Sesosok Monster Hijau-Kecil

SUAMIKU berada di kantor seperti biasanya, dan aku bingung mau melakukan apa. Aku duduk seorang diri di kursi di dekat jendela, memandangi taman di balik gorden. Bukan berarti aku punya alasan tertentu memandangi taman. Aku hanya tak tahu lagi apa yang mau kulakukan. Dan aku pikir, cepat atau lambat, jika aku duduk di sana memandangi taman, sesuatu mungkin akan melintas di benakku. Di antara banyak hal yang ada di taman, yang paling fokus kuamati adalah pohon ek. Itu pohon kesukaanku. Aku menanamnya di sana ketika aku kecil, dan aku menyaksikannya tumbuh dan berkembang. Kadang aku menganggapnya teman baikku. Di kepalaku aku kerap mengajaknya bercakap-cakap.

Hari itu pun, aku mungkin sedang mengajak pohon ek itu bercakap-cakap—aku tak bisa mengingatnya dengan pasti. Dan aku tak tahu berapa lama aku duduk di sana. Waktu berlalu begitu saja ketika aku memandangi taman. Tiba-tiba sudah gelap. Pastilah di sana aku sudah duduk cukup lama. Lalu, tiba-tiba saja, aku mendengar sesuatu. Ia berasal dari suatu tempat yang jauh—semacam bunyi menggosok yang teredam dan lucu. Tadinya kupikir suara itu datang dari sebuah tempat di dalam diriku, bahwa aku hanya seolah-olah mendengar sesuatu—semacam peringatan, mungkin. Aku pun menahan napas dan menyimaknya baik-baik. Ya. Tak salah lagi. Sedikit demi sedikit, suara itu mendekat. Apa sebenarnya itu? Aku tak tahu. Yang jelas, ia membuatku takut.

Tanah di dekat pohon ek itu mulai mencuat seolah-olah semacam cairan kental dalam jumlah besar akan muncul dan menyembur dari sana. Kembali aku menahan napas. Tanah itu kemudian retak dan di sana tampak sejumlah kuku yang tajam. Mataku sontak tertuju padanya, dan tangan-tanganku mengepal. Sesuatu akan terjadi, gumamku. Beberapa saat lagi, sambungku. Kuku-kuku itu mengorek-ngorek tanah dan tak lama kemudian terciptalah sebuah lubang di sana. Dari lubang itu, muncullah sesosok monster hijau-kecil.

Tubuh monster itu tertutupi sisik-sisik hijau yang mengilat. Segera setelah ia sepenuhnya berada di permukaan, ia menggoyang-goyangkan tubuhnya hingga tanah-tanah yang menempel di tubuhnya berjatuhan. Ia punya hidung yang panjang-lucu, yang semakin ke ujung hijaunya semakin gelap. Ujung tubuhnya serupa cemeti, tapi sepasang mata buasnya seperti mata manusia. Tatapan mata itu membuatku gemetar. Mereka mengalirkan perasaan, kau tahu, seperti halnya matamu atau mataku.

Tanpa ragu, dengan gerakan yang lambat dan bebas, monster itu mencapai pintu utama rumah, dan ia mulai mengetuk-ngetuknya dengan ujung hidungnya yang tipis itu. Bunyi ketukan yang kering menggema di seisi rumah. Aku berjalan jinjit ke ruang belakang, berharap monster itu tak akan menyadari keberadaanku. Tak ada gunanya aku berteriak. Rumah kami ini adalah satu-satunya rumah di kawasan ini, dan suamiku belum akan pulang hingga larut malam. Aku juga tak bisa melarikan diri lewat pintu belakang, mengingat rumah kami ini hanya punya satu pintu, yakni pintu di mana sesosok monster hijau-kecil itu tengah mengetuk-ngetuknya. Aku bernapas sesunyi mungkin, berpura-pura tak ada di sana, berharap makhuk itu akan menyerah dan pergi. Tapi ia tak menyerah. Hidungnya itu beralih dari mengetuk-ngetuk pintu ke menggapai kunci. Sepertinya ia tak punya kesulitan berarti menggerakkan kunci itu, dan pintu itu pun pelan-pelan terbuka. Hidungnya muncul di ujung pintu, dan ia berhenti. Untuk beberapa saat ia seperti itu, layaknya seekor ular dengan kepala terangkat, mengamati kondisi di dalam rumah.

Jika saja aku tahu ini yang akan terjadi, aku akan tetap berada di dekat pintu itu dan memotong hidungnya, pikirku. Ada banyak pisau di dapur, sambungku.

Sebelum aku sempat memikirkan apa pun lagi, kulihat monster hijau-kecil itu bergerak cepat di lantai, tersenyum, seakan-akan ia baru saja mendengar apa yang kupikirkan.

Lalu ia mengatakan sesuatu. Tidak tergagap, melainkan mengulang kata-kata tertentu seolah-olah tengah berusaha memahaminya.

Itu tak akan banyak membantumu, tak akan, ujar monster hijau-kecil itu. Hidungku ini seperti ekor cicak. Ia akan selalu tumbuh kembali—lebih kuat dan lebih panjang, lebih kuat dan lebih panjang. Yang akan kaudapatkan justru adalah kebalikan dari yang kauinginkan.

Ia lalu memutar matanya beberapa lama, membuatnya tampak seperti dua topi yang aneh.

Oh, tidak, pikirku. Apakah dia bisa membaca pikiranku? Aku benci mendapati seseorang bisa mengetahui apa yang kupkirkan—apalagi jika ia sesosok makhluk tak jelas dan mengerikan seperti ini. Seketika aku merasakan keringat dingin dari kepala hingga kaki. Apa yang akan dilakukan makhluk ini terhadapku? Memakanku? Menyeretku ke bawah tanah? Oh, baiklah, setidaknya ia tidak sebegitu mengerikannya sampai-sampai aku tak sanggup menatapnya. Itu bagus. Ia punya tangan-kaki ramping yang menonjol dari tubuh bersisik hijaunya, dan sejumlah kuku yang panjang di ujung-ujung tangan dan kakinya itu. Semakin lama aku melihatnya, mereka semakin tampak enak dipandang. Dan aku pun akhirnya paham, makhluk itu tak berniat jahat.

Tentu saja tidak, ujarnya, mengangkat kepalanya. Sisik-sisiknya bergesekan satu sama lain ketika ia bergerak—seperti sejumlah cangkir kopi yang berdempetan di meja ketika kau mendorongnya.

Pikiran yang buruk, Nyonya. Tentu saja aku tak akan memakanmu. Tidak.. tidak.. tidak. Aku tak bermaksud jahat, tak bermaksud jahat, tak bermaksud jahat.

Jadi rupanya aku benar: ia bisa mendengar apa yang kupikirkan.

Nyonya Nyonya Nyonya, tidakkah kau mengerti? Tidakkah kau mengerti? Aku datang ke sini untuk melamarmu. Dari suatu tempat yang sangat dalam dalam dalam dan dalam, aku muncul ke permukaan, ke tempat ini. Mengerikan, oh mengerikan. Aku harus menggali dan menggali dan menggali. Lihat kuku-kukuku yang rusak ini! Aku tak mungkin melakukan semua ini seandainya aku punya niat jahat terhadapmu, niat jahat terhadapmu, niat jahat terhadapmu. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu dan tak bisa menanggungnya lebih lama lagi, lebih lama lagi, lebih lama lagi. Aku merayap ke hadapanmu, harus, harus. Mereka semua mencoba menghentikanku, tapi aku tak sanggup menahannya lebih lama lagi. Pertimbangkanlah keberanianku itu, tolong, pertimbangkanlah. Aku selalu cemas membayangkan seandainya kau menganggap apa yang kulakukan ini begitu kasar dan pongah, kasar dan pongah, bahwa sesosok makhluk sepertiku ini melamarmu.

Tapi ini memang kasar dan pongah, gumamku di kepala. Bisa-bisanya sesosok makhluk kecil kasar sepertimu datang dan meminta cintaku!

Sejumput kesedihan tampak di wajahnya setelah aku memikirkan hal itu, dan sisik-sisiknya menjadi sedikit ungu, seolah-olah tengah menunjukkan apa yang dirasakannya. Seluruh tubuhnya tampak sedikit menyusut.

Aku melipat kedua tanganku di dada dan menyaksikan perubahan itu terjadi. Barangkali sesuatu seperti ini terjadi setiap kali perasaannya berubah. Dan barangkali, wujudnya yang buruk rupa dan mengerikan itu adalah topeng untuk menutupi hatinya yang lembut dan rapuh serapuh marshmallow. Dan jika benar seperti itu, maka aku bisa menang. Aku pun memutuskan untuk mengetesnya.

Kau monster kecil yang buruk rupa, kau tahu, teriakku di dalam kepala, sekencang-kencangnya—begitu kencangnya sampai-sampai degup jantungku menggema. Kau monster kecil yang buruk rupa! Sisiknya yang ungu semakin ungu, dan matanya mulai menonjol seolah-olah tengah menyerap setiap kebencian yang kukirimkan padanya. Mereka menonjol dari wajah makhluk itu seperti buah-buah ara yang matang, dan air matanya serupa jus berwarna merah yang menetes-netes, berserakan di lantai.

Aku tak lagi merasa takut kepada monster itu. Aku gambarkan di benakku hal-hal buruk yang ingin kulakukan terhadapnya. Aku mengikatnya di kursi dengan tali yang tebal, dan dengan pencabut bulu hidung aku mulai menyobek sisik-sisiknya itu dari kulitnya, satu per satu. Aku memanaskan ujung pisau yang tajam, dan dengannya aku membuat lekukan yang dalam di daging betisnya yang merah-segar. Lagi dan lagi, aku tusukkan besi panas ke sepasang matanya yang menonjol seperti buah-buah ara itu.

Dengan setiap siksaan yang kubayangkan itu, monster itu membuat gerakan tiba-tiba dan menggeliat dan meraung-raung kesakitan seolah-olah hal-hal buruk itu benar-benar menimpanya. Ia meneteskan air matanya yang berwarna dan mengeluarkan gumpalan-gumpalan cairan ke lantai, memancarkan uap abu-abu dari kedua telinganya yang menguarkan aroma mawar. Matanya menatapku lemah.

Tolong, Nyonya, oh tolong, aku mohon, jangan pikirkan hal-hal buruk seperti itu! raungnya. Aku tak punya niat jahat terhadapmu. Aku tak akan pernah menyakitimu. Yang kurasakan terhadapmu hanyalah cinta, cinta.

Tapi aku menolak mendengarkannya. Di benakku, aku berkata, Jangan konyol! Kau merusak tamanku. Kau membuka pintu rumahku tanpa izin. Kau masuk ke dalam rumahku. Aku tak pernah memintamu berada di sini. Aku punya hak sepenuhnya untuk memikirkan apa pun yang ingin kupikirkan.

Dan aku melanjutkan apa yang kulakukan itu—memikirkan hal-hal buruk yang kulakukan terhadap makhluk itu. Aku memotong dan mencincang dagingnya dengan setiap alat dan mesin yang bisa kupikirkan, tak melewatkan satu pun cara yang mungkin bisa dicoba untuk menyiksanya dan membuatnya meraung-raung kesakitan.

Lihat, kau monster kecil, kau tak tahu seperti apa seorang perempuan itu.

Tak ada habisnya aku memikirkan hal-hal yang bisa kulakukan padanya. Tapi segera monster itu mulai memudar, bahkan hidungnya yang hijau itu mengerut hingga ia jadi seukuran cacing. Menggeliat di lantai, monster itu mencoba menggerakkan mulutnya dan mengatakan sesuatu, bersusah payah membuka bibirnya seolah-olah tengah berusaha meninggalkan untukku sebuah pesan terakhir, sebuah nasihat usang, semacam sugesti yang mungkin ia lupa tanamkan padaku.

Namun sebelum hal itu terjadi, mulutnya seperti terkekang kesunyian, dan tak lama kehilangan fokus, dan menghilang. Monster itu telah tak lebih dari sebuah bayangan malam yang pucat. Yang tersisa, yang menggantung di udara, hanyalah mata bengkaknya yang penuh kesedihan.

Kau tak bisa melakukan apa pun. Keberadaanmu sudah habis, sudah usai, berakhir.

Sesaat kemudian matanya itu hancur dan membaur di udara, dan seketika rumah ini diliputi gelapnya malam.(*)

  
Cerpen ini termaktub dalam kumpulan cerpen pertama Haruki Murakami, The Elephant Vanishes (1993); diterjemahkan oleh Ardy Kresna Crenata dari terjemahan bahasa Inggris oleh Jay Rubin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s