Makan Malam Kita*

SUDAH lama makan malam kita seperti ini. Kau tak menatapku. Aku tak menatapmu. Kita tak benar-benar saling bicara kecuali balas-membalas komentar soal hidangan yang ada. Kau bilang daging ayam itu sedikit alot. Aku bilang itu ayam kampung. Kau bilang sambal yang kubuat terlalu pedas. Aku bilang aku sengaja. Kau bilang menu makan malam kali ini terlalu sedikit. Aku bilang seharian aku di luar. Kau bilang nasi liwet yang kubuat selalu gurih. Aku bilang itu keahianku. Selanjutnya kau melahap nasi liwet dan ayam goreng itu tanpa mengatakan apapun. Aku pun sama. Denting sendok pada piring jadi terdengar nyaring. Televisi di arah jam sembilan menayangkan berita yang sama sekali tak kita simak.

Sesekali aku menoleh ke arah televisi itu dan sekilas kutemukan wajahmu. Kelihatannya kau lelah. Apakah tadi di kantor lagi-lagi terjadi sesuatu yang membuatmu kesal, semacam atasanmu memaksamu melakukan sesuatu yang kau benci? Ataukah kau baru saja bertengkar hebat dengan perempuan itu, karena suatu hal? Ataukah kau hanya sedang bersedih memikirkan anak kita yang sampai kini masih saja koma, di rumah sakit? Kau tahu, entah sejak kapan aku mulai menerka-nerka seperti ini. Sudah lama kau tak pernah lagi bercerita padaku. Aku sendiri rupanya tak pernah lagi berusaha memancingmu untuk bercerita. Kita sibuk dengan urusan kita masing-masing. Kita sibuk menyimpan kisah sedih kita masing-masing. Dan kini aku seperti tak bisa mengatakan padamu bahwa sesungguhnya aku pun sedang lelah. Ya, lelah. Bincang buku tadi sore tak berjalan seperti yang kuharapkan.

Bincang buku tadi sore, yang merupakan event terakhir dalam rangkaian peluncuran novel terbaruku, pada awalnya berlangsung normal dan menjanjikan. Alunan jazz. Pengunjung padat. Ketika satu per satu teman dari komunitas tampil bergantian membacakan beberapa fragmen, diiringi beberapa hal seperti tari dan olah tubuh, tepuk tangan ramai terdengar. Mereka antusias. Terlihat dari tatapan mata mereka yang berbinar-binar. Terlihat dari senyum-senyum mereka yang menyejukkan. Aku pun semakin percaya diri. Ketika akhirnya aku maju ke panggung dengan dibimbing sang moderator aku pun menjelaskan isi novelku. Kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Rasanya semua itu kulepaskan dengan begitu bebas.

Memasuki sesi tanya jawab rasa percaya diriku masih tinggi, apalagi sebelumnya anak-anak dari sekolah menulis yang pernah kututori menampilkan sebuah musikalisasi puisi yang menyengat. Dengan rasa bangga yang mengembang di dada, aku bersandar dan tersenyum setiap kali seseorang berjalan mendekati mikrofon dan mengajukan pertanyaan. Kau tahu lah. Pertanyaan-pertanyaan sepele. Hal-hal yang sudah kenyang kudengar dari bincang buku-bincang buku sebelumnya di daerah lain. Aku menanggapi pertanyaan-pertanyaan itu dengan tersenyum, dengan santai. Kadang memang pada saat seperti itu yang paling penting adalah sikap kita yang ramah, bukan jawaban kita yang prestisius bergaya doktoral. Mayoritas pembaca di negeri kita ini masih berada dalam tahap menyukai dan belum sampai ke tahap menelisik—seperti halnya dirimu. “Setiap orang punya masalahnya sendiri. Untuk apa juga mereka menambah-nambah masalah seperti itu,” katamu dulu. Teringat kata-katamu itu aku jadi tersenyum. Saat itu kalau tak salah aku merespon perkataanmu itu dengan memberengut dan menolak ajakanmu untu bercinta.

Bincang buku tadi sore nyaris berakhir dengan sempurna seandainya sang moderator lekas menutup sesi tanya jawab seperti yang direncanakan. Akan tetapi, lelaki itu, tiba-tiba berdiri dan bertanya dengan lantang—nyaris serupa teriakan, “Bagaimana perasaan Anda setelah menjadi penulis best seller dan mendapatkan banyak uang dari tulisan Anda itu?” Pertanyaan yang mengganggu. Pertanyaan yang menyebalkan. Sebuah perwujudan dari rasa iri atas kesuksesan yang diraih orang lain. Sebuah pertanyaan yang seketika merubah suasana kafe dari hangat menjadi dingin. Dari ramai menjadi hening. Normalnya untuk menanggapi pertanyaan seperti itu, aku akan memasang senyum lebih, lantas mengatakan dengan lembut kepada si penanya bahwa tentu saja aku senang karena itu sebuah pencapaian yang berarti dalam karir kepenulisanku. Tapi saat itu, kata-kata itu tak bisa kuucapkan. Jangankan berkata-kata, senyum pun aku tak bisa. Di belakang sana ia berdiri, lelaki itu. Sementara matanya yang mengantuk terus menatapku, sedikit senyum dibiarkannya terus terpampang di wajahnya yang oval. Lelaki itu menghinaku.

DULU ketika aku dan lelaki itu masih sering bertemu, ia pernah menggodaku dengan berkata bahwa ia akhirnya menemukan apa yang selama ini ia cari. Kau tahu apa yang ia maksud? Aku. Apa yang ia cari-cari itu adalah aku, sosok perempuan seperti aku, seseorang yang bisa sekaligus menjadi ibu dan sahabat baginya, juga kekasih. Aku tentu saja tak menanggapi dengan serius perkataannya itu. Usia dua puluh. Semuanya terlihat sederhana pada usia itu. Dan ia laki-laki. Dan seperti halnya dirimu dulu pada usia itu, lelaki itu pun tentu penuh dengan daya khayal yang begitu liar di saat aku berada di dekatnya. Entah apa yang tergambar di benaknya saat aku mendekatkan diri kepadanya ketika menjelaskan cara kerja penerbit-penerbit besar di negeri ini, atau saat wajahku nyaris bersentuhan dengan wajahnya ketika ia dengan bersemangat menjelaskan pemahamannya tentang puisi-rupa. Beberapa kali secara tak sengaja kutemukan sesuatu berpendar-pendar di sepasang matanya dan bibirnya yang tipis itu seperti ragu-ragu antara menutup atau membuka. Ia seperti kehausan. Saat itu aku menduga ia telah melihat sesuatu dari diriku yang semestinya kusembunyikan. Entah persisnya apa. Mungkin belahan dada. Setiap lelaki selalu tertarik melihat belahan dada. Bukankah begitu? Kau sendiri yang mengatakannya padaku di awal-awal kita berpacaran dulu. Kau juga yang memintaku untuk selalu mengenakan pakaian berleher rendah—terutama jika kita sedang bersama. Ketika kau memelukku dari belakang, aku tahu sebenarnya matamu tertuju ke belahan dadaku itu. Barangkali saat itu kau juga berharap aku mengenakan pakaian yang berleher lebih rendah lagi. Adegan-adegan nakal terbayang di benakmu. Lelaki itu, tentu tak jauh berbeda denganmu. Kadang aku sengaja memposisikan diri agar ia bisa leluasa menikmatinya beberapa saat. Entah kenapa aku pun menikmatinya. Kukira ini akibat dari apa yang kau lakukan bertahun-tahun ini: membiasakanku melakukannya.

Kembali ke perkataan lelaki itu, meskipun seperti yang kukatakan aku tak menanggapinya dengan serius, tapi tak kusia-siakan kesempatan untuk merasakan lagi darahku berdesir-desir oleh sentuhan tangannya, jantungku berdegup-degup oleh bisikan-bisikannya. Ia saat itu mungkin mengira aku benar-benar menyukainya sampai-sampai aku berani bertindak sejauh itu, aku yang telah menikah dan memiliki seorang anak. Ia selalu menatapku dengan matanya yang mengantuk. Aku selalu membalas tatapannya itu dengan senyuman sederhana namun justru disukainya. Ia kemudian akan berkata bahwa aku begitu cantik. Aku biasanya hanya melebarkan senyum dan menegaskan dalam hatiku bahwa ucapannya itu hanya gombalan biasa.

Sejujurnya aku memang menyukai lelaki itu, dalam arti yang lain, bukan rasa suka yang berlanjut jadi keinginan untuk memiliki. Rasa suka itu lebih dekat kepada kekaguman. Ya, kekaguman. Aku kagum pada kemampuan lelaki itu menulis puisi, menggabungkan kata-kata yang sebenarnya biasa saja menjadi sesuatu yang sangat mewah. Aku tak pernah benar-benar memahami puisinya. Tapi aku menikmatinya. Sangat menikmatinya. Ya, seperti yang dikatakan banyak orang tentang seni dan keindahan: untuk bisa menikmati sesuatu kita tak harus lebih dulu memahaminya. Barangkali seperti itu juga lah aku memandang lelaki itu. Aku tak pernah benar-benar memahami apa yang berkecamuk di kepalanya saat ia menatapku, aku tak pernah benar-benar memahami apa sebenarnya yang diinginkan lelaki itu dariku, dari sebuah hubungan tak kasat mata yang bisa menghilang kapan saja. Tak pernah. Akan tetapi, aku menikmatinya, kehadiran lelaki itu, apa-apa yang kami lakukan bersama. Bisa jadi lelaki itu pun memandangku dengan cara yang sama. Ya, bisa jadi. Lagipula kami memiliki profesi yang nyaris sama. Ia penyair. Aku novelis. Kami sedikit berbeda dalam cara memperlakukan kata. Tapi ya, intinya adalah kata.

Selain pandai menulis puisi, lelaki itu juga pandai mengupas puisi untuk kemudian dituangkannya ke dalam tulisan. Sesuatu semacam esai. Atau kritik. Aku pernah membaca beberapa kupasannya, tulisan-tulisan yang selalu batal dikirimkannya ke media. Lelaki itu bilang, tulisan-tulisannya masih buruk. Aku sendiri malah berpikir kalau tulisannya itu luar biasa. Selain rapi, cerdas, tajam, juga sabar. Banyak tulisan serupa yang kutemukan di koran minggu tak lebih dari sekadar tamasya kata yang singkat dan tergesa-gesa. Tulisan-tulisannya jauh lebih baik, lebih berpeluang untuk kulabeli impressive.

Namun begitulah lelaki itu, selalu merasa karya-karyanya tak cukup bagus, terlampau tinggi menentukan standar kelayakan terhadap karya-karyanya sendiri. Aku tak suka sifatnya yang satu ini. Jujur aku tak suka. Sifatnya ini menghambat ia untuk merengkuh ruang-ruang yang sebenarnya ada dan bisa direngkuh olehnya yang berada pada level itu. Ia terlalu perfeksionis. Terlalu perfeksionis. Aku rasa itu gara-gara ia terlampau mengagumi penulis-penyair yang juga luar biasa perfeksionis, penulis-penyair yang tak segan-segan menghapus atau membuang karya-karyanya sendiri yang dianggapnya buruk!

Tapi jika kusinggung hal ini lelaki itu akan melancarkan pembelaannya: seorang perfeksionis akan selalu menghasilkan sesuatu yang (nyaris) sempurna. Aku biasanya tersenyum saja. Jiwa muda. Penuh ambisi dan cita-cita. Seseorang pada usianya belum tahu apa-apa soal kejamnya sistem kehidupan ini, termasuk bagi seorang penulis. Idealisme buta seringkali berujung pada kejatuhan dan kematian. Kau harus lebih dulu serba berkecukupan untuk bisa sepenuhnya mengibarkan idealismemu. “Pada akhirnya uang tetap memegang kendali. Di mana-mana seperti itu,” katamu saat aku dulu mengeluhkannya. Pada salah satu pertemuan kami kuteruskan kata-katamu kepada lelaki itu. Kau tahu seperti apa reaksinya? Ia marah. Lelaki itu marah. Ia memintaku untuk tak pernah mengatakannya lagi.

PADA hari kau melihat lelaki itu menciumku, ia baru saja mengatakan rahasia kecilnya, “Aku sedang menulis novel yang tokoh utamanya adalah kamu.” Aku terkejut. Kulihat matanya berbinar. Senyumnya tegas. “Novel itu nanti kupersembahkan untukmu,” ujarnya. “Di halaman depan akan tercantum nama pemberianku untukmu, jadi suamimu tak akan tahu,” lanjutnya. Aku memberinya senyum. Barangkali senyum termanis sekaligus teraneh yang pernah ada.

Sejujurnya saat itu, aku baru saja akan memberitahunya bahwa aku tak bisa lagi bertemu dengannya, bahwa aku mulai merasa bersalah kepadamu dan pernikahan kita, bahwa aku tak ingin sampai melakukan hal yang lebih gila lagi yang kelak bisa menghancurkan rumah tangga kita. Akan tetapi, nyala api yang terus membesar pada diri lelaki itu membuatku tak bisa mengatakannya. Lidahku kelu. Sepanjang makan siang itu aku hanya menyimak setiap hal yang ia ucapkan tanpa sekalipun berusaha menyelanya. Serba salah. Itulah yang kurasakan.

Kecemasan yang kurasakan siang itu—seperti yang kau tahu—dipicu oleh kejadian pada pertemuan kami beberapa hari sebelumnya. Saat itu malam. Hujan deras. Sepulang dari KFC aku terpaksa mengantar lelaki itu ke kamar kostnya—ia bilang besok paginya ada praktikum dan ia lupa ada laporan yang harus dan belum dikerjakannya. Kebetulan saat itu aku bawa mobil. Kenapa tidak? pikirku. Hanya mengantar. Tapi lelaki itu ternyata menciumku saat ia hendak membuka pintu mobil untuk berpamitan, tepat di bibirku. Itu adalah pertama kalinya. Sebelumnya aku tak pernah mengira detik-detik mendebarkan itu akan tiba. Beberapa bulan kami bersama—dalam arti dekat sebagai teman bicara, aku selalu berusaha meyakinkan diriku bahwa hal-hal menggelikan semacam itu tak akan terjadi. Ia baru dua puluh. Aku tiga dua. Yang benar saja. Aku masih cukup waras untuk tak mengorbankan delapan tahun pernikahan kita demi seorang lelaki yang bahkan tak pernah benar-benar kukenal. Selama itu, aku sebisa mungkin membentengi diriku, sebuah upaya antisipatif seandainya lelaki itu kelak berulah.

Namun malam itu, mungkin juga karena hujan yang begitu deras, aku seperti merelakan saja bibirku diciumnya. Dua kali. Seketika aku merasakan suhu tubuhku naik. Kutatap matanya. Ia tersenyum. Ketika ia keluar dari mobil tiba-tiba saja ia membuka pintu yang satu lagi, memintaku keluar. Dan ya, hal-hal setelahnya seperti berlangsung begitu cepat: bajuku basah, ia menciumku, pintu kamarnya terbuka, ia menciumku, pintu dikunci, ia menciumku, televisi menyala, ia menciumku..

Tapi tunggu dulu, kau salah jika mengira malam itu kami bercinta. Tidak. Itu tak terjadi. Syukurlah itu tak terjadi. Aku telah bertelanjang dada ketika kesadaranku kembali. Syukurlah itu cukup bisa membuatnya berhenti. Meskipun ya, aku tahu, ia kecewa.

Tapi ketika pertengkaran itu terjadi, kau telah terlanjur percaya pada kecemburuanmu. Berulangkali kukatakan bahwa aku dan lelaki itu tak bercinta, berulangkali pula kau menyebutku pembohong, pendusta, penipu, pelacur. Kau tahu, aku sungguh kau buat sakit hati malam itu. Tak peduli aku telah melakukan kesalahan yang mungkin begitu menyakitimu, sakit hatiku tak terkalahkan. Malam itu kau tidur di sofa. Di kamar aku menangis hingga pagi tiba. Dan setelah itu hari-hari di rumah seperti tak menyertakan kita. Kita tak lagi benar-benar saling bicara. Kita tak lagi benar-benar saling menatap. Kita bahkan lupa bahwa anak kita membutuhkan perhatian kita. Ia menyembunyikan memar-memar pada lengan dan pahanya. Ketika kita akhirnya tahu ia sering dijadikan korban kenakalan teman-teman sekelasnya, semua sudah terlambat. Anak kita berusaha menghajar salah satu temannya itu namun justru ia berakhir di IGD. Sampai kini ia masih koma.

Dan berlanjutlah hari-hari seperti itu. Kita makan malam. Berdua. Kadang kau yang memasak. Kadang aku. Tak pernah lagi kita benar-benar saling bicara. Tak pernah lagi kita benar-benar saling menatap. Hingga akhirnya aku pun tahu kau tengah menjalin sebuah hubungan dengan seseorang, perempuan itu, salah satu rekan kerjamu yang wajah tirusnya memenuhi layar ponselmu. Sempat terbersit keinginan untuk mengeluhkan hal itu padamu, juga memarahimu, tapi kutahan. Biarlah, gumamku. Aku yang lebih dulu melakukan kesalahan. Anggap saja ini caraku membalas kesalahanku itu.

MAKAN malam telah selesai. Televisi masih menyala. Kursimu sudah kosong. Baru saja ponselmu berdering dan kau tampak keberatan aku menguping apa yang kau percakapkan dengan seseorang di balik telepon. Apakah perempuan itu yang meneleponmu? Tak apa. Tak apa jika kau tak ingin aku mengganggu kemesraan kalian. Aku masih bisa bertahan di sini. Di kursi ini. Barangkali hingga suara-suara dari televisi itu bertebaran membentuk sesuatu yang kukenal. Sebuah wajah. Sebuah nama. Lelaki itu.

Entah bagaimana aku menjelaskan apa yang kurasakan ini. Setelah sekian lama aku tak memikirkan lelaki itu, tiba-tiba saja kini aku begitu membencinya—karena tadi ia mempermalukanku—namun juga merindukannya. Terbayang lagi pertemuan-pertemuan kami dulu, percakapan-percakapan itu. Aku ingat di hari terakhir aku dan lelaki itu bertemu, kami tengah berbincang seru soal dunia kami. Ia sedang begitu kecewa. Salah satu teman penulisnya telah beralih profesi dari seorang penulis menjadi seorang penjual tulisan. “Penjual tulisan?” tanyaku bingung. “Ya, penjual tulisan. Seseorang yang menulis sesuatu untuk semata dijualnya,” jawabnya. “Aku harap kamu tak akan pernah jadi seorang penjual tulisan,” lanjutnya. Aku ingat hari itu. Dan betapa hari ini adalah persis satu tahun setelahnya. Persis.(*)

Bogor.2012-2013

*Dimuat di Majalah Femina, Edisi 2-8 Februari 2013.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s