Ingatan

AWAL Maret. Barangkali di sana musim masih semi. Udara masih terasa dingin, pohon-pohon yang tadinya ranggas mulai berdaun. Dan tentunya, satu hal yang tak mungkin dilewatkan orang Jepang sepertimu di musim ini adalah hanami, menikmati daun-daun sakura di sebuah taman bersama keluarga atau teman-temanmu. Ngobrol, makan, minum sake, tentunya hal yang lumrah dilakukan dalam hanami. Namun tiga tahun yang lalu saat kita melakukan hanami berdua saja, kamu tak membawa sake. Pastinya terasa aneh bagimu, sebab orang Jepang kenyataannya tak bisa dipisahkan dari sake. Di setiap rumah pasti ada sake—kecuali untuk keluarga non-Jepang yang adalah pendatang. Entah kenapa saat itu kamu tak membawanya. Barangkali untuk menghormatiku, sebab aku tak minum sake. Dan jika kamu sendiri saja meminumnya, tentunya tak akan asyik.

Di sini tak ada hanami. Di sini tak ada pohon sakura yang bisa dinikmati daun-daunnya. Satu-satunya yang bisa dinikmati adalah hujan dalam skala kecil yang membuat tubuh kota seperti wajah manusia yang terkena air wudhu. Pohon-pohon seperti merunduk. Tiang-tiang dan trotoar serupa sepasang kekasih yang saling mendiamkan diri. Setahun yang lalu, kita menikmati hujan seperti ini berdua, di dalam angkot, di kursi paling belakang, berhadapan. Saat ini, yang duduk di hadapanku bukan dirimu, tapi seorang perempuan yang sedari tadi sibuk membalas SMS. Wajahnya tak sama denganmu. Jauh berbeda. Tapi kehadirannya membuatku teringat padamu. “Hujan itu indah ya,” katamu saat itu. Ya, hujan memang indah, terutama jika kita sedang bersama seseorang yang kita sukai.

Meski Maret di negeri ini sering dikaitkan dengan awal musim kemarau, nyatanya hujan masih sering turun. Apalagi kota ini dijuluki Kota Hujan. Wajar saja rasanya jika memasuki musim kemarau pun hujan tidak benar-benar absen. Kadang hujan turun dua kali sehari: pagi dan malam. Kadang tiga kali sehari, seperti minum obat saja. Jika terbangun dini hari, dan hujan sedang turun, akan terasa kulit seperti digerayang, leher seperti diraba, dan udara yang keluar dari mulut seolah-olah terlihat. Setahun yang lalu kamu merasakannya. “Dingin,” katamu. Tapi kita saat itu berdua. Dan suhu tubuh manusia seperti dirancang untuk saling menghangatkan di saat-saat seperti itu. Bukankah begitu?

Bagaimana kabar mantan suamimu? Masihkah kalian bertemu sewaktu-waktu? Aku turut prihatin atas perceraian kalian. Aku turut prihatin atas kehidupan lelaki itu yang tiba-tiba memburuk. Pachinko[1] memang berbahaya. Dibandingkan keiba[2] dan takarakuji[3], pachinko lebih berpeluang membuatmu miskin. Lima ratus Yen untuk setiap putaran yang berdurasi rata-rata lima menit. Dalam satu jam saja uangmu akan habis 5000-6000 Yen. Sekali waktu kamu mungkin beruntung mendapatkan banyak bola, dan itu membuatmu ingin melipatgandakannya. Namun kamu tak pernah tahu apakah kamu memang sedang beruntung atau hanya dipermainkan si pemilik usaha pachinko. Sudah jadi rahasia umum bahwa mesin-mesin itu dikendalikan di suatu tempat. Dan mantan suamimu itu, barangkali, sedang sial. Bertahan dari pagi sampai malam di mesin pachinko, sambil berharap mendapatkan kemenangan besar, nyatanya malah kehilangan uang dalam jumlah yang fantastis. Barangkali ia butuh pelampiasan. Tidak seperti kamu yang tak lagi mencintainya, ia mungkin masih mencintaimu.

Aku tak pernah mencoba mesin itu. Bukan karena patuh pada ajaran agama, tapi karena takut uangku akan habis begitu saja. Kamu pun mengaku jarang bermain pachinko. Kamu lebih memilih takarakuji. Lebih aman. Peluang menjadi bangkrut gara-gara membeli takarakuji hampir nol. Suatu waktu aku pernah memintamu mengantarku ke tempat penjualan takarakuji. Kamu sepertinya heran. Kedua alismu yang tipis hampir bertemu di tengah. “Bukankah ajaran agamamu melarangmu berjudi?” tanyamu saat itu. “Aku tak berniat berjudi,” sanggahku. “Aku hanya ingin membeli selembar takarakuji untuk kusimpan dan kubawa ke tanah air. Sebagai pengingat bahwa aku pernah ada di negerimu, bahwa aku pernah menikmati waktu bersamamu di sana.” Jamboo takarakuji[4]. Selembar 300 Yen. Yang menjual saat itu adalah seorang ibu-ibu gemuk berkacamata. Kita membeli dua lembar. Satu untukku. Satu untukmu.

“Bagaimana jika kamu ternyata menang?” tanyamu.

“Kemungkinan itu sangat kecil,” jawabku. “Jika pun aku menang, uangnya akan kuberikan padamu.”

“Benarkah?”

“Ya.”

Ratusan juta Yen. Jumlah yang sangat besar. Dengan uang itu kamu bisa sering-sering mengunjungiku di Indonesia.

 
ANGKOT berhenti. Lampu merah di depan menyala. Tampak angka yang terus berubah seperti hitungan mundur. Perempuan di hadapanku kini tak lagi sibuk membalas SMS. Ia ditelepon seseorang. Barangkali pacarnya. Di luar, hujan masih turun.

Sudah hampir dua tahun aku tak mendengar suaramu. Aku khawatir tak lagi bisa mengenalinya. Jika aku berusaha mengingat-ingat suaramu seperti apa, yang kuingat justru suara teman-temanku: Intan, Rina, Alya. Mereka suka menggodaku. “Mana pacar Jepangmu itu?” “Kapan nikah?” “Mau dibawa ke sini atau hidup di sana?” Konyol! Kita bahkan belum pernah sepakat untuk menikah.

Desember dua tahun lalu aku memang pernah iseng mengajakmu menikah. Saat itu kita sedang berdua di balkon kamar menunggu detik-detik pergantian tahun.

“Jangan gila! Aku punya suami,” katamu.

“Tapi kamu tak lagi mencintainya. Iya, kan?” sergahku.

“Iya sih.”

“Ya sudah kalau begitu, bercerai saja.”

Aku menunggu kata-kata keluar dari mulutmu, tapi kamu diam saja. Lalu detik pergantian tahun pun tiba. Satu demi satu kembang api bermunculan. Merah, hijau, kuning, biru. Malam mulai ramai. Orang-orang terdengar bersorak di beberapa tempat. Aku merangkulmu dari belakang dan berbisik di telingamu, “Menikahlah denganku.” Tapi kamu malah berusaha mengganti topik, memaksaku mengingat-ingat tahun baru yang kita lalui di Jepang setahun sebelumnya.

Tahun baru di negerimu begitu sepi. Tak ada perayaan kembang api. Yang dilakukan orang-orang di tengah malam—terutama anak-anak muda—adalah mendatangi jinja[5] untuk berdoa. Kamu dan suamimu memilih melakukannya di pagi hari, pagi pertama di tahun baru.

“Kamu mau ikut berdoa?” tanyamu. Aku mengangguk saja.

Meski sejak tengah malam sudah banyak orang yang berdoa, pagi hari ternyata jinja belum juga sepi. Banyak anak-anak. Barangkali pagi adalah waktu berdoa untuk keluarga, sedangkan malam adalah waktu berdoa untuk anak-anak muda.

“Kamu yakin mau ikut berdoa?”

Kamu khawatir. Mungkin juga heran. Tidak seperti dirimu, aku memeluk suatu agama. Dan berdoa kepada Tuhan yang bukan Tuhanku tentu saja sangat dilarang. Tapi kuyakinkan padamu bahwa aku baik-baik saja. Setelah mengantre cukup lama, tiba giliran kita. Kamu, suamimu, aku, melemparkan uang koin ke kotak di depan altar, menangkupkan tangan di dada setelah membunyikannya dua kali, lalu memejamkan mata dan berdoa selama lima detik. Selesai. Suamimu lalu mengajak kita mendatangi tempat penjualan omamori[6] dan omikuji[7]. Dia tampak senang. Sepertinya dia tidak tahu apa-apa tentang kedekatan kita. Atau mungkin, pura-pura tak tahu.

“Kamu tadi beneran berdoa?” tanyamu, masih saja khawatir.

“Ya, aku tadi berdoa,” jawabku. “Tapi tentunya aku berdoa kepada Tuhan yang kuyakini,” lanjutku.

Sebelum meninggalkan jinja aku menoleh untuk melihat kembali miko[8] yang tadi menyambut kita. Cantik sekali. Sangat disayangkan ia memilih menjadi miko. Kamu mencubit pinggangku. Mungkin cemburu. Suamimu melihatnya. Ia menatapku cukup lama. Mungkin cemburu.

Kejadian itu hampir tiga tahun yang lalu. Tahun baru terakhir kulewatkan sendiri dengan berdiri di balkon kamar, menikmati suguhan kembang api sambil sesekali meniup terompet. Kini sudah Maret. Tak ada lagi terompet. Tak ada lagi kembang api.

 
TIBA di depan Botani Square, angkot berhenti. Setelah turun dan membayar tiga ribu rupiah aku bergegas menuju koridor. Orang-orang berlalu lalang. Warung-warung kecil di sisi kanan kulewati satu per satu. Aku jadi ingat vending machine yang begitu banyak ditemukan di negerimu. Isinya pun beranekaragam. Minuman, makanan, rokok. Mainan, telur, bunga. Bahkan aku pernah menemukan vending machine yang isinya adalah payung. Ada-ada saja. Seandainya vending machine disebar di negeri ini, ditempatkan di pinggir-pinggir jalan, di stasiun, aku yakin akan segera mengalami kerusakan. Bangsaku berbeda dengan bangsamu. Bangsamu suka sekali menjaga dan merawat, bangsaku suka sekali merusak. Tapi seandainya vending machine benar-benar disebar di negeri ini, aku penasaran apa saja yang tersedia di dalamnya. Barangkali ada sejumlah vending machine yang menyediakan karedok, bubur ayam, pecel, jamu. Rasanya terdengar aneh.

Masuk ke Botani Square lewat pintu samping, aku langsung mencari eskalator-naik. Musala ada satu lantai di atas. Dan ini sudah masuk waktu ashar.

Dua tahun yang lalu, di waktu yang nyaris sama, kamu duduk menunggu di sebuah kursi kayu di dekat musala. Kursi itu kini diduduki dua orang perempuan. Yang satu berkerudung. Yang satu tidak. Aku membayangkan kamu berkerudung. Cantik pastinya. Orang-orang mungkin mengira kamu Muslim. Dan mereka pastinya kaget ketika kamu membuka kerudung, sebab kamu memakai anting dengan gantungan salib berwarna perak.

Saat itu pun tentunya orang-orang banyak yang menoleh mengamatimu, dan bertanya-tanya dalam hatinya: apa yang dilakukan seorang Kristiani di dekat musholla? Hahaha.. Mereka tak tahu kamu bukan seorang Kristiani. Mereka tak tahu bagaimana kamu memandang suatu agama.

I’m Christian,” katamu saat kita meninggalkan musala, bercanda tentunya. Dengan anting salibmu itu kamu memang tampak seperti seorang Kristiani. Tapi adakah seorang Kristiani yang tak pernah pergi ke gereja di hari Minggu, tak pernah membaca Alkitab, bahkan tak menyimpan Alkitab di rumahnya? Aku ragu.

“Tapi aku menikah di gereja,” katamu, bercanda lagi. Ya. Orang Jepang memang aneh. Berdoa di jinja saat tahun baru, menikah di gereja dengan tata cara Kristiani, lalu ketika meninggal dikremasi lebih dulu sebelum dimakamkan, padahal kremasi itu identik dengan ajaran Hindhu dan Buddha.

Barangkali bagi orang Jepang sepertimu, agama lebih dipandang sebagai budaya. Tak ada keharusan memeluk suatu agama. Agama adalah urusan pribadi. Negara tak boleh ikut campur. Bahkan telah diatur dalam Undang-undang negaramu bahwa tidak diperbolehkan menggunakan uang negara untuk kepentingan keagamaan (seperti membangun tempat ibadah, merayakan hari-hari keagamaan, dsb).

Bagiku, tentu saja itu sangat ganjil. Tapi Jepang memang negara sekuler. Wajar saja jika agama tak begitu penting di sana. “Japanese people belive ini God but it’s not too important,” katamu suatu malam, dengan logat Inggris yang sedikit aneh. Ya, sepertinya memang begitu. Namun satu hal yang perlu dicermati: toleransi beragama di negaramu begitu tinggi.

Agak aneh sebenarnya, di negara yang katakanlah sebagian besar penduduknya tak beragama, toleransi beragama justru begitu tinggi. Mungkin karena kalian begitu menghormati privasi seseorang, sedangkan agama adalah urusan pribadi. Bersikap dan berperilaku baik tanpa perlu beragama, barangkali seperti itulah dirimu. Memang benar kenyataannya, memeluk suatu agama tidak lantas membuat seseorang berperilaku baik. Manakah yang lebih penting: beragama atau berperilaku baik? Bagimu tentu saja berperilaku baik. Bagiku, mungkin keduanya. Satu pertanyaan yang kurasa cocok diutarakan kepada orang-orang di negeri ini: orang yang tak beragama saja perilakunya baik, mengapa orang yang beragama justru tidak? Pembakaran gereja di Temanggung, penyerangan jemaat Ahmadiyyah di Pandeglang yang memakan korban jiwa, dua kejadian ini hanya sedikit dari banyak kasus kekerasan yang dilakukan sekelompok orang atas nama agama di negeri ini, sekelompok orang yang merasa dirinya sangat berhak menghakimi orang lain, sekelompok orang yang merasa dirinya adalah utusan langsung dari Tuhan Yang Maha Fasis!

Kamu tahu, aku jadi teringat percakapan seru kita tentang hal ini beberapa saat sebelum kita berpisah di Bandara Soekarno-Hatta dua tahun lalu. Aku bertanya seperti apa pendapatmu tentang Tuhan. Kamu malah balik bertanya apa pentingnya hal itu bagiku. “Tak ada. Hanya ingin tahu,” kataku, tersenyum. Lalu kamu menggandeng lenganku dan berkata, “Sesungguhnya aku percaya sesuatu semacam Tuhan itu ada, sesuatu yang mengatur segalanya dan menghadirkan keajaiban-keajaiban di banyak tempat yang benar-benar di luar nalar manusia. Tapi kadang, ketika aku menyaksikan begitu banyak orang baik menderita dan mati mengenaskan, aku jadi ingin berpikir bahwa sesuatu semacam Tuhan itu tak ada. Soalnya, jika aku percaya sesuatu semacam Tuhan itu ada, maka saat itu aku akan sangat membencinya. Bayangkan. Tuhan Yang Maha Baik telah membiarkan orang-orang baik bernasib begitu buruk. Tuhan macam apa itu? Bagaimana mungkin aku tak membenci Tuhan seperti itu?”

Aku menyimak setiap kata yang kamu ucapkan itu. Di sepanjang eskalator bergerak mataku tak sedetik pun tak menatapmu. Sesampainya di lantai atas kamu berkata, “Aku tak ingin membenci Tuhan. Rasanya sungguh tak nyaman.” Aku mengangguk. “Ya,” kataku, “membenci Tuhan adalah sesuatu yang ‘buruk’, membuatmu tak nyaman sepanjang waktu.” Kamu menatapku, seperti bertanya-tanya dalam hatimu apakah benar seseorang yang nyaris tak pernah melewatkan salat sepertiku pernah juga membenci Tuhan. Tentu saja pernah, batinku. Tapi tidak ketika sedang bersamamu, lanjutku. Ketika sedang bersamamu aku justru begitu menyukai Tuhan dan berkali-kali mengucapkan syukur atas nikmat dan karunia-Nya yang telah diberikan-Nya padaku. Bagaimana tidak? Hangat tubuhmu. Manis bibirmu. Lembut lehermu. Bagaimana mungkin aku jadi membenci Tuhan saat aku begitu menikmati semua itu? Kamu sendiri, apakah seperti itu?

Saat itu kita berciuman tiga puluh tiga detik lamanya sebelum kamu akhirnya masuk. Selalu mengesankan, meskipun tak semengesankan ciuman kita di Bandara Haneda setahun sebelumnya. Tiga puluh delapan detik yang panas.

Dan kini aku berdiri mengantre di XXI ini, di belakang seorang perempuan yang tak kukenal, dan tiba-tiba saja aku begitu merindukanmu. Dua tahun yang lalu aku menggenggam tanganmu di tempat ini. Dua tahun yang lalu aku memelukmu di sepanjang film berlangsung di Studio 3. Dua tahun yang lalu aku menciummu seratus dua puluh lima detik lamanya di studio itu.

Aku, benar-benar merindukanmu. Lima bulan sudah sejak email balasan terakhirmu dan tadi pagi aku bermimpi bercinta denganmu. Dan sejak aku terbangun, aku terus-menerus teringat padamu, juga hal-hal yang pernah kita lakukan bersama. Rasanya seperti baru beberapa saat yang lalu aku menciummu dan memelukmu dan menghirup aroma tubuhmu.(*)

2011-2013

  
[1] Permainan judi yang cara kerjanya mirip pinball. Bedanya, dalam pinball diusahakan bola tidak masuk ke lubang, dalam pachinko, diusahakan bola masuk ke lubang. Setelah bola masuk ke lubang, gambar-gambar di layar akan bergerak. Biasanya ada tiga gambar. Jika semua gambarnya sama, maka si pemain memenangkan permainan.

[2] Pacuan kuda atau balap kuda.

[3] Lotre keberuntungan. Sejenis tebak angka.

[4] Jenis takarakuji dengan hadiah mencapai ratusan juta Yen (terbesar di antara jenis-jenis takarakuji). Satu lembar dihargai 300 Yen.

[5] Kuil Shinto.

[6] Jimat keberuntungan.

[7] Kertas berisi ramalan nasib. Jika ramalan tersebut bagus, akan dibawa pulang. Jika jelek, biasanya diikatkan di ranting.

[8] Semacam pendeta Shinto perempuan, orang yang melayani Kami-sama (Tuhan) dengan menjaga kebersihan jinja. Pakaian yang dikenakan oleh seorang miko adalah atasan putih, bawahan merah. Seorang perempuan yang menjadi miko harus masih suci alias perawan. Ketika si perempuan memutuskan untuk berkeluarga, maka ia tak lagi seorang miko.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s