Congklak, 2

SEPENUHNYA aku dalam keadaan sadar ketika tempo hari aku membangunkanmu dan memintamu mencarikanku sebuah congklak. Aku tahu saat itu dini hari—hampir pukul tiga. Aku juga tahu hari itu bukanlah akhir pekan atau tanggal merah, sehingga membangunkanmu berarti benar-benar mengganggumu—apalagi untuk sesuatu yang bagimu tentulah tak masuk akal. Tapi aku sama sekali tidak sedang mengerjaimu atau apa. Aku bersungguh-sugguh. Aku bersungguh-sungguh dengan apa yang kulakukan bahwa aku ingin kau mencarikanku permainan masa kecil kita itu. Perlahan-lahan aku akan menjelaskannya dalam suratku ini, dan kuharap usai kau membacanya habis kau akan paham—dan mungkin memaafkanku.

Malam itu sebenarnya aku bermimpi aneh. Aku berada di sebuah tempat yang entah kenapa membuatku nyaman—kelak aku sadar bahwa tempat itu adalah rumah Nenek dari pihak Ayah—dan aku tidak sendirian. Ada seorang anak laki-laki di hadapanku. Seandainya aku tidak salah ingat, saat itu aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas, namun naluriku mengatakan bahwa ia laki-laki. Dan ia di hadapanku tengah memainkan permainan masa kecil kita itu. Sebelum aku akhirnya bisa melihat dengan jelas wajahnya dan menyadari bahwa ia rupanya adalah dirimu berbelas-belas tahun lalu, anak itu mengatakan bahwa ia telah selesai dan selanjutnya giliranku. Aku pun mulai bermain dan di titik itulah aku menyadari satu hal lainnya: aku sendiri rupanya adalah diriku berbelas-belas tahun lalu.

Aku memahaminya dari tanganku yang masih begitu kecil, juga dari suaraku yang teramat cempreng. Perlu kau tahu bahwa di dalam mimpiku itu aku bergerak dengan sendirinya. Maksudku, diriku berbelas-belas tahun itulah yang benar-benar bergerak, sementara aku seperti hanya menumpang di tubuhnya. Aku seperti Genji saat bangsawan Akaoka itu mengalami pengelihatan-pengelihatannya.[1] Tanpa bisa aku menyela atau mengatakan apa pun, diriku berbelas-belas tahun lalu itu memindah-jatuhkan kuwuk-kuwuk dari satu lubang ke lubang lain, sambil berhitung dan menyuarakannya keras-keras.[2]

Selama beberapa menit setelahnya aku hanya menyaksikan kedua anak itu menikmati permainannya. Sesekali mereka tersenyum. Sesekali mereka tertawa. Aku lantas mulai mengingat-ingat di tahun berapa kira-kira adegan itu terjadi. Mungkin saat aku kelas 1 SD, saat Ibu dan Ayah masih mengurusi kepindahannya di luar kota dan mereka menitipkanku kepada Kakek dan Nenek, pikirku. Pada kurun waktu itu kau memang banyak main ke rumahku—rumah Kakek dan Nenek, tepatnya. Sebagai anak yang tidak begitu suka bergaul atau berkeliaran, kehadiranmu benar-benar kusyukuri. Kita bermain bersama, belajar bersama, mengobrol tak jelas, hingga tertawa-tawa. Sewaktu-waktu kita melakukannya juga di rumahmu, dan itulah agaknya satu dari sekian banyak momen di mana aku dibuat ingin menangis. Meskipun aku saat itu masih teramat kecil, aku paham betul apa itu kaya dan apa itu miskin. Dan sementara orangtuaku termasuk yang pertama, orangtuamu tentulah termasuk yang kedua.

Saat aku tengah hanyut dalam upaya mengingat-ingat itulah sesuatu yang aneh itu terjadi. Entah bagaimana, aku seperti merasa anak lelaki itu memanggil-manggilku, dan ketika aku menatapnya kulihat matanya yang pipih itu begitu lekat mengamatiku. Perlu kutekankan di sini bahwa yang kumaksud dengan ia mengamatiku adalah mengamati diriku yang sesungguhnya, bukan diriku berbelas-belas tahun sebelumnya di mimpiku itu. Bagaimana aku bisa membedakannya? Dari sorot matanya. Juga dari raut mukanya. Dan ketika ia berkata-kata aku jadi semakin yakin bahwa ia tengah mengamati diriku yang sebenarnya. Ia bertanya apakah selama hampir 2 tahun ini aku bahagia hidup bersamanya.

Seperti yang sama-sama kita tahu, kita telah hampir dua tahun menjalin rumah tangga—tanpa anak, sebab kau berpikir kehadiran seorang anak di 2 tahun pertama pernikahan akan mengganggu kemesraan kita. Sebelumnya, kita telah berpacaran selama 4 tahun lebih beberapa bulan. Itu artinya, kita telah bersama-sama selama kira-kira 6 tahun. Rentang waktu yang cukup panjang, bukan? Selama itu kita telah mengalami banyak hal—baik yang menyenangkan maupun menyebalkan—dan kenyataan bahwa sampai detik itu kita masih bersama-sama membuktikan bahwa kita memang saling menyayangi, dan membutuhkan. Sampai detik ini ketika aku menulis surat ini pun, sejujurnya, aku masih menyayangimu. Teramat menyayangimu. Tapi sayang sekali harus kukatakan (sebab bisa jadi ini menyakitkan, kuharap kau menarik napas panjang dulu), saat ini, sepertinya, aku tak lagi membutuhkanmu.

Aku harap kau mau bersabar dan membaca suratku ini sampai habis. Sebisa mungkin aku berusaha mengutarakan semua ini dengan lembut, dan hati-hati, sebab aku tak ingin menyakitimu. Aku membebaskanmu untuk bereaksi seperti apa pun usai kau membaca habis suratku ini—meski tentunya aku berharap kau akan memaafkanku. Sampai saat itu tiba, aku mohon, tenangkan dirimu dan bersabarlah.

Adegan di mana anak lelaki itu bertanya padaku menjadi adegan terakhir di mimpi aneh itu. Setelahnya, aku terbangun, dan mendapati kau mendengkur halus di sampingku. Ada rasa sedih, di sana. Entah kenapa. Aku lalu menatap lama langit-langit dan lampu neon yang padam. Apakah aku baik-baik saja? Apakah aku baik-baik saja? Itulah yang terus kugumamkan di kepalaku. Sementara dengkur halusmu terus kudengar, detak jam seperti langkah-langkah berat di sebuah peron yang tak lagi ramai. Apakah aku baik-baik saja? Apakah aku baik-baik saja? Kembali aku menggumamkannya. Sampai akhirnya di satu titik, aku bangkit dan menepuk-nepuk pipiku sendiri, dan berkata, “Aku baik-baik saja. Tentu aku baik-baik saja.” Untuk membantuku memperbaiki suasana hati, aku bergerak ke daput dan menyeduh teh manis. Proses demi prosesnya lumayan bisa membuatku mendingan. Wangi tehnya bahkan berhasil membuatku tersenyum.

Tapi kemudian ketika aku menikmatinya seorang diri di meja makan, suasana hatiku mendadak buruk lagi. Sesuatu semacam kesedihan seperti perlahan merayap masuk ke dalam diriku dan mendengkur di sana. Dan dengkurnya tidak halus seperti dengkurmu, tetapi kasar dan membuatku gemetar. Tanpa kusadari aku di meja makan itu tengah menangis sesenggukan. Apakah aku baik-baik saja? Apakah aku baik-baik saja? Kembali aku menggumamkannya. Detak jam kali itu terasa seperti tancapan anak panah pada tubuh telanjang seseorang.

Di titik ini rasanya aku perlu memberitahumu apa yang terjadi pada beberapa waktu sebelum dini hari itu. Kala itu siang hari, dan kalau tidak salah hari Selasa. Aku sedang mencoba menulis sebuah cerpen yang merupakan adaptasi dari surat panjang Kumiko kepada suaminya dalam novel The Wind-Up Bird Chronicle karya Haruki Murakami[3] ketika tiba-tiba aku seperti mendengar bunyi menggelegar. Bukan hanya itu, aku bahkan selama sepersekian detik menangkap semacam kilau sinar yang membutakan. Sayangnya ketika aku mencoba mencari tahu apa penyebab kemunculan dua hal itu, aku tak menemukannya. Dan ketika aku menunggunya, dengan pikiran keduanya akan muncul lagi tak lama setelah kemunculannya yang pertama, penantianku itu sia-sia. Aku lantas mencoba tak memikirkannya dan menekuri kembali naskah cerpen yang baru setengah jadi itu. Menyebalkannya, ketika aku mencoba melanjutkannya, aku seperti kehilangan sentuhanku. Kepalaku seperti ruang kosong. Aku bahkan tak mampu membuat satu kalimat pun. Pada akhirnya kutinggalkan cerpen itu dan aku bergerak ke dapur dan menyeduh teh manis.

Tepat saat aku akan meminum teh manis itu, sesuatu melintas di benakku. Sebuah pertanyaan. Ya, sebuah pertanyaan. Lalu pertanyaan-pertanyaan lain bermunculan mengikutinya, dan dalam waktu sekejap kepalaku yang semula seperti ruang kosong jadi seperti gudang yang sumpek dan semrawut. Kubayangkan, pada awalnya sebuah pintu terbuka, lalu pertanyaan pertama muncul melayang-layang dari ambang pintu, dan terus melayang-layang di ruang yang masih kosong itu, sambil terus melafalkan dirinya: Apakah aku baik-baik saja? Apakah aku baik-baik saja? Lalu pertanyaan kedua dan ketiga muncul, dan melakukan hal yang persis sama dengan pertanyaan pertama. Dan setelahnya pertanyaan keempat dan kelima dan keenam. Dan ketujuh dan kedelapan dan kesembilan. Dan kesepuluh. Dan seterusnya. Jadilah ruang yang semula kosong itu begitu bising dan semrawut. Teh manis yang kuseduh itu pun tak jadi kunikmati dan kutaruh di meja.

Apakah aku baik-baik saja? Pertanyaan pertama itu cukup menggangguku. Tentu saja aku baik-baik saja. Aku tidak sedang kesal padamu atau apa. Aku juga tidak sedang sakit dan harus mengonsumsi obat, jika ini ternyata yang dimaksudkannya. Dan yang benar-benar membuatku terganggu adalah kemunculannya yang teramat tiba-tiba. Teramat tiba-tiba. Dan dua pertanyaan yang mengikutinya kemudian—Apakah aku bahagia? dan Apakah hidup seperti ini yang aku inginkan?—menambah besar gangguan itu. Maksudku, dari mana datangnya pertanyaan-pertanyaan itu? Apakah aku tampak seperti seseorang yang begitu menderita hidup dalam sebuah rumah tangga dan membutuhkan pertolongan? Hey, aku baik-baik saja. Benar-benar baik-baik saja. Namun agaknya apa pun yang kukatakan tak bisa menghentikan pertanyaan-pertanyaan itu bermunculan. Dan pertanyaan terakhir rupanya cukup berhasil membuatku terdiam: Apakah aku masih membutuhkannya—seperti dulu aku membutuhkannya?

Kau tentu paham bahwa “-nya” di sana merujuk padamu, dan karenanya pertanyaan itu terdengar aneh. Akan tetapi… hmm. Entahlah. Jika pertanyaannya hanyalah “Apakah aku masih membutuhkannya?”, tentu saja jawabannya adalah “Aku membutuhkannya”. Tapi, jika ditambahi kata-kata di belakangnya itu, hmm…. Entahlah. Bisa jadi jawabannya adalah “tidak”, pikirku saat itu.

Tolong jangan dulu menyimpulkan di titik ini. Biarkan aku menjelaskannya dulu.

Enam tahun kita bersama-sama dan, karena kita bukan lagi anak kecil, maka tentulah kita sama-sama memahami bahwa perubahan-perubahan kecil wajar terjadi dalam kurun waktu enam tahun itu, baik yang kita sadari ataupun tidak. Dan perihal “kebutuhan” pun kurasa termasuk di dalamnya. Dulu di tahun-tahun pertama kebersamaan kita, misalnya, kebutuhanku akan dirimu mencakup hal-hal remeh nan sepele seperti ucapan selamat pagi dan selamat tidur, atau ciuman nakal di tempat-tempat gelap atau di tempat tempat terang nan ramai seperti eskalator mall dan antrian di kasir swalayan. Namun, seiring berlalunya waktu, hal-hal remeh dan sepele itu tak lagi menjadi kebutuhan. Mereka bahkan tak lagi terpikirkan dan lama-lama menjelma jadi hal-hal yang tak boleh lagi terjadi. Kau mungkin tak pernah memikirkannya. Sejujurnya aku pun tidak. Aku baru intens memikirkannya sejak siang penuh gangguan itu. Satu hal yang jelas: semakin lama waktu berlalu, semakin panjang kurun waktu kebersamaan kita, semakin banyak pula hal-hal yang semula merupakan kebutuhan namun kemudian tak lagi menjadi kebutuhan bahkan menjadi sesuatu yang terlarang itu. Dan telah seberapa banyakkah hal-hal itu? Kita tak tahu. Kita hanya tahu bahwa hal-hal itu akan semakin banyak. Dan inilah yang kemudian membuatku siang itu benar-benar murung. Mungkin kau ingat, malam harinya kau tiba di rumah dan mendapati aku sedang menonton televisi dengan raut muka muram. Kau terlalu baik dan mengira hari itu aku sedang datang bulan. Padahal tidak. Aku tidak sedang datang bulan saat itu. Aku hanya sedang teramat murung karena memikirkan “kebutuhan” itu.

Di hari-hari setelahnya aku berusaha tak memikirkannya. Bahwa pertanyaan-pertanyaan mengganggu itu tiba-tiba bermunculan di benakku memanglah aneh, misterius, dan mungkin menyimpan “sesuatu”. Namun aku tak ingin merusak apalagi menghancurkan hari-hari tenangku hanya untuk hal itu. Aku baik-baik saja, dan kau memperlakukanku dengan baik. Kau adalah pasangan dan suami terbaik sejagad raya, jika itu perlu kukatakan. Kau adalah seseorang yang kehadirannya membuatku tak ambil pusing soal kekonyolan dan kelucuan PKS dan TVOne, jika itu pun perlu kukatakan. Intinya, hidup bersama dalam sebuah rumah tangga (yang sah) denganmu aku baik-baik saja. Dan saat itu, kupikir, itu sudah sangat cukup.

Akan tetapi anehnya aku seperti tak bisa mengendalikan diriku. Katakanlah aku yang sedang berbicara padamu ini adalah aku-pertama, dan katakanlah di dalam diriku ada aku lain yang rupanya bisa sesekali bertentangan denganku, dan sebutlah ia aku-kedua. Dan khusus kali itu, aku-pertama dan aku-kedua benar-benar bertentangan, dan seperti tak bisa berkompromi. Dan satu hal yang mesti diingat jelas: si aku-kedua terlihat dominan. Di saat si aku-pertama memerintahkan si aku-kedua untuk berhenti memikirkan pertanyaan-pertanyaan mengganggu itu, si aku-kedua justru noyod. Ia bahkan seperti bersengaja melakukan kebalikannya.

Terus terang itu membuatku kesal. Dan kau pada kurun waktu itu mungkin pernah menemukanku begitu lesu, sehingga pada suatu Minggu pagi kau tiba-tiba membangunkanku dan berkata bahwa kita akan berjalan-jalan sambil berwisata kuliner seharian itu. Jujur saja, itu membuatku senang. Dan kau pun mendapati aku begitu banyak tersenyum seharian itu. Semestinya, semua hal tak menyenangkan yang kualami itu berakhir di titik ini.

Namun apa boleh buat, esok harinya aku kembali memikirkan pertanyaan-pertanyaan mengganggu itu, dan aku kembali murung. Ketika sedang sendirian di rumah, pertanyaan-pertanyaan itu kembali melayang-layang dan melafalkan dirinya di dalam kepalaku. Apakah aku baik-baik saja? Apakah aku bahagia? Apakah hidup seperti ini yang aku inginkan? Apakah aku masih membutuhkannya—seperti dulu aku membutuhkannya?

Kali itu aku mencoba mencari pertolongan. Aku telepon salah satu sahabatku semasa kuliah dan kuceritakan padanya segala hal yang menggangguku itu.[4] Ia bilang, “Kau bisa ke tempatku besok, atau lusa? Kita bicarakan di sana saja, biar leluasa.” Kubilang, “Tak bisa. Kalau aku ke tempatmu sudah pasti aku akan menghabiskan waktu di sana, bahkan bisa jadi menginap. Aku tak ingin membuatnya cemas.” Sahabatku itu lantas memberiku wejangan singkat sebab ia mengaku sedang lumayan sibuk saat itu. Aku menyimaknya. Inti dari wejangan singkatnya itu: “Pahami apa yang sesungguhnya mengganggumu dan apa yang sesungguhnya kauinginkan. Setelah itu, ambillah keputusan, tanpa campur tangan orang lain.” Kalau boleh jujur, wejangannya itu sesungguhnya tak membantu.

Merasa kecewa, aku mencoba mencari-cari sendiri solusi untuk masalahku ini. Kuputuskan untuk berbaring menelentang di kasur dan menatap langit-langit, dan mengingat-ingat hal-hal apa saja dari dirimu yang membuatku menyukaimu, momen-momen penting kita, kebersamaan kita, dan sebagainya. Saat itulah aku teringat pada masa kecil kita, bahwa saat kita kecil itu kau adalah satu-satunya teman mainku yang tak kenal bosan. Kita bermain hampir tiap hari. Meskipun aku adalah anak kota yang susah beradaptasi dengan lingkungan pedesaan, kau tak ambil pusing soal itu. Permainan demi permainan tradisional kauperkenalkan padaku, dan aku selalu merasa senang karenanya—setidaknya begitulah aku mengingatnya saat itu. Dan yang paling kusukai dan paling sering kita mainkan adalah congklak. Selain karena aku sering menang jika memainkannya denganmu, tindakan mengambil sejumlah kuwuk dan melepaskannya satu-satu jadi alasan kenapa aku begitu menyukainya.

Aku kemudian berpikir bahwa permainan itulah agaknya yang mendekatkan kita, yang membuat kita di kemudian hari bersama-sama dan akhirnya menikah. Maksudku, jika dulu kita tak sering bermain congklak bersama, maka kita tak akan menjadi teman dekat, dan ketika bertahun-tahun kemudian kita bertemu lagi belum tentu kita akan akrab dan akhirnya berpacaran, yang artinya belum tentu dua tahun lalu kita menikah. Begitulah aku memikirkannya saat itu. Mungkin terdengar berlebihan, tapi aku tak peduli. Satu-satunya yang aku pedulikan saat itu adalah bahwa keberadaan permainan itu bisa jadi memudahkanku mengatasi masalahku. Maksudku, dengan adanya permainan itu, kita bisa memainkannya lagi, dan mungkin aku akan sering menang lagi, dan itu akan membuatku merasa lebih baik. Agak kekanak-kanakan memang. Tapi, lagi-lagi, aku tak peduli.

Namun segera aku menyadari bahwa keinginanku itu terlalu absurd. Maksudku, congklak? Terakhir kali kita memainkannya saat kita masih anak SD dan tinggal di pedesaan dan kini anak-anak saja sudah begitu akrab dengan gadget dan permainan-permainan elektronik. Di mana kau akan menemukannya, jika memang kau akan mencarinya? Jangan-jangan permainan itu sudah punah dan orang-orang tak ingat lagi ia seperti apa atau bagaimana memainkannya.

Dan begitulah aku memutuskan mengubur dalam-dalam keinginan absurdku itu, dan itu cukup berhasil, pada awalnya. Satu hal yang lupa kuperhitungkan saat itu adalah keberadaan si aku-kedua yang, lagi-lagi, dominan terhadap si aku-pertama. Jadi sementara aku terus mengatakan kepada diriku bahwa semestinya kukubur saja keinginan absurdku itu, diriku yang lain, si aku-kedua itu, justru melakukan kebalikannya. Alhasil, pada sore dan malam harinya aku tiba-tiba kembali memikirkan permainan itu dan semakin lama bayangan di mana kita memainkannya jadi semakin jelas. Dan puncaknya adalah mimpi aneh yang kualami itu, yang membuatku terbangun dan menyeduh teh manis dan menangis sesenggukan itu, yang setelahnya aku membangunkanmu dan memintamu mencarikanku permainan itu.

Jadi, agaknya, aku semakin dekat dengan apa yang sesungguhnya ingin kusampaikan padamu. Kau masih bisa bersabar? Kuharap iya.

Dini hari itu aku membangunkanmu dan memintamu mencarikanku sebuah congklak. Dan ketika kau menyanggupinya, meskipun dengan sorot mata separuh iba separuh cemas, aku luar biasa senang. Aku tidak tahu dari mana datangnya rasa senang yang luar biasa itu. Seolah-olah, aku begitu menginginkan permainan itu. Kini ketika aku memikirkannya aku menduga si aku-kedua saat itu sedang terlampau dominan sehingga ia sempat mengambil alih peran si aku-pertama. Dan begitulah, seharian itu aku tersenyum-senyum menanti-nanti kau pulang menenteng permainan itu, dan usai makan malam kita memainkannya. Barangkali di dalam hati aku bergumam bahwa kehadiran permainan itu akan benar-benar membantuku terbebas dari masalahku—yang sejujurnya tak masuk akal itu.

Tapi sayangnya, seperti yang kau tahu, malam itu kau pulang tanpa membawa permainan itu. Bahkan, akumu saat itu, mencarinya saja kau belum sempat. Sontak saja aku kecewa, dan suasana hatiku yang semula secerah hari Minggu pagi berawan dan tanpa hujan, berubah jadi sebuah tengah malam di kota mati dengan lebat hujan dan hantaman angin. Saat itu si aku-kedua barangkali kembali mengambil alih peran si aku-pertama.

Besok harinya dan beberapa hari setelahnya aku masih menanti-nanti kemunculan permainan itu. Namun, satu hal tak lagi sama: aku telah kecewa. Kekecewaan itu terasa menyakitkan sampai-sampai aku teringat pada momen-momen di mana kau membuatku hampir-hampir memakimu.

Suatu hari aku melihatmu seperti mencari-cari sesuatu. Kau mencarinya di kamar mandi, juga di tempat sampah di halaman belakang. Barulah beberapa lama kemudian aku paham bahwa kau saat itu tengah memastikan apakah aku sedang datang bulan atau tidak. (Jika iya, maka kau akan menemukan pembalut bekas pakai di tempat sampah di kamar mandi atau di tempat sampah di halaman belakang.) Mungkin, kau saat itu berpikir seperti ini, “Jika istriku sedang datang bulan, maka besar kemungkinan permintaannya yang absurd ini adalah efek samping dari datang bulannya itu. Dan itu artinya, aku tinggal menunggu datang bulannya selesai.” Memikirkannya, aku tersenyum. Di dalam hati aku bahkan tertawa terpingkal-pingkal. Namun saat itu aku sedang teramat kesal—padamu, pada diriku, pada pertanyaan-pertanyaan mengganggu itu—dan karenanya aku tak menunjukkan senyumku itu padamu. Kau bahkan bisa jadi tak menyadari bahwa aku tahu-menahu soal upaya pencarianmu itu.

Tiga hari sebelum aku akhirnya meninggalkan rumah, mimpi aneh yang tempo hari kualami kualami lagi. Mimpi yang sama. Persis sama. Dan besoknya dan besoknya lagi aku kembali mengalaminya. Aku jadi seperti Erika Kuritani dalam cerpen “Yesterday”[5] karya Haruki Murakami, hanya saja Erika sedikit lebih beruntung sebab mimpi yang dialaminya berulangkali itu adalah mimpi yang menyenangkan. Atau setidaknya begitulah aku melihatnya. Akibat dari datang dan datangnya lagi mimpi itu cukup jelas, cukup signifikan, dan kau sendiri mungkin merasakannya. Aku mendiamkanmu. Aku membiarkanmu hanyut dan tenggelam dalam keputusasaanmu. Kau mungkin masih ingat, sebelum aku mengalami mimpi itu, kau pernah mengajakku ke tempat di mana kau tinggal dulu semasa kuliah, dengan maksud membelikanku congklak. Sebelumnya kau memberitahuku bahwa di tempat itu dulu kau pernah melihat ada yang menjual congklak dan kau berpikir saat itu pun si penjual itu masihlah ada. Sesuatu yang akhirnya terbukti salah. Sesuatu yang seolah-olah menjadi awal dari sikapku yang semakin membuatmu lelah dan putus asa. Namun apakah karena itu aku mengalami mimpi aneh itu lagi—sampai tiga kali berturut-turut? Aku tak tahu. Sama tak tahunya dengan apakah kemunculan pertanyaan-pertanyaan mengganggu tempo hari itu ada hubungannya dengan suara menggelegar dan kilatan cahaya sepersekian detik itu atau tidak. Yang jelas, selama tiga hari berturut-turut aku mengalami lagi mimpi itu. Dan di hari ketiga sekelompok pertanyaan-pertanyaan baru bermunculan, melayang-layang di dalam kepalaku, dan membuatku semakin tak ingin berinteraksi denganmu, bahkan melihatmu. Pertanyaan-pertanyaan itu sendiri beberapa diantaranya adalah ini: “Apakah aku masih mencintainya?”, “Apakah aku masih menyayanginya namun tidak lagi mencintainya?”, “Apakah aku masih menginginkannya?”, “Apakah aku tengah berpikir untuk meninggalkannya?”, “Apakah aku sungguh-sungguh ingin terus bersamanya dan bertahan dalam keadaan tak menyenangkan seperti ini?”

Di hari aku pergi itu kau menciumku seperti biasa, mengatakan bahwa kau mungkin akan pulang sedikit terlambat sebab kau akan berusaha mencari-cari lagi permainan masa kecil kita itu.[6] Kira-kira setengah jam setelah itu, aku mulai memilih-milih baju dan mengepaknya. Tak banyak yang kubawa. Satu-satunya benda berat yang kubawa adalah laptopku. Selesai mengepak, aku menelepon sahabatku yang tempo hari kumintai tolong itu. Sebenarnya, permintaanku kali itu—maksudku yang kedua—terbilang mendadak, tapi ia terlalu mengenalku untuk mengeluh apalagi menolakku. Aku meminta ia tak keberatan aku menginap di tempatnya selama beberapa hari.

Di titik ini kau mungkin telah memahami 3 hal penting: 1) Aku tidak meninggalkan rumah karena kau tak juga membelikanku congklak itu[7]; 2) Pesan atau memo yang kutinggalkan itu tak bisa sepenuhnya kau percaya[8]; 3) Yang sesungguhnya bermasalah dalam kasus kita ini adalah aku, hanya aku.[9]

Bagaimana aku melalui hari-hariku di tempat sahabatku? Kau tak perlu khawatir. Selama 2 tahun ini aku mendapatkan cukup banyak uang dari menulis. (Kau terlalu baik dan membiarkanku menabungkan semuanya sementara kebutuhanku sehari-hari sepenuhnya kau yang menanggungnya.) Ditambah lagi sisa-sisa “uang bulanan” darimu selama ini, juga saldo tabunganku yang cukup besar sebelum kita menikah. Dari segi finansial, aku aman. Dan mungkin perlu juga kukatakan bahwa sahabatku itu orangnya sangatlah perhatian dan responsif. Ia tak akan membiarkanku kelaparan atau sengsara. Kau benar-benar tak perlu mencemaskannya.

Justru akulah sebenarnya yang mencemaskanmu. Bagaimana kau melalui hari-hari di rumah tanpa aku? Makanmu teratur? Siapa yang mengerjakan pekerjaan rumah dan belanja keperluan dapur? Kadang-kadang aku terlampau mencemaskanmu dan aku jadi menyesali apa yang telah kulakukan ini, dan berpikir untuk kembali. Namun niat itu selalu urung kuwujudkan, sebab aku belumlah berhasil keluar dari masalahku ini. Mimpi aneh itu, kau tahu, masih sesekali kualami. Dan pertanyaan-pertanyaan baru telah bermunculan dan membuat kepalaku kian seperti gudang yang teramat semrawut. Aku tidak bisa menemuimu dalam keadaan seperti ini. Tak akan. Dan kata “tak akan” ini jadi benar-benar “tak akan” usai suatu pagi aku bercermin dan menemukan diriku bukanlah diriku yang kutahu. Ia barangkali adalah si aku-kedua. Aku yang tak kusukai. Aku yang kubenci. Seandainya aku bisa melukainya tanpa melukai diriku sendiri, ingin sekali aku melakukannya, berkali-kali. Dan melihat perkembangannya sejauh ini, kondisiku akan semakin memburuk saja. Sahabatku semakin menyarankanku menemui psikiater namun aku menolaknya. “Itu akan membuatku tampak gila dan lemah,” ujarku. Dan lagipula, jika aku melakukannya, bukankah itu artinya aku mengaku kalah pada diriku yang lain itu, pada pertanyaan-pertanyaan mengganggu itu. Dan itu pun akan membuat tindakanku meninggalkan rumah menjadi tak berarti. Oleh karena itulah, Sayangku, Suamiku, Pangeranku, aku tak bisa (baca: tak akan) lagi menemuimu. Memang bisa saja aku menunggu keadaanku membaik tapi saat ini tak siapa pun bisa memastikan kapan itu akan terjadi. Bisa sepuluh hari lagi. Bisa sepuluh tahun lagi. Dan tak adil rasanya membiarkanmu menunggu selama itu.

Sekali lagi aku ingin mengatakan bahwa aku, sampai detik ini pun, masihlah teramat menyayangimu. Teramat menyayangimu. Dan meskipun di kepalaku pertanyaan-pertanyaan mengganggu itu terus melayang-layang dan melafalkan dirinya, tidak berarti aku benar-benar mempertanyakannya. Maksudku, apakah aku bahagia hidup bersamamu? Bisa jadi jawabannya adalah “Iya”—meskipun kuakui itu sulit untuk saat ini. Atau, apakah aku masih mencintaimu ataukah hanya menyayangimu? Bisa jadi jawabannya adalah “Aku masih mencintaimu”. Hanya satu yang mungkin akan membuatmu kecewa: saat ini, aku memang tidak membutuhkanmu. Aku telah mencoba memberimu kesempatan untuk membantuku keluar dari masalahku ini, namun itu terbukti sia-sia. Bukan berarti kau yang salah. Bukan. Kau sama sekali tak salah. Akulah yang salah. Akulah yang bermasalah di sini.

Satu hal terakhir yang barangkali perlu kusampaikan padamu dalam suratku ini: Semua yang kukatakan di suratku ini adalah benar. Tak sedikit pun ada kebohongan. Kau mungkin berpikir bahwa apa yang kukatakan ini terlampau absurd dan karenanya kau bertanya-bertanya apakah aku tengah berusaha mengibulimu atau apa. Bisa jadi dalam benakmu muncul dugaan seperti ini: “Dia mengarang cerita yang absurd untuk menutupi dosa dan kesalahannya yang sebenarnya, seperti berselingkuh, misalnya.” Di sini, kutegaskan, dugaan itu meleset. Sangat meleset. Aku tak sedang berselingkuh dengan siapa pun. Bahkan, aku tak pernah berselingkuh dengan siapa pun. Aku orang yang setia dan kau tahu itu[10]. Jadi, terimalah penjelasanku ini, dengan lapang dada. Dan jangan berpikir untuk mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi atau memobilisasi massa untuk melakukan demonstrasi. Hehe…

Sayangku, Suamiku, Pangeranku, aku tahu ini menyedihkan. Aku tak pernah membayangkan kita akan berakhir seperti ini. Kau pun tentu tak pernah membayagnkannya. Kebersamaan kita selama 6 tahun itu rusak gara-gara sesuatu yang tak kumengerti, yang tiba-tiba saja muncul. Dan apakah ini artinya Tuhan tengah bermain-main (baca: mempermainkanku)? Ah, maaf. MUngkin semestinya aku menggunakan “Allah” alih-alih “Tuhan”, sebab bagaimanapun aku masih seorang Muslim meski aku sudah tak lagi solat sejak 3 tahun lalu.[11]

Pernah sebenarnya tempo hari aku berpikir bahwa apa yang kualami ini sebenarnya mirip dengan apa yang dialami tokoh-tokoh utama dalam manga berjudul Alive karya Tadashi Kawashima[12]; bahwa pada hari aku mendengar suara menggelegar dan melihat semacam kilatan cahaya itu sesuatu sebenarnya merasuk-masuk ke dalam diriku. Semacam virus. Ya, virus. Dan virus inilah yang menyebabkan pertanyaan-pertanyaan mengganggu itu bermunculan. Dan virus ini pulalah yang menyebabkan si aku-kedua begitu menentangku dan semakin lama semakin dominan saja ia terhadap si aku-pertama. Bisa jadi, yang mengalami hal aneh ini bukan hanya aku. Beberapa orang di sekitarku, atau bahkan di seluruh negeri ini, bisa saja mengalaminya juga. Maksudku, beberapa yang terkena virus itu namun cukup kuat, akan baik-baik saja—seperti dirimu. Sedangkan yang terkena virus itu dan tidak cukup kuat, akan mengalami gangguan psikologis atau semacamnya, atau apa pun itu. Yah… kita tak pernah tahu apakah kenyataannya memang seperti itu atau tidak. Lagipula, bukankah kenyataan itu sendiri selalu sebuah misteri. Kita telanjur melihatnya sebagai sesuatu yang logis dan terjelaskan. Namun sesungguhnya, itu adalah kenyataan yang terdefinisi, yang tereduksi. Ia sebuah ke-belum-tentu-benar-an yang kita anggap (bahkan yakini) benar.

Ah, maafkan aku. Bukannya mengakhiri suratku ini, aku malah meracau tentang hal-hal yang mungkin tak menarik perhatianmu, bahkan bisa jadi membuatmu muak. Tak terasa sudah sepanjang ini. Aku benar-benar menikmati menyampaikan semua ini padamu. Bahkan, kalau mau jujur, saat ini pun aku masih ingin mengatakan beberapa hal lagi, dan itu akan membuat surat ini jadi dua kali lipat lebih panjang. Mungkin, ini dikarenakan sudah cukup lama aku tak melihatmu, dan sudah lebih lama lagi aku tak mengobrol denganmu. Apakah ini artinya aku merindukanmu? Mungkin saja. Delapan belas hari sudah sejak aku meninggalkan rumah. Tiga hari sudah sejak aku berpamitan dengan sahabatku. Kau tahu, saat ini, aku tengah berada di suatu tempat yang tak akan pernah terbersit dalam benakmu. Aku bersungguh-sungguh. Kalaupun setelah membaca habis suratku ini—yang mungkin baru akan kauterima besok lusa atau besoknya lagi—kau nekat mencariku, kau harus menggunakan separuh atau bahkan seluruh sisa hidupmu sebelum akhirnya kau menemukanku. Aku di tempat ini, seorang diri. Benar-benar seorang diri. Sewaktu-waktu aku memandangi langit malam dan menghitung bintang-bintang. Sampai kapan aku akan terus di sini? Aku tak tahu. Mungkin sampai aku berhasil mengatasi masalahku ini, yang bisa jadi 10 hari lagi, atau 10 tahun lagi.

Agaknya kucukupkan saja suratku ini. Seandainya kau bertemu orangtuaku—aku yakin jauh-jauh hari sebelum ini kau telah menemui mereka dan menanyakan keberadaanku—tolong katakan kepada mereka bahwa aku baik-baik saja, meski untuk sementara waktu aku akan tak bisa dijangkau. Mereka sudah tua. Sudah waktunya mereka hidup tenang.

Baiklah, Sayangku, Suamiku, Pangeranku, sampai jumpa lagi—di alam lain. Aku minta maaf untuk segalanya.(*)

  
N.B. Aku mulai berpikir untuk mencari sendiri congklak itu. Jika aku menemukannya, aku akan memainkannya seorang diri, sambil membayangkan kau ikut memainkannya di hadapanku. Ah, bukankah aku semakin memberimu tanda bahwa aku memang masihlah teramat menyayangimu—dan mungkin mencintaimu.

 
[1] Genji adalah salah satu tokoh utama dalam dwilogi novel Takashi Matsuoka, Samurai. Buku pertama berjudul Awan Burung Gereja, sedangkan buku kedua berjudul Jembatan Musim Gugur. Buku ini mengupas perjalanan bangsa Jepang dari era ke era dan mempertontonkan bagaimana cara mereka menyikapi masuknya budaya Barat dan agama Kristen. Sebuah buku yang benar-benar kusukai—meski belakangan aku merasa pengalihbahasaannya kurang lihai. Jika kau tertarik membacanya, atau setidaknya membuka-buka buku ini, kau bias menemukannya di rak buku kita—rak bukuku sebenarnya. Kalau tidak salah aku menyimpannya di bagian kiri atas, bersama novel-novel penulis Jepang lainnya. Oh ya, Takashi Matsuoka sendiri adalah orang Jepang yang kemudian tinggal di Hawaii. Jadi, ia punya sudut pandang yang seakan-akan bercampur, antara Timur dan Barat. Dan karenanya buku ini menarik.

[2] Dulu agaknya kita menyebut lubang-lubang itu sebagai “gunung”, dan itu sebutan yang aneh, mengingat gunung justru menjulang ke atas. Mungkin yang kita maksud adalah “kawah gunung”. Ya, itu lebih masuk akal. Dan lebih tepat juga, sebenarnya, daripada “lubang”.

[3] Mungkin detail ini tak penting bagimu sebab kau tak begitu suka membaca. Tapi biarlah aku cantumkan juga. Siapa tahu setelah membaca habis suratku ini kau pun jadi tertarik untuk membuka-buka novel ini dan mencari-cari surat Kumiko yang kumaksud di sini.

[4] Tak akan kusebutkan siapa ia, sebab aku tak ingin kau kelak melibatkannya dalam masalah kita ini. Jika kau bersikeras menebak-nebak, kupastikan, tebakanmu itu meleset.

[5] Cerpen ini kudapatkan dari seorang teman di facebook yang mendapatkannya di situs The New Yorker. Seperti biasa, Murakami bermain-main dengan kehilangan dan kesunyian, dan membiarkan tokoh-tokohnya mengalami nasib buruk. Satu hal yang kusukai dari cerpen Murakami yang satu ini: ia berada dalam jalur cerpen-konvensional. Beberapa hal yang begitu kusukai dari cerpennya ini: 1) ia mengoptimalkan dialog dengan sangat baik; 2) ia meleburkan simbolisme jadi seperti tak ada; 3) ia memberiku sedikit “pengetahuan” tentang sikap manusia tentang bahasa dan budaya.

[6] Tentang hal ini, aku sebenarnya tak lagi mempermasalahkannya. Aku bahkan tak lagi memikirkannya. Congklak itu tak akan berhasil. Keberadaannya tak akan berhasil. Begitulah aku meyakinkan diriku. Dan karenanya apa yang kaukatakan pagi itu terdengar sangat lucu. Sungguh.

[7] Aku merasa perlu menjelaskannya di sini sebab kupikir seperti itulah kau beranggapan, bahwa aku pergi meninggalkan rumah karena kau tak juga membawa congklak yang kuminta itu.

[8] Di memo itu aku memintamu untuk tidak mencariku kecuali jika kau telah menemukan congklak itu. Kata-kata setelah “kecuali” sebenarnya lebih untuk mengurangi keterkejutan dan kecemasanmu. Maksudku, kata-kata itu mungkin bias jadi semacam sumber energi bagimu untuk melalui hari-hari tanpa aku—meski kini aku menghancurkannya dengan surat ini. Aku masih teramat menyayangimu sehingga aku tak bias membayangkan kau benar-benar kelimpungan mendapati aku tak ada di rumah dan tak memberimu kesempatan apa pun.

[9] Karena itulah di suratku ini aku hanya berusaha menyampaikan permintaan maaf kepadamu, tanpa memintamu melakukan hal serupa.

[10] Di sini sebenarnya aku ingin juga mengatakan bahwa aku bukanlah Kumiko, semirip apa pun apa yang kualami ini dengan apa yang ia alami. Tapi, aku batal mengatakannya, sebab aku tersadar bahwa kau tak tahu apa pun tentang Kumiko dan apa yang dialaminya.

[11] Mengapa aku tak lagi solat? Tentu kau tahu jawabannya. Suatu hari aku pernah menceritakannya panjang lebar padamu. Kau yang memancingku untuk menceritakannya, sebenarnya.

[12] Judul sebenarnya manga ini adalah Alive: The Final Evolution. Aku membacanya sewaktu aku masih mahasiswa dulu. Sebenarnya aku menyimpan versi ebook-nya juga. Aku menyukai ide ceritanya, meski ceritanya sendiri sebenarnya terbilang klise. Ya, klise.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s