Kematian Risma*

ENAM tahun yang lalu aku diberitahu Ikram—kakak pertamaku—bahwa bekas luka di dahi Risma—kakak keduaku—didapatinya dari sebuah kecelakaan mengejutkan ketika dia masih kecil, enam tahun sebelumnya. Saat itu sore hari. Sekitar jam empat. Ikram baru saja mendengar tangis seorang anak dan Ayah memanfaatkan tangis itu untuk mengingatkanku akan akibat dari tidak menurutnya seorang anak kepada orangtuanya. “Gara-gara nggak nurut, dia dihukum. Jadinya nangis,” kata Ayah. Aku kurang bisa mengingat adegan itu sebab saat itu aku memang masih sangat kecil—umurku dua tahun di bawah Risma. Kata Ikram, setelah menyaksikan adegan itu dia bergerak keluar dan menuju ke rumah sebelah tempat anak yang menangis itu berada. Ternyata, anak yang menangis itu adalah Risma. Ikram terkejut menyaksikan wajah Risma dipenuhi merah darah. Ia sempat tak mendengar permintaan Mak Icah—seseorang yang tengah memangku Risma saat itu—agar dia segera memberitahukan kondisi Risma itu kepada Ayah.

Di detik Ikram selesai memberitahu Ayah akan apa yang baru saja dilihatnya itu, Ayah segera bangkit dan bergerak begitu cepat ke rumah sebelah. Ia tak mengatakan apa pun. Diraihnya Risma dan dibawanya kakak keduaku itu tergesa-gesa ke pertigaan. Di dekat sana ada semacam puskesmas dan untunglah saat itu sedang tak ada pasien sehingga sang dokter bisa langsung menangani Risma. Kata Ikram, Ayah saat itu bertelanjang kaki. Ia bahkan hanya mengenakan kaos singlet dan celana bokser. Ibu yang beberapa menit sebelumnya diminta Ayah membawa celana training memang terlalu panik sehingga yang dibawanya malah celana jeans. Sulit sekali bagi Ayah untuk memakainya di tengah perjalanan.

Ikram bilang saat itu dia menangis. Dia duduk ditemani Ibu. Ayah di ruang sebelah dan teriakan-teriakan Risma di ruang itu membuatnya membayangkan kejadian-kejadian buruk sehingga dia tak bisa tenang. Tak bisa. Justru semakin lama air matanya semakin deras. Ketika kutanyakan saat itu aku di mana, dia bilang dia tak ingat. “Mungkin di rumah, dijaga Mak Nini,” ujarnya. Mak Nini adalah sebutan kami bertiga untuk Nenek dari pihak Ibu yang meninggal lima tahun silam. Aku lagi-lagi tak ingat apakah kejadiannya memang seperti itu sebab saat itu umurku paling-paling baru tiga setengah tahun. Ingatanku sendiri, mungkin baru benar-benar terbentuk sempurna dua atau tiga tahun kemudian.

Sekarang tiba-tiba aku tergerak untuk menelepon Ikram dan memintanya menceritakan lagi kejadian dua belas tahun lalu itu—jika dia masihingat—dengan detail yang lebih lengkap. Mungkin akan terasa seperti bernostalgia, seolah-olah kami bertiga berada di ruang yang sama. Setelah itu aku akan memberitahunya soal apa yang baru saja terjadi. Risma mengalami kecelakaan. Sepeda motor yang dikendarainya tersenggol sedan dan dia kehilangan kendali lantas menabrak angkot yang (juga) melaju cepat dari arah depan. Pastilah dia tersungkur dan kepalanya membentur jendela angkot dengan sangat hebat. Di dahinya, ada luka gores yang mengingatkanku pada adegan yang menurut Ikram terjadi dua belas tahun lalu itu. Bedanya, kali ini Risma tak menangis.

 
KEMATIAN Risma ini sepertinya adalah sebuah mimpi buruk bagi Ayah dan Ibu. Dua hari setelah pemakaman, ketika para kerabat dan tetangga yang melayat telah kembali ke rumahnya masing-masing, mereka begitu diam. Rumah jadi seperti museum dengan dinding-dinding yang membeku. Nyala lampu, seolah nyanyian di hari Minggu, menjadikan rumah terkesan lipu. Aku tak habis pikir bagaimana seandainya mereka tetap seperti itu selama beberapa hari ke depan sedangkan waktu teruslah maju dan kehidupan tak akan menunggu. Aku, sebagai satu-satunya orang di rumah ini yang menyadari hal itu, berusaha menolak dan mengenyahkan kemurungan yang tanpa sadar telah mereka tularkan itu. Kuhabiskan waktu demi waktuku dengan membaca dan membaca. Murakami, Ishiguro, Junichiro. Soseki, Kawabata, Akutagawa. Nama-nama ini kutemukan pada buku-buku yang ditinggalkan Ikram saat dia pergi dua tahun lalu. Aku cukup terhibur karena tulisan-tulisan mereka jauh lebih menarik daripada novel-novel jadul yang kutemukan di perpustakaan di sekolahku.

Baru saja kukatakan bahwa Ikram pergi dua tahun yang lalu.Yang kumaksud dengan “pergi” di sini adalah “pergi untuk selama-lamanya”. Dia pergi, dan tak kembali. Setidaknya itulah yang kupahami selama ini. Tapi bukan berarti dia mati. Bukan. Dia masih hidup. Aku bahkan memiliki nomor ponselnya yang masih aktif dan kami sempat berbalasan SMS enam bulan yang lalu. Dia bilang, dia bahagia dengan kehidupan barunya. Seorang istri, seorang anak. Sebuah keluarga, keyakinan baru. Ia bahkan memintaku mengunjunginya sewaktu-waktu dan dengan maksud berbasa-basi kukatakan bahwa aku akan mengunjunginya sehabis UTS. Mungkin, dia kecewa. Aku tak mengunjunginya dua bulan yang lalu itu. Aku pun belum lagi menghubunginya. Saat ini anaknya itu mungkin sedang belajar berdiri dan itu tentunya masa-masa membahagiakan bagi seorang ayah sepertinya. Sayangnya, aku terpaksa harus merusak kebahagiaannya itu. Bagaimanapun aku harus memberitahunya bahwa Risma baru saja meninggal. Kemarin dan kemarin lusa aku batal memberitahunya karena berbagai hal.

Ayah dan Ibu tak menyahut ketika kupanggil dan tak mengatakan apa pun ketika kukatakan bahwa aku akan menelepon Ikram. Bagaimana penilaian mereka terhadap Ikram sekarang? Masihkah seperti dua tahun lalu?Apakah selama dua tahun ini mereka terus mengingatnya dan membencinya? Tidakkah mereka ingin Ikram datang dan berziarah ke makam Risma? Pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan di kepalaku ketika aku menunggu Ikram mengangkat telepon, saling menggantikan satu sama lain. Dering ketujuh dan belum juga kudengar suaranya. Percobaan kedua pun bernasib sama. Baru pada percobaan ketiga, setelah dering keempat, suaranya terdengar. Ia pastilah sedang berada di luar rumah karena aku mendengar kebisingan di sekitarnya.

“Hey, gimana kabarmu? Tumben nelepon,” katanya.

“Ya, ada kabar penting soalnya,” jawabku.

“Kabar penting? Soal Risma?”

Aku kaget. Bagaimana dia bisa langsung tahu? Apakah dia hanya menduga-duga? Atau dia punya semacam firasat?

“Sesuatu terjadi sama Risma? Kenapa dia?” tanyanya.

“Risma meninggal. Dia kecelakaan dua hari yang lalu,” jawabku.

Hening. Aku rasanya bisa mendengar degup jantungku sendiri beradu cepat dengan jarum jam.

“Kamu serius?”

“Tentu saja serius.”

“Ini konyol.”

“Apanya yang konyol?”

“Kamu mungkin nggak akan percaya. Semalam.. ah bukan.. semalamnya lagi, aku ketemu Risma di mimpi. Kami berpelukan. Lama. Dia tanya apa aku baik-baik saja dan kujawab, ‘Lumayan.’ Anehnya aku nggak bisa ingat apalagi yang dia bilang sesudahnya. Pas dia lenyap, aku bangun.”

Sungguh ini seperti sebuah tamparan yang membuatku ingin menampar seseorang. Siapa saja.

Aku baringkan tubuhku di kasur dan dengan malas kuceritakan kepada Ikram apa saja yang terjadi di rumah ini setelah Risma meninggal. Kuberi penekanan khusus setiap kali menyebut kata “Ayah” dan “Ibu”. Kupikir, siapatahu itu bisa membuat Ikram kangen. Dan upayaku itu tampaknya berhasil. Kakak pertamaku itu menanyakan kabar Ayah dan Ibu dan kujawab saja seadanya, “Mereka murung. Masih murung sampai sekarang.” Dia lantas bertanya di mana Risma dimakamkan dan, entah bermaksud berbasa-basi atau tidak, dikatakannya bahwa dia akan berziarah ke makam itu bersama istri dan anaknya. “Ke rumah saja dulu. Nanti kita berangkat ke sana sama-sama,” kataku. Dia mengatakan “Oke” dan menutup telepon beberapa detik kemudian. Rupanya dia sedang dalam perjalanan pulang dan tidak diresponnya dua percobaanku tadi adalah karena dia sedang mengendarai sepeda motor di jalan raya yang padat.

 
TAK pantas barangkali, tapi kenyataannya, aku merasa bungah di hari kelima pasca kematian Risma. Pasalnya untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir aku bertemu Ikram, kakak pertamaku yang memutuskan berganti keyakinan demi menikahi seseorang yang kini duduk dan tersenyum manis di sampingnya—istrinya.

Ikram tak lagi kurus dan terlihat bersih. Kakak iparku ini pastilah mengurusnya dengan baik. Dengan makhluk mungil nan lucu di pangkuannya, kau pun tentunya akan sepakat denganku bahwa dia (saat ini) tampak sedang menikmati sebuah kehidupan yang didambakannya.

“Ayah dan Ibu biasanya pulang jam berapa?” tanya Ikram.

“Ibu sebentar lagi. Ayah nanti jam tujuhan,” jawabku.

“Hebat ya mereka, belum juga seminggu tapi sudah bekerja seperti biasanya,” ujar istrinya.

“Mereka nggak setegar itu kok,” sergahku.

“Oh ya?” tanyanya.

“Biar gimanapun Ayah dan Ibu kehilangan salah satu anaknya. Pasti mereka terpukul,” sahut Ikram.

Aku mengangguk.

Ya, mereka terpukul. Apalagi yang meninggal itu adalah anak kesayangan mereka, batinku.

Bicara soal anak kesayangan, beberapa hal harus kusinggung agar kau mengerti bahwa aku punya alasan logis sehingga begitu membenci istilah itu. Kini, bahkan menggumamkan dua kata itu saja, aku seperti mencium bau busuk dan isi perutku mendadak berontak meminta kumuntahkan. Ikram sendiri kurasa tahu itu dan karenanya aku memilih menggumamkannya di benakku saja. Aku takingin pertemuan pertama kami setelah dua tahun ini membuatnya tak nyaman.

Di antara kami bertiga, aku adalah anak yang paling jarang dimanjakan. Aku menyadarinya ketika umurku sebelas tahun. Ikram yang saat itu tengah menempuh semester ketiganya di perguruan tinggi selalu disebut-sebut namanya oleh Ayah ketika dia mengobrol dengan para paman. Nilai-nilainya yang bagus, masa depannya yang cerah. Ayah seperti mengira dengan membanggakan hal itu sisa umurnya akan bertambah atau penglihatannya akan kembali normal. Kepada Risma, Ayah selalu mengingatkannya untuk meniru apa-apa yang telah dilakukan Ikram. Kepadaku, Ayah tak pernah bosan menghujani telingaku dengan petuah-petuah tentang bagaimana menjadi anak yang berbakti dan membanggakan.

Ibu pun sama saja. Dia bahkan secara terang-terangan menunjukkan rasa sayangnya kepada Ikram dan itu kerapkali membuatku iri. “Udah ngabisin banyak uang buat bayar SPP dan biaya bulanan, pas lebaran dikasih baju dan celana yang banyak juga,” keluh Risma suatu hari, padaku. Kakakku yang perempuan ini tentu saja tak pernah berani mengutarakan keberatannya itu kepada Ayah dan Ibu. Dia tahu, kami tahu, melakukan hal itu sama saja dengan membiarkan jatah kami dipotong dan diberikan kepada Ikram. Aku yang semula selalu bertengkar dengan Risma sejak saat itu mulai bisa berdamai. Perlahan-lahan kami pun menjadi dekat satu sama lain.

Namun kedekatan kami itu merenggang dua setengah tahun kemudian dan itu bermula dari kepulangan Ikram suatu hari. Di kepulangannya itu, Ikram membawa seorang perempuan. Dialah yang kelak menjadi istrinya dan saat itu baik Ayah maupun Ibu terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya, ketidaksetujuannya. Namun alih-alih menurut, patuh seperti biasanya, kali itu, Ikram justru membantah. Dia bilang apa pun reaksi Ayah dan Ibu keputusannya untuk menikahi perempuan itu sudahlah bulat. Dia bilang selama berbelas-belas tahun sebelumnya dia selalu menurut dan saat itu sudah saatnya dia membuat keputusannya sendiri, dan baik Ayah atau Ibu atau siapapun tak akan ada yang bisa mengubah keputusannya. Dia pun siap pergi, jika Ayah dan Ibu menginginkannya. Aku dan Risma yang saat itu masih dianggap terlalu kecil untukikut menyaksikan percakapan mereka hanya bisa merasakan ketegangan yang tercipta dari dalam kamar.

Seperti yang dikatakannya, Ikram pergi. Itu adalah untuk pertama kalinya aku merasa begitu sedih dan merindukannya. Risma bilang, Ikram berganti keyakinan. Aku tak yakin hal itu mengurangi rasa rinduku kepadanya. Aku juga tak yakin aku jadi membencinya karena hal itu. Sebaliknya, aku yakin sekali, ada semacam rasa benci yang bercampur rasa senang dalam cara Risma mengatakannya. Dia saat itu barangkali melihat kepergian Ikram sebagai suatu anugerah. Mukjizat.

Sejak saat itu Ayah tak pernah lagi menyebut-nyebut nama Ikram dan Ibu mencurahkan kasih sayangnya kepada Risma. Mereka seperti menemukan seorang pengganti. Atau, Rismalah yang mengajukan diri sebagai pengganti. Aku mengatakannya karena kulihat dia memang menikmatinya. Dibandingkan sebelumnya, dia lebih banyak tersenyum dan tertawa. Kepadaku dia memang masih bersikap baik dan tak jarang membagi rezeki-rezekinya. Tapi, aku jadi tak menyukainya. Mungkin aku iri. Mungkin, aku dengki. Dan fakta bahwa ia seringkali menjelek-jelekkan Ikram dan mensyukuri kepergiannya membuatku semakin tak menyukainya. Bisa dibilang, kami tak lagi dekat. Dia tak lagi mengeluh karena memang tak ada lagi yang bisa dia keluhkan. Semuanya dia dapatkan. Kasih sayang Ibu, rasa bangga Ayah. Di usianya yang baru lima belas, Ayah membelikannya sepeda motor. Ikram anak laki-laki Ayah satu-satunya dan dia tak membelikannya sepeda motor bahkan setelah dia jadi mahasiswa.

Dan begitulah, lima hari yang lalu, Risma meninggal. Aku tak mensyukuri kematiannya namun harus kuakui ada semacam kelegaan yang kurasakan. Ibarat balon udara, beberapa pemberat seperti baru saja dilepaskan. Aku kini terbang lebih tinggi. Lebih tinggi. Kau boleh saja mengataiku semaumu tapi kupastikan bahwa setelah ini hidupku akan jauh lebih baik dari yang sudah-sudah. Ya, pastilah begitu. Kubayangkan, Ayah tak lagi menyebut-nyebut nama Risma. Kubayangkan, Ibu tak lagi mencurahkan kasih sayangnya kepada Risma.Tak bisa, karena Risma telah pergi. Tidakkah ini mirip dengan apa yang terjadi dua tahun lalu, saat Ikram memutuskan untuk meninggalkan kami dan menikahi perempuan yang kini duduk dan tersenyum manis di depanku ini? Ya, kurasa mirip. Sangat mirip. Karena itulah sangat wajar kukira, jika, dari caraku bercerita, sedari tadi, kau tak menemukan rasa sedih atau semacamnya. Aku tak akan keberatan jika kau menilaiku sebagai seorang adik yang kurang ajar.

 
IKRAM dan istrinya pamit pulang dua hari kemudian. Aku mengantar mereka hingga ke halte. Anak mereka yang lucu itu tengah tertidur dan tampak damai di pangkuan ibunya. Ketika bis datang, Ikram memelukku dan memintaku menjaga Ibu dan Ayah, juga diriku sendiri. “Tenang saja. Aku akan baik-baik saja,” kataku. Di kepalaku saling melintas adegan demi adegan yang (kupikir) akan kualami setelah ini. Seluruh tubuhku bergetar menahan gairah.

Namun dua bulan berlalu dan apa-apa yang kubayangkan itu tak juga terwujud. Ayah dan Ibu masih saja bermurung ria. Mereka bekerja seperti biasa dan setibanya di rumah menonton televisi seperti biasa. Rumah masih seperti museum. Dinding-dindingnya terus membeku. Aku pun kembali membaca dan membaca untuk mengenyahkan dan menolak kemurungan yang terus-menerus merekatularkan itu. Murakami, Endo, Ishiguro. Akutagawa, Yoshikawa, Matsuoka. Beberapa buku bahkan kubaca ulang hingga tiga kali.

Aku teringat malam kedua Ikram dan istrinya bermalam dirumah ini. Tak seperti malam sebelumnya, kala itu rumah begitu hangat. Ayah dan Ibu menyemangati cucu mereka yang berusaha berdiri dan berjalan. Di dapur, aku dan kakak iparku memasak. Makan malam keluarga termeriah pun terjadi dan aku merasa semakin bergairah membayangkan hari-hariku setelahnya akan seperti itu.

“Sekarang, kamu anak Ayah dan Ibu satu-satunya,” kata Ikram malam itu, setelah semua orang selain kami terlelap. “Kamu senang, Tania?” tanyanya.

Ya, batinku.

Dia memang kakakku dan seperti yang kuduga dia tahu betul bahwa aku selama ini merasa iri atas apa-apa yang dia terima dari Ayah dan Ibu.

“Terima kasih, ngomong-ngomong, sudah memintaku datang. Aku tadinya sempat cemas. Kukira Ayah dan Ibu belum bisa memaafkanku. Apalagi melihat reaksi mereka di hari pertama aku dan istriku di sini. Hmm.. jujur saja, saat itu aku putus asa.”

“Mereka menyayangimu, apa pun yang terjadi.”

“Mereka juga menyayangimu.”

“Oh ya?”

“Ya. Juga Risma.”

“Ah, ya. Risma. Mereka juga menyayangi Risma.”

“Sedang apa dia sekarang di alam sana ya?”

“Menguping obrolan kita ini, mungkin.”

“Haha.. Bisa jadi. Dia tersenyum, atau justru cemberut?”

“Nggak tahu deh. Menurutmu..”

“Menurutku dia cemberut.”

“Kenapa dia cemberut?”

“Karena kamu akan duduk di singgasana yang selama ini dia duduki.”

“Haha.. Bisa jadi.”

Tapi perkiraan kakak pertamaku itu keliru. Dua bulan, dan Ayah dan Ibu masih setia dengan kemurungannya. Aku seperti tinggal di rumah ini seorang diri. Membaca, dan membaca. Itulah yang kulakukan setiap harinya. Beberapa kali aku mencoba mengajak mereka bicara dan respon yang kudapatkan selalu membuatku kecewa. Mereka sedang sibuk dengan kesedihannya masing-masing. Mereka tak ingin diganggu. Mereka tak menginginkanku.

Kau tahu, aku pun akhirnya jadi berpikir, jangan-jangan, bagi Ayah dan Ibu, aku ini, memang bukanlah anak yang bisa mereka sayangi, atau banggakan. Barangkali sejak berbelas-belas tahun lalu, bagi mereka, aku ini, tak pernah benar-benar ada. Tak pernah.(*)

 
Bogor, September2013

  
*Cerpen ini diikutserakan dalam LMCR 2013 tapi tidak berhasil menjadi (salah satu) pemenang, bahkan terpilih sebagai 150 cerpen favorit saja tidak. Yang terpilih sebagai satu dari 150 cerpen favorit jusru cerpen satu lagi yang saya ikut sertakan ke lomba ini, yakni “Tania dan Perselingkuhan Ibunya”, yang levelnya sesungguhnya berada di bawah cerpen ini. Cerpen itu sendiri hanya berhasil menempati nomor 53. Dan tentang cerpen ini sendiri, memang saya membuatnya dengan menyertakan kecerdasan–bukan hanya perasaan, dan karenanya untuk bisa “memahaminya” pun dibutuhkan kecerdasan.

Iklan

2 pemikiran pada “Kematian Risma*

  1. Dan tentang cerpen ini sendiri, memang saya membuatnya dengan menyertakan kecerdasan–bukan hanya perasaan, dan karenanya untuk bisa “memahaminya” pun dibutuhkan kecerdasan.

    berarti klo gak paham gak cerdas ya,,ckckckckk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s