Suatu Pagi Saat Tania Tak Mengenali Wajah Suaminya Sendiri

PAGI itu Tania terbangun dan butuh waktu beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa seorang lelaki yang tengah terbaring di sampingnya adalah suaminya sendiri. Bahkan, ia sempat akan berteriak dan menjauh.

Ia tak tahu kenapa hal itu bisa terjadi. Mereka sudah menikah lebih dari tujuh tahun dan telah memiliki dua orang anak kembar—yang baru saja masuk SD pertengahan tahun itu. Mereka tidak sedang bertengkar atau berselisih satu sama lain. Mereka bahkan baru saja menikmati persenggamaan yang luar biasa panas malam sebelumnya. Dan tiba-tiba, pagi itu, ia tak mengenali wajah suaminya sendiri.

Selama menggosok gigi dan mencuci muka di kamar mandi Tania terus memikirkannya. Ia masih terus memikirkannya ketika menanak nasi dan menyapu rumah. Bagaimana bisa aku melupakan wajah seseorang yang sudah bersamaku selama hampir sembilan tahun? pikirnya. Meskipun itu hanya beberapa detik yang singkat, tetap saja rasanya ganjil, lanjutnya. Sekitar sepuluh menit kemudian ketika alarm di kamarnya berbunyi ia masih saja belum berhenti memikirkannya.

Entah mengapa Tania merasa apa yang telah dilakukannya itu adalah sebuah kesalahan. Seperti dosa. Pagi itu ketika ia kembali ke kamar untuk mematikan alarm yang berbunyi untuk ketiga kalinya, ia menyempatkan diri beberapa menit untuk mengamati lekat-lekat wajah suaminya. Tak ada yang berubah, pikirnya. Sama sekali tak ada berubah, lanjutnya. Ia tak habis pikir bagaimana beberapa puluh menit sebelumnya ia bisa sampai tak mengenali wajah itu.

 
TANIA ingat hari itu adalah Hari Natal. Mereka tak merayakannya karena mereka bukan Kristiani. Mereka hanya menikmati hari itu sebagai satu hari lainnya dalam satu tahun di mana mereka bisa tidur beberapa jam lebih lama dari biasanya atau bersantai-santai seharian tanpa melakukan sesuatu yang berarti. Mereka bahkan baru benar-benar sarapan lewat dari jam sembilan. Selama ritual sarapan berlangsung, sementara suaminya dan kedua anaknya sesekali tertawa melihat kekonyolan tokoh-tokoh kartun di televisi, ia memikirkan lagi apa yang telah dialaminya ketika terbangun pagi itu. Seumur hidup baru kali ini aku melupakan wajah seseorang, pikirnya. Aku bahkan masih bisa mengingat dengan jelas wajah pacar pertamaku sewaktu SMA, lanjutnya.

Ketika kedua anaknya telah kembali ke kamar mereka, Tania menghampiri suaminya dengan secangkir teh bercampur susu yang merupakan minuman kesukaan lelaki itu. Lelaki itu sedang duduk di kursi rotan di teras belakang saat itu. Di tangannya sebuah buku terbuka. Sebuah novel dari salah satu penulis favoritnya—yang kebetulan adalah favorit Tania juga: Haruki Murakami.

Jika biasanya melihat suaminya sedang asyik membaca seperti itu Tania akan meninggalkannya begitu saja setelah meletakkan secangkir teh-susu itu di sebuah meja kayu persegi mungil di dekatnya, kali itu lain. Tania justru mengganggu suaminya itu dengan sebuah pertanyaan, “Pernahkah kamu berpikir suatu hari kita akan saling melupakan satu sama lain—wajah kita misalnya?” Lelaki itu menatap Tania. Ia tampak luar biasa terkejut.

Tania harus menunggu lebih dari satu menit lamanya setelah ia duduk di kursi rotan di sebelah kanan suaminya ketika akhirnya suaminya itu berhenti menatapnya dan berkata, “Tak pernah. Lagipula pertanyaan macam apa itu? Tiba-tiba. Bikin kaget saja.”

Tania tahu ia telah melakukan suatu kesalahan dan saat itu juga seharusnya ia mencoba memberikan penjelasan mengapa ia secara tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu. Mungkin sebaiknya kuceritakan saja apa yang kualami saat terbangun tadi, pikirnya. Tapi justru setelah pikiran itu muncul, ia malah semakin ragu untuk mengucapkan apapun. Satu pertanyaan konyol sudah lebih dari cukup untuk merusak hari libur kami, pikirnya. Pada akhirnya ia hanya terdiam tanpa sedetik pun menatap suaminya.

“Aku tak tahu apa yang membuatmu tiba-tiba melontarkan pertanyaan itu,” ujar suaminya—setelah dua-tigamenit yang terlampau sunyi,“tapi kuharap, itu bukan sebuah tanda bahwa kamu tidak bahagia dengan kehidupan rumah-tangga kita se—”

“Tentu saja bukan,” potong Tania. “Dua hal itu sama sekali tak ada hubungannya,” lanjutnya.

Tania sempat berpikir untuk mengatakan sesuatu lagi tapi kembali ia menahannya. Ia hanya mengarahkan matanya ke depan dan membiarkan suaminya perlahan-lahan kembali kepada apa yang dilakukannya pagi itu: membaca novel.

 
HINGGA malam begitu larut Tania masih saja merasa terganggu dengan peristiwa melupakan-wajah-suami-sendiri-selama-beberapa-detik itu. Ia merasa bersalah. Dan perasaan itu mengejarnya detik demi detik seperti anak panah yang karena suatu alasan baru akan menancap di tubuhnya pada waktu tertentu.

Tania enggan tertidur.Tidak sebelum ia mengetahui sedikit saja tentang apa yang dialaminya itu. Dan ia jadi begitu kesal karena justru pada saat ia ingin mencari informasi mengenai hal itu, paket internet di ponselnya sudah habis. Modemnya sendiri sudah tak lagi ia pakai sejak tiga bulan sebelumnya—ia kecewa karena koneksi internet yang ia dapatkan lebih sering begitu lambat ketimbang cepat.

Maka satu-satunya yang bisa ia lakukan saat itu adalah menunggu. Besok aku akan keluar dan aku akan mampir ke warnet yang kutemui dan akan kucari segala hal tentang melupakan-wajah-suami-sendiri-selama-beberapa-detik sampai aku benar-benar merasa puas, tekadnya. Malam itu Tania baru bisa memejamkan mata menjelang jam sebelas dan baru benar-benar bisa tertidur satu jam kemudian. Dan ia bermimpi, peristiwa melupakan-wajah-suami-sendiri-selama-beberapa-detik itu terjadi lagi. Dan di dalam mimpinya itu, Tania menemukan suaminya memergokinya dan begitu kecewa lantas menuduh ia telah berselingkuh dengan seseorang. “Bisa jadi kamu mengira seorang lelaki yang terbaring di sampingmu itu adalah selingkuhanmu,” ujar lelaki itu. Tania tak tahu mengapa di dalam mimpinya itu ia sama sekali tak melakukan pembelaan.

Besok harinya ketika terbangun Tania langsung mencari-cari wajah suaminya, memastikan apakah peristiwa itu terjadi lagi atau tidak. Dan jawabannya adalah tidak. Wajah di hadapannya itu langsung ia kenali di detik pertama ia melihatnya. Wajah itu tak membuatnya terkejut atau berkeinginan untuk berteriak atau bersegera bergerak menjauh. Syukurlah, pikirnya. Tania membiarkan beberapa lama ujung-ujung jarinya bersentuhan dengan kulit wajah suaminya seolah-olah ia sedang mengingat-ingat detail wajah itu untuk membuat sebuah replikanya. Ketika suaminya menghirup dan membuang napas, Tania bisa merasakan ada sedikit perubahan di area sekitar hidung. Ia tersenyum menyadari suaminya tampak begitu nyaman ketika tertidur—seperti anak kecil.

Dan pagi itu pun Tania bangkit dari tempat tidur seperti ia baru saja terbebas dari hukuman mati. Ia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah dengan langkah dan gerak yang ringan. Ia bahkan menyenandungkan lagu-lagu Jepang yang tak pernah benar-benar ia pahami apa artinya ketika melakukan semua hal itu. Jika saja suaminya saat itu sudah terbangun, lelaki itu tentu akan tahu Tania sedang berbunga-bunga karena sesuatu.

Setelah selesai dengan pekerjaan-pekerjaan rumahnya, saat itu jarum pendek di jam dinding di ruang tamu baru akan menyentuh angka tujuh, Tania memutuskan untuk keluar rumah. Ia merasa pagi itu adalah saat yang tepat untuk berjalan-jalan dan menikmati udara kota Bogor yang belum begitu tercampuri bau bensin dan asap knalpot. Ia sengaja mengganti dasternya dengan celana training panjang dan tanktop yang ditutupi jaket tipis. Siapa tahu nanti aku tergoda untuk jogging, pikirnya. Ketika telah berada di teras depan tempat pertama yang terbayang di benaknya adalah Lapangan Sempur. Lapangan itu memang tak begitu jauh dari rumahnya.

Tania benar-benar telah melupakan peristiwa ganjil yang dialaminya sehari sebelumnya itu dan pagi itu ia berlari-lari kecil mengitari Lapangan Sempur sambil menikmati lagu-lagu dariTokyo Jihen dan mencoba mengingat kapan terakhir kali ia berlari-berlari di lapangan seperti itu. Mungkin di tahun terakhir kuliah, pikirnya. Wajar saja kalau sekarang aku merasa cepat lelah, lanjutnya. Tapi rasa lelahnya itu tertutupi perasaan berbunga-bunga yang mengelilinginya. Dan ia berhasil menamatkan tiga putaran, sebelum akhirnya menyerah dan memutuskan untuk berjalan pelan satu putaran.

Saat itu lah ponselnya berdering dan Tania mengangkatnya di dering ketiga. Si penelepon tak menyebutkan nama atau mengucapkan “hallo” atau “selamat pagi” atau semacamnya. Ia justru memulai dengan sebuah kalimat, “Aku begitu merindukanmu beberapa hari ini.”

Awalnya Tania mengira si penelepon adalah orang iseng atau seseorang yang hendak menelepon kekasihnya tapi salah memasukkan satu digit angka terakhir. Tapi setelah beberapa detik, ia sadar, suara si penelepon begitu familiar, seperti suara seseorang yang dulu sekali pernah begitu dekat denganmu dan telah bertahun-tahun lamanya kau tak melihatnya. Dan benar saja. Dalam sekejap ia bisa menyebutkan nama si penelepon dan seperti apa bentuk wajahnya, perawakannya, bahkan tanggal lahirnya. Si penelepon itu rupanya adalah seseorang yang pernah cukup lama menjadi kekasihnya ketika ia kuliah dulu.

“Apa kabar? Lama sekaliya kita tak bicara.”

Tania kembali dikelilingi perasaan berbunga-bunga sampai-sampai ia merasa langkah-langkah kakinya pagi itu semakin ringan. Ia berjalan, dan laki-laki itu bicara. Ia berjalan, dan laki-laki itu bercerita. Ia berjalan, dan laki-laki itu tertawa. Tanpa ia sadari ia sudah menamatkan satu putaran dan ia hampir menamatkan setengah yang kedua.

Tania berbicara dengan lelaki itu selama hampir satu jam dan sesudahnya ia merasa takjub waktu bisa berlalu secepat itu, tanpa terasa lama. Anehnya, ia seperti ingin menelepon balik dan mengatakan kepada lelaki itu bahwa ia masih ingin mendengar lelaki itu bercerita lebih banyak lagi, tertawa lebih banyak lagi, mengucapkan kata rindu lebih banyak lagi. Ia sama sekali tak membalas ucapan rindu lelaki itu saat mereka bicara beberapa menit sebelumnya. Tak satu pun. Tapi justru setelah percakapan itu selesai ia, jadi ingin melakukannya.

Selama hampir tiga menit ia terus berpikir untuk menelepon balik lelaki itu dan akhirnya batal karenasaat itu seorang lelaki lain meneleponnya. Lelaki itu bertanya padanya mengapa ia tak ikut sarapan dengannya dan anak-anak seperti hari kemarin.

 
DI luar perkiraannya, percakapannya dengan lelaki itu membuat ia tak bisa berhenti mengingat-ingat hal-hal apa saja yang pernah ia dan lelaki itu lakukan bersama dulu. Sepuluh tahun. Tidak. Sebelas tahun. Rasanya seperti menggali harta karun yang tak bisa kau sentuh, pikirnya. Ia berkali-kali menerima tatapan penuh curiga dari suaminya termasuk ketika mereka sedang bersama-sama di tempat tidur dan akan melakukan persenggamaan seperti dua malam sebelumnya. “Ada apa? Ada sesuatu yang mengganggumu?” tanya suaminya. Cepat-cepat Tania menggeleng dan tersenyum dan mencium suaminya dan membiarkan lelaki itu melakukan apapun yang diinginkannya terhadapnya. Ia terpejam, dan terpejam. Di dalam benaknya ia justru membayangkan seseorang yang sedang menyentuh setiap inci bagian tubuhnya itu adalah seseorang yang tiba-tiba meneleponnya pagi itu.

 
TANIA akhirnya mengakui bahwa ia merindukan lelaki yang pernah menjadi kekasihnya itu. Dan rindu itu memuncak ketika pada hari ketiga sejak percakapan itu terjadi, lelaki itu mengiriminya SMS: Aku ingin mendengarsuaramu lagi. Kapan aku bisa meneleponmu? Malam ini?  Tania segera membalas SMS itu dengan mengatakan bahwa malam hari ia tak bisa mengangkat telepon dari seorang lelaki karena itu akan membuat suaminya merasa terganggu. Sebagai gantinya ia memberikan beberapa pilihan waktu kepada lelaki itu: jam delapan sampai jam sembilan (pagi), jam dua belas sampai jam satu (siang), jam tiga sampai jam empat (sore). Ia mengatakan bahwa pada jam-jam itu lelaki itu bebas menghubunginya dan ia pastinya tak akan sedang melakukan pekerjaan rumah. Lelaki itu lalu mengatakan akan menelepon Tania pada salah satu dari pilihan waktu itu.

Saat itu, Tania merasakan hatinya seperti baru saja tersapu ombak hangat yang beraroma wangi. Ia belumlah tahu bahwa ombak itu akan membesar dan terus membesar, dan bisa saja membuat hatinya itu kelak hancur berkeping-keping.

Seperti yang dijanjikannya lelaki itu menelepon Tania. Mereka pun bercakap-cakap seperti pagi hari di Lapangan Sempur itu. Cerita-cerita, gelak tawa. Tania mulai membayangkan lelaki itu benar-benar ada di hadapannya dan ia bisa menyentuh rambut lelaki itu dan membuatnya berantakan—seperti yang sering dilakukannya dulu. Tania juga mulai mengingat-ingat seperti apa rasanya hembusan napas lelaki itu di lehernya dan seperti apa rasanya bibir lelaki itu di bibirnya. Saat lelaki itu mengucapkan rindu, Tania tak lagi menahannya seperti pagi di Lapangan Sempur itu. Ketika lelaki itu mengecupnya seolah-olah mereka memang sedang begitu dekat secara fisik, Tania memejamkan mata, dan membiarkan dirinya tenggelam ke sebuah danau yang entah bagaimana airnya terasa hangat dan begitu manis. “Bagaimana kalau kita bertemu?” tanya lelaki itu. “Ya,” hanya itu yang diucapkan Tania, karena saat itu ia masih membiarkan dirinya mengambang melayang-layang di danau itu.

 
MALAM tahun baru Tania menghabiskan waktu bersama suaminya dan kedua anaknya. Mereka meniup terompet dan menyantap jagung bakar yang mereka buat sendiri. Sesekali suaminya menyuruh ia berpose dengan kedua anaknya dan lelaki itu memotretnya. Malam yang menyenangkan. Tapi saat itu Tania merasa kosong. Kosong sekosong-kosongnya. Barangkali ia telah meninggalkan hatinya di sebuah kamar suatu siang sehari sebelumnya. Sebuah kamar, di mana di sana ia telah membiarkan saja lelaki dari masa lalunya itu menciumi setiap inci bagian tubuhnya. Berkali-kali dan tanpa henti.

Tania tiba-tiba merasa bahwa saat itu ia semestinya tak berada di rumah itu. Bukan hanya itu, ia bahkan merasa bahwa semestinya ia tak menjadi istri dari seorang lelaki yang saat itu masih sibuk memintanya berpose dan tak menjadi ibu dari dua orang anak kembar yang tampak begitu bahagia bergelayutan di pundaknya. Ia merasa, ia tak benar-benar mencintai lelaki itu—suaminya—ataupun menginginkan kehidupan yang ceria bersama kedua anak itu—anaknya. Yang ia inginkan—saat itu—adalah berdekatan dengan lelaki dari masa lalunya itu di sebuah balkon kamar di salah satu hotel di kota itu, memandangi jalan dan gedung-gedung. “Aku mencintaimu.” Ia teringat persenggamaan mereka ketika lelaki itu mengucapkannya berkali-kali, di telinganya.

Dan pagi pertama di tahun baru ia kembali mengalami apa yang dialaminya pada Hari Natal: melupakan wajah suaminya sendiri selama beberapa detik. Ia merasa terganggu. Sangat. Ia jadi teringat mimpinya tempo hari ketika suaminya menuduh ia telah berselingkuh dengan seseorang. Dan itu membuat ia merasa bersalah.

Seandainya suamiku tahu apa yang telah aku lakukan, akankah dia memaafkanku? pikirnya, sambil memandangi wajah suaminya.

Sebelum meninggalkan tempat tidur dan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah, Tania mencium suaminya, beberapa kali. Tanpa ia sadari ciuman-ciuman itu malah menambah luka lain di hatinya, dan kemudian luka itu berkumpul dengan luka-luka sebelumnya, dan menetas jadi air mata.

Maka sejak saat itu Tania berusaha sebisa mungkin untuk tak mengangkat telepon dari lelaki itu ataupun membalas SMS-SMSnya. Tania tahu, ia telah melakukan kesalahan. Ia telah bersenggama dengan seseorang yang bukan suaminya. Ia telah membayangkan seseorang itu saat ia bersenggama dengan suaminya. Ia telah menginginkan bersama seseorang itu saat suaminya dan kedua anaknya justru bergembira merayakan malam tahun baru bersamanya.

Sudahlah. Apa yang dulu pernah ada biarlah seperti sebelumnya: tenggelam, dan hilang, pikirnya.

Tania berusaha menyibukkan diri dengan melakukan pekerjaan rumah berturut-turut dan tanpa henti, dan membaca, dan berlari-lari kecil di Lapangan Sempur. Ia tak ingin lebih lama lagi memikirkan lelaki itu. Karena semakin lama ia memikirkannya, semakin ia merasakan hatinya retak dan akan hancur oleh satu sapuan saja—betapapun kecilnya itu.

Tapi sayangnya perasaan manusia bukanlah sesuatu yang mudah dikendalikan oleh pikiran. Semakin keras Tania berusaha tak memikirkan lelaki itu, semakin ia merindukannya, semakin ia menginginkannya, semakin ia membayangkan sosok lelaki itu berada tepat dihadapannya.

Ketika Tania tengah mengepel lantai misalnya, ia tiba-tiba teringat makan malam pertamanya dengan lelaki itu di salah satu kedai kaki lima di Jalan Bara, Dramaga—suatu kawasan di dekat kampus utama Institut Pertanian Bogor. Ketika Tania menyeterika pakaian, ia teringat perjalanan kereta apinya bersama lelaki itu ke Stasiun Cikini. Ketika Tania menyantap makan siang, ia teringat wisata kuliner menyenangkannya bersama lelaki itu di kawasan Surya Kencana—tiba dalam keadaan lapar dan meninggalkan tempat itu dengan perut kenyang. Dan ketika malam telah larut, dan suaminya telah terlelap, kembali, Tania teringat sebuah malam ketika ia dan lelaki itu menyewa kamar di sebuah hotel di Jalan Pajajaran, detak jantungnya yang kala itu melonjak cepat, tangan dan tubuhnya yang kala itu bergemetar hebat, dan aroma tubuh lelaki itu serta manis masa lalu saat lelaki itu menciumnya tanpa henti beratus-ratus detik lamanya.

Malam itu, Tania baru bisa terlelap setelah ia menangis cukup lama. Ia menangis, tanpa suara. Hanya air mata yang mengalir lambat dan tenang di kedua pipinya. Seperti dosa.

 
SUATU hari Tania benar-benar menangis terisak-isak begitu lama saat ia kembali teringat lelaki itu. Kala itu masih pagi. Suami dan kedua anaknya belum lama meninggalkan rumah dan Tania langsung mengunci pintu dan bergegas menuju tempat tidur lalu berbaring dan memejamkan mata dan membayangkan ia tengah bersama lelaki itu.

Gairah itu telah ia rasakan sejak terbangun pagi itu, dan ia telah menahannya cukup lama sehingga dalam waktu sekejap saja setelah ia memejamkan mata, ia merasakan ia akan segera mencapai puncak. Ia bayangkan, tangan lelaki itu menekan-nekan payudaranya. Ia bayangkan, lidah lelaki itu bermain-main di lidahnya.

Lalu begitulah ia menangis, setelahnya. Ia tak tahu mengapa ia begitu merasa bersalah padahal yang dilakukannya hanyalah bermasturbasi dengan membayangkan lelaki itu, bukan bersenggama dengannya secara nyata seperti yang pernah dilakukannya.

Hampir tiga puluh menit, ia menangis. Hampir tiga puluh menit, ia meratapi hatinya yang telah hancur berkeping-keping karena satu sapuan ombak yang ia ciptakan sendiri.

Bodoh! umpatnya, dalam hati.

Bodoh! Bodoh! Bodoh! umpatnya, lagi.

Kali itu Tania merasakan ombak yang menyapu hatinya itu begitu dingin dan berbau busuk. Beberapa jam kemudian ketika ia mengambang melayang-layang di sebuah danau, air danau itu terasa pahit.

Dan akhirnya Tania memutuskan untuk memberitahu suaminya tentang segala kesalahannya itu: perselingkuhannya yang singkat dengan seseorang dari masa lalu dan beberapa pagi ketika ia terbangun dan selama beberapa detik tak mengenali wajah suaminya sendiri.

Suaminya mendengarkannya. Tanpa menyela. Tanpa bicara. Tanpa menatapnya.

Sebelumnya Tania telah menyiapkan diri untuk menerima seperti apapun reaksi suaminya kelak. Namun saat pengakuan itu ia lakukan, ia sama sekali tak merasa siap. Dan ketika usai mengutarakan semua kesalahan dan rasa bersalahnya itu suaminya justru meninggalkannya di tempat tidur, tanpa mengatakan sepatah kata pun, Tania menangis. Kali itu tangisnya kembali tanpa suara. Dan di dalam dirinya, Tania merasakan ombak yang sama kembali menyapu hatinya yang belum juga pulih ke bentuk semula, membuatnya kembali hancur berkeping-keping.

Malam itu Tania tak bisa tidur, hingga pagi. Suaminya tak kembali. Tania tak tahu di mana suaminya itu menginap dan tak berani untuk sekadar meneleponnya atau mengiriminya SMS.

Dan beberapa minggu kemudian, Tania merasakan kehidupan rumah tangganya begitu lain. Suaminya sesekali tak pulang. Ia sesekali tak mengenali wajah suaminya ketika ia terbangun dan lelaki itu tengah terbaring di hadapannya. Di beberapa dini hari, Tania terbangun karena mimpi buruk. Mimpi yang sama: detik-detik ketika suaminya menuduh ia telah berselingkuh dengan seseorang, dan detik-detik ketika suaminya mengatakan kepadanya bahwa ia akan pergi meninggalkannya—demi seseorang.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan hidupku ini? Apakah karena aku telah melakukan satu kesalahan saja maka di sisa hidupku aku akan terus merasa bersalah seperti ini? pikirnya.

Suatu hari libur Tania kembali berlari-lari kecil di Lapangan Sempur. Ia mengenakan pakaian yang sama dengan pagi pertama setelah Natal. Ia mendengarkan lagu yang sama dengan pagi itu. Ia juga menempuh jumlah putaran yang sama.

Tapi ponselnya tak berdering. Tidak seperti pagi pertama setelah Natal itu.

“Mama, aku perhatikan belakangan ini Mama banyak melamun. Mama kenapa?” tanya salah satu anaknya pagi itu—sekitar satu jam sebelumnya.

“Mama sepertinya habis menangis–lagi. Mata Mama merah,” kata anaknya yang satu lagi.

Tania merangkul dan mencium kedua anaknya itu—di dahi—seperti yang selalu dilakukannya setiap pagi. Sesungguhnya di dalam hatinya ia merasakan dorongan yang kuat untuk mencurahkan setidaknya sedikit saja dari rasa sakit yang menggerogotinya itu. Sedikit saja, agar mereka memberikan perhatian sedikit lebih banyak kepadanya, agar mereka membantunya untuk terbebas dari rasa bersalah itu, dari kesedihan yang dirasakannya itu. Tapi Tania menyadari bahwa itu sesuatu yang salah. Bahkan memikirkannya saja sudah sebuah kesalahan.

Bagaimana mungkin seorang ibu mengatakan kepada anak-anaknya sendiri bahwa ia telah jatuh cinta kepada seorang lelaki yang bukanlah ayah mereka? Itu hanya akan membuat si anak menilai ibunya dengan buruk dan bisa jadi kelak ketika mereka besar nanti mereka akan meniru apa yang dilakukan ibunya itu dan merasa bahwa itu sesuatu yang wajar, pikirnya.

Seorang ibu harus tetap menjadi sosok yang dikagumi anak-anaknya karena kesetiaannya, apapun yang sesungguhnya terjadi, lanjutnya.

Dan saat itu begitu saja air matanya menetes. Dan beberapa detak jantung kemudian ia memutuskan untuk berhenti berlari, dan hanya menengadah menatap awan-awan yang bergerak malas.

Padahal aku hanya melakukan satu kesalahan—selama tujuh tahun ini, pikirnya. Satu kesalahan saja, lanjutnya.

Pagi itu ketika ia berjalan menuju rumah, dan di sepanjang menghabiskan sisa hari di rumah itu dengan melakukan tugas-tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga, ia tak bisa berhenti memikirkan lelaki itu. Ia kemudian teringat salah satu cerpen Murakami di mana si tokoh utama di cerpen itu menyibukkan dirinya dengan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah—seperti menyeterika pakaian—agar ia bisa mengalihkan pikiran dan perhatiannya dari kegelisahan yang sedang ia alami—dan itu membuahkan hasil—dan ia lantas heran mengapa itu tak berlaku baginya. Tidak kecuali beberapa detik saja—yang nyaris tak berarti.

Aku tahu ini salah, tapi aku memang mencintainya, gumamnya.

Saat itulah Tania memutuskan untuk menghubungi lelaki itu.(*)

 
Bogor, Mei-Juni 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s