Keluarga Kami yang Berbahagia

BELUM lama ini Ayah dan Ibu mencapai kesepakatan baru: mereka boleh memasuki kamar satu sama lain dengan syarat ada sesuatu yang jelas dan penting untuk dilakukan di kamar itu, semisal mengambil sisa pakaian di lemari atau mencari surat-surat atau dokumen-dokumen pribadi yang mungkin tertinggal atau terbawa. Tapi mereka menegaskan bahwa hal itu tak mengubah apapun. Hubungan kita sudah berakhir dan baik aku atau kamu atau siapapun tak akan bisa memperbaikinya. Begitulah barangkali tatapan mata mereka jika diterjemahkan ke dalam kata-kata. Setelah kesepakatan baru itu diresmikan—mereka mencetaknya di dua lembar kertas HVS dan memastikan kedua belah pihak membubuhkan tanda tangan di setiap lembar itu—aku melihat Ayah beberapa kali memasuki kamar Ibu dan Ibu beberapa kali memasuki kamar Ayah. Entah kenapa aku merasa itu sangat lucu. Mereka masuk dengan tangan kosong, dan keluar dengan memegang sesuatu. Terus seperti itu. Seperti pencuri. Dan jika kebetulan mereka berpapasan dan nyaris bertabrakan di antara kedua kamar itu, mereka tak mengucapkan apapun. Bahkan, mereka berusaha untuk tak saling menatap.

“Ibu dan Ayah jadi benar-benar seperti orang asing di rumahnya sendiri,” ujar adikku, suatu hari.

“Lebih tepatnya, mereka bertingkah seperti anak kecil,” ujarku.

“Sampai kapan mereka akan terus seperti itu?” tanyanya.

“Entahlah. Bisa jadi seperti yang selalu mereka katakan akhir-akhir ini—selamanya,” jawabku.

Kadang aku harus menahan diri untuk tak tertawa menyaksikan tingkah mereka usai diresmikannya kesepakatan baru itu. Misalnya, suatu kali Ayah memasuki kamar Ibu untuk mengambil sesuatu. Rupanya, saat itu Ibu sedang ada di kamarnya dan baru saja melepas baju kerja untuk ia ganti dengan kaos lengan pendek berbahan tipis. Ibu berteriak, dan Ayah bersegera melangkah keluar dan menutup pintu. Aku melihat raut muka Ayah seperti seseorang yang baru saja melakukan kesalahan. Dosa besar. Dan dari dalam kamar Ibu mengumpat-umpat seperti baru saja kehilangan sesuatu yang berharga. Sesuatu yang semestinya tak diperlihatkannya kepada Ayah. “Mereka seperti sepasang pengantin baru saja,” kata kakakku, ketika kuceritakan hal itu padanya.

 
HUBUNGAN aneh Ayah dan Ibu ini bermula dari suatu pertengkaran hebat mereka dua bulan sebelumnya. Aku (saat itu) tak tahu apa yang membuat mereka sampai bertengkar hebat seperti itu. Aku juga tak tahu sudah berapa lama mereka bertengkar sebab ketika aku tiba dirumah sehabis bimbel itu kondisi rumah sudah seperti kapal pecah. Berantakan. Meja dan sofa telah bergeser. Beberapa foto keluarga yang biasanya menempel didinding telah terjatuh. Pecahan piring dan gelas berserakan di sekitar dapur. “Apa yang terjadi?” tanyaku kepada adikku, yang saat itu tengah mengurung diri di kamar. Dia kelihatan shock, dan takut. Dengan terbata-bata ia menceritakan apa yang ia lihat dan ia dengar selama beberapa jam sebelum aku tiba itu. Aku bahkan sampai harus merangkulnya agar ia tak benar-benar menangis terisak-isak. Intinya, Ayah dan Ibu bertengkar. Entahlah apa masalah mereka, yang pasti sangatlah serius. Jujur saja memang baru kali itu aku melihat dampak pertengkaran mereka sebegitu kacaunya.

Beberapa hari kemudian aku akhirnya tahu apa akar masalah dari pertengkaran hebat itu. Ibu berselingkuh. Setidaknya itulah menurut Ayah. Ia memergoki Ibu berbalasan SMS mesra dengan seseorang. Suatu kali bahkan Ibu bercakap-cakap dengan seseorang itu dan mengatur janji untuk bertemu. “Dan mereka melakukannya di saat aku tengah tertidur,” ujar Ayah, kesal. “Mungkin ibumu mengira saat itu Ayah sedang terlelap dan tak bergeraknya Ayah ia artikan sebagai ‘aman’,” lanjutnya. Namun dari Ibu, ceritanya sedikit lain. Ibu bilang dulu sekali ia berkali-kali memergoki Ayah menghubungi perempuan-perempuan yang pernah menjadi pacarnya semasa kuliah. Beberapa diantaranya menerima ajakan Ayah untuk bertemu. Ibu bilang, ia mencoba bersabar dengan bersikap seolah-olah ia tak tahu apapun tentang hal itu dan menyibukkan diri dengan pekerjaan kantor setiap kali hal itu terlintas di benaknya. “Saat itu, Ibu sering mengalami susah tidur dan terbangun karena mimpi buruk,” ujar Ibu. “Ayahmu tak tahu apa-apa tentang penderitaan yang Ibu tanggung itu sampai suatu hari ia memergoki Ibu bercakap-cakap mesra dengan seseorang—mantan pacar Ibu,” lanjutnya. “Lalu ia bertingkah seolah-olah ia begitu suci dan aku begitu kotor. Ibu pun akhirnya muak dan kehilangan selera terhadap ayahmu,” sambungnya.

Hmm.. kalian tahu, aku jadi seperti seorang pembaca yang ditantang oleh tokoh-tokoh rekaan si penulis untuk menebak-nebak apa yang sebenarnya berkecamuk di dalam kepala mereka, apakah mereka berkata jujur atau hanya mengakaliku. “Ya, anggap saja kamu sedang melatih kemampuan berpikirmu. Siapa tahu suatu nanti berguna saat kamu menjadi mahasiswa,” ujar kakakku, saat kuceritakan hal itu padanya, yang langsung saja disambungnya dengan tawa panjang yang menjengkelkan. Dia seperti tak serius menanggapi apa yang kukeluhkan itu. Dasar. Aku pun jadi berpikir jangan-jangan ia tak akan begitu peduli jika kelak Ayah dan Ibu akhirnya berpisah. “Jika memang mereka ditakdirkan berpisah, mereka akan berpisah” barangkali adalah apa yang akan dikatakannya kelak jika hal itu memang terjadi.

Berbeda dengannya, adikku justru orang yang tampak paling cemas memikirkan kemungkinan akan berpisahnya Ayah dan Ibu. Bukan saja ia tak menanggapi hal itu dengan santai, ia bahkan selalu tampak tertekan setiap kali kemungkinan berpisahnya Ayah dan Ibu ini aku bicarakan dengannya. Suatu hari ia pernah bilang, “Aku tak mau Ayah dan Ibu sampai berpisah. Aku tak yakin bisa baik-baik saja jika mereka benar-benar berpisah.” Kadang, aku jengkel dengan sikapnya ini. Maksudku, ia laki-laki. Ia sewajarnya bisa lebih tegar menghadapi masalah itu dan lebih berani untuk mengambil sebuah tindakan yang dirasanya akan membuat situasi sedikit membaik. Inisiatif.

Tapi begitulah adikku itu. Secara fisik, ia memang lelaki. Tapi secara mental, ia lebih menyerupai perempuan. Bukan ngondek. Bukan. Bukan seperti itu. Yang kumaksud di sini adalah sisi perasaannya yang di beberapa hal sangat wanita. Ia perasa, mudah terharu oleh ketidakberdayaan orang lain. Ia juga penakut, tak cukup berani mengambil risiko. Dan yang paling aku tak suka darinya adalah kebiasaannya untuk menyimpan sendiri masalah-masalah berat yang tengah ia hadapi. Ia lebih memilih memendamnya, ketimbang membagikannya kepada orang lain—termasuk aku kakaknya sendiri.Dan di beberapa kesempatan sifatnya ini benar-benar membuatku kesal—seperti ketika kutemukan ia mengurung diri di kamarnya saat aku pulang dan menemukan rumah dalam keadaan kacau-balau itu. Maksudku, aku akan jauh lebih merasa terbantu jika pada saat-saat seperti itu ia bisa menegarkan diri dan menonjolkan sisi kelelakiannya dan mengutarakan semua yang disaksikannya itu tanpa tertekan, dengan begitu aku yang mendengarnya pun akan seperti disemangati dan dikuatkan. Tapi memang seperti itulah adikku itu. Bisa dibilang,ia bertolak belakang denganku. Sangat. Dan tentang hal ini kakakku dalam sebuah percakapan via teleponnya pernah mengolok-olokku dengan berkata, “Kamu ini perempuan, punya buah dada, tapi menyia-nyiakannya. Harusnya kau hibahkan saja mereka ke adikmu. Hahaha..” Cabul, cuek, menjengkelkan. Begitulah memang ia. Kadang-kadang aku merasa Tuhan telah dengan tak adilnya membiarkanku terlahir di keluarga ini, yang jika kupikirkan rupanya tak ada satu pun di antara kami yang bisa dikategorikan sebagai “normal”. Bahkan kedua orang tua kami pun akhirnya menunjukkan ketidaknormalannya itu dengan beberapa kali melahirkan kesepakatan-kesepakatan (yang bagiku semua itu sangatlah) konyol.

 
KESEPAKATAN pertama Ayah dan Ibu lahir pada hari keenam setelah pertengkaran hebat itu terjadi. Selama tiga hari sebelumnya, mereka tak saling bicara meski masih tidur di ranjang yang sama dan makan malam di meja yang sama. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka saat mereka hanya berdua di dalam kamar. Tak bisa kubayangkan mereka benar-benar tak mengucapkan apapun satu sama lain. Pastilah rasanya sangat aneh. Dan mengganggu. Apalagi jika mempertimbangkan fakta bahwa mereka telah berada dalam satu kamar seperti itu selama hampir dua puluh tahun. “Aku yakin mereka pasti bicara di dalam sana. Kalaupun ketika kau berusaha menguping tak ada percakapan apapun yang kau dengar, mungkin mereka berbicara lewat isyarat tangan atau kedipan mata. Haha..” Itulah yang dikatakan kakakku di hari aku meneleponnya dan menceritakan pertengkaran hebat yang terjadi dua hari sebelumnya. Pernyataan yang ngawur. Seperti biasa. Sampai hari kelima aku tak memergoki satu pun momen saat mereka saling bicara atau menyapa. Dan ketika di hari keenam mereka akhirnya bicara, pembicaraan itu rupanya untuk melahirkan sebuah kesepakatan yang ditandatangani bersama. Dan kesepakatan itu berbunyi: Selama belum ada salah satu pihak yang mengaku bersalah dan meminta maaf, kita akan tidur di ranjang yang berbeda, di kamar yang berbeda. Dalam lembar kesepakatan itu juga tertulis sebuah hukuman bagi pihak yang lebih dulu melanggar, yakni membayar biaya pemakaian listrik dan telepon secara penuh untuk bulan berikutnya. Saat itu aku dan adikku baru tahu bahwa setelah pertengkaran hebat itu mereka rupanya tak lagi membagi kepemilikan uang seperti yang sudah-sudah. Kebetulan, mereka berdua memang bekerja.

Dalam waktu seminggu setelah kesepakatan itu terlahir, beberapa hal lucu kutemukan. Salah satunya, mereka seringkali membuka pintu kamar di saat yang sama—kamar Ibu dan kamar (yang ditempati) Ayah hanya dipisahkan dua puluh sentimeter dinding—dan saling menoleh dan menunjukkan raut muka teramat masam seolah-olah hendak berkata, “Hey, apa-apaan kamu ikut-ikutan keluar?! Kamu bisa keluar nanti lima belas menit lagi!” Sekali waktu pernah bahkan mereka muncul dari balik pintu kamarnya dengan setelan hitam-hitam yang akan cocok sekali kalau dipasangkan. Aku sampai menduga mereka akan pergi melayat atau menghadiri sebuah pemakaman bersama-sama—di malam hari?—dan dugaan itu memang keliru. Sambil berusaha mengunci pintu mereka sama-sama menelepon seseorang. Anggap saja, malam itu mereka pergi berkencan dengan pasangan gelapnya masing-masing. Di waktu lain, satu peristiwa lucu lainnya, aku memergoki Ibu memasuki kamar (yang ditempati Ayah) dengan raut muka dan bahasa tubuh layaknya seorang pencuri. Saat itu Ayah masih belum pulang. Ayah memang selalu baru tiba di rumah menjelang jam delapan dan itu artinya Ibu punya waktu antara dua sampai dengan tiga jam untuk memasuki kamar Ayah tanpa Ayah ketahui. Anggap saja, Ibu memiliki kunci duplikat kamar itu—ia mungkin telah menyiapkannya sebelum kesepakatan itu diajukannya. Dan aku, duduk di sofa berpura-pura menonton TV, mengamati dengan ujung mataku apa yang tengah berusaha dilakukan Ibu di kamar itu. Ia memang segera menutup dan mengunci pintu itu (dari dalam) setelah ia masuk. Tak ada kegaduhan. Tak ada tanda-tanda Ibu di dalam sana melakukan aktifitas yang berarti. Beberapa menit kemudian pintu terbuka dan Ibu keluar dan tampak kesal. Ia tak membawa apapun. Atau, (mungkin) lebih tepatnya, ia tak menemukan apa yang ia cari. Ia kembali memasuki kamarnya dan kembali ke kamar Ayah beberapa belas menit kemudian. Sesuatu yang sedang dicari Ibu pasti benda yang sangat penting, pikirku. Aku hitung-hitung malam itu ada sampai empat kali Ibu keluar masuk kamar Ayah—dan kamarnya sendiri—dan belum juga berhasil menemukan apa yang dicarinya. Ketika Ayah akhirnya tiba, satu jam lebih cepat dari biasanya, saat itulah aku menahan diri untuk tak tertawa.

Jadi begini, apa yang dilakukan Ayah setibanya ia dirumah—tanpa mengucapkan salam atau pun menekan bel—adalah berdiri di depan pintu kamar Ibu, menoleh ke sana ke mari, merogoh sesuatu dari saku celananya—sebuah kunci—dan memasuki kamar itu. Sungguh aku benar-benar ingin tertawa. Sekitar sepuluh menit kemudian, ketika secara bersamaan mereka keluar dari kamar (yang bukan kamarnya) itu, mereka saling menoleh, tampak terkejut, dan kesal, dan marah. Maka adu mulut pun tak terhindarkan. Kubiarkan saja karena belum ada tanda-tanda sesuatu yang lebih buruk akan terjadi. Tiga menit. Delapan menit. Lalu tiba-tiba adikku menyetel musik keras-keras di kamarnya dan dalam waktu beberapa detik kemudian Ayah dan Ibu terdiam. Mereka saling menatap, dengan benci. Aku masih duduk di sofa berpura-pura menonton TV ketika mereka berdua memasuki kamarnya masing-masing dan rasa-rasanya aku lupa kapan persisnya peristiwa lucu itu di mataku berubah jadi menjengkelkan. Ya, menjengkelkan. Pada dasarnya aku tipe orang yang tidak bisa tahan mendengar orang-orang di dekatku berteriak-teriak, saing menyalahkan, apalagi sampai memaki. Ayah dan Ibu memang tidak saling memaki saat itu, tapi adu mulut mereka itu tetap menjengkelkan. Dan, seperti yang sering kulakukan ketika dibuat kesal oleh tingkah orang-orang di sekitarku, kukirimi kakakku SMS. Begini bunyinya: Lama-lama, rumah ini seperti panggung sinetron. Tokoh-tokohnya berselisih di setiap episode. Tak jarang, adegan-adegan yang terjadi tak masuk akal. Beberapa menit setelahnya ia membalas SMS-ku itu dengan tawa panjang. Aku lalu memintanya pulang di akhir pekan. Ia bilang itu tergantung di akhir pekan itu ia ada kerjaan atau tidak. Asal kalian tahu saja, kata “kerjaan” di sini bisa juga berarti “kencan”.

 
PADA akhir pekan itu kakakku tak pulang sehingga percakapan kami kembali terjadi via telepon. Dan apa yang diutarakannya malam itu mampu menyita perhatianku bahkan hingga beberapa hari setelahnya.

Ia bertanya apakah aku tak merasa aneh dengan apa yang terjadi antara Ayah dan Ibu itu dan aku menjawab, “Entahlah.” Aku tak ingat persis seperti apa kata-katanya setelahnya. Intinya, ia merasa apa yang dilakukan Ayah dan Ibu itu tak masuk akal. Pertengkaran hebat, perselingkuhan sebagai akar masalah. Kesepakatan-kesepakatan konyol, kencan-kencan gelap yang tak pernah jelas. Menurutnya adalah hal yang aneh jika setelah pasangan suami-istri bertengkar mereka membuat kesepakatan-kesepakatan tertentu namun setelahnya melakukan kencan-kencan gelap yang dengan kata lain adalah sebuah pernyataan bahwa mereka berdua tak berniat untuk merekatkan hubungan mereka yang retak itu. “Kalau memang mereka tak berniat memperbaiki hubungan, mengapa mereka memilih bertahan untuk berada di satu rumah, bukannya berpisah saja?” tanyanya. “Mereka seperti tahu bahwa hubungan mereka tak akan bisa diperbaiki tapi tak bisa mengambil keputusan untuk berpisah—setidaknya saat ini,” lanjutnya.

Tak bisa? Itulah yang menarik perhatianku saat itu. Jika memang Ayah dan Ibu tak bisa berpisah—atau belum bisa berpisah, apa alasannya? Apakah mereka memikirkan pembagian harta? Atau kami?

“Itu bisa jadi alternatif jawaban,” kata kakakku. “Tapi masih terlalu gegabah untuk menyimpulkannya sekarang,” lanjutnya. “Dan masih ada satu hal penting yang sepertinya kita belum tahu,” sambungnya.

“Apa?” tanyaku.

“Tentang apa yang sesungguhnya terjadi di hari pertengkaran hebat itu,” jawabnya.

Ia kemudian mengungkapkan kecurigaannya bahwa sesuatu telah sengaja disembunyikan adikku; sesuatu penting yang terjadi saat itu dan bisa saja menjadi kunci dari semua keanehan ini.

“Kamu tak mempercayai adikmu sendiri? Yang benar saja?” sergahku.

Dan ia hanya tertawa.

Hari-hari setelahnya aku coba melakukan apa yang disarankannya malam itu—memancing adikku untuk menceritakan apa yang (mungkin) telah sengaja disembunyikannya dariku—dan selalu gagal. Adikku itu, memang orang yang kuat dalam menyimpan sesuatu. Sebagai satu-satunya anggota keluarga yang dekat dengannya aku kadang-kadang frustasi juga. Jika ia memang tak bisa berterus-terang kepada kakakku, meskipun mereka sama-sama lelaki, ya sudahlah. Mungkin justru karena mereka sama-sama lelaki maka mereka tak bisa akur satu sama lain. Tapi setidaknya, ia bisa berterus-terang padaku. Perempuan. Kakaknya yang peduli dan dekat dengannya. Terutama jika hal itu berhubungan dengan apa yang terjadi antara Ayah dan Ibu. Sesuatu yang penting, dan mendesak.

“Aku tak menyembunyikan apapun dari Kakak. Semuanya sudah kuceritakan waktu itu.”

Itulah yang ia katakan, dan selebihnya hanya diam menghindari tatapan mataku setiap kali aku mencoba menanyainya.

Ketika kuungkapkan hal ini kepada kakakku, ia menjadi semakin yakin bahwa sesuatu telah dengan sengaja disembunyikan adikku itu. Sesuatu yang penting, dan mendesak.

“Aku menduga ia punya andil dalam kasus ini,” katanya. “Di hari pertengkaran hebat itu terjadi, ia mungkin melakukan sesuatu yang membuat Ayah dan Ibu berhenti bertengkar—saat itu—namun menjadi seperti sekarang ini setelahnya,” lanjutnya.

“Sesuatu seperti apa?” tanyaku.

“Misalnya, ia mengancam akan melukai dirinya sendiri jika mereka masih saja bertengkar—”

“Ah..”

“—dan mungkin, ancaman itu juga berlaku seandainya mereka memutuskan untuk berpisah,” sambungnya.

Masuk akal, pikirku.

Namun saat kusinggung dugaan-dugaan itu kepada adikku, ia lagi-lagi berusaha menghindari tatapan mataku dan kembali berkata—dengan lebih tegas, “Aku sudah menceritakan semuanya kepada Kakak. Tak ada satu hal pun yang aku sembunyikan.”

Aku merasa sedikit tersentak, saat itu, dan lumayan kesal karena ia berjalan menjauhiku dengan langkah-langkah serupa ucapan, “Jangan berani lagi mendesakku seperti ini!”

Sementara itu, pada saat yang sama, Ayah dan Ibu kembali membuat kesepakatan baru, yang jika kupikirkan sekarang, tak lebih dari sebuah upaya untuk memperpanjang napas.

“Mereka kelak pasti akan berpisah. Kamu sendiri pasti menyadarinya,” ujar kakakku, ketika suatu malam aku meneleponnya.

Aku lalu kembali menanyai adikku, dan kembali ia menolak mengatakan apapun. Aku lalu menanyai Ayah dan Ibu—bergantian, dan kembali mereka menyatakan kesepakatan-kesepakatan itu tak akan mengubah suatu apapun.

“Seperti yang pernah Ibu bilang ke kamu, Ibu sudah kehilangan selera terhadap ayahmu,” kata Ibu.

“Jangan harap Ayah akan menjadi pihak yang mengalah, sedangkan ibumu tak sedikit pun menunjukkan bahwa ia merasa bersalah,” kata Ayah.

Aku pun akhirnya tak melakukan apapun, kecuali menyaksikan tingkah mereka yang semakin hari semakin konyol saja.

“Sampai kapan mereka akan terus seperti itu?” keluh adikku.

Sampai kamu mengutarakan apa yang selama ini kamu sembunyikan,gumamku.

“Apakah Kakak senang jika mereka bercerai?” tanyanya.

Tak kujawab.

“Aku sih tidak,” lanjutnya. “Aku lebih senang mereka tetap bersama,” sambungnya.

Pernyataannya itu bertolak belakang dengan apa yang dikatakan kakakku semalam sebelumnya. Aku sendiri, entahlah, seperti tak bisa menentukan mana yang baik mana yang buruk, mana yang kuinginkan mana yang tidak.

“Menurutmu, berapa lama lagi mereka bisa bertahan?” tanya kakakku itu.(*)

 
Bogor,Juni 2013

Iklan

4 pemikiran pada “Keluarga Kami yang Berbahagia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s