Ibrahim

SETELAH kematiannya, Ibrahim menjadi sosok yang berbeda. Tiba-tiba saja, orang-orang membicarakannya, menyebut-nyebut namanya, dan cenderung mengagung-agungkannya. Ibrahim yang semula bukan siapa-siapa telah seolah-olah seorang pahlawan, seseorang yang pantas dikenang selamanya dan diabadikan dalam berbagai bentuk kegiatan. Pertunjukan seni, aksi damai di jalan-jalan, diskusi-diskusi insidental di kafe-kafe, obrolan-obrolan santai di warung-warung makan. Pendek kata, ia adalah seseorang yang setelah kematiannya menjadi sosok penting bagi orang-orang di kota ini. Ya, bagi orang-orang di kota ini, kecuali aku.

Ibrahim adalah kakakku, satu-satunya kakakku, dan aku sama sekali tak menyukainya. Semasa ia hidup, semasa ia menjalani hari-harinya sebagai kakakku, ia tak pernah memperlakukanku dengan baik, dan kami tak pernah dekat. Kami memang sama-sama lelaki namun kami tak pernah bermain bersama. Bahkan sejak kami masih sama-sama kecil, ia selalu hanya bermain dengan teman-teman seumurannya dan meninggalkanku, dan mengabaikanku, dan membiarkanku. Ibu tentu mengetahui hal ini namun ia tak melakukan apa pun untuk mengubahnya. Kami menjalani hari-hari kami sebagai kakak-adik yang selalu terpisah, yang selalu berjarak, dan tak pernah berusaha untuk akrab. Ia memilih dunianya sendiri, dan aku menciptakan duniaku sendiri. Sementara ia suka menghabiskan waktunya di luar rumah bersama teman-temannya, mungkin melakukan hal-hal nakal dan gila seperti mencorat-coret dinding dan melempari gerbong kereta, aku justu hampir selalu menghabiskan waktu luangku di rumah, melakukan apa pun yang bisa kulakukan seperti menggambar, mendengarkan musik, menonton film, dan membaca buku. Aku dan Ibrahim adalah saudara, saudara kandung, namun keterikatan kami hampir sama renggangnya dengan keterikatan antara telur ayam dan telur bebek.

Namun bukan kerenggangan itu yang membuatku benar-benar tak menyukainya. Bukan. Yang membuatku tak menyukainya adalah: Ibrahim seorang lelaki yang brengsek.

Ini baru kuketahui tiga-empat tahun yang lalu. Saat itu, Ibrahim membawa teman-teman mainnya ke rumah, dan mereka bermain kartu di ruang televisi sambil merokok dan tertawa-tawa. Aku kebetulan terbangun dan tiba-tiba ingin kencing dan sebab dari kamarku ke kamar mandi pasti melewati ruang televisi maka aku sedikit mendengar apa yang mereka percakapkan. Pada satu titik, aku mendengar suara Ibrahim yang berat dan serak, dan mau tak mau aku memfokuskan diri untuk menyimak apa yang ia kemukakan. Ia bilang, ia pun punya pengalaman yang asyik dengan seorang perempuan. Perempuan itu adalah teman sekolahnya dan ia pernah menggerayangi perempuan itu di kamar mandi siswa, setelah ia dengan sigapnya menghampiri perempuan itu dan mendorongnya masuk dan mengunci pintu kamar mandi. Apa saja yang persisnya dilakukannya terhadap perempuan itu di kamar mandi, ia tak menceritakannya dengan jelas. Ia hanya berkata bahwa ia meremas-remas pantatnya dan payudaranya, dan dengan kemampuannya mengintimidasi ia berhasil membuat perempuan itu tak berteriak dan tak melaporkan peristiwa itu ke guru. Mengakhiri ceritanya itu, ia tertawa-tawa. Teman-temannya pun tertawa-tawa mengikutinya dan tiba-tiba aku merasa aku tak ingin lagi ke kamar mandi.

Aku memang tak tahu apakah Ibrahim malam itu mengatakan hal yang sebenarnya atau ia hanya membual. Tapi, jika mempertimbangkan sifat dan pembawaannya, yang sejauh ini kucermati, peluang bahwa ia benar-benar melakukannya terbilang besar. Ya, terbilang besar. Di kamarnya ia sering menonton bokep. Aku tahu itu sebab beberapa kali ketika aku melintasi kamarnya aku mendengar lenguhan-lenguhan seperti itu. Pernah juga bahkan, suatu sore, aku membuka pintu kamarnya—karena suatu urusan—dan ia sedang di tengah-tengah onani sambil memandangi layar laptopnya. Ia memarahiku, tentu saja, dan langsung berdiri dan menghampiri pintu dan menutupnya dengan kasar. Saat itu di rumah memang hanya ada kami berdua, sebab Bapak sedang dinas di luar kota dan Ibu masih mengurusi sesuatu di sekolah. Pada malam di mana Ibrahim membawa teman-temannya itu pun, di rumah hanya ada kami berdua. Bapak dan Ibu saat itu tengah berlibur ke luar pulau dalam rangka merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang kesekian.

 
BAHWA Ibrahim adalah kakak kandungku, itu bukan sesuatu yang bisa kupilih. Tapi bahwa aku harus memandang Ibrahim sebagai kakakku, itu kukira sesuatu yang bisa kupilih. Maksudku adalah, aku bisa memilih apakah akan menjaga sikapku di hadapannya sebagaimana halnya seorang adik di hadapan kakaknya, atau tidak. Dan meskipun aku sesungguhnya bisa-bisa saja melakukannya, namun aku merasa ia benar-benar tak pantas mendapatkan sikap seperti itu dariku.

Suatu ketika aku bertengkar dengannya dan itu sungguh pertengkaran yang konyol. Sekeluarnya dari kamar mandi kutemukan ia berdiri menungguku sambil bertolak pinggang, dengan sepasang mata yang seperti dua anak panah yang siap ia lesakkan ke kedua mataku. Ia menyuruhku meminta maaf. Untuk apa? tanyaku. Untuk ketidaksopananmu barusan, jawabnya. Aku tak mengerti apa yang ia maksudkan dan ia menjelaskan dengan sangat emosional soal bagaimana aku, dalam perjalanan ke kamar mandi, melewatinya begitu saja padahal jelas-jelas ia sedang berbaring di depan televisi dan tidak sedang terpejam atau berkhayal. Lucu sekali, pikirku. Aku menolak meminta maaf sebab menurutku itu memang tak perlu. Lagipula kalaupun yang kulakukan itu terbilang tak sopan, ia toh memang tidak pantas menerima sopan-santun dariku, dan semestinya ia menyadarinya. Begitulah saat itu aku berpikir. Dan ia tak menerimanya. Ia bersikeras menyuruhku meminta maaf dan mengancam akan terus berdiri di situ dan tak membiarkanku kembali ke kamar. Akhirnya, alih-alih meminta maaf, aku justru memberinya kedua jari tengah, sambil memasang muka masam, dan itu membuatnya murka. Sekejap saja tinjunya sudah menghantam pipiku dan aku yang memang masih kecil langsung terhuyung-huyung dan membentur dinding. Malam harinya, aku terpikir untuk mengadukan kekonyolannya itu kepada Ibu, tapi pada akhirnya tak kulakukan. Aku memilih untuk menyimpannya saja dan aku pun menyimpan kekesalan-kekesalanku terhadapnya yang lainnya seperti aku memasukkan uang koin demi uang koin ke celengan ayam pemberian Bapak untuk kupecahkan suatu hari nanti.

Kadang-kadang, aku bertanya-tanya mengapa ia harus menjadi kakakku. Atau mungkin, lebih tepatnya, mengapa aku harus menjadi adiknya. Tuhan mungkin sedang kelewat bosan sampai-sampai ia membiarkan dua lelaki yang sangat berbeda ini berada dalam satu keluarga, hidup di satu rumah, dan berbagi kasih sayang dan perhatian dari orangtua yang sama. Begitulah aku sempat menduga. Kepada Ibu pernah kutanyakan kenapa aku dan Ibrahim bisa sangat berbeda dan ia seperti tak menanggapinya dengan sungguh-sungguh dan hanya tersenyum lalu berkata bahwa perlakuannya di masa kehamilan kami memang berbeda, bahwa apa yang terjadi dan apa yang ia lakukan saat tengah mengandung kami memang berbeda. Pada saat mengandung Ibrahim, Ibu mengaku sering berkegiatan di luar rumah dan berinteraksi dengan orang-orang dan kadang terjebak dalam keadaan di mana emosinya akhirnya terpancing. Sedangkan pada saat ia mengandungku, terutama di tiga bulan terakhir, Ibu mengaku hampir selalu berada di rumah dan memanjakan dirinya dengan mendengarkan musik lembut dan membaca novel percintaan dan hampir tak pernah merasa kesal. Aku dan Ibrahim memang sudah sewajarnya berbeda. Begitulah Ibu berkata. Ia kemudian mengatakan sesuatu yang membuatku senang bahwa ia berharap aku akan menjadi anak yang berprestasi dan berbudi pekerti tinggi dan membuatnya bangga. Apakah itu artinya Ibu tak mengharapkan hal itu dari Ibrahim, bahwa Ibu telah menyerah untuk berharap demikian? Aku tak tahu. Tapi memikirkan bahwa itu benar, aku selalu merasa lebih baik. Aku memang sudah semestinya menjadi anak yang lebih mendapatkan kepercayaan Ibu ketimbang Ibrahim. Bahkan semestinya, aku mendapatkannya bukan hanya dari Ibu, tetapi juga dari Bapak.

 
BERBEDA dengan Ibu, Bapak justru lebih menyukai Ibrahim ketimbang aku. Atau setidaknya, ia terlihat seperti itu. Mungkin itu dikarenakan Ibrahim lebih laki-laki dari aku. Postur tubuh, pembawaan, kebiasaan. Aku tak memungkiri hal ini dan bahkan aku menyadari bahwa aku lebih seperti seorang perempuan ketimbang seorang lelaki, dalam arti sifat dan cara berpikirku cenderung feminim, meski aku tidak kemayu atau melambai. Jika ditarik garis ke atas, aku mungkin lebih terhubung ke Ibu, sedangkan Ibrahim lebih terhubung ke Bapak. Dari bentuk muka dan kebiasaan pun, aku memang lebih dekat ke Ibu.

Ketika berita kematian Ibrahim sampai ke telinga (dan mata) Bapak, ia terlihat pucat dan begitu kaku. Aku di sampingnya, saat itu. Tiga orang yang adalah tetangga dan teman-teman Ibrahim berdiri di teras depan dan menyampaikan berita duka itu sambil terisak-isak, dan juga gemetar ketakutan. Ibrahim mati, dalam sebuah aksi demonstrasi yang ia ikuti. Kericuhan terjadi dan aparat bertindak agresif dengan memukul mundur para demonstran. Gar airmata, pukulan pentungan. Aparat bahkan sampai menggunakan mobil semi-tank dan tak segan-segan melajukannya dengan cepat, dan tak ambil pusing kalaupun ada beberapa demonstran yang tertabrak, atau bahkan terlindas. Dan Ibrahimlah yang menjadi korban. Tiga orang yang berdiri di teras depan itu mengatakan bahwa Ibrahim ditabrak mobil aparat dan mati di tempat. Sebelumnya, mereka melihat beberapa aparat memukuli Ibrahim di kepala.

Aku tak tahu sejauh mana keakuratan berita yang disampaikan ketiga orang itu. Aparat mengeluarkan pernyataan yang berbeda, yang tentu saja tak menempatkan pihak mereka sebagai pihak yang bersalah. Di hari Bapak mendengar kabar yang mengejutkannya itu, ia langsung meminta diantar ke lokasi demonstrasi dengan maksud membawa jenazah Ibrahim, namun sayangnya itu tak bisa dilakukan sebab konon aparat telah mengamankan jenazah Ibrahim untuk diautopsi. Bapak murka. Ia bahkan memukuli para pengabar berita itu. Barangkali sedikit-banyak ia pun menyalahkan mereka karena telah membawa-bawa Ibrahim ke dalam demonstrasi itu.

Ibu sendiri, setelah mendengar kabar bahwa Ibrahim mati, seketika menangis. Ia menangis dan terus menangis, dan baru berhenti sekitar tiga jam kemudian. Aku menemaninya, di ruang makan. Aku memeluknya dan mengelus-elus bahunya, di meja makan. Sebenarnya aku terpikir untuk mengatakan sesuatu dalam rangka menenangkannya, atau bahkan menghiburnya, namun pada akhirnya aku tak mengatakan apa pun. Di dalam benakku aku justru sibuk menerka-nerka apa yang akan terjadi pada keluarga ini setelah Ibrahim mati.

Pada hari-hari setelahnya, berita tentang kematian Ibrahim, dan tentang bagaimana sebenarnya ia mati dan siapa sebenarnya pelakunya, terus ditayangkan di televisi. Bapak menontonnya, dengan raut muka yang tegang, dan penuh amarah. Ibu menontonnya, dengan sorot mata yang lemah, dan tubuh yang sesekali bergetar. Aku sendiri, meski menontonnya, namun tak merasakan apa pun. Kemarahanku tidak bangkit. Emosiku masih saja stabil. Entahlah apakah Bapak dan Ibu menyadari hal ini namun agaknya mereka tak menyadarinya. Mereka terlampau terisap oleh kesedihannya masing-masing, oleh kemarahannya masing-masing. Dan salah satu cara mereka melampiaskan kesedihan dan kemarahannya itu adalah dengan menggalang dukungan dari orang-orang di sekitar mereka, di sekitar kawasan tempat kami tinggal ini, di kota ini. Wartawan demi wartawan berdatangan, dan Bapak meladeni mereka dengan semangat tinggi. Tetangga demi tetangga berdatangan, dan Ibu menumpahkan tangisnya di hadapan mereka. Dalam waktu kurang dari seminggu nama Ibrahim sudah sering disebut-sebut orang-orang di kawasan ini. Di sekolahku sendiri, teman-teman dan beberapa guru berbelasungkawa dan menyatakan dukungan mereka, keberpihakan mereka, kepada Ibrahim dan keluarga kami. Aku menanggapinya dengan dingin. Bagaimanapun aku tak melihat kematian Ibrahim sebagai sebuah tragedi.

 
IBRAHIM baru berumur 17 tahun ketika ia mati. Tahun pertamanya sebagai mahasiswa baru saja dimulai, dan ia masih senang bermain-main dan melakukan hal-hal gila, termasuk meramaikan aksi-aksi demonstrasi. Aku tak yakin pada aksi demonstrasi di mana ia mati itu ia benar-benar memahami apa yang ia lakukan, bahwa ia mengetahui apa yang sebenarnya ia tuntut dan ia dukung dengan aksinya itu. Sangat mungkin, ia hanya ikut-ikutan saja. Mungkin teman-teman mainnya itu yang mengajaknya. Mungkin ia dibayar atau mungkin juga tidak. Ia terlalu brengsek, terlalu menyedihkan, untuk menjadi seseorang yang benar-benar memedulikan nasib bangsa dan negara. Ia terlalu brengsek, terlalu menyedihkan, untuk benar-benar memperjuangkan hak-hak orang banyak. Dan tentu saja, menempatkannya sebagai seorang pahlawan atau ikon perjuangan adalah hal yang terlampau konyol. Setidaknya begitulah aku melihatnya.

Namun kenyataannya orang-orang di kota ini memang menempatkannya sebagai pahlawan, dan menjadikannya ikon perjuangan mereka. Ibrahim, kakakku yang brengsek dan tak bisa diharapkan itu, tiba-tiba menjadi sosok yang bahkan namanya bisa menggetarkan hati banyak orang, terutama mereka yang pernah kehilangan orang-orang tersayang dalam aksi demonstrasi serupa, yang mungkin terjadi dulu. Di beberapa selebaran yang kutemukan di jalan-jalan, bahkan kutemukan pernyataan seseorang bahwa kakakku itu memang sudah ditakdirkan untuk menjadi pahlawan sejak ia masih bayi, bahwa namanya adalah nama salah satu nabi besar yang pernah dimiliki dunia. Aku tertawa. Bisa-bisanya ia membuat kesimpulan yang lucu ini, pikirku. Apa yang akan dikatakan seseorang itu pastilah akan lebih lucu lagi jika Ibrahim, sebelum kematiannya itu, sempat dibakar hidup-hidup oleh aparat dan sama sekali tidak terluka. Di selebaran-selebaran lain, aku mendapati informasi bahwa sekumpulan orang secara rutin mengadakan pengajian dan doa bersama untuk mempermudah perjalanan Ibrahim di alam sana.

 
BAGAIMANA menurutmu? Apakah Ibrahim memang pantas diperlakukan seperti itu? Menurutku sih tidak. Tapi sesungguhnya, aku tak begitu peduli. Ia mau dianggap orang-orang sebagai pahlawan, atau penjahat, itu sama sekali bukan urusanku. Ia sudah mati dan aku tak akan lagi berurusan dengannya. Ia sudah mati dan aku tak akan lagi bertengkar dengannya. Hanya saja memang, semua ini benar-benar lucu. Orang-orang itu tak mengenalnya namun mereka kemudian mengagung-agungkannya. Orang-orang itu tak tahu ia seperti apa namun mereka begitu senang menyebut-nyebut namanya. Kematian, seperti telah melahirkan kembali kakakku itu, dalam wujud yang berbeda.(*)

Dramaga, 17 Desember 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s