. Ia tak merasakan apa-apa. Bahkan degup jantungnya sendiri tak dirasakannya. Namun ketika hawa dingin itu mencapai kepala, selalu ketika mencapai kepala, ia akan terbangun, dan menemukan dirinya berada di tempat tidur, di kamarnya, seorang diri. Dan ketika ia mencoba kembali tidur, ia tak pernah berhasil melakukannya.

Di sekolah, saat pelajaran berlangsung, ia kerap kali mendengar suara air. Seperti sungai. Seperti air terjun. Seperti keran yang tiba-tiba menyala. Mendadak tangan dan kakinya sulit digerakkan. Mendadak ia sulit bernapas. Mendadak ia tak bisa bicara meski telah berusaha berteriak. Mendadak segala sesuatu di sekitarnya berubah menjadi air. Air. Hanya air.

Dan suara keras guru yang tengah mengajar lah yang selalu membuatnya kembali. Teman-temannya menertawakannya. Ia tak peduli. Guru itu menceramahinya. Ia tak peduli. Ia hanya peduli pada apa yang terus-menerus dialaminya.

Tiba di rumah, sepulang sekolah, ibunya sedang mengangkat pakaian yang dijemur sebab langit berubah mendung. Ayahnya belum pulang dari kantor. Ia berdiri di muka pintu, masih dengan sepatu. Tiba-tiba ia merasa bingung. Tiba-tiba ia tak tahu apa yang akan dilakukannya. Lalu ia mendengar suara air. Kali ini tenang. Tetes demi tetes. Masih dengan sepatu dan tas di punggungnya, ia berjalan mengikuti suara yang menuntunnya. Masih sama. Tetes demi tetes. Tenang. Membuatnya rileks. Ia terus berjalan, pelan. Ia seolah-olah menutup mata dan suara itu membimbingnya. Tahu-tahu, ketika ia sadar, ia telah berada di kamar mandi, di dekat bak, dan pintu kamar mandi telah tertutup.

Suara itu rupanya berasal dari keran bak mandi yang tak sepenuhnya tertutup. Ia menyentuh keran itu, berniat menutupnya. Tapi sesuatu di dalam dirinya menyuruhnya untuk membuka keran itu. Ia terkejut, sedikit. Ia yakin ia pernah mendengar suara itu. Ya, suara yang sama. Tiba-tiba ia tersenyum, tapi kemudian murung. Ia memang telah mendengar suara itu, suara yang ia rindukan. Tapi hanya sesaat, hanya sepersekian detik yang singkat. Tiba-tiba ia merasa marah. Ia marah pada dirinya karena telah membiarkan suara itu lenyap. Padahal dulu, saat ia merasa sedih dan takut, suara itu selalu menemaninya, membuatnya merasa lebih baik.

Ia pun membuka keran itu. Sedikit demi sedikit. Bunyi tetesan air yang tenang mulai berubah jadi bunyi aliran yang deras, bunyi pemberontakan. Kemarahannya semakin besar, menekannya, membuat gigi-giginya saling menekan, membuat tangan kirinya mengepal. Ia membuka keran itu, sekaligus. Kini bunyi itu semakin deras. Kini pemberontakan itu semakin terasa. Ia ingin melakukan sesuatu. Ia ingin berteriak. Ia ingin berontak. Ia ingin melepaskan segala hal yang membelenggunya selama ini. Ingin. Ingin sekali.

Tapi ia tak melakukannya. Alih-alih, ia menutup keran itu hingga benar-benar tertutup. Hingga tak ada lagi tetesan air jatuh dari sana. Ia diam cukup lama, memandangi permukaan air. Bak mandi itu hampir penuh. Ia menemukan bayangannya, wajahnya, meski tak begitu jelas sebab lampu tak dinyalakan. Perlahan didekatkan tangannya, disentuhnya bayangannya. Namun bayangan itu hancur tepat saat ia menyentuhnya. Ia kecewa, entah kenapa.

Kemarahan memang telah meninggalkannya. Rasa ingin memberontak itu pun meninggalkannya. Ia merasa tenang, tapi tak nyaman. Ia merasa … kosong.

Ia melepas tas di punggungnya. Ia juga melepas sepatunya, juga kaos kakinya. Ia naik ke pinggir bak mandi. Berdiri. Diam. Diam. Diam. Dan byur! Ia menceburkan dirinya, menelentang. Seluruh tubuhnya berada di dalam air. Ia merasakan dingin. Ia merasakan kesunyian yang aneh. Ia merasakan kematian yang dulu pernah begitu dekat dengannya. Dan ia tersenyum. Ia tersenyum. Ia berharap, perempuan itu akan muncul sebelum kematian benar-benar merangkulnya. Ia masih menunggu. Menunggu. Dan menunggu.

Dan perempuan itu memang muncul, meraih tangannya, dan mengangkatnya keluar dari dalam air. Ia tersenyum. Tapi senyumnya kemudian hilang. Ia bukan perempuan itu. Orang yang menariknya bukan perempuan itu, melainkan perempuan yang lain: ibunya.

Apakah ayahnya tahu kejadian itu? Entahlah. Ia tak peduli. Hari-hari berikutnya ia lalui begitu saja, seperti memasuki kekosongan dan keluar dalam keadaan kosong. Di beberapa dini hari, ia masih suka terbangun tiba-tiba dan menemukan dirinya berada di dalam air. Namun ia tak lagi merasa takut. Ketakutan tak mampu lagi menguasainya. Ia selalu hanya tersenyum dan tersenyum. Sebab ia tahu, itu hanyalah mimpi.

Namun ketika beberapa hari kemudian ia ditenggelamkan teman-temannya di sungai di dekat sekolah, ia gagal menguasai diri. Kembali, ketakutan merangkulnya, melilitnya seperti ular. Teman-temannya itu sesekali menarik kepalanya, lalu kembali menenggelamkannya dengan tiba-tiba. Ia bisa mendengar teman-temannya itu tertawa. Ia bisa melihat di mana saja keempat orang itu berdiri. Ia ingin melawan, berontak, tapi tangan dan kakinya dipegang, ditahan. Dan lehernya, seperti yang pernah dialaminya dulu, ditekan begitu kuat hingga ia sulit untuk bernapas. Kematian kembali membayang di balik permukaan air, menyaksikannya tersiksa. Namun tiba-tiba teman-temannya itu meninggalkannya. Mereka berlari. Tak lama kemudian seseorang mendekat, mengeluarkannya dari sungai. Ia tak begitu ingat siapa orang itu. Yang ia ingat, ia berbaring di tempat tidur di kamarnya beberapa lama kemudian. Di sampingnya, ibunya memandangnya, tersenyum, tapi jelas, di kedua matanya tergambar kecemasan.

“Lusa kita pindah,” kata ibunya. Ke mana? tanyanya. “Mau kamu ke mana?” ibunya masih saja tersenyum. Ia diam, berpikir sejenak, lalu berkata: ke surga. Wajah ibunya tiba-tiba pucat.

Sore itu, di halaman belakang, ia menemukan seekor kucing yang berjalan pincang. Salah satu kaki belakangnya terluka. Ia mengulurkan tangan. Kucing itu mendekatinya. Awalnya ia hanya mengelus-elus kucing itu, memanjakannya. Lalu muncul keinginan untuk mencekik kucing itu. Kucing itu mengeong. Meronta. Kaki depannya berusaha mencakar tangannya. Kuku-kuku tajamnya keluar. Tapi itu justru membuatnya semakin keras mencekik. Ia berdiri, membawa kucing itu ke kamar mandi. Ia tak lagi peduli apakah tangannya terluka. Ia tenggelamkan kucing itu di bak mandi. Bunyi meong-nya tak terdengar lagi, berganti gelembung-gelembung udara yang bermunculan naik ke permukaan. Kucing itu meronta. Ia kemudian memutar sedikit tangannya yang mencengkeram kucing itu. Ia bisa melihat mata kucing itu, membelalak, mengutuk. Dan itu membuatnya antusias. Dan itu memacu adrenalinnya. Ia tekan terus kucing itu. Ia tenggelamkan lebih dalam. Ia merasakan di dalam dirinya ada sesuatu yang bangkit. Ia merasa panas. Ia merasa bergairah. Ia tak peduli pada suara-suara di belakangnya. Dan ketika kucing itu mati, ia mulai tertawa. Di belakangnya, ibunya berdiri dengan wajah pucat.

Malam harinya ia tak bisa tidur. Ibunya menemaninya, dan terus membaca ayat demi ayat dalam Alkitab. Di lehernya, terkalung rosario yang biasa dipakai ibunya. Di balik pintu, ia mendengar suara ayahnya. Ayahnya sedang menelepon seseorang, membicarakan tempat, harga sewa, dan waktu. Ah, ia ingat. Lusa ia akan pindah. Entah ke mana. “Pejamkan matamu,” kata ibunya, terdengar lebih tegas dari biasanya. Ibunya telah menyaksikannya menenggelamkan seekor kucing hingga kucing itu mati. Barangkali ia masih shock. Barangkali juga ketakutan. Ia mungkin tak percaya anaknya melakukan hal sekejam itu. “Pejamkan matamu! Sekarang!” suara ibunya lebih tegas lagi. Ia pun memejamkan mata. Ibunya masih terus membaca ayat-ayat dalam Alkitab. Ia merasa tenang sekaligus kosong. Ia merasa … hampa. Lalu sesuatu dalam dirinya bangkit. Sesuatu yang ia kenali. Sesosok perempuan. Seorang anak yang lucu. Setelah sekian lama, ia melihat kembali mata itu, bibir itu, wajah itu. Seketika tubuhnya terasa hangat. Perempuan itu memeluknya. Ia pun memeluknya. Erat sekali.

IA telah selesai mengubur kucing itu. Kucing ketigabelas. Dan itu berarti, ia telah siap menghilangkan satu nyawa lagi, nyawa manusia. Ia telah memilih tempat. Ia juga telah menentukan waktu. Ia keluarkan ponselnya dan mengirimi lelaki itu pesan. Lelaki itu membalas. Dari pesannya, ia sama sekali tak curiga.

Ia jadi ingat, orang yang pertama kali ditenggelamkannya adalah teman sekelasnya. Sehari sebelum itu, ia menenggelamkan seekor kucing pincang di bak mandi. Setelah ia dan orangtuanya pindah, ia kembali menemukan dirinya yang sempat hilang. Ia kembali menjadi dirinya setahun sebelumnya, dan ayahnya kembali sering memarahinya, menyeretnya ke kamar mandi, menguncinya di sana berjam-jam. Dan dalam gelap, perempuan yang dicintainya itu muncul, menemaninya, mendekapnya. Ia dan perempuan itu bicara tentang banyak hal. Dan ia tak pernah lagi merasa sendiri, meski tak ada seorang pun di sisinya.

Mendapati anaknya bicara sendiri, ibunya mulai khawatir. Ayahnya semakin keras menghukumnya, apalagi setelah ia terang-terangan berkata akan mempertahankan sisi dirinya yang perempuan. Ayahnya marah dan sempat akan menenggelamkannya lagi di bak mandi, tapi dihentikan oleh ibunya. Selama bertahun-tahun, keluarga itu hidup dalam keterasingan. Seperti tak ada lagi yang mengenali dirinya masing-masing.

Dan ia ingat, di sebuah malam Natal, di usianya yang ketujuhbelas, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaan kedua orangtuanya. Ia memukul ayahnya hingga pingsan, mengikatnya, lalu menenggelamkannya di sebuah danau tak jauh dari rumah barunya. Sementara ibunya, ia beri obat tidur. Ia plester mulutnya. Ia sumbat lubang hidungnya. Ia ikat tangan dan kakinya. Lalu ia masukkan ibunya ke bak mandi yang kosong—dalam keadaan duduk. Keran ia buka. Air mengalir. Ia menyaksikan sendiri kematian perlahan menjemput ibunya. Ia tersenyum. Sebagai hadiah perjalanan ia tenggelamkan Alkitab yang selalu dibaca ibunya ke bak mandi itu. Besoknya, hari Natal, ia tak pergi ke gereja, melainkan ke halaman belakang rumahnya, tempat ia mengubur dua ekor kucing dua hari sebelumnya.

Suara mobil. Suara langkah kaki. Ia masih menyempurnakan make-up dan mematut-matut diri di depan cermin. Bunyi bel. Suara laki-laki itu memanggilnya. Ia meratakan lipstick, tersenyum, dan bangkit. “Cantik sekali,” kata perempuan di dalam dirinya. Ia memejamkan mata, membayangkan perempuan itu merangkulnya. Kini perempuan itu bukan lagi anak kecil. Perempuan itu begitu cantik dalam bayangannya. Satu kematian lagi, katanya. “Satu kematian lagi,” kata perempuan itu. Ia berjalan menuju pintu depan. Di kamar mandi, keran dibiarkan terbuka. Di dasar bathtub, ada sepotong kertas. Di kertas itu tertulis: Tuhan telah menggulirkan dadu, dan di keenam sisinya tertulis kata yang sama: dosa. (*)

Bogor.Maret.2011

 

*Terinspirasi dari dua cerpen Avianti Armand dan satu puisi Anna Akhmatova. Dimuat di Jurnal Cerpen Indonesia Edisi 12, 2012. Dimuat di antologi cerpen tunggal saya, “Pendamping”, IBC, 2012.

Iklan

7 pemikiran pada “Air dan Seorang Perempuan*

  1. hmmm ceritanya tentang pembunuhan,,,kejam juga yaa orang tuanya sendiri dibunuh tapi krn org tuanya jg sih kejam serem…tapi suka cerita yg beginian daripada yg selingkuh2an 😀

  2. Maaf, maksud dari kata-kata ” Tuhan telah menggulirkan dadu, dan di keenam sisinya tertulis kata yang sama:dosa ” itu apa ya? Saya kurang mengerti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s