Ayah, Ibu, dan Beberapa Hal Brengsek

PADA hari Ayah kembali mengurungku di kamar mandi, Ibu pergi. Aku baru menyadarinya keesokan harinya ketika terbangun dan tak menemukan Ibu, baik itu di dapur atau kamar mandi atau teras depan atau kamarnya. Ibu pergi, dan ia tak kembali. Dan ia tak meninggalkan sesuatu apa pun baik itu yang berwujud atau tidak. Ibu pergi, dan aku memahaminya sebagai ketidakmampuannya untuk bertahan lebih lama menjalani rumah tangga dengan seorang lelaki yang gemar menyiksa anaknya karena hal-hal sepele, seorang lelaki yang terlampau aneh dan keras kepala dan jarang sekali mendengarkan keluhan-keluhannya. Baru sembilan belas tahun kemudian aku mengetahui: bukan itu alasan Ibu pergi meninggalkan kami.

Di hari pertama setelah Ibu pergi, Ayah tampak begitu murung. Ia pun begitu diam dan seperti mengabaikan keberadaanku. Itu sungguh tak biasa dan karenanya aku merasa tidak nyaman, dan mungkin ketakutan. Malam harinya ketika aku sedang berusaha tidur aku mendengar suara tangisan dari ruang keluarga dan ketika aku mengintip kutemukan Ayah sedang sesenggukan sambil memeluk kedua kakinya di depan TV, persis di depan TV. Semalam sebelumnya, Ayah terlihat tenang dan sama sekali tak memikirkan kepergian Ibu.

Aku ingat betul pada saat aku dikurung di kamar mandi itu—dalam keadaan lampu dibiarkan padam—Ayah dan Ibu bertengkar untuk kesekian kalinya. Seperti biasanya Ibu menyerang Ayah dengan keluhan-keluhannya seputar bagaimana ia mendidikku, bahwa menurutnya Ayah terlalu keras dan tak manusiawi dan keterlaluan dan itu tak baik untuk pertumbuhanku, anak mereka satu-satunya. Ayah menimpali, meski hanya sesekali dan terkesan tak peduli. Kudengarkan pertengkaran mereka di antara isak-tangisku, seperti aku menikmati tayangan sinetron murahan lewat siaran radio.

Sesungguhnya aku bisa mengerti kekesalan Ibu. Umurku saat itu belum juga sembilan tahun dan Ayah seringkali mengurungku di kamar mandi usai aku melakukan sesuatu yang mengecewakannya. Berkali-kali ia bilang, “Kau anakku dan kau tak semestinya dungu seperti ini.” Aku merasakan darahku menghangat setiap kali mendengarnya. Jantungku berdegup cepat dan napasku menjadi berat. Suatu kali ia pernah juga bilang, “Lebih baik kau mati saja daripada kau terus hidup tanpa bisa membedakan mana yang benar mana yang salah.” Pada saat itu, aku benar-benar ingin beranjak dari dudukku, dan menghampirinya dan meludahinya.

Jika kau ingin tahu apa sebenarnya yang sedang kubahas barusan, akan kuberitahu. Ayah orang yang keras dan sejak umurku lima tahun ia sudah memaksaku membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Pada awalnya ia mengajariku membaca dan menulis, dan setelah aku cukup mahir dalam keduanya ia memintaku mencatat nama-nama benda di sekitarku, lengkap dengan detail-detailnya, untuk kemudian kuhapalkan. Jika benda itu adalah kursi, aku harus mengingat bagaimana bentuknya dan apa warnanya dan seperti apa permukaannya. Atau, jika benda itu adalah tomat, aku harus mengingat bagaimana rasanya dan apa warnanya dan di bagian mana di rumah kami ia disimpan. Ayah benar-benar orang yang kurang kerjaan sampai-sampai ia memaksa aku yang belum juga masuk SD itu untuk menghapalkan semua hal itu, dan ia bertindak lebih jauh dengan memberiku beberapa catatan yang kemudian harus kutandai keterangan mana saja yang salah dan keterangan mana saja yang benar. Dan ia benar-benar brengsek, sebab ia tak sedikit pun menoleransi kesalahan yang kulakukan. Pada saat itu ia belum mulai mengurungku di kamar mandi namun ia seperti tak pernah ragu-ragu mencubit keras lengan atau pahaku atau menjewer lama daun telingaku. Ia tak peduli kalaupun karena apa yang dilakukannya itu aku jadi menangis histeris atau lanjut menghapal detail benda-benda itu dengan air mata bercucuran. Sekali waktu Ibu memergoki apa yang dilakukannya itu, dan saat itulah untuk pertama kalinya aku melihat mereka bertengkar.

Apa alasan Ayah melakukan kekonyolannya itu, saat itu aku belum tahu, dan ia pun belum mengatakannya. Baru ketika aku masuk SD ia mengatakannya dan aku yang saat itu masih terlalu kecil tentu saja tidak memahami apa yang dimaksudkannya. Ia mengatakan sesuatu seperti “belakangan ini kebenaran dan kebohongan marak dicampur-adukkan dan orang-orang banyak yang tak memahaminya”. Atau sesuatu lainnya seperti “dengan bertebarannya kebohongan di mana-mana kita mau tak mau harus jadi cukup cerdas untuk mengenalinya atau kita akan terbawa sesat oleh kebohongan itu”. Ingatlah, saat itu aku baru masuk SD, dan sama sekali tak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi di sekitarku—bahwa pasca-pemilu banyak orang menilai terbalik antara berita yang faktual dan yang fiktif, misalnya—dan karenanya aku tak benar-benar memikirkannya. Petuah-petuah Ayah itu barangkali kuperlakukan seperti angin lalu saja; masuk lewat telinga satu dan keluar lewat telinga lain. Adapun kenapa aku tetap melakukan apa-apa yang ia minta, itu lebih karena aku tak ingin ia menghukumku. Seperti itulah agaknya jika ingatanku tak menipuku.

Aku sudah terbiasa dengan hukuman-hukumannya ketika aku memasuki tahun keduaku di sekolah. Maksudku, setelah hampir dua tahun melakukan “permainan” itu, aku jadi menganggapnya sesuatu yang biasa saja, semacam bagian dari rutinitas harian yang harus kujalani sebagai anaknya, sebagai satu-satunya anak di keluarga itu. Ketika Ayah memarahiku dan mencubit keras lenganku, aku tak lagi memikirkannya. Memang aku masih tersentak dan merasakan sakit dan kadang-kadang menangis, tapi keadaan menyedihkan itu tak bertahan lama. Tak lama setelah “permainan” itu selesai aku akan kembali ke kondisi-sebelum-aku-melakukan-“permainan”-itu, seolah-olah aku tidak pernah melakukannya. Ibu saat itu masih ada dan ia kadang-kadang menghampiriku dan memelukku dan mengelus-elus rambutku. “Kamu yang sabar ya, Anak Baik. Semua ini demi kebaikanmu juga,” bisik Ibu, selalu. Aku menikmati bentuk perhatian Ibu itu meski agaknya aku tidak terlalu peduli pada apa yang dikatakannya. Demi kebaikanku? Apa iya? Sepertinya Ibu pun menambahkan hal-hal lain seperti “ketika kau dewasa nanti kau akan memahaminya” atau “meskipun tak menyenangkan tetapi dampaknya baik dan kau membutuhkannya”, tapi sekali lagi aku tak begitu memedulikannya. Seingatku aku hanya membenamkan diri ke dalam pelukannya.

Suatu kali Ayah naik pitam gara-gara didapatinya aku tampak asal-asalan mengikuti “permainan” kami. Sebenarnya pernyataan “aku tampak asal-asalan” itu keluar dari mulutnya sendiri, dan aku tak diberinya kesempatan sedikit pun untuk membantah atau membela diri. Ketelitianku tidak membaik, deskripsiku sering sekali ngawur. Begitulah ia menjelaskannya, dengan nada bicara yang begitu bengis dan biadab. Memang harus kuakui bahwa apa yang dikatakannya itu benar—bahwa aku kerap melakukan kesalahan yang mengecewakannya, maksudku—namun ia keliru melihatnya sebagai hasil dari kerja asal-asalan. Aku bersungguh-sungguh ketika mengikuti “permainan” itu, ketika melakukan apa-apa yang dimintanya itu. Tapi untuk ukuranku saat itu apa-apa yang dimintanya terlalu sulit, dan ia agaknya tidak menyadarinya. Saat itu yang ia sering minta dariku adalah mengamati gerak-geriknya selama dua-tiga menit lalu setelah ia berkata “mulai!” aku harus menuliskan apa-apa yang dilakukannya itu dengan detail yang sempurna. Bagaimana? Brengsek sekali, bukan? Aku saat itu baru kelas 2 SD dan ia sudah memaksaku mendeskripsikan adegan seolah-olah itu sesuatu yang teramat mudah dan sepele bagiku.

Saat itu adalah untuk pertama kalinya ia mengurungku di kamar mandi. Ia mencengkeram tanganku dan menyeretku sambil memuntahkan kata-kata keji, seakan-akan ia tengah berusaha menghukumku dengan kata-kata keji tersebut. Ketika ia menyebut “anjing”, aku seperti merasakan binatang itu berada di sekitarku dan mengancamku. Ketika ia menyebut “tahi”, aku seperti seketika mencium bau busuk yang berasal dari kotoran itu dan aku merasa mual dan sakit kepala. Ketika aku telah berada di kamar mandi ia menutup pintu sembari membantingnya dan menguncinya dan mematikan lampu. Saat itu adalah malam hari dan aku ketakutan dan menggedor-gedor pintu sambil meminta maaf tidak keruan. Sialnya, itu tak membuatnya iba. Ia justru malah membentakku, dan dikatakannya aku harus merasakan konsekuensi dari ketidakseriusanku, yang dianggapnya sebuah kekurangajaran. Aku baru bisa keluar dari kamar mandi sekitar setengah jam kemudian dan sosok yang kulihat setelah lampu menyala dan pintu terbuka adalah Ibu.

Setelah itu aku memang jadi lebih bersungguh-sungguh mengikuti “permainan” itu. Ingat, aku menggunakan kata “lebih”, yang berarti sebelumnya pun aku sudah bersungguh-sungguh. Ayah sepertinya tak pernah menyadari kekeliruannya dan ia terus mempersulit “permainan” kami. Aku memang merasakan dampak positifnya berbelas-belas tahun kemudian, tetapi yang kurasakan saat itu adalah kemuakan, kejijikan, kebencian. Kenapa ayahku seperti ini? Kenapa aku harus terlahir di sebuah keluarga seperti ini? Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang kala itu kerap muncul di benakku. Teman-temanku di sekolah, dari apa yang kuamati saat itu, agaknya tidak sesial diriku. Mereka tampak riang-riang saja dan aku yang masih kecil itu memahaminya sebagai “mereka tak mengalami hal-hal tak menyenangkan selama mereka di rumah”. Suatu kali aku menceritakan pemahamanku itu kepada Ibu, dan mungkin tak lama setelahnya Ibu meneruskannya kepada Ayah sehingga di suatu waktu Ayah memanggilku dan mengatakan sesuatu seperti ini: “Kau saat ini mungkin tidak sebahagia teman-temanmu. Tapi ketika kau besar nanti, kau akan jadi yang paling bahagia, dan teman-temanmu itu akan berada jauh di belakangmu. Kenapa begitu? Sebab cara berpikirmu benar-benar beres, sedangkan mereka tidak. Kau sudah terbiasa membedakan mana yang benar mana yang salah sejak kau kecil, sedangkan mereka hanya sibuk bermain-main dan bersenang-senang saja dan memelihara kedunguan mereka. Pahamilah itu.” Aku yakin saat itu aku tak benar-benar memahaminya, dan aku mengangguk-angguk lebih untuk membuatnya segera enyah dari hadapanku. Pasalnya dari dalam diriku, aku merasakan dorongan yang sangat kuat untuk melakukan hal-hal buruk terhadapnya, seperti membuka celana dan berak di hadapannya dan berteriak “anjiiiiiiiiiiiiiiing!” sambil menatap matanya. Ibu saat itu mengamati kami dari meja makan dan tak seperti biasanya pada matanya itu aku tak merasakan kehangatan yang kuat.

Lagi-lagi saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi dan apa yang akan menimpa keluarga kami beberapa bulan kemudian. Ibu, sejak malam yang kusinggung barusan, tampak sedikit berbeda. Ia memang masih suka memelukku dan mengelus-elus rambutku namun anehnya aku merasakan kehangatan yang mengalir darinya tak sekuat biasanya. Andaikata level kehangatannya sebelumnya adalah 9, kali itu tiba-tiba seperti 7 atau bahkan 6. Ketika ia memelukku dan mengelus-elus rambutku itu, ia tak lagi banyak berbisik, dan hal ini menjadikan keberadaannya itu seolah semu. Ia mungkin ada di hadapanku dan memelukku namun ia yang sebenarnya tidaklah di sana. Ia yang memelukku dan mengelus-elus rambutku itu hanyalah sebagian dirinya, yang sedikit saja, sedangkan sebagian dirinya yang lain tengah berada di sebuah tempat jauh yang aku tak pernah tahu dan tak bisa membayangkannya. Sekali lagi, saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi. Pada keluarga kami. Pada ibu. Berbulan-bulan kemudian ketika Ibu akhirnya pergi, aku kebingungan dan begitu sedih, dan mengharapkan waktu seketika mundur dengan sangat cepat hingga ke titik di mana Ibu masihlah ada.

Seperti yang sempat kubilang, saat itu aku mengira Ibu pergi sebab ia sudah tidak tahan hidup berumah tangga dengan lelaki aneh bin keras kepala seperti Ayah. Dan kemudian, satu pertanyaan tak henti-henti bergaung di dalam kepalaku: Mengapa Ibu tak membawaku?

Cobalah kaupikirkan sendiri. Ibumu tak kuat lagi menjalani rumah tangga dengan ayahmu sebab ayahmu itu gemar sekali menyiksamu, dan ketika akhirnya ia pergi ia menghilang begitu saja dan tak membawamu. Tidakkah itu aneh? Tidakkah setelahnya kau akan mempertanyakan hal yang sama? Hari demi hari berlalu dan pertanyaan itu masih saja bergaung dan bergaung di dalam kepalaku, seperti tenung, seperti kutukan. Dan bahkan setelah dua-tiga bulan berlalu pun, pertanyaan itu masih saja muncul dan bergaung di kepalaku, meski hanya sesekali saja. Satu hal kemudian kusadari: aku tak lagi merindukan Ibu. Ya, aku tak lagi merindukan Ibu. Alih-alih merindukannya aku justru malah membencinya.

Setelah kepergian Ibu itu Ayah pun tampak berbeda. Ia memang masih keras kepala dan brengsek dan kami masih melakukan “permainan” itu. Namun, ia tak lagi sering menghukumku, tak lagi sering membentakku. Aku diam-diam mensyukuri perubahannya ini dan berharap ia akan terus berubah—ke arah yang lebih baik lagi, maksudku—namun di saat yang sama aku begitu jengkel mengapa perubahannya ini baru terjadi di saat Ibu sudah tak ada. Pada saat itu, aku belumlah membenci Ibu; aku masih sesekali merindukannya dan membayangkan suatu pagi aku terbangun dan menemukan Ibu sedang memasak di dapur atau mengepel di teras depan. Kadang-kadang, kejengkelanku ini sampai pada puncaknya, dan itu membuatku ogah-ogahan mengikuti “permainan” itu dan secara sengaja melakukan kesalahan demi kesalahan. Ayah tentu saja kesal, dan ia langsung menghujaniku dengan kata-kata keji yang seperti telah susah-payah ia tahan-tahan pada kesempatan-kesempatan sebelumnya. Aku mengernyit, tentu saja. Bagaimanapun dihujani kata-kata keji bukanlah sesuatu yang menyenangkan dan kata-kata keji itu justru berasal dari ayahku sendiri. Tapi, aku tak lagi ketakutan. Tidak. Aku tidak ketakutan. Justru mungkin aku senang, dan menikmatinya. Aku tak tahu mengapa reaksiku berubah seperti itu. Darahku menghangat, degup jantungku mencepat, dan aku menikmatinya. Ketika di kesempatan lain aku melakukannya lagi dan Ayah kembali kesal dan ia menyeretku ke kamar mandi dan mengurungku di sana, aku tak lagi menggedor-gedor pintu, tak lagi berteriak-teriak histeris, tak lagi meminta maaf tidak keruan, tidak lagi menangis terisak-isak, tidak lagi ketakutan. Aku menikmati kegelapan itu, seorang diri. Aku menikmati hawa dingin itu, seorang diri. Aku tak tahu apakah ini benar atau tidak, tapi sepertinya sejak saat itulah aku tak lagi merindukan Ibu dan mulai membencinya.

Pada suatu hari Sabtu, kekonyolan itu terjadi. Ayah bunuh diri. Ia menggantung diri di kamarnya dan aku mengamati jasadnya yang tergantung itu dan merasa kosong sekosong-kosongnya. Bisa jadi ia telah mati beberapa jam sebelumnya, yang berarti ia melakukan percobaan bunuh diri itu di saat aku masih terlelap. Sungguh tolol, pikirku saat itu. Beberapa belas menit aku mengamati jasadnya itu dan setelahnya aku memberitahu tetangga tentang kematian Ayah dan tak lama setelahnya orang-orang memasuki rumah. “Mulai sekarang kau akan tinggal bersama kami,” kata Nenek, malam harinya. Aku mengangguk saja dan tak mengatakan apa pun dan entah kenapa wajah Nenek berubah buruk. Nenek lantas merangkulku kuat dan meraung-raung seperti orang gila.

Di detik-detik terakhir sebelum aku meninggalkan rumah, aku mengingat-ingat apa-apa saja yang dilakukan Ayah beberapa hari sebelumnya. Baru kusadari, ia memang tampak murung, tampak lebih murung dari yang sudah-sudah. Ia pun semakin tak banyak bicara dan mengabaikanku, kecuali saat kami melakukan “permainan” itu. Pada salah satu “permainan” kami ia tiba-tiba marah-marah namun aku merasa kemarahannya itu tidak ditujukannya padaku. Ia mengatakan sesuatu seperti “di saat orang-orang di belahan dunia lain sudah bisa mendapatkan nobel di sini kita masih bersusah-payah membedakan mana berita benar dan mana berita bohong” atau sesuatu lainnya seperti “terkutuklah orang-orang yang mencampuradukkan kebenaran dan kebohongan dan lebih terkutuk lagilah mereka yang memutarbalikkannya dan menyebarluaskannya”. Saat itu, umurku sepuluh tahun. Aku belum benar-benar bisa memahami apa yang dikatakannya itu dan aku memilih untuk mengabaikannya. Kini, ketika aku memikirkannya, aku menemukan sesuatu yang menarik. Bisa jadi yang sesungguhnya dikeluhkan Ayah saat itu bukanlah hal-hal tentang kebenaran dan kebohongan seperti yang dikemukakannya, melainkan sesuatu yang sifatnya sangat pribadi dan tersembunyi di baliknya. Ketidakberesan tentang kebenaran dan kebohongan itu telah membuat Ayah begitu terobsesi untuk mengatasinya, dan ia menjadikan aku sebagai kelinci percobaannya dan itu membuat Ibu akhirnya muak dan pergi meninggalkannya, meninggalkan kami, dan setelah itu keluarga kami menjadi hambar dan hari-harinya sendiri semakin jauh dari kata menyenangkan, dan meskipun ia telah sekuat tenaga bertahan namun kenyataannya ia hanya manusia lemah yang tak bisa hidup sendirian, dan ia merindukan Ibu dan menyalahkan dirinya atas kepergian Ibu, dan ia terus menyalahkan dirinya sampai akhirnya ia tak sanggup lagi bertahan dan mengakhiri hidupnya. Di “permainan” terakhir kami di malam sebelum ia mati, Ayah terisak-isak, di hadapanku, persis di hadapanku. Ia tak merasa malu terlihat menyedihkan seperti itu di hadapan anaknya sendiri dan itu membuatku muak dan bisa jadi karena itulah ketika aku mendapati tubuhnya tergantung itu aku sama sekali tak menangis. Sama sekali tak menangis. Bahkan, merasa sedih pun aku tidak.

 
DUA tahun lalu aku bertemu Ibu. Sembilan belas tahun telah berlalu sejak terakhir kali aku melihatnya dan kali itu ia tampak tua dan penuh dosa. Ketika ia tersenyum, ia tampak seperti tengah menahan sakit. Dan ketika ia bicara, dari mulutnya seperti menguar bau busuk yang membuatku enggan bercakap-cakap lama dengannya. Barangkali, itu adalah wujud dari kebencianku padanya yang dulu sekali pernah begitu kuat.

Pertemuan kami itu bukanlah pertemuan yang disengaja. Aku baru selesai mengisi sesi tanda tangan novel terbaruku ketika ia menghampiriku, dengan membawa novelku itu. Kukira ia seorang pembaca-penggemar biasa dan aku menyambut hangat permintaannya untuk menandatangani novelku yang dibawanya itu, meski aku sedikit heran mengapa ia tidak ikut mengantre beberapa menit sebelumnya. Lalu tiba-tiba, ia melontarkan permintaan maaf. Dan ketika aku menatapnya kutemukan kedua matanya telah berair dan sekejap kemudian ia menangis sesenggukan dengan tangan menutupi wajahnya. Ada apa dengan orang ini? Apa ia gila? pikirku saat itu. Aku harus menunggu beberapa belas detik sambil memegangi bukunya hingga akhirnya ia menghentikan tangisnya dan kembali menatapku. “Aku ibumu. Kau benar-benar tak mengenaliku, Anak Baik?” ujarnya. Aku tak ingin begitu saja percaya pada apa yang dikatakannya, namun di detik ia selesai mengucapkannya aku seperti menemukan begitu banyak hal tentangnya yang membuatku merasa mengenalnya. Dan setelah beberapa belas detik terdiam, aku menyerah. Meski wujudnya tak lagi sama, ia memanglah Ibu.

Kami kemudian pergi ke kafe terdekat dan mengobrol di sana. Sebenarnya saat itu aku tidak punya banyak waktu dan harus segera melakukan perjalanan lintas kota dalam rangka mempromosikan novel terbaruku, namun kukatakan kepada manajerku bahwa ini sesuatu yang darurat dan kuminta ia mengerti. Di kafe itu, sambil menunggu pesanan kami tiba, ia bercerita.

Banyak hal diceritakannya selama lebih dari setengah jam itu namun aku hanya akan menceritakan ulang beberapa saja. Yang pertama yang akan kuceritakan adalah tentang alasan ia pergi meninggalkan kami.

Aku telah memberitahumu bahwa aku menduga Ibu meninggalkan kami karena ia tidak tahan lagi menjalani rumah tangga dengan seorang lelaki seperti Ayah. Dan aku pun telah memberitahumu bahwa dugaanku itu keliru. Ya, keliru. Alasan sebenarnya mengapa Ibu meninggalkan kami rupanya adalah karena ia memiliki lelaki lain dan ia ingin melanjutkan hari-harinya bersama lelaki itu. Ia dan lelaki itu telah menjalin hubungan yang intim sejak enam bulan sebelumnya, dan Ayah tak menyadari hal ini sebab ia terlalu terobsesi pada “permainan” kami. “Sesungguhnya,” ujarnya, “pada saat aku menempuh perjalanan lintas kota bersama lelaki itu aku menyesali perbuatanku dan ingin kembali ke rumah saat itu juga. Tapi, itu tak mungkin. Benar-benar tak mungkin. Di hari aku pergi itu aku meninggalkan surat untuk ayahmu dan di surat itu kuceritakan juga padanya tentang perselingkuhanku. Akan benar-benar tak tahu malu, jika aku muncul begitu saja di hadapan ayahmu setelah aku menyakiti hatinya seperti itu. Dan meski tahun demi tahun terus berlalu, aku masih saja merasa bersalah, merasa berdosa. Aku bahkan tak sempat meminta maaf kepada ayahmu dan tampaknya aku akan menanggung rasa bersalah ini sampai aku mati. Ya, sampai aku mati.” Di detik ini, ia kembali menangis. Aku memandanginya dengan jijik dan terbayang di benakku aku duduk berjongkok di meja kami dan memelorotkan celana dalam dan kencing sambil mengacungkan jari tengah ke arahnya.

“Aku sebenarnya menunggu ayahmu menghubungiku,” ujarnya kemudian, setelah ia mendapatkan ketenangannya. “Rasa bersalahku begitu besar sampai-sampai aku bertekad bahwa sekali saja ayahmu menghubungiku dan memintaku kembali maka saat itu juga aku akan meninggalkan lelaki itu dan kembali ke rumah. Ya, kembali ke rumah. Tapi ayahmu tak menghubungiku. Tidak sekali pun. Aku masih menunggu bahkan hingga kebersamaanku dengan lelaki itu tengah memasuki tahun keempat. Dan ketika suatu hari aku mendapatkan kabar bahwa ayahmu sudah meninggal dua tahun sebelumnya, aku begitu sedih, begitu sakit. Aku tentulah telah melakukan kesalahan besar dengan meninggalkan kalian.”

Apakah aku kasihan padanya? Tidak. Apakah aku menerima penjelasan-penjelasannya? Tidak. Kalau dipikir-pikir sekarang aneh juga aku menyediakan waktu menyimak pengakuan-pengakuannya, sementara di saat yang sama aku meneguhkan diriku untuk tak benar-benar mempercayai pengakuan-pengakuannya itu. Ia ibuku, dan ia meninggalkanku ketika usiaku belum juga sembilan tahun, dan ia baru melontarkan permintaan maafnya setelah sembilan belas tahun berlalu. Terlalu brengsek, kupikir. Terlalu bajingan. Menahan diri untuk tidak mendengus kasar di hadapannya atau tak muntah-muntah ke mukanya kukira sudah sebuah upaya yang oke untuk menunjukkan rasa hormatku. Bagaimanapun ia dulu melahirkanku dan ia pernah menjaga dan merawatku. Dan aku pernah merindukannya.

Hal lainnya yang ia ceritakan saat itu adalah tentang Ayah. Ia memulainya dengan sebuah pertanyaan: “Kapan akhirnya kau tahu kalau ayahmu itu novelis?”

Ketika aku kecil aku memang tidak pernah tahu apa sebenarnya profesi Ayah. Ia lebih sering di rumah dan aku sempat mengira ia pengangguran. Di beberapa waktu aku mendapatinya duduk berjam-jam menghadap laptopnya dan Ibu membiarkannya, dan aku pun mengabaikannya. Ia tampak sebagai seorang lelaki aneh bagiku. Suatu kali ketika harus menjawab pertanyaan “Apa pekerjaan ayahmu?” aku kebingungan dan kutulis saja “tukang marah-marah”. Guru kelasku mengomeliku dan memintaku bersungguh-sungguh, dan ketika kukatakan padanya bahwa aku tak tahu pekerjaan Ayah ia memintaku menanyakannya kepada Ibu—meski aku tak harus melaporkan kepadanya. Dan Ibu malah berkata, “Ayahmu itu utusan Tuhan.”

Ayah tak pernah menunjukkan novel-novelnya padaku. Bahkan, di hari aku meninggalkan rumah bersama Nenek, aku tak pernah tahu bahwa di rumah kami itu tersimpan novel-novelnya yang banyak dibaca orang. Ia memang menggunakan nama pena, dan barangkali karena itulah aku jadi sangat terlambat menyadarinya. Aku sendiri baru sering-sering membaca di tahun keduaku di SMA dan baru pada tahun pertamaku di perguruan tinggi aku menemukan novel-novel Ayah—setelah dengan ogah-ogahan aku mengikuti saran Nenek untuk membuka-buka kardus di gudang siapa tahu ada yang penting bagiku dan ingin kubawa ke tempat kos. Ia rupanya penulis yang oke. Dari enam novelnya yang kutemukan di kardus itu, empat beroleh penghargaan sastra, atau sesuatu semacam itu. Yang tertera di novel-novelnya itu memang nama penanya dan aku tak mengenalinya. Namun dari tulisan tangannya yang ada di setiap halaman pertama novel-novel itu, juga dari tanda tangan-tanda tangannya, aku tahu novel-novel itu bikinan Ayah. Dan sebagai bukti autentik lainnya, di salah satu novelnya itu tercantum kata-kata persembahan seperti ini: Untuk istriku tersayang, Tania. Dan untuk anakku tercinta, Karla. Harus kuakui penemuanku itu cukup menghantamku dan agaknya sejak saat itulah aku berusaha melihat apa-apa yang dulu dilakukan Ayah secara berbeda.

“Ayahmu orang yang cerdas, dan kritis,” ujar Ibu. “Aku rasa dua hal itulah yang kusukai darinya. Ia hampir selalu punya penjelasan yang logis untuk setiap hal yang diucapkannya. Kubilang ‘hampir’ karena bagaimanapun ia manusia biasa. Ia tentu pernah melakukan kesalahan dan salah satu kesalahan terbesarnya adalah eksperimennya itu. Kau, anaknya satu-satunya, anak kami satu-satunya, ia jadikan objek eskperimen, kelinci percobaan. Aku tidak setuju dan berulangkali memintanya berhenti, tapi ia terlalu keras kepala. Aku tidak sedang membela diri tapi kupikir kekeraskepalaannya tentang hal ini memiliki andil dalam kepergianku tempo hari itu. Maksudku, jika aku tidak terlampau kesal dengan tingkah konyol ayahmu itu, aku mungkin tak akan pernah berpikir untuk membuka diriku untuk lelaki lain. Masuk akal, kan?”

Aku tersenyum. Saat itu aku bukan lagi ingin kencing tetapi ingin berak. Berak. Tepat di hadapannya.

“Kau mungkin tak pernah tahu, tapi ayahmu sebenarnya adalah seorang periang dan mudah sekali tertawa,” ujarnya kemudian. “Tapi memang, sejak pemilu yang kacau-balau itu, ayahmu berubah. Ia sebelumnya memiliki banyak teman dan selama bertahun-tahun ia tetap menjaga pertemanannya itu. Dan ia terpukul, mendapati sebagian besar dari teman-temannya itu malah menentukan pilihannya pada sosok yang salah. Ah, bukan. Bukan begitu. Yang dilihat ayahmu saat itu sebenarnya bukanlah sosok yang dipilih, tetapi logika berpikir. Ya, logika berpikir. Ayahmu novelis yang handal dan ia terbiasa menggunakan akal sehatnya dan tak sulit baginya membedakan mana kebenaran dan mana kebohongan, mana berita yang faktual dan mana yang fiktif. Tapi teman-teman ayahmu itu, tidak. Mereka seperti orang dungu yang bahkan akan membenarkan bahwa warna merah telah berganti nama jadi biru hanya karena salah satu pemuka agama mereka mengatakannya. Ayahmu terpukul. Benar-benar terpukul. Dan ia pun kesal. Benar-benar kesal. Dan ia terobsesi untuk menemukan suatu solusi untuk membuat orang-orang di generasi mendatang tak sedungu itu. Dan mulailah ia melakukan eksperimennya itu, dengan kau sebagai kelinci perobaan. Dan ia begitu keras kepala tentang hal ini, sampai-sampai apa pun yang kukatakan tak mampu sedikit pun mengubah pendiriannya. Di pertengkaran terakhir kami sehari sebelum aku pergi itu, ia berkata seperti ini: ‘Aku baru akan berhenti jika sudah ada orang lain yang menemukannya.’”

Mau tidak mau aku jadi mengingat-ingat lagi apa-apa yang aku dan Ayah lakukan dulu. Permainan itu. Permainan konyol itu. Ibu kemudian menjelaskan bahwa Ayah sebenarnya orang yang baik dan ia memaksaku mengikuti permainan itu agar aku menjadi orang yang cerdas dan tangguh. Dan upayanya itu terbukti berhasil. Setidaknya begitulah Ibu menilainya. Aku sendiri telah memahami ini sejak beberapa tahun sebelumnya. Ketika Ayah memintaku menuliskan dengan detail sempurna apa-apa yang baru saja diperagakannya, ia sebenarnya sedang melatihku untuk menjadi seorang pengamat yang teliti, bahwa satu kekeliruan saja bisa berakibat fatal di kehidupan yang sesungguhnya, dan dengan modal itu aku akan bisa membedakan mana berita yang sepenuhnya benar dan mana yang separuh-separuh saja benar. Kebenaran dan kebohongan. Permainan-permainan kami itu semuanya diarahkan untuk membuatku mampu membedakan keduanya. Dan ketika pemahaman ini sampai kepadaku, aku jadi merasa semua yang telah terjadi di antara aku dan Ayah itu begitu lucu, begitu konyol, begitu mengundang tawa. Dan aku benar-benar tertawa saat itu. Tawaku begitu keras dan panjang dan kupikir para penghuni kamar di samping kamar kosku mendengar tawaku dan merasa terganggu, meski mereka tak mengemukakannya. Saat itu aku baru dikabari seorang teman editorku bahwa naskah novel pertamaku sudah sangat oke dan siap dicetak dalam waktu dekat dan aku merayakannya dengan membaca-baca kembali novel-novel Ayah dan lambat-laun aku teringat padanya.

 
BAGAIMANA kabar Ibu sekarang? Di mana ia tinggal? Aku tak tahu. Di hari aku bertemu dengannya dua tahun yang lalu itu aku meninggalkannya begitu saja usai ia kembali menangis sesenggukan dan membuatku muak. Aku pergi, tanpa meninggalkan apa pun untuknya. Tidak nomor kontak. Tidak ucapan pemberian maaf. Satu-satunya hal baik yang kulakukan untuknya adalah membayarkan minuman yang ia pesan. Sejak saat itu, aku dan Ibu belum pernah bertemu lagi.

Aku ini memang bukan seorang pemaaf, dan barangkali juga seorang pendendam. Karena itulah wajar saja saat itu aku bertindak kasar seperti itu, seperti tengah berusaha membalas dendam atas kepergiannya yang tiba-tiba dan membingungkanku sembilan belas tahun sebelumnya. Sebelum aku pergi itu aku telah mendengar beberapa hal lagi darinya, termasuk soal bagaimana ia menjalani hidup dan mengapa saat itu ia tiba-tiba muncul di hadapanku. Jika kau ingin tahu, akan kuceritakan.

Ia mengaku menjalani hari-harinya yang normal dengan lelaki lain itu, sampai akhirnya mereka menikah dan memiliki tiga orang anak. Ia dengan konyolnya berkali-kali menekankan rasa sayangnya untuk Ayah yang tidak sedikit pun berkurang meski ia telah menjadi istri orang lain dan memiliki dunianya sendiri. Ia juga menyayangiku. Begitulah yang dikatakannya saat itu. Sumpah, mendengarnya aku ingin sekali mengumpulkan air ludah di mulutku lantas memuncratkannya persis ke wajahnya.

Aku tak sedikit pun peduli bagaimana ia menjalani hidup setelah kepergiannya itu. Sungguh aku tak peduli. Di detik kerinduanku padanya berganti jadi kebencian, aku telah menjadi aku yang lain, dan ia bukanlah satu hal penting bagi aku yang lain itu. Berbelas-belas tahun berlalu dan aku tak pernah benar-benar memikirkannya, apalagi mengharapkan ia muncul dan menghampiriku. Apa-apa yang kualami membuatku terbiasa hidup seorang diri dan aku baik-baik saja dengan itu. Aku lebih baik darinya, yang merasa membutuhkan orang lain dan merasa memiliki keterikatan dengan seorang lelaki yang telah lama mati. Kukira, sisa hidupnya tak lama lagi. Bisa saja saat aku memikirkan hal ini ia sudah tinggal jasad dan tertanam di dalam tanah. Apakah jika memang kenyataannya seperti itu aku menjadi sedih? Kurasa tidak. Ya, tidak. Kalau kupikir-pikir aku memang tidak pernah benar-benar merasa sedih selama berbelas-belas tahun ini dan aku ragu apakah sebelumnya aku pernah merasakan sesuatu semacam itu. Di hari-hari pertama sejak Ibu tiba-tiba pergi aku memang merasa sedih, tapi aku tak tahu sepekat apa kesedihanku itu.

Ngomong-ngomong tentang merasa sedih, aku pun sepertinya tidak pernah benar-benar menangis dalam berbelas-belas tahun ini. Terakhir kali aku benar-benar menangis barangkali saat masih SD dulu, yakni saat Ibu masih ada dan Ayah kerap membentakku dan menghukumku sesuka-hatinya. Setelah itu, aku rasanya tak pernah lagi seperti itu. Aku tiba-tiba menjelma jadi seorang anak dan perempuan yang tangguh dan mandiri. Bahkan ketika aku menemukan tubuh Ayah tergantung di kamarnya, aku tak menangis. Bahkan ketika Nenek meninggal karena serangan jantung tiga tahun yang lalu, aku tak menangis. Bahkan saat lelaki yang kucintai memerkosaku enam tahun yang lalu, aku tak menangis. Aku seperti tak lagi memiliki air mata atau aku memilikinya namun tak lagi bisa mengeluarkannya, melepaskannya. Bisa jadi kondisiku ini memang aneh dan mengkhawatirkan tetapi aku menikmatinya, dan menurutku aku justru diuntungkan. Kehidupan ini keras, kau tahu. Dan akan semakin keras dan keras saja setiap tahunnya. Dan karena itu jika aku ingin terus bertahan maka aku harus semakin tangguh. Dan tidak menangis barangkali adalah salah satu wujud nyata ketangguhanku.

Mengapa setelah sembilan belas tahun tak ada kabar tiba-tiba Ibu muncul di hadapanku dan menceritakan semua hal itu, alasannya agak konyol. Setidaknya menurutku. Ia bilang niat untuk muncul di hadapanku itu telah ia miliki sejak lima atau enam tahun sebelumnya, namun selalu saja ia tak punya keberanian yang cukup kuat untuk melakukannya. Ia mengaku niat itu mulai menguat usai ia menemukan namaku tertera di sebuah koran Minggu yang dibeli suaminya, di rubrik sastra di bagian cerpen, dan bahwa niat itu semakin menguat ketika suatu kali ia berkeliaran di sebuah toko buku dan menemukan novel pertamaku di salah satu etalase di sana. Ia senang, mendapati aku jadi seorang novelis. Ia senang, aku mengikuti jejak Ayah. Begitulah yang dikatakannya. Dan selain untuk melontarkan permintaan maaf dan meminta tanda tanganku, ia mengaku ingin menemukan sosok Ayah dan juga sosoknya pada diriku. Dan tentu saja, ia menemukannya, meski mungkin dalam kadar yang mengecewakannya. Aku bagaimanapun telah menjalani berbelas-belas tahun tanpa mereka dan tentunya sangat wajar jika aku dan Ibu tidak lagi tampak dekat atau mirip. Secara fisik, aku mungkin tak bisa menghindar, sebab kami sama-sama perempuan. Tapi secara psikis, agaknya kami jauh berbeda. Di hadapanku Ibu tampak seperti perempuan lemah yang tak bisa melakukan apa pun tanpa bantuan orang-orang di sekitarnya, bukan lagi perempuan karir yang tangguh seperti yang ditunjukkannya dulu, dan itu membuatku jengah. Pada saat aku berjalan pergi meninggalkannya sekilas kudengar ia memanggilku. Namun kupikir, itu hanyalah perasaanku saja.

Sembilan belas tahun. Dua puluh satu tahun. Itu rentang waktu yang cukup lama. Aku yang dulu dipaksa Ayah mendeskripsikan adegan kini telah menjadi seorang novelis yang posisi tawarnya cukup oke. Aku telah memanen apa yang ditanam Ayah dulu. Aku telah menemukan jalan yang tepat untukku dan terus berkembang dan berkembang. Berkeluarga? Aku tak pernah memikirkannya. Tidak dalam beberapa tahun ini. Tidak dalam berbelas-belas tahun ini. Jika yang kaumaksud adalah seks aku bisa mendapatkannya tanpa perlu berkeluarga. Aku pun sudah tak lagi menjalin hubungan yang mengikat sejak tiga tahun lalu, sejak lelaki terakhir yang kucintai mengecewakanku dengan berkata ia mencintai seorang teman lelakinya dan lebih memilihnya ketimbang aku. Sudahlah. Aku baik-baik saja. Tak perlu kau mengkhawatirkan kehidupan asmaraku. Satu-satunya yang benar-benar menyita waktu dan tenagaku saat ini adalah menulis dan aku hanya ingin fokus memikirkannya.

Bagaimana aku sampai menjadi seorang novelis? Wah, itu cerita yang lain lagi, dan bisa sangat panjang, dan karenanya aku malas menceritakannya di sini. Intinya adalah bahwa itu sesuatu yang tak terhindarkan. Setidaknya begitulah aku melihatnya. Sewaktu aku kecil Ayah memaksaku terbiasa berhadapan dengan detail dan pemerian, dan di tahun pertamaku di perguruan tinggi aku menemukan novel-novel Ayah dan sejak saat itu aku telah membacanya berulangkali, lagi dan lagi. Kebenaran dan kebohongan. Fakta dan fiktif. Ayah telah dengan caranya sendiri memperkenalkanku kepada realitas dan karena novel-novelnya memang bagus maka aku dengan sendirinya terdorong untuk mencoba menulis, dan barangkali aku sedikit-banyak mewarisi bakat Ayah dan karenanya aku bisa menulis. Ibu bilang, aku memang sudah sepantasnya mengikuti jejak Ayah. Aku tak membenarkan penilaiannya itu namun juga tak membantahnya. Menulis kini sudah menjadi semacam aktivitas harian krusial bagiku seperti halnya makan dan minum, seperti halnya mandi dan berak. Sebelum benar-benar memutuskan untuk fokus menulis aku sempat bekerja beberapa tahun di sebuah perusahaan asuransi dan meskipun pekerjaan itu cukup melelahkan aku selalu berusaha menyediakan waktu khusus setiap harinya untuk menulis.

Begitulah kira-kira jika aku menyingkatnya. Tentang bagaimana persisnya aku memulai karier kepenulisanku kau tak perlu memikirkannya. Itu tidak penting. Tidak dalam tulisanku ini. Yang perlu untuk kaupikirkan adalah tentang bagaimana Ayah dan Ibu dan keluarga kami menjadi seperti sekarang ini. Jika aku mencoba mencari titik tolak, atau titik balik, aku menemukan hal itu adalah pemilu kacau-balau yang terjadi lebih dari dua puluh tahun lalu; sebuah pemilu yang setelahnya banyak orang konon jadi kesulitan bahkan keliru dalam menentukan mana kebenaran dan kebohongan, mana berita yang faktual dan mana yang fiktif. Ayah seorang periang dan mudah tertawa sebelum pemilu itu. Pasca-pemilu, Ayah berubah menjadi dirinya yang kukenal, dirinya yang pemurung dan suka marah-marah. Sedangkan Ibu, mulai merasakan perubahan di dalam dirinya sejak Ayah menjadi seperti itu. Dan berantakanlah kemudian keluarga kami itu. Gara-gara pemilu sialan itu. Gara-gara pemilu brengsek itu.

Tetapi bisa jadi itu kesimpulan yang terlampau mengada-ada, terlampau dipaksakan. Kendatipun benar Ayah menjadi orang yang berbeda setelah pemilu itu berlangsung, itu toh tidak lantas berarti pemilu tersebutlah yang mengubah Ayah. Tidak. Yang benar adalah Ayah mengubah dirinya setelah ia bercermin pada pemilu tersebut. Ayahlah yang mengubah dirinya, bukan pemilu itu. Dan Ibu pun, kurasa, sama saja. Ia memang mendapati Ayah telah menjadi orang yang berbeda dan karenanya ia mulai membuka dirinya bagi orang lain, bagi lelaki lain. Tapi bahwa ia memilih untuk pergi bersama lelaki itu dan meninggalkanku kami, itu sepenuhnya inisiatifnya sendiri. Perubahan Ayah tidak benar-benar ikut andil dalam hal ini. Tidak. Ia mungkin dianggap Ibu sebuah pemicu tetapi Ibulah yang menggerakkan dirinya dan menempuh jalan itu. Mereka berdua terlampau lemah dan terlampau memikirkan dirinya sendiri, dan akulah sebagai orang ketiga yang hadir di antara mereka yang akhirnya harus ikut menanggung akibatnya. Ayah bunuh diri. Ibu pergi tanpa membawaku. Mereka benar-benar tolol dan mereka orangtuaku.

Dua puluh satu tahun. Rentang waktu yang cukup lama. Bahkan mungkin, sangat lama. Umurku saat ini tiga puluh dan aku berusaha menikmati kesendirianku. Sesekali aku meladeni ajakan teman-temanku untuk bercinta, baik itu yang laki-laki atau yang perempuan. Tapi tunggu dulu. Teman? Apakah aku benar-benar memiliki seseorang yang kuperlakukan sebagai teman? Bisa jadi tidak. Sewaktu kecil aku terbiasa menyendiri dan aku terus seperti itu hingga tahun demi tahun berlalu, hingga babak demi babak kehidupanku berganti. Apakah aku merasa kesepian? Kadang-kadang. Tetapi aku seorang penulis dan aku bisa mengandalkan kemampuan menulisku untuk mengatasi rasa sepi itu. Paling-paling, yang sampai saat ini aku belum bisa mengatasinya adalah kebencianku kepada Ayah dan Ibu, yang pada waktu-waktu tertentu kadang-kadang terasa begitu kuat dan itu menghambat aktivitasku. Mereka orangtuaku, sepasang orang dewasa yang membuatku ada dan membesarkanku, tetapi mereka bahkan terlalu dungu untuk membedakan mana yang lebih penting dan lebih berarti antara kebahagiaan mereka dan kebahagiaanku, antara masa depan orang-orang yang belum ada dan keharmonisan keluarga kami.

Sungguh saat ini aku ingin sekali berdiri di hadapan mereka berdua dan mengacungkan kedua jari tengah dan memelorotkan celana, dan kemudian kencing dan selanjutnya berak.(*)

Bogor, November 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s