Makan Malam Terakhir

TIGA jam dari sekarang, kebersamaan mereka akan berakhir. Pada saat itu mereka memang masih akan berada di meja yang sama, di kursi yang sama, namun si perempuan tak akan lagi menemukan si lelaki. Ia tak akan bisa lagi melihat si lelaki meski lelaki itu berada tepat di hadapannya. Dan bukan hanya itu, ia bahkan tak akan bisa lagi melihat apa pun yang ada di sekitarnya. Perlahan-lahan, semuanya akan dilahap gelap. Dan dalam gelap yang pekat itu, akan terasa hawa dingin yang terlampau keji, yang mampu menghilangkan hangat yang dimilikinya dalam sekejap, yang mampu membuat semacam-darahnya membeku cepat, yang mampu menghentikan semacam-jantungnya dari berdetak. Ia kemudian akan kehilangan kesadarannya, dan tak akan pernah mendapatkannya lagi. Makan malam ini akan menjadi peristiwa terakhir yang ia simpan dalam ingatannya, dan akan ia bawa bersama kematiannya.

Makan malam ini sebenarnya telah usai, sejak beberapa jam yang lalu. Namun, mereka tetap bertahan. Si lelaki meminum sedikit demi sedikit minuman dalam gelasnya, sekadar untuk memberinya alasan agar ia berada di meja itu lebih lama. Sementara itu, si perempuan, sebab ia tak bisa meminum cairan berwarna merah itu, hanya mengangkat gelasnya, dan memutar-mutarnya, lalu meletakkannya lagi. Sesekali ia mengendus dan menghirup minuman dalam gelasnya itu, dan merasakan aroma menyengat merasuki lubang hidungnya, mengotori semacam-saluran-pernapasannya. Berbeda dengan si lelaki yang adalah sesosok manusia, si perempuan adalah sesuatu serupa manusia. Atau, bisa juga kita katakan, ia adalah sesosok tiruan manusia. Meskipun begitu, ia benar-benar tampak seperti manusia. Mereka yang melihatnya sepintas dan tak mengamati gerak-geriknya selama makan malam itu tak akan ada yang menyangka bahwa ia adalah sesosok nima.

Nima adalah sebutan bagi sosok tiruan manusia sepertinya. Sejak beberapa puluh tahun yang lalu, di kota itu, berdiri beberapa perusahaan yang memroduksi sosok tersebut. Konon diproduksinya nima berawal dari meningkatnya kebutuhan tiap-tiap orang di kota itu terhadap pasangan, seseorang—atau sesuatu—yang bisa menemani mereka setiap saat, dan bisa membantu mereka mengatasi rasa lelah dan stress akibat kesibukan yang teramat gila setiap harinya, setiap minggunya. Pada kemunculannya yang pertama, nima langsung mendapat perhatian penghuni kota. Mereka yang masih dan atau sedang sendiri, terutama yang laki-laki, berduyun-duyun menggelontorkan uangnya demi sesosok nima. Pada saat itu harga yang ditawarkan perusahaan itu belumlah terlalu mahal. Dalam satu bulan saja, permintaan terhadap nima telah meningkat lima kali lipat. Dan anak-anak perusahaan pun berdiri, dan harga sesosok nima naik menjadi tiga kali lipatnya. Dari tahun ke tahun, inovasi demi inovasi dikembangkan demi menjaga permintaan orang-orang di kota itu terhadap nima tidak berkurang.

Si perempuan dalam kisah kita ini mengetahui semua itu dari pencariannya suatu hari, sekitar sebelas bulan yang lalu. Ia, pada saat itu, baru saja melewati tahun pertamanya bersama si lelaki, dan entah kenapa ia merasa gelisah. Seolah-olah, ia merasa, kebersamaannya dengan si lelaki selama satu tahun itu adalah sesuatu yang salah; atau, bukan sesuatu yang benar. Selama satu tahun itu mereka telah melakukan banyak hal, bersama-sama. Mereka telah berkali-kali, misalnya, menikmati makan malam penuh nyala lilin. Mereka juga telah berkali-kali, misalnya, mandi bersama dan bersenggama. Ia tak pernah merasa keberatan dengan semua itu, baik saat ia sedang melakukannya ataupun setelahnya. Barangkali ia memang diprogram seperti itu, dengan maksud menjaga kepuasan dan kesenangan pengguna. Namun apa pun itu, sekitar sebelas bulan yang lalu itu ia merasa gelisah. Selama beberapa hari ia bepergian ke beberapa tempat dan menemui beberapa “orang” demi mendapatkan informasi tentang asal-usulnya itu.

 
SEJAK ia bisa mengingat, atau, lebih tepatnya, sejak ia mulai diaktifkan, ia telah berada di rumah si lelaki. Sementara ia masih berusaha mengumpulkan sejumlah informasi dan mencernanya, lelaki itu tersenyum, dan menghampirinya. Tanpa banyak bicara lelaki itu meraih tangannya, dan mengarahkan tangannya itu ke wajahnya, untuk ia ciumi, berkali-kali. Ia sempat terkejut dan akan menarik tangannya ketika sesuatu di dalam dirinya seperti berkata bahwa itu bukanlah apa-apa, bahwa ia tak perlu merasa cemas atau melakukan apa pun. “Biarkan saja. Biarkan saja.” Begitulah sesuatu di dalam dirinya itu terus berkata. Dan begitulah, si lelaki di hadapannya itu terus menciumi tangannya, sembari terpejam, seakan-akan apa yang dilakukannya itu memberinya kenikmatan yang telah teramat lama ia nantikan. Beberapa hari kemudian, ketika si lelaki mulai memberanikan diri untuk memeluknya, ia kembali membiarkannya.

Minggu-minggu pertamanya bersama lelaki itu adalah saat-saat di mana ia mempertanyakan banyak hal namun sama sekali tak melakukan apa pun untuk menemukan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaannya itu. Ia bertanya-tanya, misalnya, mengapa ia harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah dan menyiapkan sarapan bagi lelaki itu, namun selama berminggu-minggu itu ia melakukannya dengan tekun, dengan kesungguhan yang seolah-olah telah diprogram untuk tetap berada pada taraf tertingginya. Dan ia pun bertanya-tanya, misalnya, mengapa ia tak sedikit pun menolak atau menunjukkan ketidaknyamanannya saat lelaki itu menggenggam tangannya, atau memeluknya, atau membelai rambutnya, atau tertidur di pahanya, namun saat si lelaki melakukan semua hal itu ia benar-benar membiarkannya, dan seperti berusaha membuat si lelaki senyaman mungkin. Baru beberapa bulan kemudian ia memahami bahwa, sebagaimana nima-nima yang lain, ia memang diprogram seperti itu.

Si lelaki yang menjadi penggunanya, segera ia ketahui, adalah seorang karyawan senior di sebuah perusahaan otomotif di kota itu. Dengan pendapatan bulanannya yang besar, tidak sulit bagi lelaki itu untuk mendapatkan sesosok nima sepertinya, yang secara fisik luar biasa menggemaskan, dan tentunya memakan biaya perawatan yang tidak sedikit, tiap bulannya. Sebuah barang mewah yang digunakan terus-menerus tentu saja memerlukan perawatan, agar kondisinya tetap prima. Dan begitu pula sesosok nima sepertinya. Pada tanggal-tanggal tertentu tiap bulannya lelaki itu membawanya berkendara, dan entah apa yang persisnya dilakukan lelaki itu terhadapnya, ia tiba-tiba merasa lelah, mengantuk, dan akhirnya terlelap. Ketika ia tersadar, ia telah kembali berada di tempatnya semula, namun dengan arah laju mobil yang berkebalikan. Kelak ia mengetahui bahwa itu adalah salah satu prosedur yang juga dialami nima-nima lainnya. Tiap-tiap nima yang akan melakukan perawatan diharuskan tengah dalam keadaan terlelap ketika mereka tiba di tempat perawatan. Tujuannya: menghindarkan nima-nima tersebut dari melihat hal-hal yang bisa membuat mereka ketakutan, bahkan trauma.

Minggu demi minggu berlalu, bulan demi bulan berlalu, dan pertanyaan-pertanyaan baru bermunculan di benak nima kita ini, namun ia tak lagi terlalu memikirkannya seperti di minggu-minggu pertama. Lambat-laun, ia mulai terbiasa dengan kesehariannya, dengan tugas-tugasnya. Bagaimana si lelaki memperlakukannya dengan baik barangkali menjadi salah satu penyebab, selain bahwa ia memang diprogram untuk seperti itu. Pada titik ini, ia benar-benar tak lagi merasa tak nyaman saat si lelaki menggenggam tangannya dan menciuminya, atau saat si lelaki memeluknya erat dan sesekali menciumi lehernya, dan pipinya. Ia adalah sesosok nima, dan ia dibuat untuk menyenangkan dan memuaskan penggunanya. Begitulah sesuatu di dalam dirinya kerap berkata, dan ia terus membenarkannya. Dan hal yang sama terjadi ketika lelaki itu, pada suatu malam, untuk pertama kalinya, mencoba melucuti apa-apa yang ia kenakan. Ia tak menolak ketika lelaki itu mulai bermain-main dengan buah dadanya. Ia pun tak menolak ketika lelaki itu mulai bermain-main dengan lidahnya. Satu hal yang baru disadarinya beberapa lama kemudian: ia bukan hanya membiarkan si lelaki melakukan semua itu, namun juga membalasnya, meresponnya, dan ia pun merasakan kenikmatan tersendiri dari apa yang dilakukannya itu. Beberapa bulan kemudian ia mengetahui bahwa nima-nima lain pun mengalami hal serupa. Mereka, memang diprogram untuk seperti itu.

 
UNTUK merayakan satu tahun kebersamaan mereka, mereka pergi berlibur ke luar kota. Si lelaki yang berinisiatif. Ia mengambil cuti tiga hari dan mematikan ponselnya dan tak membawanya. Kepada si perempuan, si lelaki berkata, “Aku ingin melakukan sesuatu yang tak terlupakan denganmu, selama tiga hari ini.” Si perempuan, tak tahu-menahu apa sebenarnya “sesuatu yang tak terlupakan” itu, atau tempat di mana mereka akan melakukannya. Sebagai sesosok nima, ia hanya patuh, membiarkan si lelaki melakukan apa yang ingin dilakukannya. Lagipula, selama setahun kebersamaan mereka, si lelaki tak pernah melakukan sesuatu yang buruk terhadapnya, atau membuatnya mengalami atau merasakan sesuatu yang tak menyenangkan. Ia merasa ia bisa mempercayai si lelaki sepenuhnya.

Namun rupanya, sesuatu yang tak menyenangkan itu dialaminya juga. Malam itu mereka berada di sebuah penginapan di luar kota, dan sehabis seharian bepergian ke berbagai tempat, malam itu mereka menikmati sebuah persenggamaan yang panjang dan panas, dan penuh gairah. Ia tak pernah melihat si lelaki sebergairah itu. Dan ia tak pernah menyangka ia pun akan terbawa hanyut sehanyut-sehanyutnya. Mereka sampai melakukannya lagi dan lagi. Dan kemudian, ketika mereka telah sama-sama kehabisan tenaga, percakapan itu terjadi. Lelaki itu menceritakan padanya apa yang telah sedari lama ditahan-tahannya.

Singkatnya begini. Sekitar tiga tahun sebelumnya, si lelaki pernah berada di penginapan itu, persis di kamar yang sama, dan kali itu ia menghabiskan malam bersama pacar-lima-setengah-tahunnya—sesosok manusia. Ia dan perempuan itu pun bersenggama, beberapa kali, hingga ia benar-benar kelelahan. Dan besok harinya ketika ia terjaga, ia mendapati perempuan itu sudah tak ada, dengan sebuah memo ditinggalkan perempuan itu di genggaman tangannya. Isi memo itu singkat saja: Kita sudahi saja hubungan kita ini, ya? Aku sudah lelah. Aku yakin kau pun begitu. Apa yang disinggung perempuan itu adalah kenyataan bahwa mereka tak akan bisa hidup bersama dalam sebuah rumah tangga yang sah dan tenang. Mereka tak seiman, dan keluarga besar keduanya menentang hubungan mereka. Sedangkan mereka sendiri, meskipun benar-benar saling mencintai satu sama lain, kenyataannya, tak berani mengambil langkah gila seperti berganti agama atau kawin lari.

Sejak saat itu si lelaki tak bisa lagi menjangkau perempuan itu. Nomor kontak, akun-akun di media sosial, apa pun itu, tak bisa lagi menghubungkan mereka. Ia meratap berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Salah satu teman kantornya, sebab khawatir ia akan semakin terpuruk, menyarankan ia untuk membeli sesosok nima saja, namun ia mengabaikannya. Pada saat itu ia belum tahu bahwa di antara sekian banyak nima yang diproduksi di kota itu ada satu yang wujudnya benar-benar mengingatkannya pada pacar-lima-setengah-tahunnya itu—yakni si nima dalam kisah kita ini.

Jadi, dengan kata lain, kita bisa mengatakan bahwa keputusan si lelaki untuk membeli sesosok nima sepertinya, dan apa-apa yang dilakukan si lelaki terhadap nima-nya selama satu tahun itu, adalah sebuah upaya untuk mengatasi rasa kehilangan dan keputus-asaannya. Semata itu. Dan tidakkah menurutmu itu tindakan yang kejam dan kurang ajar—terutama bagi si nima?

Namun sebab si perempuan dalam kisah kita ini hanya sesosok nima, ia tak merasa perlu untuk kecewa, atau bahkan cemburu. Jika si lelaki penggunanya itu memiliki masa lalu, sepahit apa pun masa lalu itu, itu sama sekali bukan urusannya. Ia memang ditugaskan untuk menghibur lelaki itu, tapi tidak berarti ia perlu benar-benar memikirkannya, bahkan jika pun masa lalu pahit lelaki itu, karena satu dan lain hal, terhubung dengannya. “Aku adalah sesosok tiruan manusia. Aku ada untuk membuat manusia penggunaku merasa senang, dan nyaman. Itu saja,” gumamnya, di dalam benaknya. Namun entah kenapa, menyaksikan si lelaki penggunanya itu menangis tersedu-sedu hingga sekitar setengah jam, dalam keadaan mereka masih tak mengenakan sehelai benang pun, membuat dadanya sesak. Ia seperti baru saja ditancapi belasan anak panah dan sekujur tubuhnya penuh bekas luka, meski itu tak membuatnya mati. Keesokan harinya, ketika ia kembali bepergian ke berbagai tempat bersama lelaki itu, dan ketika malam harinya mereka kembali bersenggama dengan panasnya, ia merasakan sesuatu di dalam dirinya—entah apa—mulai tumbuh. Malam itu ia bahkan bermimpi—sesuatu yang tak pernah dialaminya sebelumnya. Di dalam mimpinya itu ia melesakkan anak panah demi anak panah, hingga berbelas-belas kali, dan semua anak panah itu menancap di dadanya, dan menyisakan luka yang teramat dalam di sana—meski itu tak membuatnya mati.

Dan begitulah sepulangnya ia dari liburan itu ia mulai merasa apa yang telah dilakukannya bersama si lelaki adalah sebuah kesalahan. Ia mulai sering merasa gelisah. Jika biasanya ia menghabiskan sebagian besar waktu-luangnya di rumah saja, kali itu ia bepergian ke berbagai tempat, dan berinteraksi dengan sebanyak mungkin nima yang ditemuinya. Tidak sulit bagi sesosok nima untuk mengenali nima lainnya. Dari nima-nima yang ditemuinya itulah, ia menjadi tahu tentang asal-usulnya, tentang apa yang umumnya dialami nima-nima di kota itu, juga tentang masa depan yang mungkin menantinya. Konon, tiap-tiap nima memiliki masa hidupnya masing-masing, yang selain sangat bergantung pada seberapa besar uang yang digelontorkan si penggunanya di saat pembelian, juga bisa berkurang dan berkurang jika si nima mengalami stress, atau semacamnya. Dan ia tengah berada pada tahap itu.

Dan di puncak stressnya, ia, tanpa pernah ia duga, mengabaikan perintah-perintah lelaki itu. Dan yang terjadi kemudian adalah lelaki itu menjadi pemurung, terlihat kuyu, lemas, dan kehilangan gairah. Selama lebih dari dua bulan nima kita seperti itu, dan selama itu si lelaki semakin terpuruk dan terpuruk, hingga ia terlihat begitu kurus dan seperti tak benar-benar nyata. Dan ini, rupanya, membawa nima kita ke satu pemahaman lain, bahwa ia mencintainya. Ya, mencintainya. Dari salah satu nima yang ditemuinya ia mendapat informasi bahwa bahkan sesosok nima pun, yang pada awalnya diciptakan sebagai sebuah produk semata, lambat-laun bisa merasakan sesuatu semacam itu. Dan ia mulai kembali melayani lelaki itu, dan berusaha menyenangkannya, memuaskannya. Dan ketika dilihatnya lelaki itu semakin membaik dan membaik, ia, untuk pertama kalinya, merasa benar-benar gembira, benar-benar bahagia.

Dan minggu demi minggu pun berlalu dalam kebahagiaan itu. Dan bulan demi bulan pun berlalu dalam kebahagiaan itu. Hingga akhirnya, kabar itu tiba. Si lelaki menerima telepon pemberitahuan dari perusahaan pemproduksi nima bahwa masa hidup nima yang dimilikinya tinggal seminggu lagi. Ia tak percaya, dan mengeluh dengan berkata bahwa ia telah menggelontorkan uang yang sangat banyak untuk membuat nima-nya itu bertahan hingga tiga tahun. Si penelepon kemudian memberitahunya bahwa nima-nya itu pernah mengalami stress, stress yang parah, selama berbulan-bulan. Menyadari hal ini, ia hanya bisa menerimanya. Lebih tepatnya, berusaha menerimanya.

 
“APAKAH benar-benar tak ada lagi yang bisa kita lakukan?” ujarnya, sambil memutar-mutar lagi gelas berisi cairan merah itu. Sejak satu jam yang lalu, ia telah mengatakannya 18 kali. Si lelaki di hadapannya tak meresponnya. Waktu kebersamaan mereka kini kurang dari satu jam lagi.

Usai mengakhiri percakapan dengan seseorang dari perusahaan itu, si lelaki mulai menangis, dan semakin lama tangisnya semakin pecah, dan menyaksikannya membuat nima kita teringat pada liburan-perayaan mereka tempo hari, dan itu membuat dadanya kembali sesak. Tanpa ia sadari, ia telah menghampiri penggunanya itu, dan memeluknya, dan menangis bersamanya. Baru kali itu ia tahu bahwa sesosok nima pun bisa menangis. Ia menangis, berbelas-belas menit lamanya. Ia menangis, sambil merangkul sesosok manusia yang dicintainya. Beberapa jam kemudian saat mereka berada di meja makan, mereka kembali menangis. Malam itu baik ia maupun lelaki itu tak saling mengucapkan apa pun, sama sekali.

Besok harinya lelaki itu telah berhasil mengendalikan dirinya, begitu juga nima kita. Mereka kemudian bersepakat bahwa di sisa-sisa kebersamaannya mereka harus berada dalam keadaan riang dan gembira. Ya, riang dan gembira. Selama lima malam berturut-turut, lelaki itu membawanya ke restoran-restoran mahal yang tersebar di seantero kota, dan di setiap makan malam itu mereka bertukar cerita tentang apa-apa yang telah mereka alami selama hampir dua tahun ini. Setibanya di rumah, usai makan malam yang mewah itu, mereka bersenggama, dan bersenggama. Selama lima hari berlalu itu mereka berusaha terus mengisi hati dan pikiran mereka dengan kebahagiaan demi kebahagiaan, dan mereka berpikir akan bisa terus seperti itu—di dua hari lainnya.

Namun sayangnya, bukan itu yang terjadi. Ketika terjaga di hari keenam, yakni kemarin, ia menemukan si lelaki tengah menangis tersedu-sedu di sampingnya, dan ia, tanpa perlu menanyakan apa pun, mulai menangis juga. Mereka menangis di tempat tidur itu tanpa saling merangkul, tanpa saling menatap. Kebahagiaan yang telah susah-payah mereka kumpulkan selama lima hari sebelumnya itu seakan-akan menguap, begitu mudahnya. Malam harinya, ketika saling berhadapan di meja makan, mereka kembali tak saling mengucapkan apa pun. Apa pun.

Dan seperti inilah mereka sekarang. Kurang dari setengah jam lagi hingga kebersamaan mereka berakhir, dan mereka masih enggan meninggalkan meja itu, tanpa peduli beberapa pelayan memandangi mereka dengan tatapan jengah. “Apakah benar-benar tak ada lagi yang bisa kita lakukan?” ujarnya lagi, untuk ke-29 kalinya, yang lagi-lagi tak direspon si lelaki. Ia kembali mengangkat gelas itu dan memutar-mutarnya, dan terus memutar-mutarnya, dan seperti tak akan berhenti memutar-mutarnya, hingga kematian erat memeluknya—kurang dari setengah jam lagi.(*)

Bogor, September-Oktober 2014

 
*) Cerpen ini berutang banyak pada anime berjudul Eve no Jikan karya Yasuhiro Yoshiura

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s