Seseorang yang Mengamati Dirinya Sendiri di Masa Depan*

LELAKI itu baru saja masuk ke sebuah restoran di Jalan Pajajaran dan ia melihat perempuan itu telah menunggu di sana dan menyambut tatapan lelaki itu dengan senyuman. “Sudah lama?” Barangkali itulah yang diucapkan lelaki itu sebelum ia sampai di meja itu dan mereka pun saling melepas seringai yang lebih terkesan hangat ketimbang dingin. “Tidak juga.” Barangkali itulah jawaban perempuan itu. Sepasang kekasih itu kemudian terlibat dalam percakapan yang disertai gelak tawa selama dua puluh delapan menit setelahnya. Memasuki menit kedua puluh sembilan, mereka keluar.

Sangat disayangkan bahwa ia tak bisa menghampiri mereka untuk sekadar membuntuti dari jarak yang lebih dekat. Ia sadar, itu bisa membuatnya berada dalam masalah. Jika sampai kedua orang itu melihatnya, menemukan wajahnya yang tentu saja tak asing lagi bagi mereka berdua, apa yang akan ia lakukan?[1] Ia tak yakin ia akan begitu saja melarikan diri menuju tempat yang disiapkan untuk saat-saat seperti itu lantas mengatakan bahwa sosok yang serupa dirinya itu telah melihatnya dan karenanya ia akan dipulangkan oleh pihak yang berwenang, dikembalikan ke masa lalu. Urusanku di sini belum selesai dan aku tak bisa pulang sekarang, pikirnya. Dan sambil terus menggumamkan hal itu di kepalanya ia pun membuntuti mereka dari jarak yang cukup jauh sehingga sama sekali ia tak bisa mendengar apa yang sedang mereka percakapkan. Ia hanya bisa menebak-nebak dari gerakan mulut dan mimik muka. Juga dari gerakan tangan mereka berdua. Dan ketika mereka berhenti di sebuah trotoar, masih dalam keadaan berangkulan, ia pun berhenti dan berhati-hati menempatkan diri agar salah satu dari dua orang itu tak secara tak sengaja menemukannya. Angkot 01 dari arah kanan mendekat. Mereka naik. Ia pun bergegas mendekati trotoar yang ditinggalkan sepasang kekasih itu.

 
SUDAH hampir dua tahun ia berada di masa ini, membuntuti dan mengamati apa saja yang dilakukan lelaki itu setiap harinya. Ia sempat terguncang, menemukan fakta bahwa perempuan yang tinggal satu rumah dengan lelaki itu sama sekali tak ia kenal, bukan seseorang yang diharapkannya. Apakah dalam waktu sepuluh tahun wajahnya akan berubah sejauh itu? pikirnya, dan ia menyadari itu tak mungkin. Perempuan itu adalah orang yang berbeda, bukan perwujudan dari kekasihnya di masa lalu. Dan setiap kali ia menyaksikan perempuan itu dan lelaki itu berciuman di muka pintu menjelang keberangkatan lelaki itu ke tempat kerja, ia merasakan sesuatu yang asing, seolah-olah dadanya terbelah oleh kapak besar dan sepasang tangan dengan rasa sakit mencari-cari dan mencengkeram jantungnya. Benarkah yang kulihat ini, bahwa aku dan dia tak bisa bersama seperti yang dia katakan? keluhnya. Namun dengan harapan serupa nyala lilin yang terus ia jaga dari terpaan angin, ia menyaksikan dan menyaksikan setiap peristiwa itu, juga peristiwa-peristiwa lainnya, yang tak kalah ganas menyakitinya. Jauh di dalam hatinya, ia begitu percaya bahwa suatu saat fakta yang dilihatnya itu akan berubah. Dari pahit, menjadi manis. Dari gulita, menjadi terang. Dan layaknya seorang agen CIA di film-film Amerika ia mengamati gerak-gerik lelaki itu dan istrinya beserta kedua anak perempuannya. Suatu hari, sesuatu akan terjadi, gumamnya.

Kedatangannya hampir dua tahun yang lalu ke masa ini adalah karena suatu tujuan yang oleh salah satu teman perjalanannya disebut melankolis. Bagaimana tidak? Ia repot-repot mengeluarkan biaya dan mengurus administrasi dan mengorbankan hari-harinya yang berharga di masa lalu hanya untuk mengetahui seperti apa kehidupannya di masa ini, dengan siapa ia menikah dan hidup bersama, kesuksesan apa saja yang telah ia raih. Di hari pertama, dan selama sekitar dua minggu masa pencarian target, langkah-langkahnya begitu tegas dan binar matanya selalu cemerlang. Mungkin saat itu ia begitu yakin bahwa apa yang akan dilihatnya di masa ini adalah seperti apa yang diinginkannya. Ia dan kekasihnya itu. Menikah dan hidup bersama. Saking terlalu yakinnya teman perjalanannya itu sampai menepuk pundaknya dan mengingatkannya, “Angan-angan dan kenyataan itu tak selalu sama. Seringnya justru berbeda.”

Tapi seperti halnya orang yang sedang mabuk cinta ia sama sekali tak menghiraukan peringatan temannya itu. Dan ketika hari itu tiba, ia begitu terpukul sampai-sampai selama seminggu ia hanya berdiam diri di kamar kostnya dan sibuk memikirkan apakah ia akan pulang saja ke masa lalu dan mengabarkan kepada kekasihnya itu bahwa kenyataan memang tak memihaknya, atau memilih tinggal saja dan mengajukan masa perpanjangan untuk beberapa bulan berikutnya jika pada saat itu pun apa yang diangan-angankannya itu belum juga terwujud. Dan yang terakhir lah yang ia pilih. Dan kini, satu tahun lebih dari saat itu, ia bisa sedikit menysukuri apa yang dipilihnya. Dua minggu yang lalu, ia menemukan fakta lain. Ia memergoki lelaki itu mengatur janji temu dengan seseorang. Perempuan. Dan betapa ia senang namun juga sedih di saat yang sama, perempuan itu adalah sosok yang selama hampir dua tahun ini diharapkannya muncul. Perempuan itu adalah perwujudan dari seseorang yang dicintainya di masa lalu.

“Jangan dulu senang. Siapa tahu itu hanyalah awal dari sesuatu yang lebih buruk,” kata teman seperjalanannya, suatu malam saat mereka bertemu di Ekalos.

Ia tak suka mendengar kepesimistisan lelaki itu. Namun apa yang pernah terjadi sebelumnya membuatnya benar-benar memperhatikan peringatan tersebut. Satu kali, dua kali, ia menyaksikan lelaki dan perempuan itu bertemu diam-diam. Di XXI, di KFC. Meskipun dari mimik muka dan bahasa tubuh kedua sosok itu saling menunjukkan rasa nyaman dengan terjadinya pertemuan-pertemuan itu, ia tetap menahan diri untuk tak menyimpulkan tergesa-gesa. Dibuntutinya kedua sosok itu. Diamatinya apa-apa yang mereka lakukan bersama.

Sayang sekali ia tak bisa berada di belakang mereka dalam jarak yang terlalu dekat. Padahal ingin sekali ia mengetahui dengan pasti dan menyaksikan apa saja yang sesungguhnya dilakukan kedua sosok itu di sebuah kamar hotel yang mereka sewa pada pertemuan-pertemuan mereka. Sekali waktu, ia pernah membayangkan yang berada di kamar itu adalah ia, dan perempuan itu dalam wujudnya yang sempurna sepuluh tahun yang lalu.

 
DI beberapa malam ketika ia merasa lelah atau tak sehat dan memutuskan untuk berbaring saja di ranjangnya yang keras, ia teringat kehidupannya sepuluh tahun lalu, juga perempuan itu. Kadang ia memikirkannya, dan takjub, menyadari bahwa mengenang sesuatu yang telah lama sekali terjadi bisa nyaris serupa dengan mengalaminya kembali. Segala rasa itu. Setiap detailnya. Setiap detik ketika ia dan perempuan yang dicintainya itu begitu dekat. Entah telah berapa kali, ketika ia membiarkan dirinya mengenang, ia teringat pada percakapan mereka suatu malam.

“Apakah kau benar-benar mencintaiku?” tanya perempuan itu.

“Tentu saja,” jawabnya.

“Sebesar apa kau mencintaiku?”

“Pastinya lebih besar dari yang kau duga.”

“Apakah kau juga menginginkanku?”

“Oh ya, pasti.”

“Apa yang kau inginkan dariku?”

“Dirimu, tentu saja.”

“Lebih spesifik!”

“Spesifik? Maksudmu—”

“Apakah hatiku atau tubuhku yang sesungguhnya kau inginkan dariku?”

“Ah..”

“Yang mana?”

“Dua-duanya.”

“Tak bisa. Pilih salah satu.”

“Loh, kenapa seperti itu?”

“Karena pasti ada satu yang lebih dari yang lain.”

“Dua-duanya sa—”

“Sudah kubilang pasti ada satu yang lebih dari yang lain. Ayolah, bilang saja. Yang mana? Tubuhku, atau hatiku?”

Ia diam.

“Hatimu,” jawabnya.

“Jadi kau ingin bilang bahwa kalau pun tubuhku dimiliki orang lain kau tak akan keberatan selama hatiku masih kau miliki?”

“Eh? Tentu saja aku keberatan!”

“Tapi kau sendiri yang bilang yang kau inginkan dariku adalah hatiku.”

“Tapi bukan itu maksud dari jawabanku. Kau sendiri pasti paham lah apa yang kumaksudkan itu.”

Ia ingat, percakapan itu terjadi delapan belas hari sebelum hari keberangkatannya dua tahun lalu. Saat itu ia dan perempuan itu baru saja kembali dari perjalanan sepuluh jam kereta api kelas bisnis mereka. Di sepanjang perjalanan ia merasa ada yang aneh dengan perempuan itu yang tak mengatakan apa pun. Ia sempat menduga ada sesuatu yang membuat perempuan itu tak nyaman namun pikiran itu ia enyahkan begitu saja saat perempuan itu membiarkan saja ia merangkulnya dan menciumnya di bibir dua kali. Lalu, percakapan itu terjadi, tepat di setelah mereka selesai merampungkan gairah di tubuh masing-masing. Dan ia begitu kesal.

“Kalau kau memang mencintaiku, lepaskan aku. Aku sama sekali tak melihat jalan keluar untuk kita,” kata perempuan itu.

“Justru karena aku mencintaimu, aku tak mungkin melepasmu,” balasnya.

Dan ia pun akhirnya seperti terpaksa untuk menjanjikan bahwa jika memang masalah mereka saat itu adalah masa depan, maka ia akan sekuat tenaga melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Perjalanan waktu. Itulah yang diucapkannya saat itu, dan memang ditempuhnya delapan belas hari kemudian, dan sempat disesalinya selama tujuh atau delapan jam di hari itu.

“Sebenarnya aku tak pernah ingin meninggalkannya, meski hanya untuk sementara,” ujarnya kepada salah satu teman seperjalanannya.

“Sekarang perjalanan ini sudah kau tempuh. Tak ada gunanya menyesal. Kau lalui saja hari-harimu di sana nanti,” balas lelaki itu.

“Aku takut sekali ketika aku akhirnya kembali nanti, menemuinya, ia rupanya telah bersama seseorang. Aku takut sekali ia tak cukup sabar menungguku.”

“Sudahlah. Apa memikirkan hal itu saat ini ada gunanya untukmu? Tidak, kan? Sudah, pikirkan saja apa-apa yang akan kau lakukan ketika kau tiba nanti di masa depan. Lakukan yang terbaik. Itu saja.”

Dan seperti yang dinasehatkan teman seperjalanannya itu ia melakukan yang terbaik yang bisa ia lakukan selama hampir dua tahun ini. Kepahitan yang sempat ia rasakan di awal-awal, di sembilan puluh persen waktunya di masa ini, kini mulai berubah jadi sesuatu yang manis. Lelaki itu dan perempuan itu. Mereka berdua menikmati pertemuan-pertemuan mereka meskipun hal itu menunjukkan bahwa ia di masa depan adalah seorang pengkhianat, sesosok suami yang berciuman dengan istrinya di pagi hari namun menikmati sepenggal waktu di dalam kamar hotel dengan sesosok perempuan lain—perwujudan seseorang yang dicintainya di masa lalu.

Apakah memang hal seperti ini yang kuharapkan? gumamnya.

Ia tiba-tiba merasa bersalah, merasa seluruh tubuhnya kotor padahal yang melakukan perselingkuhan itu adalah lelaki itu.

“Masa depan, tak pernah benar-benar bisa diketahui,” kata teman seperjalanannya suatu malam. Tiba-tiba ia teringat hal itu.

“Apapun yang kau lihat di masa ini, ketika kau kembali nanti, cobalah untuk berpikir bahwa selama ini kau hanya bermimpi.” Begitulah teman seperjalanannya itu mengatakannya.

Dan kini ia bimbang, apakah akan mempercayai perkataan teman seperjalanannya itu—yang sejujurnya diutarakan dalam keadaan setengah mabuk—dan meletakkan segala hal yang dialaminya ini ke dalam sebuah kotak dan menyimpannya di sebuah rak di dalam kepalanya dan dilabelinya kotak itu “MIMPI”, ataukah mempercayai SEMUANYA dan terus berharap bahwa perselingkuhan lelaki itu dengan perempuan itu berjalan mulus hingga suatu saat mereka berdua benar-benar bisa hidup bersama—sebagai suami-istri yang sah?

Ia tak tahu dan ia tak ingin memikirkannya. Tidak saat ini. Beberapa detik yang lalu ia lihat sepasang kekasih itu turun di depan sebuah gang lantas menyeberang dan menuju pintu masuk sebuah hotel. Ia pun meminta sopir untuk berhenti, dan turun. Kali ini, ia memutuskan untuk ikut menyewa sebuah kamar di hotel itu, sebuah kamar yang persis berada di samping kamar yang mereka sewa. Ia membayangkan, sepuluh atau lima belas menit lagi, ia tengah memejamkan mata dan berandai-andai sosok lelaki yang tengah berada di kamar sebelahnya itu adalah ia, dan perempuan yang terengah-engah atau berteriak-teriak itu adalah kekasihnya, seseorang yang mungkin saat ini sedang menunggunya di masa lalu.(*)

  

Bogor, 9 April 2013


[1]Dalam novelnya yang berjudul “Never Let Me Go”, Kazuo Ishiguro menghadirkan tokoh-tokoh yang menyaksikan sosok-sosok serupa dirinya ketika mereka bermain-main di sebuah kota. Sosok-sosok itu adalah wujud sejati dari mereka, sedangkan mereka sendiri adalah klon-klon dari sosok-sosok itu. Mereka, beserta klon-klon lainnya, dikisahkan tumbuh besar di sebuah kawasan fiktif bernama Hailsham.

 
 
*Dimuat di Tabloid Banten Muda Edisi Desember 2013.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s