Ibuku dan Dunia yang Sunyi

TERBANGUN jam dua pagi setelah memimpikan ibumu sendiri adalah sesuatu yang menyebalkan, apalagi jika saat kau terbangun itu, yang kau temukan bukan hanya bulir-bulir keringat di leher dan keningmu, melainkan juga menegang dan mengerasnya burung kesayanganmu. Itulah yang kualami. Rasanya seperti ingin aku meloncat ke depan lemari es dan mengeluarkan sebotol air dingin lantas menghabiskannya dalam sekali teguk.

Mungkin kau mengira aku anak yang begitu kurang ajar sampai-sampai aku memimpikan ibuku sendiri. Tapi kau keliru jika berpikir demikian. Aku tidak memimpikan ibuku sendiri begitu saja. Aku bukan seorang anak yang terlampau sering menonton video porno sehingga ketika berhadapan dengan ibuku sendiri saja aku sampai membayangkan melakukan adegan-adegan yang kulihat itu dengannya. Tidak. Aku tidak sekurang ajar itu. Mimpi yang kualami itu lebih disebabkan oleh apa yang dilakukan ibuku selama ini kepadaku; sesuatu yang mungkin tidak akan dilakukan oleh ibumu kepadamu. Dan inilah yang akan kuceritakan padamu selama beberapa menit ke depan.

 
IBUKU sering menggodaku ketika aku masih kecil. Dan ia, seperti menikmati apa yang dilakukannya itu. Misalnya jika aku pulang sehabis bermain dengan napas terengah-engah dan bibir yang tampak kering, ia akan menanyaiku apakah aku haus dan ketika aku mengangguk ia langsung meluncur ke dapur dan muncul beberapa detik kemudian dengan segelas air dan sembari tersenyum memberikan segelas air itu padaku. Karena saat itu aku masih pendek dan ia tinggi, juga karena aku duduk bersandar di dinding dan ia berdiri, ia pun membungkuk. Pada saat itulah aku bisa melihat dengan jelas sepertiga buah dadanya dan hausku pun bertambah. Segelas air itu langsung kuteguk habis. Ibuku tersenyum. Ia seperti menyadari sepasang mataku yang tanpa henti menatap sepertiga buah dadanya itu dan malah mempertahankan posisi membungkuknya itu satu-dua menit lamanya.

Hal itu belum seberapa dibandingkan hal-hal lain yang dilakukannya kemudian. Seiring bertambahnya usiaku, ibuku seperti lebih tergerak untuk menggodaku. Bukan hanya memamerkan sepertiga buah dada sambil membungkuk itu jadi begitu sering ia lakukan, ia pun jadi lebih berani menunjukkan yang lebih dari itu. Sebut saja misalnya suatu pagi ketika aku secara tak sengaja menyaksikan ia tengah melepas semua pakaian yang ia kenakan saat akan masuk ke kamar mandi. Seingatku, sebelumnya, ia tak pernah melakukannya. Ia selalu masih mengenakan pakaian lengkap ketika akan masuk ke kamar mandi. Tapi begitulah, pagi itu ia melakukannya. Dan ia melakukannya dengan lambat, seperti disengaja, seolah-olah ia tahu bahwa aku tengah berdiri mengintipnya di balik pintu dan karenanya ia melakukan gerakan-gerakan tak perlu seperti berputar atau menyamping atau menunduk sehingga aku bisa melihat hampir seluruh bagian tubuhnya dan karenanya haus yang kurasakan pun bertambah. Seringkali di kesempatan-kesempatan selanjutnya aku tak tahan dan kegiatan mengintip itu pun berakhir dengan sebuah masturbasi yang membuatku lelah. Sampai aku kelas tiga SMP, telah lebih dari lima puluh kali aku melakukannya.

Apa yang dilakukan ibuku itu lebih gila lagi ketika aku SMA. Kadang-kadang, entah karena alasan apa, ia tidur tanpa mengenakan apapun. Dan pagi harinya, ketika keluar kamar, ia pun masih tak mengenakan apapun. Di dapur ia berkeliaran tanpa rasa malu. Gerakan kaki dan tangannya seringan dan senormal jika ia berpakaian. Aku sering kelabakan jika itu terjadi di jam-jam ketika sinar matahari sudah menyoroti jendela karena itu akan membuatku tergesa-gesa menutupkan gorden demi gorden, sambil berusaha menghindarkan mataku dari sosoknya. Ia tak pernah mengomentari apa yang kulakukan itu. Paling-paling ia hanya tersenyum. Ketika ia menyapaku, ia melakukannya seolah-olah sesuatu yang ganjil tak terjadi. Ketika ia berdiri di hadapanku, aku harus berusaha keras agar mataku tak terarah ke buah dadanya dan agar tanganku tak mengepal dan agar burung kesayanganku tak menegang dan mengeras. Santai saja, gumamku di kepala. Santai saja, gumamku lagi. Tapi ibuku seperti tahu upayaku itu dan ia selalu punya cara untuk membuat kerja kerasku itu sia-sia dan akhirnya ia berlalu sambil tersenyum menang setelah dilihatnya sesuatu telah terjadi di balik celana abu-abuku. Sebelum berangkat ke sekolah, aku pun terpaksa menyempatkan diri ke kamar mandi dan melampiaskan semua rasa kesalku di sana.

Di pertengahan tahun kedua di SMA, ketika akhirnya aku punya pacar, kulampiaskan rasa kesal karena ulah ibuku itu kepada pacarku. Aku lumayan lega, tapi sekaligus merasa bersalah. Pasalnya ketika aku mencium bibirnya aku selalu membayangkan tengah mencium bibir ibuku. Dan saat aku memegang buah dadanya aku selalu membayangkan tengah memegang buah dada ibuku. Menyenangkan, tapi menyebalkan. Dan itu membuatku gila hingga aku pun mulai berpikir untuk memutuskan hubungan itu meski usia hubungan kami belum juga tiga bulan. Saat itulah ibuku menghampiriku dan mengatakan padaku ada sesuatu penting yang harus kami bicarakan. Rupanya, ia tahu hubunganku dengan perempuan itu, juga apa-apa yang telah dan hampir aku lakukan dengannya.

Ibuku memintaku untuk berhati-hati atas apa yang aku lakukan itu sebab jika sesuatu yang buruk kelak terjadi maka mau tak mau aku harus menerima konsekuensinya. Dan itu pastilah berat dan buruk. Begitu katanya. Kemudian ia berkata, “Lagipula tidak semestinya seseorang memperlihatkan ‘harta’-nya kepada orang-orang yang bukan muhrimnya.” Sontak saja, aku tersenyum.

Kau tahu, petuah seperti itu sungguh tak pantas terlontar dari lidahnya. Sebelum ia mengatakannya, semestinya ia mengingat-ingat dulu apa yang telah dilakukannya selama bertahun-tahun itu, betapa ia telah membuatku kesulitan mengenyahkan pikiran-pikiran liar saat aku berada di rumahku sendiri. Tapi saat itu, ia tampak bersungguh-sungguh. Hitam matanya terarah tepat ke mataku. Aku jadi kikuk. Apa-apa yang ingin kukatakan jadi tak terkatakan dan akhirnya aku hanya membuka mulut dan menutupnya kembali seperti orang dungu. “Putuskan hubunganmu dengannya, atau pastikan kalian tak akan lagi melakukan hal-hal itu,” katanya. Dan apa yang kukatakan kemudian untuk meresponnya sungguh mengagetkanku jika kupikirkan sekarang. Saat itu, dengan bodohnya, aku mengatakan kepada ibuku sendiri bahwa ketika aku bermesraan dengan pacarku itu aku sesungguhnya membayangkan sosoknya. Masih dengan bodohnya, aku pun mengatakan bahwa selama bertahun-tahun itu aku berkali-kali bermasturbasi sambil membayangkannya, bahwa aku selalu merasakan haus yang teramat hebat saat ia (dengan sengaja) memperlihatkan “harta-harta”-nya kepadaku. Ia tersenyum lantas tertawa. Ia pun menyindirku dengan berkata, “Jangan-jangan kau mau memintaku menjadi tempat pelampiasanmu sebagai ganti putusnya hubunganmu dengan pacarmu itu.” Tololnya, aku malah mengangguk, dan itu membuatnya tertawa lebih lepas lagi. Tak lama setelahnya ia bangkit dan menghampiriku dan meletakkan tangannya di rambutku dan mengacak-acaknya dan berujar, “Jangan membayangkan yang aneh-aneh.” Jujur saja, saat itu aku benar-benar merasa malu. Seandainya aku bercermin, pastilah kutemukan kulit mukaku sudah merah semerah-merahnya.

Tapi rupanya, tak lama setelah aku memutuskan pacarku, sesuatu yang semula hanya ada dalam bayanganku itu terwujud. Suatu sore, setibanya aku di rumah sehabis bimbel, ibuku menyambutku dengan kostum yang ganjil. Ia hanya mengenakan handuk putih yang dililitkan hingga menutupi separuh buah dadanya. Pahanya tertangkap mataku. “Kau lelah?” tanyanya. Aku mengangguk. “Kau haus?” tanyanya. Aku kembali mengangguk. Tadinya kukira ia akan meluncur ke dapur lantas kembali dengan segelas air dingin dan membungkuk seperti biasanya. Tapi tidak. Kali itu, ia, dengan perlahan, membuka lilitan handuk putih itu. Tentu saja tak ada bra di baliknya sehingga mataku langsung tertuju ke buah dadanya. “Bagaimana? Tambah haus?” tanyanya. Lagi-lagi, aku mengangguk.

Setelah peristiwa mengagetkan itu semuanya seperti mimpi. Waktu seperti berjalan cepat, dan aku hanya hidup di saat-saat yang menyenangkan: saat-saat ketika ibuku menyambutku sore hari dan memberiku rasa haus dan malam harinya sebelum aku tidur membantuku melepaskan semua yang kutahan-tahan itu. Tapi tunggu dulu. Kau keliru jika mengira kami bermesraan, apalagi bercinta. Yang dilakukannya itu hanyalah membantuku mengeluarkan air mani hingga burung kesayanganku tidak lagi tegang dan keras. Hanya itu. Adapun cara ia melakukannya tidak selalu sama. Kadang-kadang ia menggunakan tangannya. Kadang-kadang ia menggunakan mulutnya. Kadang-kadang ie menggunakan buah dadanya. Untuk yang terakhir ini aku biasanya harus terlebih dulu meminta dan memelas dengan susah payah.

Di saat sedang melakukan hal-hal itu, ia selalu berkata, “Bagaimana? Kau suka? Pastilah mantan pacarmu itu tak lebih baik melakukan ini daripada aku.” “Ya,” itulah yang mampu kuucapkan. Tak lama setelah aku mencapai puncak, setelah ia membersihkan burung kesayanganku dari cairan putih kental yang membasahinya, ia selalu berkata, “Ingat, kau sudah berjanji untuk tidak menunjukkan ‘harta’-mu kepada yang bukan muhrimmu. Untuk itulah aku sampai melakukan semua ini.” Lagi-lagi, aku hanya mampu berkata, “Ya.”

Suatu ketika memasuki tahun terakhir di SMA, ketika ia sedang membantuku membebaskan burung kesayanganku dari ketegangannya, aku bertanya apakah kali itu aku boleh memegang buah dadanya. Ia langsung menggeleng. Seperti yang sudah-sudah hal itu memang satu dari sekian banyak syarat yang ia minta aku sepakati sebelum ia mulai melakukan apa yang dilakukannya itu. Pernah pada kali ketiga, aku mencoba melanggar kesepakatan itu dan ia langsung menggenggam burung kesayanganku sampai-sampai aku menjerit kesakitan. “Jangan coba-coba!” ancamnya. “Ingat, aku ini ibumu,” sambungnya. Entahlah aku bisa menerima atau tidak alasannya itu tapi setelahnya aku memang tak pernah lagi mencobanya. Namun jujur saja, itu butuh pengorbanan, kerja keras, apalagi setelah berbulan-bulan ia melakukannya. Maka kali itu aku memutuskan untuk membujuknya agar membiarkan aku memegang buah dadanya itu dan ia menggeleng dan terus menggeleng. “Jangan coba-coba! Ingat, aku ini ibumu,” ujarnya, seperti mengulang apa yang ia katakan beberapa bulan sebelumnya. Ketika tanganku sedikit terangkat, ia langsung menggenggam burung kesayanganku begitu kuat dan aku sungguh kesakitan. Pada akhirnya aku hanya bisa menahan diri sambil terus memandangi buah dadanya yang tak tertutup apa-apa itu bergoyang-goyang dengan bebasnya.

Jika kau seorang lelaki, mungkin kau akan sepemikiran denganku: mencoba dan mencoba sampai apa yang kau inginkan itu kau dapatkan. Itulah yang kulakukan. Ia terus menggeleng dan menggeleng dan aku terus mencoba dan mencoba. Suatu hari kutanyakan padanya mengapa ia tak mau bercinta denganku padahal sudah sejauh itu ia membantuku melepaskan keteganganku itu dan ia menjawab singkat, “Karena aku ini ibumu.” Aku lantas bertanya mengapa ia keberatan aku melakukannya dengan mantan pacarku dulu padahal perempuan itu bukan ibuku dan ia menjawab, “Karena ia bukan muhrimmu.” Bingung, aku lantas bertanya dengan siapa jadinya ia tak akan keberatan aku melakukannya dan ia menjawab cepat, “Istrimu, tentunya.” Respon yang kuberikan setelahnya hanyalah sebuah “oh” yang panjang. Ketika aku bertanya apakah ada alasan lain sehingga ia tak bisa melakukannya denganku ia menjawab, “Karena aku hanya akan melakukannya dengan suamiku.”

Kau tahu, saat itu aku seperti tersadarkan dari sebuah hipnotis panjang. Ia menyebut kata “suamiku”. Aku rasanya baru kali itu mendengar kata itu terlontar darinya. Apakah ia punya suami? Selama berbelas-belas tahun itu kami hanya berdua dan ketidakhadiran lelaki lain dalam hidup kami kuartikan sebagai nasib malang: ia dulu hamil di luar nikah dan lelaki yang menghamilinya tak ingin menikahinya. Nasib malang ini pulalah yang sempat kukira menjadi penyebab ia suka menggodaku selama berbelas-belas tahun itu.

Tapi rupanya aku salah. Salah besar. Ia tidak hamil di luar nikah. Lelaki itu menghamilinya setelah mereka menikah. Adapun mengapa aku tak pernah melihat sosok lelaki itu adalah karena lelaki itu memutuskan untuk pergi pada saat aku belum bisa mengingat. Usiaku dua tahun saat itu, dan ia dua empat. Tentang mengapa ia sama sekali tak pernah menyebut atau menyinggung lelaki itu selama ini adalah karena ia tak suka membahas apa-apa yang terjadi di masa lalu.

“Jadi sekarang di mana suamimu itu?”

“Aku tak tahu.”

“Tapi kau percaya ia akan kembali?”

“Ia tipe orang yang menepati janji.”

“Tapi ini sudah berbelas-belas tahun.”

“Aku masih akan hidup hingga berbelas-belas tahun ke depan.”

“Kau masih akan terus menunggunya?”

“Aku orang yang setia.”

“Bagaimana jika ia ternyata sudah mati.”

“Ia masih hidup.”

“Dari mana kau tahu?”

“Aku tahu.”

Itu adalah fakta paling menyebalkan yang aku dengar darinya. Ia sama saja dengan berkata bahwa seberapa keras pun aku mencoba aku akan selalu gagal. “Aku hanya akan bercinta dengan suamiku.” Begitu katanya. Selama berhari-hari kemudian kata-kata itu seperti tenung yang berdengung-dengung di kepalaku dan melahap habis waktu-waktu tenangku.

Apa yang kulakukan kemudian? Aku mencari orang pintar. Dari fakta paling menyebalkan itu aku memahami bahwa jika aku memang ingin bisa tidur dengan ibuku, maka aku harus menjadi suaminya. Dan dunia rupanya menyediakan sarana untuk solusi-solusi tak masuk akal seperti itu. Aku mengendap-endap mencari foto lelaki itu di kamar ibuku dan akhirnya menemukannya. Aku habiskan sebagian uang tabunganku untuk menemukan orang yang bisa mengubahku menjadi sosok lelaki di foto itu dan sisanya untuk membayar jasanya. Tak bisa kukatakan orang itu siapa dan tak bisa kujelaskan apa yang ia lakukan padaku atau ibuku karena itu adalah pantangan yang tak boleh kulanggar. Satu hal yang pasti, apa yang dilakukan orang itu berhasil. Petang itu ketika aku tiba di rumah, ibuku menatapku heran. Ia terkejut sampai-sampai air yang sedang diminumnya ia muntahkan ke lantai. Ia menghampiriku, menyentuh-nyentuh setiap bagian tubuhku. Setelah puas melakukannya ia menatap mataku dan bertanya, “Kenapa kau lama sekali? Kenapa kau dulu meninggalkanku?” Aku tak menjawabnya, hanya menciumnya dengan lembut beberapa kali. “Kau datang untuk menepati janjimu? Aku masih istrimu?” tanyanya. Aku masih tak menjawab, hanya menciumnya lagi dengan lembut beberapa kali.

Setengah jam kemudian aku sudah sangat dekat dengan apa yang kumimpi-mimpikan selama hampir setahun itu. Aku berbaring telanjang di tempat tidur. Ibuku berdiri di hadapanku dan melepas satu per satu yang ia kenakan. Ia melakukannya dengan sangat pelan dan aku melihatnya seperti sebuah tarian yang ditujukan untuk membangunkan burung kesayanganku. Kau bisa lihat, burung kesayanganku itu terbangun dari tidurnya. Ia bergerak dan bangkit. Senyum ibuku pun melebar.

Namun tepat ketika ibuku membungkuk untuk melepas celana dalamnya, saat itu mataku tertuju ke buah dadanya yang menggelantung bebas dan merasa tiba-tiba begitu haus, sesuatu yang mengerikan itu terjadi. Sosoknya itu, memudar. Awalnya aku mengira itu hanya efek lampu yang terlampau terang atau posisiku yang berbaring telentang. Tapi setelah kukerjap-kerjapkan mataku pun, sosok ibuku itu masih seperti itu. Perlahan-lahan, ia memudar. Kakinya, lengannya, perutnya, dadanya, memudar. Memang aku masih bisa melihat sosoknya ketika ia bergerak menghampiriku dengan kedua tangan meremas-remas buah dadanya sendiri. Tapi, sosoknya itu telah serupa hologram. Aku bisa melihat benda-benda yang semestinya tertutupi tubuhnya. Aku bisa melihat benda-benda yang semestinya tertutupi kepalanya. Aku bisa melihat benda-benda yang semestinya tertutupi tangan dan kakinya. Dan sosoknya itu benar-benar lenyap tepat sesaat sebelum ia membungkuk di atasku dan akan menciumku. Lenyap. Seperti terhisap.

Setelahnya aku tak ingat apa yang terjadi. Barangkali aku tertidur, atau pingsan. Ketika aku terbangun kemudian, entah setelah berapa jam, sosoknya itu tak ada. Benar-benar tak ada. Aku menunggu hingga hari berganti dan sosoknya itu masih tak juga ada. Tak ada.

 
AWALNYA aku mengira ibukulah yang saat itu menghilang; ia terhisap, entah ke mana. Tapi setelah selama lima hari berturut-turut aku keluar mencarinya, aku menyadari, ada satu hal yang ganjil. Memang sepintas melihatnya semua tampak sama; malam hari di langit hanya ada satu bulan dan orang-orang masih berkeliaran di siang hari dan di malam hari lampu-lampu masih menyala. Tapi, rupanya, di antara orang-orang itu, tak satu pun kukenali. Tak satu pun. Dan mereka pun, tak yang mengenaliku. Aku jadi seperti berada di sebuah kota yang ditinggalkan penghuni lamanya dan orang-orang itu adalah para penghuni baru yang datang ke kota itu beratus-ratus tahun kemudian. Mereka bisa melihatku, tapi tak menyapaku. Mereka tahu aku ada, tapi menyikapiku seolah aku tak ada.

Maka pada hari ketujuh sejak memudarnya sosok ibuku itu aku pun menyimpulkan bahwa aku sedang berada di dunia yang berbeda dengan dunia yang semula kutinggali; sebuah dunia yang sunyi di mana orang-orang yang kukenali dan mengenaliku tak ada.

Sejujurnya aku tidak keberatan kalaupun orang-orang yang kukenal dan mengenaliku itu tak ada, asalkan ibuku tetap ada. Ya, asalkan ibuku ada. Dengan begitu aku bisa menuntaskan rasa haus teramat hebat yang menyerangku di malam sosoknya perlahan-lahan memudar dan memudar itu.

Dalam beberapa hari terakhir ini aku terus memimpikan apa yang terjadi malam itu: ibuku menanggalkan pakaian dengan sangat pelan seperti tengah menari dan burung kesayanganku perlahan-lahan terbangun dari tidurnya. Dan selalu, tepat ketika sosoknya itu lenyap, saat ia membungkuk di atasku dan akan menciumku, aku terbangun. Leher dan keningku dipenuhi bulir-bulir keringat. Aku diserang rasa haus yang teramat hebat. Rasanya seperti ingin aku meloncat ke depan lemari es dan mengeluarkan sebotol air dingin lantas menghabiskannya dalam sekali teguk. Sekali teguk.(*)

 
Cianjur, Agustus 2013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s