Perpustakaan Jam 24

SEJAK diberi tahu istrinya mengenai keberadaan perpustakaan jam 24 itu, ia telah setidaknya dua puluh delapan kali merasakan sakit kepala yang aneh. Rasa sakit itu datang tiba-tiba, tanpa sebab. Pernah suatu ketika rasa sakit itu datang saat ia tengah akan turun dari angkot sehingga selama beberapa detik ia terdiam mematung dan harus merelakan telinganya dihujani kata-kata tak sedap dari si sopir. Suatu kali, ia bahkan hampir terjatuh dari sepeda motor.

Ia mengatakan kepada istrinya bahwa rasa sakit itu bukan sesuatu yang akan sembuh dengan menelan obat. Ia sudah mencoba, dan memang seperti itu. Beberapa kali ia membeli obat di beberapa warung berbeda, juga di apotek, dan sama sekali tak berguna. Pernah timbul niat untuk memeriksakan keadaannya itu ke dokter tapi ia mengurungkannya sebab ia merasa itu pun tak akan banyak berguna. Pada akhirnya, ia menghadapi rasa sakit di kepalanya itu tanpa mengkonsumsi obat atau menjalani pengobatan apa pun. Ibarat perkelahian, ia melakukannya dengan tangan kosong. Tak menguntungannya memang. Dan sejauh ini sakit kepala aneh itu masih terus datang secara tiba-tiba dan rasa sakitnya tak juga berkurang. Justru bertambah.

 
SETIAP harinya ia berpikir keras menemukan sebuah cara untuk mengatasi sakit kepalanya itu. Seandainya menghilangkannya memang terlalu sulit, maka ia ingin setidaknya bisa mengurangi rasa sakitnya, baik dari segi frekuensi maupun daya hantam. Dan inilah yang kemudian ia putuskan: ia harus mengunjungi perpustakaan jam 24 yang tempo hari diceritakan istrinya itu.

Meskipun terkesan tak masuk akal, keputusannya itu sesungguhnya beralasan. Rasa sakit di kepalanya itu benar-benar baru muncul setelah istrinya memberitahunya tentang keberadaan perpustakaan jam 24 itu. Sebelumnya, tak pernah. Rasa sakit di kepalanya itu tak seperti migren atau sakit kepala normal lainnya. Yang ia rasakan bukan semata denyut dari dalam atau pukulan-pukulan dari luar, namun seperti cabikan, cakaran, dan hunjaman. Seakan-akan ada makhluk mungil tak kasat mata yang melakukan ketiga hal itu padanya, tepat di kepala. Rasa sakit di kepalanya itu bukan sesuatu yang wajar. Ia tahu itu. Terbukti segala macam obat sakit kepala yang telah ia telan tak mampu meredakannya sedikit pun—apalagi menghilangkannya.

Maka suatu malam ia mengutarakan keinginannya memasuki perpustakaan jam 24 itu kepada istrinya, dan istrinya terkejut dan menatapnya heran.

“Kau benar-benar percaya perpustakaan itu ada?” tanya istrinya.

“Awalnya tidak. Tapi sekarang, aku percaya,” jawabnya.

“Bagaimana bisa? Bukannya waktu itu kau sendiri yang bilang deskripsiku soal perpustakaan itu tak masuk akal?”

“Ya.. soal tak masuk akal itu, tak bisa dipungkiri..”

“Jadi?”

“Beberapa malam terakhir ini aku terus memimpikannya.”

“Oh ya?”

“Ya. Dan ketika sakit kepala aneh itu datang, di kepalaku seketika terbayang wujud perpustakaan itu. Entah kenapa.”

“Hmm…”

Malam itu istrinya menolak memberitahunya lokasi persis di mana perpustakaan jam 24 itu berada, dan kembali berkata bahwa deskripsinya mengenai perpustakaan jam 24 itu hanyalah bualan, bahwa saat ia mengutarakan kepadanya keberadaan perpustakaan jam 24 itu ia hanya mengada-ada—ucapan ngasal di saat kesal. Tapi ia bersikeras menyatakan keyakinannya akan keberadaan perpustakaan jam 24 itu, dan berkata bahwa memasuki perpustakaan jam 24 itu mungkin satu-satunya cara untuk mengatasi sakit kepalanya. Sontak saja istrinya menatapnya sinis dan berujar, “Oke. Katakanlah perpustakaan itu ada. Dan kau berniat menyembuhkan sakit kepalamu di sana, yang notabene hanya ada buku?” Ia terdiam sejenak, lalu berkata, “Bagaimanapun aku harus mencobanya.” Istrinya menunjukkan kejengahannya lewat gerakan bola mata lantas menyamping memunggunginya. Malam itu, dan beberapa malam berikutnya, perempuan itu tak membiarkan ia menyentuhnya sedikit pun.

 
IA yakin perpustakaan jam 24 itu benar-benar ada. Dan ia curiga, keengganan istrinya memberitahunya lokasi perpustakaan jam 24 itu adalah karena perempuan itu khawatir jika ia pergi ke sana maka ia akan kembali menjadi dirinya lima tahun silam. Ia ingat, di masa itu ia seorang penulis cerita pendek yang produktif. Ia biasa menulis setiap hari dan seringkali mematikan ponsel saat ia sedang begitu serius menulis sesuatu dan tak jarang itu membuat istrinya—dulu pacarnya—itu kesal. Beberapa kali, hal-hal yang bagi perempuan itu teramat penting untuk dilewatkan justru terlewatkan. Dan setelahnya ia tak pernah benar-benar meminta maaf atau menunjukkan rasa bersalah, seolah-olah ia begitu yakin bahwa perempuan itu akan bisa memahami kebiasaannya. “Aku penulis. Aku butuh waktu dan ruang untuk menulis terutama ketika ide-ide itu sedang berdatangan.” Barangkali itulah yang ia gumamkan di benaknya.

Kebiasaannya menulis itu pun harus diakui berperan besar dalam ketidakseriusannya mencari pekerjaan kantoran—sesuatu yang sangat diharapkan perempuan itu. Jika perempuan itu mengeluhkannya, ia hanya akan tersenyum-senyum sambil berjanji ia akan segera mendapatkan pekerjaan itu. Lantas, ia akan tenggelam lagi dalam keasyikannya menulis dan lahirlah berbelas-belas cerita pendek yang kemudian ia kirimkan ke media-media dan beberapa di antaranya dimuat. Ia menunjukkannya kepada perempuan itu dengan harapan perempuan itu akan memaafkannya. Namun, ketika perempuan itu memarahinya sekalipun, ia masih hanya tersenyum-senyum. Perempuan itu hanya bisa bersabar.

Suatu ketika perempuan itu meneleponnya dan memberitakan kehamilannya. Ia terdiam. Bingung. Ia sempat menanyakan apakah perempuan itu bersungguh-sungguh atau hanya bergurau dan perempuan itu berkata, “Ini serius. Aku hamil.” Ia tak habis pikir itu bisa terjadi. Pasalnya ia dan perempuan itu tidak begitu sering melakukan hubungan seks dan kalaupun mereka melakukannya ia selalu berhati-hati. Jika lupa menyiapkan kondom, ia akan mengeluarkan air maninya di luar. Perempuan itu pun selalu mengingatkannya. Seharusnya itu tak menyisakan masalah.

Tapi kenyataannya perempuan itu hamil, dan ia seketika panik. Saat itu ia baru saja jadi sarjana dan belum bekerja. Biaya hidupnya setiap bulannya masih sangat bergantung kepada kiriman orangtuanya karena dimuat-tidaknya cerita-cerita pendeknya sama sekali tak bisa dipastikan—dan tak selalu honornya turun cepat. Ia pun dihadapkan pada dua pilihan. Pertama, meninggalkan perempuan itu begitu saja. Pilihan ini, meskipun akan membuatnya menjadi pria brengsek yang tak bertanggungjawab, sejujurnya tidaklah begitu buruk. Perempuan itu tujuh tahun lebih tua darinya dan memiliki pekerjaan dan kondisi finansial yang baik. Kedua, menikahi perempuan itu, yang berarti akan menempatkan dirinya dalam situasi gawat darurat lainnya: tak lagi dianggap anak oleh orangtuanya. Pasalnya selain perempuan itu berasal dari luar pulau, ia dan perempuan itu pun tak seiman.

Yang ia ambil saat itu adalah pilihan kedua dan beberapa tahun kemudian ketika ia menanyakan kepada dirinya sendiri mengapa pilihan itu yang ia ambil ia tak bisa memberikan jawaban yang membuatnya puas. Ia memang menyayangi perempuan itu dan karenanya selalu bersyukur kepada Tuhannya atas waktu-waktu menyenangkan yang ia lalui bersama perempuan itu. Setiap malamnya. Setiap harinya. Tapi, konsekuensi lain yang datang kemudian, yang juga harus ia tanggung, cukup membuatnya menderita, melebihi fakta ia tak dianggap lagi anak oleh orangtuanya. Itu terutama ia rasakan di bulan-bulan pertama. Sebab harus mendapatkan sebuah pekerjaan yang memberinya penghasilan tetap dan banyak—ia tak mau hidup dalam bayang-bayang istrinya dan hanya menjadi penyokong keluarga, bukannya penopang—ia kehilangan waktu luang yang biasanya ia gunakan untuk menulis. Sekali waktu ia menyempatkan diri untuk menulis dan istrinya itu terus mengeluh dan mengeluh. Bahkan pernah sampai dengan kasarnya istrinya itu berkata, “Seandainya menulis bisa memberimu puluhan juta dalam beberapa bulan, menulislah!” Kesal, itulah yang ia rasakan saat itu.

Maka dari itu ia bisa memahami mengapa istrinya begitu cemas ia akan kembali menjadi dirinya lima tahun silam dan karenanya menahan diri dari memberitahunya lokasi perpustakaan jam 24 itu berada. Faktanya, sudah sejak dua bulan terakhir ini ia memang jadi rajin menulis lagi. Waktu luangnya di rumah yang biasanya ia habiskan bersama istrinya pun tersita. Bahkan ia kadang berpikir untuk mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja sekarang dan memfokuskan diri untuk menulis. Dan istrinya, tentu tak akan senang dengan hal itu.

Lagipula kondisi psikologis perempuan itu belum benar-benar pulih usai meninggalnya anak perempuan mereka karena demam berdarah empat bulan sebelumnya. Ia sendiri tentunya terpukul dengan kematian anak berumur empat setengah tahun itu, dan semestinya mengerti bahwa istrinya membutuhkannya bukan hanya sebagai penopang (atau penyokong?) keluarga namun juga sebagai suami, kekasih, dan sahabat. Tapi ia malah menghabiskan sebagian besar waktu luangnya di rumah untuk menulis dan kebersamaan mereka sebagai suami istri hanya terwujud beberapa menit saja di tempat tidur. Dan itu berlangsung berbulan-bulan. Bisa kaubayangkan bagaimana kesalnya istrinya itu.

 
KALI pertama ia mendengar penjelasan istrinya tentang perpustakaan jam 24 itu, ia tak percaya. Deskripsi istrinya itu begitu aneh: buka tepat tengah malam—karena itulah namanya “Perpustakaan Jam 24”—dan tutup menjelang pagi, hanya bisa ditemukan oleh pengunjung yang berjalan kaki, hanya bisa dimasuki oleh mereka yang benar-benar membutuhkannya, hanya bisa ditemukan oleh mereka yang benar-benar percaya. Ia sempat bertanya-tanya apakah istrinya itu sedang berusaha mengerjainya sebab terlampau kesal kebiasaan menulisnya kembali muncul. Ia juga menduga perpustakaan aneh itu adalah rekaan istrinya belaka sebagai sebuah olok-olok atas antusiasme menulisnya yang saat itu sedang tinggi-tingginya. “Konon jika kau memasukinya, kau akan menemukan buku-buku yang kau cari—yang tak mungkin kautemukan di toko buku online manapun—dan setelahnya kau akan keluar dengan senyum seringan bulu dan mata sebening kaca,” ujar istrinya. Ia mendengar nada mengolok-olok pada kalimat itu, dan karenanya dianggapnya penjelasan istrinya itu bualan belaka.

Namun selama berhari-hari ia terus memimpikannya. Plang “Perpustakaan Jam 24” itu, buku-buku langka itu. Sakit kepala aneh itu pun menyerangnya dan memaksanya membayangkan apa yang dimimpikannya itu berkali-kali. Berkali-kali. Semakin ia membayangkannya, semakin ia teringat sebuah peristiwa tragis yang menimpanya dulu. Lebih tepatnya, buku-bukunya.

Saat itu ia masih SMA dan tinggal di kamar kos di dekat sekolah sebab rumah orangtuanya berada di selatan dengan jarak tempuh nyaris satu jam jika mengendarai motor. Tanpa sepengetahuan orangtuanya, ia menjadikan kamarnya itu sebuah perpustakaan mini. Buku-buku. Ratusan jumlahnya. Beberapa kali ia berbohong kepada orangtuanya dengan berkata bahwa uang sakunya habis untuk membeli LKS atau untuk memfotokopi buku-buku paket tertentu atau untuk rencana study-tour ke luar kota, padahal uang itu ia gunakan untuk membeli buku-buku itu serta sebuah rak di mana di sana ia menata rapi buku-bukunya.

Suatu ketika, orangtuanya mengunjunginya—tanpa pemberitahuan. Mereka kaget menemukan rak dan buku-buku itu dan merasa rugi uang yang telah mereka gelontorkan habis untuk itu semua. Ditambah lagi fakta lain tentang kemunduran drastis prestasi akademiknya. Namun ia membela diri, berkata bahwa buku-buku itu adalah investasi teramat berharga untuk masa depannya. Dengan memiliki dan membaca buku-buku itu ia telah menjadi seseorang dengan pola pikir maju dan akan lebih maju lagi dalam beberapa tahun ke depan. Begitulah yang ia yakini. Ia merasa orangtuanya bisa mengerti dan mengartikan kepulangan mereka hari itu sebagai sebuah kompromi: buku-buku itu boleh tetap ada di sana namun prestasi akademiknya harus kembali seperti semula. Sayangnya, pada suatu hari, ketika ia benar-benar mengikuti study-tour ke luar kota, buku-buku itu ditiadakan. Entah bagaimana dan ke mana orangtuanya meniadakan buku-buku itu. Ketika ia tiba di kamarnya, sepulang dari study-tour yang melelahkan itu, ia menemukan rak itu kosong. Benar-benar kosong. Fakta bahwa pelaku peniadaan buku-bukunya itu adalah orangtuanya ia dapat dari teman-teman kosnya. Seketika itu juga ia membenci orangtuanya dan berjanji untuk kelak tidak memilih mereka jika ia dihadapkan pada dua pilihan krusial yang salah satunya adalah mereka. Dan hari itu datang, lima tahun silam.

Barangkali sebenarnya karena itulah ia begitu ingin setidaknya sekali saja memasuki perpustakaan jam 24 itu. Bisa jadi, hal ini pula yang membuatnya merasa yakin bahwa penjelasan aneh istrinya tempo hari tentang perpustakaan jam 24 itu bukanlah bualan.

 
SETELAH berusaha keras hingga berminggu-minggu, ia akhirnya berhasil membuat istrinya memberitahunya lokasi perpustakaan jam 24 itu. Istrinya sempat berkata, “Semoga saja memang dengan memasukinya kau akan merasa jauh lebih baik. Dan semoga, sekeluarnya dari sana, kau bukan sosok yang berbeda.” Ia tak mengerti apa yang dikatakan istrinya itu. Ketika ia menanyakannya, istrinya itu menolak memberikan penjelasan. “Nanti juga kau akan tahu sendiri,” ujar istrinya. Ia pun, pada malam larut, meluncur menuju lokasi tempat perpustakaan jam 24 itu berada—yang ternyata cukup jauh—dan setelah melakukan apa-apa yang disarankan istrinya ia berhasil menemukan perpustakaan jam 24 itu. Beberapa saat, ia terdiam. Diamatinya perpustakaan itu. Lekat-lekat. Ia merasa seperti tengah memasuki mimpinya sendiri dalam keadaan sadar.

Persis seperti yang dideskripsikan istrinya, begitulah perpustakaan itu. Plang “Perpustakaan Jam 24” terpasang di atas pintu kaca yang lebar. Di dalamnya ada begitu banyak buku yang selama ini ia cari-cari dan tak pernah ia temukan di toko buku online manapun. Dan semua dalam keadaan baik, dan tersegel. Tak bisa dipercaya, gumamnya. Selama berbelas-belas menit kemudian ia tenggelam dalam keasyikannya membuka dan membaca buku-buku itu. Sesekali ia menoleh ke sana ke mari mencoba menemukan seseorang di tempat itu, namun ia tak juga menemukannya. Aneh, pikirnya. Apakah tak ada seorang pun yang bertugas menjaga perpustakaan ini? Atau orang itu sedang ke kamar kecil? Masih sambil terheran-heran, ia lanjut membuka-buka dan membaca-baca buku-buku itu.

Seseorang yang dicari-carinya itu baru muncul—entah dari mana—setelah ia berada di perpustakaan itu selama kira-kira setengah jam. Seorang perempuan. Rambutnya hitam tebal dan bentuk mukanya oval. Usianya sekitar 20-25. “Selamat datang. Kami sudah lama menantikan Anda,” katanya, tersenyum. Senyumnya itu pastilah mampu menyulap segelas susu dingin di tanganmu menjadi hangat.

“Apa yang sesungguhnya anda cari ada di balik pintu itu,” katanya kemudian, menunjuk sebuah pintu putih di arah jam 12. “Jika anda sudah puas membaca, saya bisa mengantar anda ke sana,” sambungnya.

Aneh sekali bahwa pintu itu pun tadinya seperti tak pernah ada di sana. Dalam keadaan bingung, ia menyimpan kembali buku-buku yang telah dibacanya. Dikatakannya kepada si perempuan itu bahwa ia sudah selesai membaca dan perempuan itu bisa mengantarnya ke pintu itu saat itu juga. Perempuan itu mengangguk dan mulai berjalan dan memintanya mengikutinya.

“Boleh saya tanya satu hal?” tanyanya setelah mereka berjalan beberapa belas langkah.

“Silakan,” jawab perempuan, tanpa menoleh.

“Dari mana anda tahu bahwa apa yang saya cari ada di balik pintu itu? Dan tadi anda mengatakan ‘kami’, bukannya ‘saya’. Apakah ada seseorang yang sedang menunggu saya di balik pintu itu?”

“Jawaban untuk itu semua ada di balik pintu itu. Anda akan segera memahaminya setelah memasukinya.”

“Oh, baiklah..”

Kalau memang tak berniat menjawab, jangan biarkan aku bertanya, gerutunya.

Di detik perempuan itu membuka pintu, sinar terang menyerang, membutakannya sesaat. Di detik ia memasukinya—perempuan itu tetap di luar, sinar itu lenyap. Di detik perempuan itu menutup pintu, ia melihat pemandangan yang sudah tak asing baginya, dan sesosok perempuan lain berada di sana, di sebuah kursi. Perempuan itu menoleh padanya, dan tersenyum. Ia pun rupanya bukan seseorang yang asing baginya.

“Kau bingung?” tanya perempuan di kursi itu, yang tak lain dan tak bukan adalah istrinya sendiri. Ruangan itu sendiri adalah ruang tamu rumahnya. Entah bagaimana, perpustakaan jam 24 itu ternyata terhubung dengan rumahnya itu.

“Ya. Pastinya,” katanya. “Siapa yang mengira perpustakaan aneh yang lokasinya jauh dari rumahku ternyata hanya dipisahkan oleh sebuah pintu.”

Istrinya tersenyum.

“Duduklah,” katanya.

Ia memilih sebuah kursi yang membuat ia dan perempuan itu berhadapan.

“Menurutmu apa sebenarnya semua ini?” tanya istrinya.

“Entahlah,” jawabnya, mengangkat bahu. “Kau yang seharusnya menjelaskan hal itu padaku.

“Benar juga,” ujar istrinya, seperti berkata pada dirinya sendiri. “Tapi sebelum aku mulai menjelaskan, aku ingin tahu dulu apakah kau senang (akhirnya) memasuki perpustakaan jam 24 itu? Bagaimana buku-buku di sana? Kau menyukainya?”

Ia mengerutkan kening sesaat, seperti memikirkan konsekuensi dari jawaban yang akan ia berikan.

“Ya, aku senang,” jawabnya. “Di sana ada banyak buku yang telah lama kucari. Aku menyesal tak mengambil dua-tiga buah tadi.”

Istrinya tertawa.

“Itu tak mungkin bisa,” kata istrinya. “Buku-buku itu tak bisa kau bawa keluar dari perpustakaan itu. Kalaupun kau mencobanya, buku itu akan begitu saja lenyap setelah kau meninggalkan perpustakaan itu. Pada dasarnya, perpustakaan itu sendiri tak pernah ada. Ia tak nyata. Ia ada hanya karena kau percaya ia ada.”

Ia memikirkannya, dan tampak bingung.

“Coba kau cari pintu tempat kau masuk tadi. Kau pasti tak akan menemukannya sekarang,” ujar istrinya.

Ia menoleh ke arah jam tiga, dan benar saja: pintu itu tak ada. Yang ada di sana hanyalah dinding. Dinding putih tanpa sedikit pun garis atau goresan yang menandakan di sana ada sebuah pintu rahasia.

“Sepertinya apa yang kukatakan barusan malah membuatmu tambah bingung,” ujar istrinya. “Maafkan aku,” sambungnya.

Selanjutnya, ketika ia menatap kembali istrinya itu, ia seperti melihat orang yang berbeda. Wajah istrinya yang sebelumnya cerah dan tampak bersinar, kali itu muram. Ada garis-garis kesedihan di sekitar matanya. Mata itu sendiri seperti menatap ke suatu tempat yang sangat jauh.

“Maafkan aku,” kata istrinya lagi.

“Tak apa. Tak usah terlalu memikirkannya,” balasnya.

“Bukan itu,” sergah istrinya.

“Lalu?”

Perempuan itu diam, menunduk. Ia sendiri diam, menunggu.

“Sepenuhnya hakmu untuk tak percaya pada apa yang akan kukatakan ini. Tapi, ini adalah yang sejujurnya,” kata istrinya. “Dan sampai aku selesai menjelaskan semuanya, aku minta jangan menyelaku. Tahan dulu semua pertanyaanmu,” sambungnya.

Ia mengangguk. Dan penjelasan itu pun dimulai.

Jadi rupanya, dari sejak memberitakan keberadaan perpustakaan jam 24 itu kepadanya sampai dengan mereka berhadap-hadapan di ruang tamu itu, istrinya itu tak pernah sekalipun memasuki perpustakaan tersebut. Bahkan, mencoba untuk mencarinya pun tidak. Istrinya itu mengaku segala hal yang dikatakannya tentang perpustakaan jam 24 itu hanyalah bualan, omongan ngasal di saat kesal. Sama sekali tak terpikirkan olehnya perpustakaan seaneh itu akan benar-benar ada. Soal lokasi itu pun, istrinya itu hanya mengarang. Adapun yang dimaksudkan istrinya itu dengan “Dan semoga, sekeluarnya dari sana, kau bukan sosok yang berbeda” sangatlah sederhana. Istrinya itu menduga ia akan kembali ke rumah dalam keadaan marah karena merasa telah dibohongi dan dipermainkan olehnya.

Mengapa istrinya itu membubuhkan “Jam 24” di belakang kata “Perpustakaan”, itu ada alasannya. Istrinya itu merasa, perpustakaan adalah tempat yang tepat bagi seseorang yang menghabiskan waktu luangnya dengan menulis dan menulis. Tempat itu pasti sepi, dan di sana terdapat banyak buku. Apalagi jika perpustakaan itu beroperasi di jam-jam hening, saat-saat ketika orang-orang biasanya tertidur. Dari situlah di benak istrinya itu muncul nama “Perpustakaan Jam 24”; sebuah perpustakaan yang baru dibuka pada tengah malam dan di dalamnya terdapat banyak buku yang selama ini ia cari-cari. “Tempat seperti itu jauh lebih cocok untukmu daripada rumah,” ujar istrinya itu. “Sebab di rumah, selain tulisan-tulisanmu, ada juga yang harus kaupikirkan: aku,” sambungnya. Penjelasan istrinya itu kemudian berlanjut ke masalah sakit kepala dan mimpi aneh yang ia alami.

Bisa dibilang, sakit kepala itu adalah efek samping dari terciptanya Perpustakaan Jam 24 tadi. Fakta pendukungnya adalah mulai terasanya sakit kepala aneh itu sejak ia mendengar cerita tentang keberadaan Perpustakaan Jam 24 dari istrinya. Dan tentang mimpi aneh yang ia alami berhari-hari itu, istrinya itu pun rupanya memimpikan hal serupa. Bedanya, istrinya baru mulai memimpikannya setelah ia memberitahu perempuan itu tentang mimpi anehnya. Dan di dalam mimpi istrinya itu, Perpustakaan Jam 24 itu tidak kosong. Ada seseorang yang mondar-mandir di sana: ia.

“Jadi sebenarnya bukan hanya kau yang dihantui perpustakaan itu selama ini. Aku juga. Dan jika pada kasusmu efek samping yang kau terima adalah sakit kepala, pada kasusku, efek samping itu adalah sesak di dada, memuncaknya rasa bersalah, sulitnya menghirup dan membuang napas.”

Penjelasan itu diakhiri istrinya dengan sedikit tersenyum. Ia tak membalas senyum itu. Di matanya senyum itu lebih menunjukkan rasa sesal daripada rasa senang.

“Jadi sekarang, bagaimana?” tanyanya.

“Aku ingin kau memaafkanku,” jawab istrinya. “Aku pikir kau pun sependapat denganku bahwa keberadaan perpustakaan jam 24 itu mengganggu hidup kita. Aku telah menciptakannya begitu saja. Dan sekuat apa pun aku coba mengenyahkannya, bayangan tentang perpustakaan itu selalu muncul kembali. Aku harus memperoleh maaf dulu darimu, mungkin.”

“Tapi seperti kubilang tadi, aku tak pernah menyalahkanmu atas hal itu.”

“Itu karena selama ini kau tidak pernah tahu bahwa akulah yang menyebabkan kemunculan segala hal yang mengganggumu itu.”

“Ya, memang. Tapi kalaupun aku tahu, aku tetap tak akan menyalahkanmu. Toh kebencianmu saat itu padaku, aku juga yang menyebabkannya. Aku selama beberapa bulan terakhir ini terlalu asyik menulis, kan?”

“Iya sih…”

“Jadi alih-alih memintaku memaafkanmu, kurasa seharusnya kau meminta dirimu sendiri memaafkanmu. Selama ini, yang membuatmu terus terganggu, bisa jadi karena kau menganggap dirimu bersalah. Kau menyalahkan dirimu sendiri.”

“Mungkin iya.”

“Kurasa begitu.”

“Lalu kau sendiri? Apakah sakit kepala aneh dan mimpi-mimpi tentang perpustakaan jam 24 itu juga disebabkan kau menyalahkan dirimu sendiri?”

“Bisa jadi.”

“Bagaimana kabar ibumu?”

“Entahlah. Kurasa masih begitu-begitu saja.”

“Kau tak pernah menghubungi mereka sama sekali?”

“Tak pernah.”

“Selama lima tahun ini?”

“Ya. Lima tahun. Lama juga ternyata.”

“Apakah selama ini kau menyalahkan dirimu sendiri atas stroke yang menyerang ibumu lima tahun lalu itu?”

“Entahlah. Bisa jadi iya, tanpa kusadari.”

“Kurasa kau pun harus mulai memaafkan dirimu sendiri.”

“Mungkin.”

“Dan soal meninggalnya anak kita empat bulan yang lalu, itu sama sekali bukan salahmu. Akulah yang kurang memperhatikan kesehatannya.”

“Itu tidak benar. Kau sudah melakukan apa yang sewajarnya dilakukan seorang ibu yang bekerja. Ia meninggal, karena memang harus meninggal. Berhentilah menyalahkan dirimu.”

“Oh, seandainya saja itu mudah…”

“Ah, yah… seandainya saja itu mudah. Kenyataannya, memaafkan orang lain jauh lebih mudah daripada memaafkan dirimu sendiri.”

Hening. Untuk beberapa lamanya mereka tak mengucapkan apa pun.

“Tapi kita harus mencobanya. Kita akan mencobanya,” ujarnya kemudian, dengan nada bicara yang menunjukkan optimisme.

“Caranya?” tanya perempuan itu. Ia masih terlihat muram. Ia tampak tak terlalu berharap akan mendengar sesuatu yang bisa membuatnya lega.

“Hmm… Bagaimana kalau akhir pekan ini kita berziarah ke makam anak kita?” cetus si laki-laki. “Setelah itu, jika memungkinkan, di hari yang sama kita terbang ke Cengkareng. Tak masalah kalaupun masih harus menempuh perjalanan dan angkot berjam-jam lagi setelahnya. Kupikir, sudah saatnya aku bertemu ayah dan ibuku.”

Perempuan itu tak terlihat senang. Ia tampak memikirkannya dan kemudian berkata, “Mereka juga sama sekali tak pernah mencoba menghubungimu selama lima tahun ini?”

“Pernah. Sekali,” jawab si lelaki. “Dua minggu setelah pernikahan kita. Saat itu ayahku memarahiku dan melontarkan caci-maki teramat kasar sampai-sampai aku tak sanggup meresponnya. Hanya diam. Menurutnya akulah penyebab ibu terkena stroke. Aku anak mereka satu-satunya, dan aku malah meninggalkan mereka.”

“Kau menyesali pilihanmu lima tahun lalu itu?”

“Tidak. Sama sekali tidak. Aku memilih apa yang kuinginkan. Kalaupun karena itu mereka jadi membenciku, itu risiko yang harus kuambil. Dan, tolong, jangan sampai atas hal ini pun kau jadi menyalahkan dirimu sendiri. Kau tak salah.”

“Kau juga tak salah.”

“Ah, ya… Mungkin selama ini tanpa kusadari aku terus menyalahkan diriku sendiri. Mungkin ucapan ayahku lima tahun lalu itu telah merasuk dan meracuni pikiranku.”

“Maafkan dirimu. Bebaskan semua itu. Buang.”

“Akan kucoba.”

 
DINI hari itu ia dan istrinya masih terus bercakap-cakap hingga berpuluh-puluh menit kemudian. Obrolan mereka yang semula bernada muram, lambat-laun berganti menjadi cerah. Penuh canda. Penuh tawa. Besok harinya dan hari-hari setelahnya, segala hal tentang Perpustakaan Jam 24 itu benar-benar lenyap. Mimpi-mimpi itu, sakit kepala aneh itu. Baik ia ataupun istrinya tak pernah ada lagi yang membahasnya. Lalu pada suatu hari Sabtu, seperti yang telah direncanakan, ia mengajak istrinya mengunjungi makam anak perempuan mereka dan setelahnya, menuju bandara. Tiga hari sebelumnya ia telah menelepon ayahnya, memberitahu rencana kunjungannya. “Sayang sekali kami tak sempat melihat cucu pertama kami,” kata ayahnya saat itu. “Setidaknya, Ayah dan Ibu masih sempat melihat menantu kalian,” balasnya. Istrinya yang saat itu berada di dekatnya menoleh padanya dan tersenyum. Senyum istrinya itu, pastilah mampu menyulap segelas susu dingin di tanganmu menjadi hangat.(*)

Bogor, Juli-Agustus 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s