Batas

DIA memintaku tiba di kafe ini tujuh belas menit yang lalu. Kukira, dia yang akan datang lebih dulu, menungguku. Rupanya, aku yang menunggunya.

Dua puluh lima menit yang lalu aku masih terbaring di tempat tidur saat SMS-nya itu tiba. Aku bangkit, bergegas ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Sebelum meninggalkan kamar aku sempat mencium seseorang di tempat tidur dengan sebuah ciuman di bibir, dan itu membuatnya terbangun. “Mau ke mana?” tanyanya. “Urusan keluarga,” jawabku sekenanya. Dia sempat menahanku dan memintaku menciumnya lagi. “Padahal aku masih ingin bercinta denganmu sekali lagi,” bisiknya, menekankan bibirnya yang basah di daun telingaku. “Nanti malam aku ke sini lagi,” ujarku, menciumnya, lalu pergi. Tentu saja aku berbohong. Nanti malam aku yang dikenalnya itu tak akan mengetuk pintu kamarnya. Bisa jadi, aku yang dikenalnya itu bahkan tak akan ingat apa pun tentang dirinya. “I love you,” teriak perempuan itu saat aku mulai berjalan di lorong. Tak kujawab. Di sepanjang lorong aku sebisa mungkin merapikan kemeja biru yang kupakai tergesa-gesa itu. Wangi parfum perempuan itu masih tersisa.

Sejujurnya aku kesal harus terburu-buru seperti ini. Kupikir, dia bisa mengirimkan SMS itu enam belas jam lebih cepat jika memang dia ingin aku tiba di kafe ini tiga belas menit yang lalu. Dengan begitu, aku bisa mempercepat percintaanku dengan perempuan itu. Aku juga tak perlu menginap di kamar apartemennya. Dan kini, aku tak perlu merasa tak nyaman duduk menunggunya dalam keadaan belum mandi dan sisa parfum perempuan itu melekat kuat di kemejaku.

Tapi mungkin salahku juga. Aku tak bisa berhenti untuk bercinta dengan perempuan-perempuan yang kutemui. Mungkin dia kira, dua puluh lima menit yang lalu itu aku sedang leyeh-leyeh membaca novel atau berusaha keras menulis puisi. Ya sudahlah. Yang penting aku sudah tiba di kafe ini—meski terlambat delapan menit dari yang dia minta—dan dia belum muncul. Empat belas menit. Tak biasanya dia seterlambat ini.

Hubungan kami terutama dalam dua tahun terakhir, kalau kau ingin tahu, sebenarnya cukup rumit, dan unik. Dia kekasihku, aku kekasihnya. Kami saling memiliki satu sama lain, tapi kami juga saling membebaskan satu sama lain. Kami bercinta pada suatu hari, lalu selama beberapa hari setelahnya tak bertatap muka. Dia kemudian akan menghubungiku, atau aku yang menghubunginya. Lalu kami pun bertemu, bercakap-cakap soal apa-apa yang kami alami selama beberapa hari tak bertatap muka itu, lalu bercinta. Begitulah. Dan satu hal yang membuat hubungan kami jadi unik adalah kenyataan bahwa ketika suatu malam kami bercinta besok paginya kami sudah saling bertukar tubuh. Aku menjadi dirinya. Dia menjadi diriku. Tak percaya? Terserah.

Tiga tahun yang lalu, tepatnya di hari kesembilan di bulan Januari, kami bercinta untuk pertama kalinya. Sebelumnya kami beberapa kali hampir melakukannya tetapi batal. Sepuluh bulan sudah kami berhubungan, akhirnya kami bercinta juga. Saat itulah aku tahu satu hal: aku bukan lelaki pertama yang bercinta dengannya. Saat itulah aku tahu satu hal lainnya: bercinta lantas tertidur akan membuat kami saling bertukar tubuh. Mengerikan? Ya. Saat itu pun aku sungguh ketakutan.

“Kita telah melakukan sesuatu yang tak semestinya,” ujarnya saat itu, murung.

Jujur saja aku begitu kesal. Dia berkata seolah aku adalah lelaki pertama yang bercinta dengannya, seolah aku adalah si lelaki kurang ajar yang telah merenggut kesuciannya!

Kukatakan padanya, “Kalaupun di antara kita ada orang yang menyesal, itu harusnya aku. Aku baru pertama kali melakukannya, dan sekarang kita bertukar tubuh!”

Tak kusangka kata-kataku itu akan membuatnya menangis histeris. Dia berteriak-teriak. Suaranya yang berat begitu mengganggu dan aku khawatir akan membuat petugas losmen mengetuk-ngetuk pintu kamar.

Aku pun menenangkannya, meminta maaf atas ketololanku mengatakan hal itu. Aneh sekali rasanya menyentuh tubuhku sendiri. Ketika akhirnya dia tenang, kami saling menatap satu sama lain. Aku menemukan mataku. Ia menemukan matanya.

“Bagaimana sekarang?” tanyanya.

Aku mengernyit mendengar suaraku sendiri.

“Entahlah,” jawabku, “Kita tak mungkin pulang ke rumah masing-masing dalam keadaan seperti ini.”

Kami pun diam. Cukup lama. Cukup lama untuk saling memandangi tubuh masing-masing. Tubuhku di hadapanku. Tubuhnya di hadapannya. Sungguh apa yang kami hadapi itu memang sesuatu yang ganjil, sesuatu yang sudah sepantasnya membuat kami kebingungan dan benar-benar cemas.

Tapi tiba-tiba, dia tertawa. Dia yang semula murung itu, tiba-tiba tertawa. Aku sedikit menjauhkan tanganku darinya. Apa dia benar-benar terguncang sampai-sampai ia jadi gila? pikirku. Aku lantas teringat Naoko, dan salah satu adegan dalam film Norwegian Wood yang kutonton beberapa minggu sebelumnya.

“Kamu punya buah pepaya,” ujarnya santai, saat ia kembali menatapku dan tersenyum.

Merasa aneh, aku mendiamkannya sebentar. Kucermati matanya seperti aku berusaha mencari-cari sesuatu yang salah dengan matanya itu.

Tetapi dia, hanya tersenyum, dan aku pun akhirnya berkata, “Dan kamu punya mikrofon.”

Senyumnya melebar. Entah kenapa aku merasa itu adalah sebuah tanda bahwa ia sesungguhnya baik-baik saja, dan tidak gila, dan karenanya aku menghampirinya dan menciumnya.

“Aneh sekali rasanya dicium diriku sendiri,” bisiknya.

Aku mengangguk. Aku menciumnya lagi.

“Seperti menjadi orang lain,” ucapnya. Dan aku menciumnya lagi.

Dan kami pun akhirnya menyepakati bahwa kami harus mengambil risiko untuk menginap di losmen itu semalam lagi, berharap itu bisa mengembalikan kami ke kondisi semula. Lucu sekali malam itu, aku salat dengan mukena yang kupinjam dari resepsionis losmen. Dia sendiri berdoa malam itu, membuat tanda salib dengan tangan kirinya dan memejamkan mata. Samar-sama aku mendengar doanya. Dia meminta ampun kepada Tuhannya lantas memohon agar dia segera dikembalikan ke tubuh aslinya. Sejujurnya, aku pun meminta hal yang sama.

Dan besok paginya, betapa luar biasa leganya kami—atau setidaknya aku, kami telah kembali ke tubuh kami masing-masing. Dia berbaring memunggungiku. Aku bisa melihat bekas gigitannya semalam di bahu kirinya. Ketika aku mendekapnya, tahulah aku bahwa ia terbangun lebih dulu, dan ia sedang menangis.

“Ada apa?” tanyaku.

Dia tak menjawab.

“Kita sudah kembali ke tubuh kita masing-masing? Bukankah seharusnya kamu lega?” tanyaku lagi.

“Aku lega,” jawabnya.

Tapi dia sama sekali tak menjelaskan mengapa saat itu dia menangis. Aku pun selama empat puluh tiga menit setelahnya hanya mendekapnya erat tanpa mengatakan apa pun. Sesekali aku mencium bekas gigitan di bahu kanannya itu, dan dia meringis. Sambil menghirup wangi tubuhnya, aku memejamkan mata, dan bertanya-tanya berapa lama lagi dari saat itu aku akan kembali bercinta dengannya.

 
RUPA-RUPANYA kejadian pagi itu membuat sikapnya padaku sedikit berbeda. Dia seperti… menghindariku. Memang kami masih sering berpapasan di kampus, berbalasan SMS, makan malam bersama, berbincang-bincang via telepon. Tapi setiap kali aku mulai menyinggung soal pagi itu, dia diam. Aku sempat membencinya karena hal itu. Aku menduga dia sudah tak punya perasaan apa-apa lagi terhadapku. Dan kami masih berpapasan di kampus, berbalasan SMS, makan malam bersama, berbincang-bincang via telepon. Dan ketika aku mulai menyinggung lagi soal pagi itu, lagi-lagi, dia hanya diam.

Akhirnya suatu malam saat kami sedang menonton film drama di bioskop kubisikkan di telinganya, “Aku ingin bercinta denganmu lagi, malam ini.” Dia menoleh, menatapku. Aku menunggu dia mengatakan sesuatu tetapi dia hanya menggeleng. Aku kecewa. Kulepaskan tangan kiriku yang semula merangkulnya dan kunikmati sisa waktu di bioskop dengan menahan marah. Sempat kulihat dia meneteskan air mata, dan ingin sekali aku bertanya sebenarnya apa yang membuatnya sedih. Tapi saat itu aku sedang begitu marah. Marah. Malam itu pun kami tak saling bicara di sepanjang perjalanan ke Dramaga. Tangannya tak kugenggam. Lima hari lamanya sejak malam itu kami tak saling menghubungi. Dan pada hari keenam, aku akhirnya tahu apa yang malam itu membuatnya sedih.

“Kamu takut kita bertukar tubuh lagi?” tanyaku selembut mungkin, ketika aku akhirnya meneleponnya.

Susah payah dia menjawab, “Iya.”

Aku pun akhirnya memaki ketololanku karena tak memikirkan apa yang dia rasakan saat itu, saat-saat ketika dia menemukan tubuhnya berada di hadapannya.

“Aku benar-benar ketakutan saat itu,” isaknya. “Aku tak tahu apa yang akan kulakukan seandainya aku tak bisa kembali ke tubuhku sendiri. Aku pasti… Aku…”

Dia menangis. Aku mendengar sedu-sedannya seperti gaung nyaring sirine di daerah konflik.

Kataku, “Kita tak pernah tahu apakah itu akan terjadi lagi atau tidak. Tapi kalaupun itu terjadi lagi, kita toh sudah tahu bagaimana mengatasinya. Iya, kan?”

Dia diam.

“Jadi, kamu tak perlu setakut itu,” kataku. “Cepat atau lambat kita akan melakukannya lagi,” lanjutku.

Dan dia masih hanya diam, saat itu. Namun syukurlah beberapa waktu setelahnya dia tak lagi menolak ketika aku mengajaknya bercinta. Kami melakukannya, semalaman. Besok paginya kami terbangun dan telah saling bertukar tubuh. Lalu kami pun bercinta lagi, dan tertidur. Siang harinya ketika kami membuka mata kami sudah kembali ke tubuh kami masing-masing. Dia tersenyum. Aku menciumnya. Lima kali. Tujuh kali. Sepuluh kali. Dia berkata bahwa dia mencintaiku dan berterima kasih karena aku telah berusaha meyakinkannya. “Sama-sama,” kataku, lantas menciumnya lagi tiga kali, tujuh kali, sebelas kali, lima belas kali…

 
MUNGKIN kau mengira hubungan kami setelah itu baik-baik saja, sebab kami sudah bisa mengatasi perkara saling bertukar tubuh itu. Kenyataannya, tidak. Banyak hal terjadi. Masalah demi masalah bermunculan. Itu bermula ketika suatu hari aku mengusulkan sesuatu yang membuatnya tercengang, “Kita bercinta, tapi tak segera kembali ke tubuh masing-masing. Kita bertukar kehidupan untuk sementara waktu.”

Awalnya dia menolak. Dia bilang aku sinting. Namun setelah sekian lama aku meyakinkannya, akhirnya dia mau mencobanya juga. Kami pun bercinta. Dia terbangun sebagai aku, aku terbangun sebagai dia. Kami bertukar ponsel, dompet, dan barang-barang lainnya. Kami bertukar kamar. Dia bersama teman-temanku, aku bersama teman-temannya. Rasanya menggelikan menjadi perempuan dan berada di tengah-tengah perempuan. Mungkin dia pun merasakan hal serupa. Setiap malam menjelang tidur kami berbalasan SMS, menceritakan apa saja yang kami alami seharian. Dia rupanya kesal, kamarku berantakan dan teman-temanku sering membuat lelucon yang menurutnya merendahkan perempuan. “Sabar ya,” kataku. Aku sendiri bukannya tanpa masalah. Setiap kali mau salat aku harus mencuri-curi waktu dan melakukannya sembunyi-sembunyi. Aku tak mau teman-temannya cemas mengira dia sudah pindah agama. Mendengar ceritaku ini, dia tertawa.

Dan pernah suatu malam percakapan kami jadi begitu emosional. Dia marah. Malam itu teman-temanku mengomentari kasus pembekuan IMB GKI Yasmin—salah satu stasiun TV menayangkan kasus ini. Dia bilang komentar teman-temanku itu menyakitinya. “Coba kalian yang ada di posisi kami!” ujarnya. Kucoba menenangkannya. Kukatakan bahwa hal serupa juga terjadi padaku. “Ketika ada tayangan berita soal aksi brutal FPI, teman-temanmu berkomentar seolah-olah setiap Muslim—terutama laki-laki—seperti itu. Padahal, aku kan tidak.” Upayaku itu rupanya gagal menenangkannya. Setelah malam itu, kami tak saling bicara selama seminggu.

Dan masalah sebenarnya baru muncul ketika aku mulai terbiasa bercinta dengan orang-orang selain dia. Awalnya, aku hanya penasaran, jika aku bercinta dengan perempuan selain dia, apakah aku dan dan perempuan itu akan saling bertukar tubuh atau tidak. Maka aku bercinta dengan Nita, dan ternyata aku dan Nita tak saling bertukar tubuh. Lalu aku bercinta dengan Nurul, dan pertukaran tubuh itu pun tak terjadi. Lalu aku bercinta dengan Eka, dengan Ussy, dengan Lala, dengan Merry, dengan Maya, dengan Mona… Belum juga hilang rasa penasaranku, aku pun bercinta ketika aku menjadi dia. Aku bercinta dengan Rudy, dengan Bowo, dengan Jodi, dengan Miko, dengan Rian, dengan Steven…

Ketika dia akhirnya tahu apa yang kulakukan itu, dia memarahiku habis-habisan. Caci-makinya teramat kasar. Tamparannya terasa keras dan panas di pipiku.

“Aku tak peduli kamu tidur dengan orang lain, tapi jangan saat kamu menjadi aku!”

Dia benar-benar marah saat itu. Nyaris satu bulan aku tak bisa menghubunginya. Jikapun berpapasan di kampus, dia selalu berpura-pura tak mengenalku. Aku menyesal. Aku marah kepada diriku sendiri. Tapi pada akhirnya tanpa kehadirannya, aku kesepian. Aku pun kembali bercinta dengan Merry, dengan Lala, dengan Eka, dengan Mona, dengan Ussy…

Dan ketika kami mulai berbicara lagi, aku harus menunggu tiga bulan lebih untuk bisa mengajaknya bercinta.

“Kamu pernah bercinta dengan lelaki lain selama ini?” tanyaku usai kami bercinta.

Dia menggeleng.

“Perempuan?” tanyaku lagi.

Dia menatapku, lalu menggeleng.

“Jangan samakan aku denganmu!” ujarnya ketus.

Aku tersenyum. Kuamati kelopak matanya yang menutup, dan bibirnya yang sedikit membuka. Rambut hitamnya menutupi lehernya, dan aku sedikit menyingkapkannya.

“Menurutmu, sampai kapan kita akan melakukan hal ini?” tanyanya, setelah membuka mata.

Aku mengernyit. Jujur saja pertanyaannya ini sedikit mengusikku, namun aku berusaha terlihat santai.

“Entahlah. Mungkin selamanya.”

“Selamanya?”

“Ya, selamanya. Kenapa tidak?”

“Bagaimana kalau aku jatuh cinta kepada lelaki lain?”

Kali ini, aku benar-benar terusik, dan aku mulai kesulitan untuk tak menunjukkan ketidaknyamananku.

“Ada lelaki lain?”

“Aku hanya bilang ‘bagaimana kalau’.”

Aku menatapnya. Ia kembali menutup matanya dan kini membenamkan kepalanya ke dalam pelukanku.

“Bagaimana jika aku jatuh cinta kepada lelaki lain dan aku bercinta dengannya?” ujarnya, dan entah kenapa suaranya terdengar lemah.

Aku terdiam. Kubayangkan sejenak apa yang dikatakannya itu.

“Aku mungkin akan mencoba menerimanya,” ujarku, dan bisa kurasakan kelopak matanya membuka. “Selama ini toh aku sudah banyak bercinta dengan perempuan lain (bahkan dengan lelaki lain juga), dan jika aku melarangmu melakukan hal serupa, itu artinya aku egois. Bagaimanapun, aku tahu apa yang telah kulakukan itu bukan sesuatu yang kamu sukai.”

“Dan bagaimana jika kelak aku memutuskan untuk menikah dengan lelaki itu?”

Lagi-lagi, pertanyaannya mengusikku, dan aku harus berusaha lebih keras lagi untuk tak menunjukkan ketidaknyamananku.

“Aku harap itu tak terjadi. Tapi…”

Suhu kamar terasa lebih rendah. Dan detak jam terasa lebih tegas.

“Tapi apa?”

“Kalaupun ternyata itu terjadi, aku mungkin akan berusaha menerimanya.”

“Semudah itu?”

“Jangan konyol. Kamu tentu tahu itu tak akan mudah.”

Untuk beberapa menit lamanya, kami tak saling mengatakan apa pun. Kukira percakapan tak menyenangkan itu akan berakhir di sana, namun ternyata perkiraanku meleset.

“Kamu tahu, aku sepertinya sudah akan mencapai batasku,” ujarnya.

Kali ini, aku menjauhkan tubuhnya sedikit dariku, agar aku bisa menemukan kedua matanya.

“Batas apa?” tanyaku.

“Batasku sendiri,” jawabnya.

Tatapan matanya terlihat lemah, dan aku seperti sedang melihat sebuah lilin yang akan padam.

“Kupikir kita memang bisa saja melakukan hal ini selamanya,” ujarnya kemudian. “Tapi, itu artinya aku harus menembus batasku itu. Dan aku tak ingin melakukannya. Tak ingin lagi.”

Kucoba mencerna kata-katanya itu. Ia seakan-akan sedang berkata bahwa ia telah beberapa kali menembus batasnya itu.

“Kamu sendiri, apa belum merasa akan mencapai batasmu?” tanyanya.

Aku memejamkan mata sejenak, memikirkannya.

“Belum,” jawabku. “Sejujurnya aku bahkan tak tahu di mana batasku itu. Aku tak bisa melihatnya. Tidak saat ini.”

Dia tersenyum. Senyumnya itu sesungguhnya sangatlah manis tetapi entah kenapa juga terasa pahit.

“Setiap orang memang memiliki batasnya masing-masing. Setidaknya itulah yang kuyakini. Dan kamu, mungkin memang masih jauh dari batasmu itu.”

Aku tak tahu apa sebenarnya maksud dari perkataannya itu. Jika memang batasku dengan batasnya itu berbeda, lantas apa? Tapi alih-alih mengutarakannya aku malah mengingat-ingat kesalahan-kesalahan yang telah kulakukan selama ini, apa-apa yang mungkin telah membuatnya mencapai batasnya itu lebih cepat dari semestinya.

“Maafkan aku,” ujarku. “Maafkan aku karena selama ini aku banyak melakukan hal yang menyakitimu.”

Dia tersenyum. Aku sebenarnya ingin mengatakan sesuatu yang lainnya seperti “aku berjanji tak akan melakukannya lagi”, tapi pada akhirnya aku hanya menyimpannya. Dia kemudian menciumku, dan aku balas menciumnya. Dan suhu kamar terasa meninggi, dan meninggi.

 
TIGA minggu yang lalu, sesaat sebelum kami bercinta, dia berkata bahwa dia benar-benar sudah akan mencapai batasnya, dan jujur saja itu membuatku kecewa, dan terpukul.

“Setelah ini, kita tak akan melakukannya lagi?” tanyaku.

“Mungkin satu kali lagi masih bisa,” jawabnya, sambil tersenyum.

Dan pertemuan kami siang inilah yang kami maksudkan sebagai yang satu kali lagi itu. Nanti sore, kami akan bercinta hingga malam, atau bahkan hingga pagi. Dan aku masih menunggunya, dan ia sudah terlambat delapan belas menit. Delapan belas menit. Dia sebelumnya tak pernah seperti ini.

Ponselku bergetar. Aku merogoh saku celana dan meraihnya. Kutemukan, satu pesan masuk darinya: Tadi sebenarnya aku sudah tiba di sana, tapi aku putuskan untuk pergi saja. Maafkan aku. Semestinya aku membatalkan pertemuan kita ini dari kemarin-kemarin. Aku tahu, aku sudah benar-benar akan mencapai batasku, dan aku ketakutan bahkan hanya dengan memikirkannya saja. Pertemuan kita yang sebelumnya itu, anggaplah itu pertemuan terakhir kita. Aku mencintaimu, itu tak kupungkiri. Tapi aku tak bisa menembus batasku lagi. Tak bisa.

Pesan darinya itu, kubaca hingga berkali-kali, hingga aku hampir bisa melafalkannya dengan tepat tanpa harus melihatnya. Sekarang apa yang akan kaulakukan? tanyaku, mungkin kepada diriku sendiri. Dan ponselku kembali bergetar. Dan kali ini pesan masuk yang datang adalah dari si perempuan di kamar apartemen itu: Nanti malam jangan lupa ya. Aku tunggu. Dan untuk menyenangkanmu, aku akan menyambutmu dengan memakai lingerie merah yang kamu tunjuk semalam.

Tuhan pasti sedang bergurau, pikirku. Dan aku tiba-tiba ingin tertawa, dan tertawa.(*)

Dramaga, 2012-2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s