Kegelapan

IA terbangun dan tak melihat apa-apa. Semuanya hitam. Segalanya hitam. Sempat ia mengira saat itu masihlah malam dan semua sumber cahaya dalam keadaan mati, dan gorden tertutup rapat-rapat. Akan tetapi, segera ia sadar, kegelapan yang dimaksudkannya tidaklah mungkin segelap itu, sehitam itu, sepekat itu. Ia benar-benar tak melihat apa-apa saat ia terbangun itu, dan meski ia telah diam menunggu kira-kira lima menit lamanya keadaan itu tak juga berubah. Ia pun mulai cemas.

Selama ia menunggu itu ia telah mencoba melakukan banyak hal, seperti mengedip-ngedipkan mata, menggerakkan kedua tangannya ke arah wajahnya, menggerakkan kedua kakinya, meraba-raba apa-apa yang ada di sekitarnya, dan ia memahami beberapa hal: 1) ia sedang terbaring di sebuah tempat tidur yang, selain empuk, juga lebar; 2) di tempat tidur itu ia seorang diri dan hanya mengenakan kaus tipis dan celana bokser; 3) ia tak merasa kedinginan, justru gerah, dan memang mendapati leher dan keningnya basah saat ia menyentuhnya dengan tangannya; 4) ia tidak sedang bermimpi—ia merasakan sakit saat ia mencoba mencubit keras-keras kedua pipinya.

Lambat-laun ia pun menyadari bahwa telinganya menangkap beberapa hal. Misalnya, sisa deru mesin dari kendaraan-kendaraan yang baru saja melintas. Atau, beberapa langkah kaki yang tergesa-gesa dan penuh hentakan. Pada saat itu ia juga telah mengingat beberapa hal menyangkut dirinya dan di mana ia berada dan apa yang telah ia lakukan sebelum ia (ter-)tidur. Di antara semua hal itu, ada tiga hal yang menurutnya penting: 1) kamar di mana ia berada itu bukanlah kamarnya, melainkan kamar di sebuah losmen di Kota B; 2) ia tidak masuk ke kamar itu sendirian, melainkan ditemani seorang perempuan; 3) ia dan perempuan itu tidak terlampau saling mengenal dan mereka hanya bertemu 3-4 kali dalam setahunnya—untuk berhubungan seks.

Waktu telah berlalu kira-kira 20 menit dan keadaan belum juga berubah. Rasa cemas itu mulai berubah jadi rasa takut. Ia takut, setelah berpuluh atau beratus-ratus menit lamanya berlalu pun, ia masihlah belum juga melihat apa-apa—selain hitam yang pekat itu. Ia takut, sesuatu aneh yang tengah dialaminya ini, adalah awal dari sesuatu buruk lainnya yang akan dialaminya, saat itu.

“Aku tidak bisa terus diam seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu,” gumamnya.

Perlahan-lahan, dengan sepasang tangan meraba-raba ke sana kemari, ia bangkit. Butuh waktu cukup lama baginya untuk benar-benar bangkit terduduk dan merasa ia dalam kondisi aman. Setelah itu, butuh waktu lebih lama lagi baginya untuk turun dari tempat tidur dan berdiri. Dalam posisi berdiri itu, ia benar-benar merasa bingung, tak bisa menentukan mana ruang-kosong mana ruang-padat, tak bisa mengira-ngira di sebelah mana pintu di sebelah mana lemari. Kira-kira sepuluh menit lamanya, ia bertahan dalam posisinya itu. Harus ia akui ia lumayan gugup dan untuk mengatasi kegugupannya itu ia berkali-kali menarik napas panjang dan melepaskannya perlahan, dan ia melakukannya sambil memejamkan mata meskipun apa yang dilihatnya saat matanya terbuka sama saja dengan apa yang dilihatnya saat matanya tertutup. Setelah sepuluh menit yang terasa berjam-jam itu, ia mulai berjalan.

Di titik ini ia mulai berusaha menerima fakta bahwa ia tengah mengalami kebutaan, meski ia tetap tak bisa mengerti mengapa hal itu bisa terjadi, dan mengapa begitu tiba-tiba. Namun ia meyakini—lebih tepatnya berusaha meyakini—bahwa kebutaan itu tidaklah permanen. Di suatu titik dalam upaya pengadaptasiannya itu ia akan tiba-tiba mendapatkan penglihatannya kembali, begitu saja. Hal ini memang sepenuhnya spekulasi dan bisa berdampak buruk baginya jika kelak ternyata tak terwujud. Namun, ia merasa, dengan berpikir positif seperti itu, ia bisa menjadi optimis, dan itu mungkin akan memudahkannya mengatasi kebutaannya. Kadang-kadang, pikirnya, menumbuhkan optimisme jauh lebih penting daripada kepastian itu sendiri.

Dan ia mulai berjalan dengan kedua tangan meraba-raba ke sana kemari. Baru disadarinya bahwa langkah-langkahnya terasa berat. Bukan hanya itu, langkah-langkahnya itu bahkan seperti dibarengi rasa sakit yang seolah-olah akan muncul di setiap langkah itu berakhir. Maksudku, ketika ia mengangkat sebelah kakinya, ia merasa ketika kakinya itu kembali menyentuh lantai ia akan merasakan semacam sengatan atau gigitan atau cabikan, dan itu membuat langkah-langkahnya begitu tak alami. Memang pada akhirnya ketakutannya itu tak terbukti. Setidaknya begitulah sampai langkah kaki kesembilan. Namun, dalam keadaan tak bisa melihat apa-apa, ancaman-ancaman seperti itu terasa nyata. Satu hal lainnya yang kemudian ia sadari: ia benar-benar tak berdaya dalam keadaan tak bisa melihat apa-apa seperti itu.

Ia telah berhasil menyentuh gagang pintu ketika pemahaman itu melintas di benaknya. Melangkah dalam keadaan tak bisa melihat telah membuatnya benar-benar kesusahan, dan ia tentulah akan dengan mudahnya dilukai seandainya saat itu ada seseorang di kamar itu yang berniat jahat terhadapnya. Mungkin akan berbeda seandainya ia telah buta sejak lama, di mana selama jeda waktu itu ia telah bersusah-payah membiasakan diri. Begitulah menurutnya. Ia pun mulai bertanya-tanya mengapa ia bisa tiba-tiba mengalami kebutaan itu, dan ia menjadi kesal ketika tak juga mendapatkan satu petunjuk pun mengenai hal itu. Ia memang telah mengingat-ingat apa-apa saja yang terjadi di malam sebelum ia (ter-)tidur, namun tidak satu pun dari yang diingatnya itu bisa dianggapnya sebagai pemicu dari kebutaan yang tiba-tiba dialaminya itu.

Ia memutar gagang pintu ke bawah, dan sedikit menariknya, dan pintu itu pun terbuka. Ia memastikan itu dari bunyi yang terdengar dan dari embusan angin yang terasa. Begitulah dalam ingatannya apa yang terjadi ketika pintu kamar itu dibuka. Sempat, ia berpikir untuk menarik pintu itu lebih jauh dan ia akan berjalan keluar, sebelum ia kemudian mendorong pintu itu hingga terdengar bunyi yang menandakan pintu itu telah kembali tertutup. Kalau aku keluar kamar dalam keadaan tak bisa melihat apa-apa seperti ini, aku hanya akan mempermalukan diriku sendiri, pikirnya. Ia pun memutuskan untuk berbalik arah, dan mencoba menemukan benda-benda lainnya.

 
TIGA jam kira-kira telah berlalu dan ia kini berada di kamar mandi. Selama kurang lebih 2,5 jam itu, ia telah mengelilingi kamar. Anggaplah begitu. Usai menyentuh pintu ia berhasil menyentuh saklar lampu, kemudian televisi, kemudian lemari. Dari sana ia dengan mudah menemukan pintu kamar mandi dan selanjutnya saklar yang lain dan selanjutnya lampu tidur dan selanjutnya meja persegi di samping tempat tidur dan selanjutnya jendela. Bagaimana ia bisa menemukan benda-benda itu? Tentulah karena ia memiliki ingatan—meskipun singkat—tentang kamar itu. Setelah merasa menemukan semua hal penting di kamar itu, ia mengulangi sekali lagi pencariannya, dan mengulanginya lagi, dan lagi, hingga di satu titik ia merasa telah benar-benar mengenali kamar itu, dan karenanya ia merasa aman berada di sana—meskipun masih tak bisa melihat apa-apa. Merasa lelah, ia berbaring sejenak di tempat tidur. Sambil membuka mata menatap langit-langit ia menebak-nebak seperti apa persisnya langit-langit kamar yang dilihatnya itu, dan di saat yang sama ia berusaha mengingat-ingat lagi apa kiranya yang menjadi pemicu dari kebutaan yang tiba-tiba dialaminya itu. Mendapati upayanya itu kembali sia-sia, ia menggeram. Di luar kamar ia mendengar langkah-langkah kaki dan obrolan dan ia pun memutuskan untuk mandi.

Apa yang kemudian dipikirkannya di kamar mandi adalah tentang bagaimana ia akan—atau harus?—melewati hari itu. Ia telah tahu bahwa ia hanya berencana menginap di kamar itu semalam saja, yang artinya dalam beberapa jam lagi ia akan meninggalkan kamar itu. Begitulah jika perkiraannya tak keliru, bahwa saat ia terbangun itu hari sudah pagi—mungkin sekitar pukul tujuh—dan kini ketika ia membersihkan diri di kamar mandi tengah hari belum tiba. Ia berpikir, dan berpikir. Seandainya ia memaksakan diri meninggalkan kamar itu sesuai rencana, sangat mungkin ia akan menghadapi banyak masalah, dan itu akan menyusahkannya. Begitulah menurutnya. Namun seandainya ia memperpanjang masa inapnya di kamar itu, ia bingung; ia tak tahu apa saja yang akan dilakukannya di kamar itu selama itu, dalam keadaan tak bisa melihat seperti itu. Dan ia pun teringat bahwa lusa ia sudah harus tiba di Kota A untuk menghadiri sebuah acara kesenian yang diadakan teman-temannya, di mana ia dalam acara itu dijadwalkan memberikan semacam kuliah-ringan dan sebuah penampilan. Maka, ia terus berpikir, dan berpikir. Pada akhirnya ia memutuskan untuk memperpanjang masa inapnya saja.

Satu-satunya hal yang disyukurinya dari kebutaannya yang tiba-tiba itu adalah bahwa ia tidak sedang memiliki seseorang untuk dihubungi. Pacar, istri, anak, ia tak memilikinya. Ini melegakannya sebab jika ia memiliki salah satu dari mereka maka ia akan terpaksa berhadapan dengan mereka dalam keadaannya yang tak menguntungkannya ini. Ia pun mungkin akan terpaksa berbohong, sebab menjelaskan ia tiba-tiba buta dan karenanya belum bisa pulang agaknya terlampau konyol. Orang waras mana yang mau memercayai penjelasan seperti itu? Alih-alih percaya, orang itu justru bisa jadi menaruh curiga padanya dan akhirnya ia malah berada dalam situasi yang lebih buruk lagi. Untuk pertama kalinya, sejak ia terbangun tadi, ia bisa menarik napas panjang dan merasa ringan dan kemudian tersenyum.

Sebenarnya ia pernah menikah dan dari pernikahannya itu ia beroleh satu orang anak perempuan. Pernikahan itu terjadi lebih dari sepuluh tahun lalu, di sebuah kota kecil di luar pulau yang adalah tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Rumah tangganya itu sendiri, yang ia alami selama kira-kira lima setengah tahun, sesungguhnya sebuah rumah tangga yang menenangkan, atau setidaknya tak banyak menimbulkan masalah. Namun ia memilih untuk mengakhirinya, dan melupakannya. Kau mungkin akan sedikit mengerutkan kening usai mendengarkan penjelasanku mengenai alasannya mengakhiri (dan melupakan) rumah tangganya itu.

Jadi begini. Di kota kecil itu, ia dan istrinya sama-sama bekerja, namun pekerjaan istrinya jauh lebih menghasilkan daripada pekerjaannya. Ia bekerja sebagai guru honorer di beberapa sekolah swasta, sedangkan istrinya adalah dokter ternama yang disegani orang-orang di kota itu. Sejak awal ia telah menyadari bahwa ia akan lebih sering terlihat berada dalam bayang-bayang istrinya. Maksudnya, istrinya adalah si pencari uang dan ia adalah penyokong. Seperti itulah. Ia bukannya tak bisa mendapatkan pekerjaan lain yang lebih menjanjikan, melainkan ia memilih untuk seperti itu. Sebelum mereka menikah, istrinya memang telah menjanjikan padanya untuk tak mempermasalahkan siapa yang mendapatkan uang lebih banyak dan bahwa ia akan selalu menghormatinya dan memperlakukannya sebagai kepala keluarga. Sampai rumah tangga mereka berusia tiga tahun, ia masih merasa baik-baik saja dengan ketidaklaziman ini.

Memasuki tahun keempat, sesuatu mulai mengusiknya.

Saat itu ia telah memiliki anak dan anaknya itu mau mencapai ulang tahunnya yang kedua. Ia, sebab tak sesibuk istrinya dan karenanya lebih bisa ada di rumah, menjadi orang yang bertanggungjawab mengurus dan membesarkan anaknya itu. Baginya, itu bukanlah masalah. Kendatipun beberapa kali istrinya baru tiba di rumah menjelang pukul sembilan, ia sama sekali tak mengeluhkannya, dan bahkan tak terlihat kesal. Bersama anaknya itu ia melakukan banyak hal, bermain-main dan lainnya. Selepas si pengasuh-bayi-cum-pembantu-rumah-tangga pamit pulang menjelang magrib ia membawa anaknya itu ke ruang-baca, dan di sana ia membacakan kisah-kisah menarik dari buku-buku bergambar yang dikumpulkannya. Anaknya itu, tentu saja, tak mengerti, dan lebih sering tak memperhatikan, dan karenanya ia pun sering mengambil jeda dan mengamati tingkah laku anaknya itu. Dan pada suatu titik, ketika ia tengah mengamati anaknya itu, wajah istrinya melintas di benaknya, dan wajah itu terlihat berbeda.

Salah satu hal yang membuat wajah istrinya itu terlihat berbeda adalah bahwa senyumnya tampak tak natural. Ia bisa membedakannya sebab ia telah bersama-sama dengan perempuan itu selama hampir enam tahun. Selama wajah istrinya itu melintas di benaknya, ia terus memikirkan senyum yang tak natural itu. Dan setelah wajah istrinya itu berlalu dari benaknya, ia pun masih terus memikirkan senyum yang tak natural itu. Dan ia pun tersadar, ia sebenarnya telah beberapa kali melihat senyum yang tak natural itu, bukan di benaknya melainkan benar-benar di wajah istrinya. Dan kali terakhir ia melihatnya adalah semalam sebelumnya.

Semalam sebelumnya itu istrinya tiba di rumah kurang sedikit dari pukul sembilan, dan perempuan itu tampak lelah dan memikirkan sesuatu. Seperti biasanya, ia mengemukakan apa yang dipikirkannya itu, namun istrinya hanya tersenyum alih-alih bercerita. Ia menunggu, hingga istrinya itu berganti pakaian, hingga istrinya itu selesai mandi dan berbaring di sampingnya, namun perempuan itu tetap bungkam. Sebelum ia sempat menanyakannya lagi, istrinya itu telah tertidur dan sedikit mendengkur sambil memeluk anak mereka.

Senyum yang ditunjukkan istrinya malam itu terlihat palsu. Atau, dipaksakan. Ia sebenarnya tak ingin mempermasalahkannya namun itu adalah kali kelima—atau bahkan keenam?—ia melihat senyum itu dalam dua minggu terakhir. Selama dua minggu itu pun frekuensi kepulangan-menjelang-pukul-sembilan istrinya lebih tinggi dari biasanya, dan ia ingat beberapa dari senyum-senyum palsu itu ia lihat pada kepulangan-kepulangan tersebut. Apakah sesuatu sedang terjadi? pikirnya, sambil memandangi wajah istrinya. Tentu saja yang dimaksudkannya dengan “sesuatu” di sana adalah “sesuatu yang buruk”, dan karenanya ia berharap jawaban dari pertanyaan itu adalah “tidak”.

Sebagai seorang dokter, istrinya menjalankan praktik di luar rumah sakit tempat ia bekerja. Namun, jika umumnya praktik itu dilakukan di rumah, istrinya justru memilih untuk melakukannya di tempat lain. Ia menyewa sebuah rumah di pusat kota dengan jarak tempuh hampir setengah jam dari rumahnya. Ia beralasan, kawasan itu sangat strategis sebab dilalui oleh hampir semua jurusan angkot.

Ia tak mempermasalahkan hal ini, meski tentunya benar-benar heran. Kali lain istrinya juga menjelaskan bahwa ia tak ingin membawa-bawa pekerjaan ke rumah dan ia ingin kehadirannya di rumah adalah murni sebagai seorang istri, bukan dokter. Meski merasa alasan itu sedikit janggal, ia lagi-lagi tak mempermasalahkannya. Ia mendukung apa pun yang dilakukan istrinya dan penjelasan istrinya itu sendiri meluncur begitu saja tanpa sedikit pun ia memancing-mancingnya.

Beberapa kali ia pernah mengunjungi istrinya di rumah-kerjanya itu, baik atas permintaan istrinya—seperti membawakan makanan atau minuman atau buku—ataupun atas inisiatifnya sendiri. Hubungan mereka sebagai suami-istri harmonis-harmonis saja. Justru dengan terbilang jarangnya mereka menghabiskan waktu bersama, mereka menjadi lebih menghargai kebersamaan mereka. Di meja makan, di ruang televisi. Di tempat tidur, di kamar mandi. Kadang-kadang istrinya itu menghubunginya ketika akan pulang dan meminta dijemput. Tentu saja, ia melakukannya dengan senang hati. Mereka bertiga—ia tentu tak meninggalkan anaknya yang masih balita itu di rumah—bahkan kerap mampir terlebih dahulu di restoran terdekat dan menikmati menit-menit penuh tawa dan penuh cinta, di sana.

Dan tibalah ia pada titik itu, sebuah titik di mana ia mulai merasa ada sesuatu yang tidak menyenangkan dari hal itu. Frekuensi kepulangan-menjelang-pukul-sembilan istrinya yang meningkat, rumah-kerja perempuan itu, senyum tak natural di wajah perempuan itu. Ia merasa konyol sebab mulai berusaha menghubung-hubungkan ketiga hal itu dan mencurigai ada kebusukan di baliknya, padahal selama kurang lebih setahun itu ia tak pernah berpikir ke arah sana sama sekali. Sama sekali tak pernah. Ia memercayai istrinya, seperti ia memercayai dirinya sendiri. Setidaknya begitulah sampai sebelum ia tiba di titik itu. Merasa apa yang dipikirkannya itu tak akan membawanya ke mana-mana, ia memilih untuk melupakannya dulu. Di hadapannya anak perempuan yang tak lama lagi berumur dua tahun itu tampak asyik membuka-buka buku bergambar yang tadi dibacakannya.

Malam harinya ia mengungkapkan kegelisahannya itu kepada istrinya. Sebenarnya, ia sudah berniat melupakannya saja, namun di detik ia melihat sosok istrinya di balik pintu dan menemukan kembali senyum tak natural itu, niat itu lenyap. Selama menit demi menit berlalu hingga istrinya itu akhirnya berbaring di sampingnya, ia terus memikirkan hal-hal yang mengganggunya itu, dan itu membuatnya seperti terjebak di dalam sebuah kamar yang sama sekali tak disinari cahaya. Ia menunggu pintu kamar itu terbuka, dan cahaya dari luar datang menerpa. Ia menunggu istrinya membuka pintu itu, dan menatapnya, dan menjelaskan semuanya—apa pun itu.

“Kau berselingkuh?” itulah yang akhirnya dilontarkannya, tepat setelah ia selesai mengungkapkan kegelisahannya. Saat itu anak mereka sudah terlelap di antara mereka. Istrinya menatapnya dan seperti tengah menimbang-nimbang apa yang semestinya ia katakan, atau lakukan. Di detik itu, ia tahu, sesuatu yang buruk yang sedang terjadi.

“Iya,” itulah yang dikatakan istrinya. Ia memandangi lekat-lekat perempuan itu, sementara perempuan itu telah kembali mengalihkan matanya kepada anak mereka, sambil mengelus-ngelus rambutnya yang hitam-tebal.

“Sejak kapan?” tanyanya.

“Tiga bulan yang lalu,” jawab perempuan itu.

Ia mulai menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya, atau dikatakannya. Mata cokelat perempuan itu masih tertuju kepada anak mereka, dan seperti tengah menahan sesuatu yang teramat berat.

“Kau menyesal?” tanyanya. Kali itu istrinya menatapnya, dan ia bisa melihat ada sesuatu yang sangat lain di sepasang matanya itu.

“Entahlah,” jawab istrinya.

“Kau menikmatinya?” tanyanya kemudian.

“Entahlah,” jawab istrinya.

Malam itu berlalu dengan mereka sama-sama membiarkan keheningan menempati ruang-ruang di antara mereka, di sekitar mereka. Ia tak lagi memandangi istrinya, dan istrinya tak mengalihkan matanya dari anak mereka di pelukannya. Ketika ia memejamkan mata, kembali, ia merasa dirinya berada di sebuah kamar yang sama sekali tak diterangi cahaya. Gelap. Benar-benar gelap. Dan kali ini pintu itu perlahan-lahan terbuka. Namun, sayangnya, dari luar sana pun sama sekali tak ada cahaya yang datang menerpa.

Selepas malam itu ia mencoba menjalani hari-harinya seperti biasa. Di waktu pagi, ia dan istrinya, juga anak mereka, menyantap sarapan di meja makan. Ia mencium dan memeluk istrinya sebelum meninggalkan rumah, dan istrinya memberinya senyum yang kali itu terlihat natural dan mengenyangkan. Di hari-hari tertentu, ia menjemput istrinya seperti yang diminta perempuan itu. Ia di rumah masih mengurus dan membesarkan anaknya dengan gairah yang sama. Ia, seperti sedang berusaha meyakinkan dirinya bahwa perselingkuhan istrinya itu tak akan berdampak buruk padanya apalagi menghancurkanya. Atau, lebih parah lagi, ia mungkin sedang berusaha meyakinkan dirinya bahwa perselingkuhan itu tak pernah ada.

Di hari ulang tahun anaknya, ia beberapa kali memandangi istrinya, dan merasa cemas akan kembali menemukan senyum tak natural itu. Namun, sampai pesta berakhir pun, senyum tak natural itu tak juga muncul. Istrinya beberapa kali balas memandanginya dan memberinya senyum yang benar-benar natural, dan hangat, dan mengenyangkan. Ia merasa aneh senyum istrinya itu kembali justru setelah mereka sedikit membahas perselingkuhan itu, namun segera ia menepis perasaannya itu. Bagaimanapun, ia bersyukur hubungannya dengan istrinya masih harmonis-harmonis saja.

Sampai lebih dari setahun setelahnya, ia masih menjaga segala sesuatunya tetap seperti itu. Istrinya beberapa kali pulang menjelang pukul sembilan, dan ia berusaha mengabaikan kecurigaannya. Apakah ia masih berselingkuh? Kuharap tidak. Begitulah yang digumamkannya di dalam hatinya setiap kali kecurigaan itu datang. Namun kalaupun ternyata istrinya itu masih saja berselingkuh, ia pikir, ia tak akan melakukan perubahan apa pun. Apakah ia menjadi sebaik ini karena ia memikirkan anaknya, atau karena ia ingin menjaga agar si pengasuh-bayi-cum-pembantu-rumah-tangga tak sedikit pun mengendus hal ini? Entahlah. Ia sendiri tak yakin mana yang benar. Bisa jadi bukan keduanya. Di waktu-waktu tertentu, kecurigaannya itu benar-benar mengusiknya, dan ia harus bersusah-payah mengendalikan diri agar ia tak melakukan atau mengatakan hal-hal yang buruk kepada istrinya. Pernah juga, ia sampai berpikir untuk mabuk. Pada akhirnya ia batal melakukannya sebab sebelumnya ia tak pernah minum dan ia tak tahu akan seperti apa ia dan apa saja yang akan dilakukannya dalam kondisi mabuk.

Jika ada satu hal yang berubah dalam lebih dari setahun itu, itu adalah frekuensi dan intensitasnya dalam membaca. Di sekolah-sekolah tempat ia bekerja ia juga mengajar bahasa Indonesia sehingga kadang-kadang ia memaksakan dirinya untuk membaca fiksi, seperti novel atau kumpulan cerita. Dan pada saat kecurigaannya itu mengusiknya, salah satu yang dilakukannya untuk mengatasinya adalah membaca fiksi. Ia pun mulai rutin membeli dua-tiga buku setiap bulannya. Tak jarang ia pun berburu ebook di situs-situs tertentu. Membaca fiksi baginya, dengan sendirinya, menjadi salah satu aktivitas paling ampuh untuk mengatasi kegelisahannya. Ia seperti menuangkan dan meninggalkan kegelisahannya itu di dalam fiksi-fiksi yang dibacanya, dan setelahnya ia bisa kembali menjadi dirinya yang diinginkannya.

Namun tentulah, pada akhirnya, hantaman itu datang juga. Saat itu pagi hari dan istrinya sedang berada di kamar mandi. Beberapa jam sebelumnya mereka baru saja melakukan hubungan seks yang panjang dan panas. Ponsel istrinya berbunyi, dan ia yang masih enggan membuka mata merasa terganggu dan akhirnya meraihnya untuk sekadar mencaritahu siapa yang mencoba menghubungi istrinya sepagi itu. Dan di sana, di layar ponsel istrinya itu, ia menemukan sebuah nama yang asing, dan sangat laki-laki. Tentu saja bisa jadi laki-laki itu adalah rekan kerja istrinya atau salah satu pasiennya tapi entah kenapa, tiba-tiba, ia curiga. Jangan-jangan ini si lelaki selingkuhannya itu, pikirnya, seketika. Tanpa berlama-lama lagi ia pun membuka pesan yang dikirimkan lelaki itu. Di detik itu ia baru menyadari bahwa pesan yang dikirimkan si lelaki adalah pesan-video.

Tak pernah sama sekali ia menyangka akan melihat tayangan seperti itu. Istrinya, dan seorang lelaki yang agaknya si pengirim pesan-video itu, tampak tengah dalam sebuah hubungan seks. Durasi video itu singkat saja sehingga tayangan itu bahkan berhenti sebelum salah satu dari dua orang itu mencapai klimaks. Tapi, itu sudah cukup untuk membuatnya kesal, marah, dan sedih. Ia memang tak pernah mengingkari bahwa ia kerap merasa istrinya itu masih berselingkuh, dan ia kerap membayangkan istrinya dan si lelaki yang entah siapa itu tengah berhubungan seks. Akan tetapi, membayangkannya dan melihatnya dengan mata kepala sendiri—meski lewat tayangan video—adalah dua hal berbeda. Jauh berbeda. Ia menghapus video itu dan melemparkan ponsel istrinya ke posisinya semula. Sementara istrinya masih berada di kamar mandi, ia memejamkan mata dan membiarkan air mata mengalir hangat di kedua pipinya.

Istrinya tak pernah tahu persitiwa pagi itu. Dan ia pun, sebisa mungkin, memang ingin merahasiakannya. Seperti yang dilakukannya saat mengetahui istrinya berselingkuh, ia berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa, seolah-olah pesan-video itu tak pernah ada dan ia tak melihatnya, sama sekali tak melihatnya. Namun sayangnya, upayanya itu sia-sia. Kali ini, kesedihan dan kemarahannya terlampau kuat untuk ia coba abaikan begitu saja. Di waktu-waktu tertentu, saat ia sedang bersama anaknya dan si pengasuh-bayi-cum-pembantu-rumah-tangga sudah pulang dan istrinya masih di rumah sakit atau rumah-kerjanya, ia membiarkan kemarahan dan kesedihannya itu lepas, entah itu lewat tangisan atau caci maki, atau teriakan atau sedu-sedan. Anaknya, yang masih terlampau kecil untuk memahami apa yang dirasakannya itu, tentu saja hanya memandanginya dengan tatapan penuh tanya, dan sedikit rasa takut. Sejak saat itu ia pun tidak lagi hanya membaca fiksi, namun juga mulai mencoba-coba membuatnya sendiri.

Dan tibalah hari itu. Berbulan-bulan ia mencoba bertahan dalam keadaannya yang menyedihkan itu dan ia meyakini ia tak sanggup lagi memaksakan diri, dan bahwa ia harus melakukan sesuatu dan kelak menerima konsekuensinya. Di hari ulang tahun anaknya yang keempat, ia memandangi istrinya, seperti yang dilakukannya tepat dua tahun sebelumnya. Namun berbeda dengan kali itu, kali ini ia berharap menemukan senyum tak natural itu di wajah istrinya; ia berharap istrinya menunjukkan padanya semacam rasa bersalah atau penyesalan atas perselingkuhan-perselingkuhannya, atas hubungan-hubungan seks laknatnya dengan si lelaki yang namanya tak lagi ia ingat itu. Namun ternyata, ia harus kecewa. Kali ini ia tak mencoba menutupi kekecewaannya namun istrinya tampak tak peduli dan mengabaikannya. Malam harinya sebelum mereka terlelap, ia mengutarakan apa yang ada di benaknya. Dan, seperti yang ia duga, istrinya tampak tak merasa bersalah. Dan itu benar-benar menyakitinya.

“Bagaimana kalau aku pergi saja? Dari rumah ini. Dari kota ini. Dari kehidupanmu,” ujarnya.

Istrinya menatapnya, dan ia tak tahu apa yang tengah berusaha disampaikan tatapan itu.

“Ke mana?”

“Entahlah. Mungkin ke tempat yang jauh. Sangat jauh.”

“Luar pulau?”

“Mungkin.”

Istrinya mengarahkan matanya ke langit-langit, dan ia melakukan hal serupa. Anak mereka tengah tertidur lelap di antara mereka.

“Kalau kau pergi, aku bagaimana?” tanya istrinya.

Ia memikirkannya sejenak, lalu berkata, “Kau akan baik-baik saja. Kau seorang dokter dan penghasilanmu tinggi. Dan kau punya seorang lelaki yang akan menemanimu.”

Istrinya menoleh padanya, dan kali ini di mata perempuan itu ia seperti menemukan sesuatu. Semacam kesedihan, barangkali.

“Lalu anak kita? Kau akan membawanya?” tanya istrinya, sambil terus menatapnya.

Ia balas menoleh, menatap perempuan itu tepat di matanya, seperti akan melesakkan kedua matanya ke mata perempuan itu.

“Ia bersamamu. Aku akan pergi. Aku akan mencari kebahagiaanku sendiri.”

Percakapan itu, semestinya tak berakhir di situ. Tampak sekali istrinya ingin mengatakan beberapa hal lagi. Dan ia pun begitu. Tapi kenyataannya percakapan itu berakhir di situ, dan hari-hari setelahnya bergulir dengan rasa yang lain dari biasanya, dari sebelumnya, dari semestinya. Frekuensi dan intensitas membacanya semakin gila, dan ia mulai benar-benar mencurahkan tenaga dan pikirannya untuk mengasilkan cerita-cerita yang berkualitas. Saat itu ia tak pernah berpikir bahwa ia akan mengirimkan cerita-ceritanya itu ke koran-koran, dan ia pun tak pernah berpikir bahwa dalam waktu kurang dari satu tahun setelahnya ia akan dikenal banyak orang sebagai seorang penulis, atau sastrawan. Pada saat itu, ia menulis lebih untuk melampiaskan kekesalannya, kemarahannya, kekecewaannya, kesedihannya. Ia tahu rumah tangganya tidak akan kembali normal dan tak akan membaik dan karenanya pergi meninggalkan kota itu adalah satu-satunya solusi. Dan ia benar-benar melakukannya, tiga bulan kemudian.

 
TERINGAT hal itu, ia merasa ganjil. Di satu sisi ia tersenyum-senyum, menyadari dulu ia pernah berada dalam situasi seperti itu. Di sisi lain, ia merasa bersalah, dan dengan sendirinya bibirnya membentuk setengah lingkaran yang terbuka ke bawah. Bagaimanapun ia telah meninggalkan istri dan anaknya. Dan itu, tentulah, bukan sesuatu yang akan dilakukan seorang lelaki baik-baik.

Ia membiarkan dirinya untuk terus mengingat-ingat.

Di detik ia menginjakkan kaki di Kota B ini, tujuh atau delapan tahun lalu, ia dalam keadaan bingung sebingung-bingungnya. Ia tak tahu harus ke mana, atau melakukan apa. Sebelumnya ia memang telah meyakinkan dirinya bahwa di Kota B ini ia akan bisa memulai hidupnya yang baru (Kota B adalah salah satu kota tersibuk di pulau ini dan ia menjanjikan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi siapa pun yang berada di sana), namun di detik ia benar-benar berada di kota ini, segala keyakinannya itu lenyap. Ia merasa langkah-langkahnya tak nyata, dan lubang hidungnya lebih seperti mengisap dan mengembuskan asap hitam daripada udara. Kepalanya pun terasa berat, dan berdenyut-denyut. Selama lebih dari sepuluh menit, ia membiarkan dirinya beristirahat dengan duduk dan sesekali memejamkan mata di salah satu anak tangga di dekat pintu kedatangan di Terminal C.

Pada saat itu ia teringat istrinya, dan anaknya. Belum sepuluh jam sejak terakhir kali ia melihat anaknya, dan memeluknya, dan menciuminya. Anaknya itu sedang disuapi si pengasuh-bayi-cum-pembantu-rumah-tangga ketika ia menyelinap ke pintu depan dengan menyeret koper. Tak ada ucapan selamat tinggal. Tak ada lambaian selamat jalan. Istrinya sendiri kebetulan sudah menuju rumah sakit pagi-pagi sekali, dan untuk perempuan itu ia meninggalkan sebuah surat di dalam amplop hitam yang ia letakkan di meja rias. Pada saat ia berada di bandara itu, istrinya mungkin saja telah menemukan surat tersebut dan telah membacanya.

Apa saja yang dikatakannya dalam suratnya itu? Tak banyak. Ia hanya berkata bahwa ia tak bisa lagi bertahan dalam keadaan yang membuatnya tak nyaman itu, dan bahwa ia akan berusaha mencari kebahagiaannya sendiri, meski itu berarti ia harus benar-benar merelakan perempuan itu tak lagi bersamanya, tak lagi berada di sampingnya, dan mungkin sepenuhnya menjadi “milik” lelaki lain. Tentang anaknya sendiri, ia berharap istrinya itu membesarkannya dengan baik. Ia kemudian berkata—lebih tepatnya berbasa-basi—bahwa suatu hari ia mungkin akan kembali untuk sekadar menengok mereka berdua, meski ia tak bisa menduga-duga berapa bulan lagi atau berapa tahun lagi.

Selama di pesawat, ia terus-menerus meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilakukannya ini benar, tepat, dan sudah seharusnya. Lelaki waras mana yang bisa baik-baik saja sementara istrinya berselingkuh dengan lelaki lain? Begitulah ia berpikir. Ia pun jadi heran mengapa selama lebih dari setahun sebelumnya itu ia mau-mau saja bersabar, menerima kenyataan itu dan mencoba berdamai dengannya, padahal itu jelas-jelas menempatkannya sebagai korban, dan secara tak langsung menurunkan “posisi tawar”-nya sebagai suami dan kepala keluarga. Ia tak membenci perempuan itu (tidak, meskipun memang ia merasa tersakiti), namun tetap tak bisa membiarkan dirinya berada lebih lama lagi dalam situasi seperti itu, dan karenanya ia menolak untuk teringat apalagi memikirkan perempuan itu. Perempuan itu adalah masa lalu. Pernikahannya dan rumah tangganya adalah masa lalu. Begitulah berkali-kali ia menggumamkannya, seperti merapalkan mantra untuk dirinya sendiri. Dan sampai sebelum pesawat itu mendarat, upayanya itu terbilang berhasil.

Namun begitulah ketika ia akhirnya menginjakkan kaki di Kota B, apa yang dirasakannya mendadak berubah. Ia mulai menyesal. Ia mulai menyesal telah meninggalkan anaknya dan istrinya, dan kota kecil itu, dan pulau itu, dan kehidupannya itu. Apakah sebaiknya aku kembali saja? tanyanya, kepada dirinya sendiri. Dan dirinya sendiri itu menjawab dengan berkata bahwa itu sesuatu yang konyol, dan tak mungkin. Barangkali akan berbeda jika ia hanya melakukan perjalanan ke luar kota, dengan ongkos yang tidak terlampau mahal. Tapi yang dilakukannya ini, adalah perjalanan ke luar pulau. Bukan saja ongkosnya begitu mahal, ia pun tak yakin bisa menempuh perjalanan serupa hari itu juga, menit itu juga, detik itu juga. Sudahlah. Sebaiknya kau mencoba tabah saja, begitulah dirinya menasihatinya. Dan itulah memang yang dilakukannya.

Keluar dari bandara, bis membawanya melewati tempat demi tempat, kawasan demi kawasan. Ia turun di sebuah kawasan yang berjarak cukup jauh dari bandara. Di sana ia mencari losmen, atau hotel yang biaya sewanya tidak terlalu menguras isi dompet. Tentu saja, ia tak berencana tinggal di losmen atau hotel itu untuk waktu lama. Besoknya ia mulai mencari kos-kosan yang bisa ia isi dan ia menemukannya dan mengangkut semua barang bawaannya hari itu juga. Apa yang dilakukannya kemudian adalah mencari pekerjaan.

Ia sempat berpikir untuk mengajukan lamaran ke sekolah-sekolah swasta di kota tersebut, atau ke lembaga-lembaga bimbingan belajar. Namun, segera ia menghempaskan pikiran itu. Sejak awal niatnya melakukan perjalanan ke luar pulau adalah untuk melupakan kehidupan lamanya dan membangun kehidupannya yang baru, dan ia merasa ia benar-benar harus total dan itu termasuk tidak lagi menjadi guru atau pengajar seperti yang dilakukannya di kota dan pulau yang ditinggalkannya itu. Aku harus mencari pekerjaan lain. Pasti ada yang bisa kulakukan, pikirnya. Berhari-hari ia mencari, berhari-hari ia berusaha, tapi belum juga ada titik terang. Untuk sementara ia memutuskan untuk mencari peruntungan dengan mengirim cerpen-cerpennya ke koran-koran. Dan ia telah menungu selama hampir dua minggu, dan ia merasa peruntungannya buruk.

Di saat ia mulai depresi, ia menemukan sebuah pekerjaan yang dirasanya cocok untuknya. Ada sebuah kafe buku di kota tersebut yang letaknya cukup jauh dari kamar kosnya, dan kafe buku tersebut sedang membuka lowongan untuk seorang pustakawan-cum-penerima-tamu—katakanlah begitu. Ia mendatangi kafe buku tersebut dengan gairah tinggi, dan dengan harapan yang meluap-luap, yang benar-benar tampak kentara di sepasang matanya. Setelah melalui wawancara semi-formal yang penuh tawa, ia diterima.

Penghasilannya sebagai pustakawan-cum-penerima-tamu di kafe buku tersebut sesungguhnya tidaklah tinggi, tapi ia menikmatinya. Di sana tersedia banyak buku dan ia membaca beberapa diantaranya, terutama yang berkaitan dengan kesusastraan seperti novel terjemahan dan kumpulan cerita. Ia bekerja dengan giat, dan seringkali bertahan di kafe tersebut lebih lama meskipun jam kerjanya sudah habis. Di hari-hari di mana ia semestinya libur, kadang-kadang ia datang juga dan membantu pustakawan-cum-penerima-tamu lainnya.

Kabar baik datang setelah ia bekerja di sana selama satu bulan. Sebuah koran nasional, menayangkan cerpennya. Ia membeli dua eksemplar koran tersebut dan memberikan yang satu kepada si pemilik kafe buku, sambil dengan malu-malu menunjukkan sebuah halaman di mana cerpennya itu tayang. Si pemilik kafe buku, mengapresiasi keberhasilannya itu, dan setelah itu memperlakukannya dengan sedikit lebih baik, termasuk dengan meningkatkan gaji bulanannya sekitar 10%. Ia senang, tentu saja. Ia mulai kembali meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilakukannya itu sudah benar dan tepat dan karenanya ia tak perlu menyesal atau merasa bersalah. Sesekali ia masih teringat istrinya, dan anaknya, namun itu tak lagi begitu mengganggunya seperti kejadian di bandara tempo hari itu.

Setelah hari itu ia jadi lebih tergerak untuk menulis dan menulis, dan membaca dan membaca. Ia telah menemukan pekerjaan yang cocok untuknya dan ia mendapati ada koran yang menerima cerpennya, dan dua hal ini saja sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bergairah dan menatap masa depannya dengan senyum cerah. Aku akan menjadi penulis. Itulah yang dipikirkannya. Sekitar dua minggu kemudian satu cerpennya tayang di koran lain dan satu bulan setelahnya dua cerpennya tayang di dua koran berbeda. Ia sumringah. Ia bangga dengan pencapaiannya itu. Si pemilik kafe buku semakin baik memperlakukannya dan gaji bulanannya sudah dinaikkan 10% lagi.

Dalam kurun waktu enam bulan setelahnya, ia mendapati empat cerpennya tayang di koran-koran. Ini semakin melambungkan posisi tawarnya di hadapan si pemilik kafe buku, dan ia sampai ditawari untuk membuka semacam kelas menulis kecil-kecilan di kafe buku tersebut. Ia merasa senang ditawari sesuatu seperti itu, namun saat itu ia menolaknya sebab ia masih merasa kemampuan menulisnya belumlah mengesankan; ia masih harus banyak belajar dan menghasilkan cerpen-cerpen yang lain. Si pemilik kafe buku tak memaksanya. Tanpa dibukanya semacam kelas menulis itu pun, ia sebenarnya sudah dengan sendirinya menjadi tutor bagi rekan-rekan kerjanya dan beberapa pengunjung setia kafe buku tersebut.

Enam bulan berikutnya berlalu dan ia menjalani hari-harinya dengan nyaman. Ia bahkan sudah berhasil memenangkan sebuah sayembara menulis cerpen dan telah diundang untuk mengikuti beberapa acara kesusastraan dan kesenian di beberapa kawasan di Kota B. Orang-orang mulai mengenalnya. Orang-orang mulai membaca cerpen-cerpennya. Di kafe buku itu sendiri, ia akhirnya membuka sebuah kelas menulis dan menutori 10-15 orang. Tak ada yang membuatnya terganggu. Tak ada yang membuatnya tak nyaman. Bahkan kalaupun ia tiba-tiba teringat anaknya dan istrinya, ia bisa segera melupakan mereka.

Suatu ketika, ia jatuh cinta. Perempuan itu adalah salah satu pengunjung baru kafe buku tersebut dan ia langsung tertarik kepada perempuan itu di kesempatan pertama ia melihatnya. Klise? Bisa jadi. Tapi memang begitulah kenyataannya. Perempuan itu berkunjung dua kali seminggu, yakni pada hari Selasa dan hari Kamis. Selalu seperti itu. Ia beberapa kali bercakap-cakap dengan perempuan itu meski hanya untuk membicarakan hal-hal terkait buku dan peminjaman. Semakin lama ia berinteraksi dengan perempuan itu, semakin bisa ia mengingat segala hal sepele tentang perempuan itu, seperti gerak bibirnya atau tatapan matanya, atau aroma parfumnya atau cara berjalannya. Kepada siapa pun di kafe buku tersebut, ia tak pernah menceritakannya. Ia menyimpan perasaannya itu sendiri. Dan meskipun ia merasakan dorongan yang begitu kuat untuk mengungkapkannya, namun ia menahan diri demi tibanya saat yang tepat.

Dan saat yang tepat itu tiba dua bulan kemudian, di sebuah hari Selasa. Dua hari sebelumnya sebuah cerpennya tayang lagi di koran dan cerpen itu ia buat khusus untuk si perempuan, dengan si perempuan tersebut sebagai tokoh utamanya. Cerpen itu sendiri bercerita tentang apa-apa yang berkecamuk di benak perempuan itu setiap kali ia berkunjung ke kafe buku tersebut, setiap kali ia bercakap-cakap dengannya, setiap kali ia berjalan pulang meninggalkan kafe buku tersebut. Tentu saja, banyak sekali unsur fiktifnya, pemanis-pemanisnya, namun ia tak merasa itu sebuah masalah. Di hari Selasa itu, ketika perempuan itu datang berkunjung, ia menunjukkan cerpen tersebut kepadanya.

“Ini untukku?” tanya si perempuan.

Ia mengangguk.

“Maksudku, kau menulis ini untukku?” tanyanya lagi.

Kembali, ia mengangguk.

Perempuan itu tampak senang dan tak percaya dan ia menikmati perubahan raut muka perempuan itu dan gerak-geriknya yang tampak canggung. Ini tentulah sebuah lampu hijau, pikirnya. Setelah hari itu, pada kunjungan-kunjungannya yang berikutnya, perempuan itu selalu menyempatkan waktu untuk mengajaknya bercakap-cakap tentang banyak hal. Pada kunjungannya di hari Selasa itu sendiri, perempuan itu memintanya membacakan cerpen itu di hadapannya, dan ia bisa melihat perempuan itu sedikit-sedikit tersenyum dan memalingkan muka.

Hampir satu bulan kemudian, mereka sudah beberapa kali bertemu di luar kafe buku. Di restoran cepat saji, di bioskop. Di gereja, di stasiun. Perempuan itu rupanya tengah berusaha menyelesaikan studi S2-nya di salah satu perguruan tinggi negeri di Kota A dan ia mengaku suka membaca meski tak suka menulis. “Membaca itu menyenangkan, sementara menulis itu menyusahkan,” ujarnya, di salah satu pertemuan mereka. Kerapkali perempuan itu bertanya apakah ia sudah membuat cerita lagi untuknya dan selalu cemberut usai mendengar jawaban yang membuatnya kecewa. “Aku masih ingin mengumpulkan beberapa hal lagi,” ujarnya suatu ketika, beralasan, dan itu membuat si perempuan tak lagi cemberut, melainkan tersenyum. Ia menikmati waktu-waktunya bersama perempuan itu, seperti ia menikmati waktu-waktunya bersama istrinya dulu.

Dalam keadaan berbunga-bunga seperti itu, teringat kepada istrinya sama sekali tak mengganggunya. Ia tahu ia dan istrinya dulu pernah berada dalam kondisi semacam itu, namun ia sadar bahwa itu adalah masa lalu. Dan masa lalu, bagaimanapun, adalah sesuatu yang “tak ada”. Atau lebih tepatnya, “tak lagi ada”. Yang ada dan benar-benar dirasakannya adalah masa kini, saat ini, detik ini, dan oleh karena itu ia merasa tak perlu terlalu memikirkan masa lalunya itu. Ia sedang menyukai seseorang. Ia sedang mencintai seseorang dan menikmati waktu-waktu menyenangkan dengan seseorang itu. Ia sama sekali tak punya waktu untuk memikirkan hal-hal muram atau tak menyenangkan.

Di usia kedekatan mereka yang memasuki bulan ketiga, mereka melakukan hubungan seks untuk pertama kalinya. Mereka melakukannya di kamar kosnya, dan perempuan itu begitu diam dan pasif selama hubungan seks itu berlangsung. Ini pada awalnya sedikit mengecewakannya, namun kemudian menyenangkannya. Istrinya selalu berisik dan reaktif dalam setiap hubungan seks mereka dan ketika ia melakukan hubungan seks dengan perempuan yang dicintainya itu ia merasa tengah berhadapan dengan kebalikan dari istrinya, dan itu memberinya ketenangan yang aneh. Mungkin perbedaan yang mencolok ini ia lihat sebagai sebuah tanda bahwa ia telah benar-benar mengubah hidupnya, bahwa ia telah benar-benar meninggalkan kehidupan lamanya dan sepenuhnya menjalani kehidupannya yang baru. Apa pun itu, ia begitu menikmati hubungan-seks-pertamanya dengan perempuan itu.

Dalam kurun waktu tiga bulan setelahnya, mereka telah tujuh atau delapan kali melakukan hubungan seks lagi. Dalam kurun waktu itu pula, dua cerpennya tayang lagi di koran. Dan dalam kurun waktu itu pula, ia telah diminta untuk mengisi tiga acara kesenian di kota B, sebagai narasumber. Pendek kata, ia seperti tengah berada di dalam surga.

Namun sesuatu yang buruk menghantamnya tak lama setelahnya. Ia baru saja melakukan hubungan seks dengan perempuan yang dicintainya itu dan ia tengah memeluk perempuan itu dari belakang ketika perempuan itu tiba-tiba berkata, “Kupikir, ini terakhir kalinya kita melakukannya.” Ia terkejut. Segera ia menarik bahu perempuan itu dan membuat mata perempuan itu terarah ke matanya. “Kau serius?” tanyanya, dan perempuan itu mengangguk. “Minggu depan suamiku pulang dan aku tak akan bisa lagi menghabiskan waktu denganmu. Maafkan aku,” ujar perempuan itu. Ia sempat menunggu hingga hampir dua menit kalau-kalau perempuan itu tiba-tiba tertawa atau tersenyum nakal. Sayangnya, itu tak terjadi.

Ia tak pernah membayangkan kedekatannya dengan perempuan itu akan berakhir seperti itu. Dan ia tak pernah tahu, kalau perempuan itu telah bersuami. Selama berbulan-bulan itu si perempuan selalu terlihat sendiri dan bertingkah layaknya perempuan lajang dan karenanya fakta bahwa ia sudah bersuami benar-benar mengejutkannya. Menurut perempuan itu, suaminya sedang dalam urusan pekerjaan di beberapa negara di Eropa sejak setahun sebelumnya. Dan perempuan itu pun berkata, setelah kepulangan suaminya yang tak lama lagi itu ia mungkin akan ikut suaminya ke Eropa dan menetap di sana, sebab studi S2-nya pun sudah selesai. Sungguh, itu bukan sesuatu yang ingin didengarnya saat itu.

“Menurutmu, hukum karma itu benar-benar berlaku?” tanya perempuan itu, setelah mereka sama-sama terdiam beberapa menit lamanya.

“Entahlah. Kenapa memangnya?”

“Aku hanya berpikir, jangan-jangan suatu hari nanti aku merasakan akibat dari apa-apa yang telah kulakukan beberapa bulan ini denganmu. Setiap perbuatan buruk akan dikenai perbuatan buruk lainnya. Setiap kesalahan akan diganjar dengan hukuman.”

“Jadi, apa yang kita lakukan ini bagimu adalah kesalahan?”

“Ya. Kurasa. Setidaknya ini bukan sesuatu yang semestinya. Aku sudah bersuami dan aku berselingkuh denganmu.”

Di titik ini, ia merasa marah, dan kemarahannya itu begitu besar sehingga ia seketika tak lagi mencintai perempuan itu, namun membencinya.

“Kalau kau mau tahu, aku pun sebenarnya sudah beristri,” ujarnya, dengan penekanan yang terdengar berlebihan pada kata “beristri”.

Perempuan itu menatapnya tak percaya, dan ia bisa melihat raut muka perempuan itu terus berubah menjadi semakin busuk dan semakin busuk. Beberapa belas detik kemudian ketika perempuan itu telah mendapatkan ketenangannya, perempuan itu mendorongnya dan membuat dirinya menjauh darinya, dan kemudian memunggunginya. Perempuan itu mulai menangis, tersedu-sedu, dan ia sama sekali tak berusaha menenangkannya.

 
SETELAH berpisah dengan perempuan itu, ia kerap teringat pada percakapan-selepas-berhubungan-seks terakhir mereka. Hukum karma. Kesalahan dan hukuman. Perbuatan buruk. Apakah memang hal itu benar-benar berlaku? gumamnya. Sebelumnya ia benar-benar tak pernah memikirkannya namun selepas berpisah dengan perempuan itu entah kenapa sesuatu tentang hukum karma ini seperti terus menguntitnya ke mana pun ia pergi, dan seperti menunggu-nunggu saat yang tepat untuk muncul dan mengganggunya. Kesalahan dan hukuman. Perbuatan buruk. Jika memang hukum karma itu benar-benar berlaku, maka ia sudah semestinya berada dalam kesulitan. Begitulah menurutnya.

Anggapannya itu sebenarnya masuk akal saja mengingat ia sudah meninggalkan anak dan istrinya begitu saja, tanpa terlebih dahulu memutuskan hubungan pernikahan dengan cara yang dibenarkan hukum, ataupun agama. Selama ini ia selalu berpikir, di hari ia pergi dan istrinya membaca suratnya itu, perempuan itu akan baik-baik saja; ia tak akan marah-marah atau menangis seharian atau kehilangan nafsu makan atau mencoba bunuh diri. Tapi kini, ketika ia memikirkannya, ia menyadari bahwa bisa saja perkiraannya itu salah. Bisa saja istrinya itu bersedih dan menangisinya, dan bahkan berusaha meneleponnya. Di hari itu ia memang membuang nomor lamanya dan baru menggunakan nomor baru di hari kedua ia berada di kota ini. Ia telah benar-benar melakukan sesuatu yang kejam, terutama untuk seorang lelaki yang tidak kurang ajar sepertinya. Dan jika benar apa yang dilakukannya itu telah membuat istrinya kesusahan, dan tersakiti, maka ia tentulah layak mendapatkan ganjaran yang setimpal, meski wujudnya bisa sangat lain. Itu jika memang hukum karma itu sungguh-sungguh berlaku.

Ia mencoba mengingat-ingat apa saja yang telah dialaminya dan menimpanya sejak hari ia pergi meninggalkan kota dan pulau kelahirannya itu, dan yang ia temukan justru hal-hal yang ia anggap positif. Cerpen-cerpennya tayang di koran-koran, ia memperoleh pekerjaan yang cocok untuknya. Ia kerap diundang ke acara-acara kesenian, ia memenangkan sebuah sayembara menulis cerpen. Semua itu hal-hal yang baik. Dan bahkan ia jatuh cinta kepada seorang perempuan dan sempat menjalani hari-hari yang menyenangkan bersama perempuan itu, jika itu perlu juga disebut. Satu-satunya hal yang bisa ia anggap negatif barangkali adalah bahwa ia harus mengakhiri hari-hari menyenangkannya dengan perempuan itu dengan cara yang buruk. Hanya itu.

Di titik ini ia tentu punya dua pilihan. Ia bisa memilih untuk tak percaya bahwa hukum karma itu benar-benar berlaku, sebab kenyataannya ia nyaris tak mengalami atau ditimpa hal-hal buruk sejak hari ia meninggalkan anak dan istrinya itu. Atau, ia bisa memilih untuk percaya bahwa hukum karma itu benar-benar berlaku, dan kenyataan bahwa sejauh ini ia nyaris tak mengalami atau ditimpa hal-hal buruk menandakan bahwa hal-hal buruk itu sedang menunggunya, di masa depan. Dan ia rupanya lebih cenderung memilih yang kedua.

Dalam keadaan tak sedang berbunga-bunga dan tak sedang bersama siapa-siapa, ia jadi mudah murung. Ketika ia kembali teringat istri dan anaknya, ia tak lagi bisa begitu saja melupakan mereka. Ingatannya dengan sendirinya membawanya terseret ke kejadian-kejadian yang ia alami dulu, bersama anak dan istrinya. Rumah-kerja itu, ruang baca itu, perselingkuhan itu. Kepulangan-menjelang-pukul-sembilan itu, percakapan-selepas-anak-mereka-tidur itu, pesan-video itu. Untuk pertama kalinya, sejak ia berhasil melupakan semua itu, ia kembali merasa marah, kesal, dan sakit. Dan seandainya ingatannya tidak menipunya, rasa sakitnya kali ini lebih besar dan lebih kuat daripada yang dulu dirasakannya. Selama kira-kira satu bulan ia tak bisa menikmati aktivitas membacanya. Ia pun selalu saja gagal merampungkan cerita-cerita yang tengah ditulisnya.

Seandainya di bulan-bulan setelahnya kondisinya semakin memburuk, ia mungkin akan percaya bahwa hukum karma itu memang berlaku, dan ia tengah memanen apa yang dulu ditanamnya. Namun, yang terjadi adalah kondisinya begitu saja membaik, dan semakin lama semakin membaik. Satu bulan itu agaknya sudah dirasanya cukup untuk meratap dan menyesali perbuatannya dan menyalahkan dirinya sendiri. Setelah itu, ia kembali menemukan gairah membacanya, dan kembali berhasil merampungkan cerita-ceritanya, dan lagi-lagi mendapati dua-tiga cerpennya tayang di koran-koran. Sampai berbulan-bulan lagi berlalu pun, ia tak merasa mengalami atau ditimpa hal-hal buruk yang bisa dianggap sebagai balasan atas apa yang dilakukannya itu.

Pandangannya terhadap hukum karma pun pada akhirnya berubah menjadi seperti ini: ia tidak benar-benar berlaku, atau benar-benar berlaku namun hanya pada sebagian orang saja. Dan menurutnya, ia bisa jadi bukanlah termasuk yang sebagian orang itu.

Pandangannya itu tentu saja sangat bisa diterima. Di kehidupan ini, apakah setiap orang yang melakukan perbuatan buruk menerima hukumannya sebelum ia mati? Rasanya tidak. Ada yang justru hidupnya tenang-tenang saja, atau bahkan sejahtera. Kadang kalaupun ia mengalami atau ditimpa hal-hal buruk, kadarnya masihlah sangat jauh dari perbuatan buruk yang pernah ia lakukan. Hukuman itu menjadi bukan hukuman, melainkan peringatan semata. Memang ada juga yang mengatakan bahwa jikapun di kehidupan ini orang tersebut tak menerima hukumannya maka di kehidupan berikutnya—entah ini maksudnya ia hidup kembali sebagai orang lain dengan ingatan yang baru atau malah kehidupan di alam gaib seperti surga atau alam kubur—ia akan menerima hukumannya. Benar-benar menerima hukumannya. Tapi itu tentulah tidak adil. Dan juga ganjil. Apa gunanya ia menerima hukumannya itu jika ia sudah mati, jika ia sudah berada di alam lain, jika ia sudah tak akan lagi berurusan dengan orang-orang yang pernah dirugikannya? Dan ini menjadi lebih ganjil lagi jika tujuan di balik diberlakukannya hukum karma adalah untuk membuat orang-orang berpikir ulang ketika tergerak untuk melakukan hal-hal buruk.

Begitulah juga si tokoh utama dalam cerita ini memikirkannya. Hukum karma. Kesalahan dan hukuman. Perbuatan buruk. Jika memang aku akan mengalami hal-hal buruk maka biarlah itu terjadi. Tapi aku tak akan memikirkannya, gumamnya. Dan bulan demi bulan pun berlalu, dan ia tak mengalami hal-hal buruk itu. Dan tahun demi tahun pun berlalu, dan ia tak mengalami hal-hal buruk itu. Yang dialaminya justru adalah hal-hal yang menyenangkan, yang melambungkannya, yang membuatnya sukses dan beroleh banyak penerimaan dan pekerjaan. Di awal tahun ketiganya di Kota B ini, misalnya, ia memenangkan sebuah sayembara menulis novel dan novelnya itu kemudian dibeli banyak orang ketika beredar tiga-empat bulan kemudian. Dan di tahun-tahun setelahnya, ia telah mengeluarkan dua kumpulan cerita dan satu novel lagi, yang masing-masingnya diterima dengan sangat baik oleh pembaca dan diperbincangkan cukup intens di kalangan penulis, dan juga beroleh penghargaan-penghargaan sastra. Jika memang hukum karma itu benar-benar berlaku, maka itu pastilah hanya kepada sebagian orang dan ia bukan termasuk yang sebagian itu.

 
DI tahun keempatnya di kota ini, ia tak lagi bekerja di kafe buku itu. Penghasilannya dari menjadi penulis full-time sudah sangat oke dan ia juga membuka kelas-menulisnya sendiri, di sebuah ruko yang letaknya tak jauh dari kamar kosnya. Ia menikmati masa-masa jayanya, meski ia tak sedang menjalani hubungan percintaan dengan siapa pun. Membaca dan menulis itu sendiri sudah menjadi dua hal istimewa baginya dan mampu membuatnya mengabaikan hal-hal yang sedang tidak atau belum dimilikinya. Ia terus menulis dan menulis. Ia terus membaca dan membaca. Kadang-kadang ketika tak sedang ada panggilan “kerja”, ia benar-benar menghabiskan waktunya di kamar kosnya dengan melahap novel-novel tebal atau menulis cerita-cerita panjang.

Suatu malam si pemilik kafe buku meneleponnya dan menanyainya mengapa ia tidak lagi main ke kafe buku itu. Saat itu memang sudah cukup lama sejak ia berhenti bekerja dari kafe buku tersebut—hampir empat bulan—dan ia, jujur saja, memang tak pernah memikirkan lagi kafe buku tersebut. Mungkin seperti halnya ia meninggalkan dan melupakan kehidupannya lamanya sebagai guru honorer dulu, seperti itu pulalah ia meninggalkan dan melupakan kafe buku tersebut. Atau mungkin, ia hanya sedang teramat menikmati masa-masa nyamannya saja. Ya, yang terakhir ini agaknya yang benar. Setelah percakapan via telepon dengan si pemilik kafe buku itu berakhir, ia mulai kembali memikirkan kafe buku itu, dan niat untuk main ke sana pun sedikit-sedikit timbul.

Sebab ia memiliki kelas menulis yang harus ia kelola dan sewaktu-waktu ia isi, dan sebab ia sedang berusaha menulis novel keduanya, ia tidak bisa sesuka-hatinya meluncur ke kafe buku itu dan menghabiskan waktu seharian di sana. Ia harus menentukan jadwal. Dan setelah melakukan perhitungan singkat di dalam benaknya, ia mendapatkan jadwal kunjungan itu, yakni Selasa dan Kamis. Pada dua hari itu ia tidak harus mengisi kelas menulisnya dan juga tidak sedang akan melanjutkan draft novel keduanya. Baru satu bulan kemudian ia menyadari, jadwal kunjungannya ke kafe buku itu persis sama dengan jadwal kunjungan si perempuan yang kepadanya ia pernah jatuh cinta itu.

Sebelum ia menyadari hal itu, kunjungannya ke kafe buku tersebut selalu sebuah kunjungan yang menyenangkan. Ia bertemu si pemilik kafe buku, dan bertemu teman-temannya dulu. Sebagian dari pengunjung kafe buku tersebut pun mengenalnya dan menyempatkan diri bercakap-cakap dengannya tentang berbagai hal. Sepulangnya ia dari kafe buku tersebut, meskipun di sana ia telah menghabiskan waktu seharian, ia tak pernah merasa lelah, atau kehilangan waktu luangnya untuk sesuatu yang percuma. Kunjungan rutinnya ke kafe buku tersebut justru meningkatkan imajinasinya dan memperkaya kosa katanya. Ketika ia lanjut menggarap daft novelnya, ia merasa aktivitas itu semakin ringan dan ringan saja dari waktu ke waktu.

Namun setelah ia menyadari hal itu, ia mulai sering merasa terganggu. Ketika ia berjalan menghampiri kafe buku tersebut, ia membayangkan si perempuan yang pernah dicintainya itu melakukan hal yang sama. Ketika ia berada di kafe buku tersebut dan memilih-milih buku, ia pun membayangkan perempuan itu melakukan hal yang sama. Dan ketika ia tengah membaca sebuah buku yang dipilihnya di sebuah meja kecil di dekat jendela, lagi-lagi, ia membayangkan si perempuan melakukan hal yang sama. Segala sesuatu tentang kafe buku tersebut mengingatkannya kepada si perempuan, dan itu membuat bayangan si perempuan itu di benaknya semakin jelas dan semakin jelas. Pada akhirnya ketika ia tengah menempuh perjalanan pulang pun, dan ketika ia telah berada di kamar kosnya, bayangan perempuan itu tak juga mau enyah dari benaknya. Bahkan, beberapa kali saat ia tengah bermalas-malasan di kamarnya itu, ia teringat hubungan seksnya dengan perempuan itu. Lama-lama ini membuatnya jengah dan ia merasa tak lama lagi ia akan gila, jika ia tak melakukan sesuatu untuk mengatasinya. Dan sekitar enam minggu kemudian, ia menemukan solusinya.

Menurutmu apa yang dilakukannya itu? Pergi ke gereja, dan melakukan pengakuan dosa? Bukan. Ia tidak sereligius itu. Ia bahkan tidak religius sama sekali. Atau membeli Al-Quran dan buku-buku penyejuk hati, dan membacanya selama berhari-hari? Bukan juga. Bertahun-tahun telah berlalu sejak ia pindah agama dan ketika ia masih Muslim pun ia bukan orang yang taat dan suka mengaji. Lalu apa? Apa yang dilakukannya itu? Akan kuberitahu. Dan mungkin kau lagi-lagi akan sedikit mengerutkan kening usai mengetahuinya.

Yang dilakukannya untuk mengatasi kejengahannya itu adalah menggunakan jasa perempuan panggilan. Tapi kau keliru jika mengira ia menghubungi rumah pelacuran atau mucikari atau gigolo. Tidak. Ia tidak segegabah itu. Perempuan yang ia panggil adalah seseorang yang “menjajakan” dirinya di twitter. Pada awalnya ia ragu perempuan itu akan benar-benar datang namun setelah melakukan penelitian berhari-hari ia mendapati bahwa perempuan itu bisa dipercaya. Di akun twitter perempuan itu, ia menemukan banyak hal yang bisa dijadikan bukti kebersungguh-sungguhan si perempuan dan keprofesionalannya. Dan ketika perempuan itu akhirnya berdiri tepat di hadapannya, ia bernapas lega. Seperti penampilannya di akun twitternya, perempuan itu memang mengesankan, dan menggiurkan. Ia dan perempuan itu menikmati kebersamaan mereka selama kira-kira 5 jam di sebuah kamar hotel di Kota B. Untuk kenikmatan yang dirasakannya itu, ia harus membayar si perempuan lumayan mahal.

Si perempuan inilah yang kemudian kerap ia panggil secara rutin 3-4 kali setahun. Tanggal bisa berbeda, tetapi bulan selalu sama. Sebenarnya ia terpikir juga untuk memanggil perempuan itu lebih sering mengingat jasanya luar biasa memuaskannya dan ia mulai jatuh suka kepada perempuan itu. Namun, ia tahu, itu tak mungkin. Perempuan itu memiliki pelanggan-pelanggan tetap yang lain dan kehadirannya di hadapannya adalah murni untuk mendapatkan uang; tidak ada rasa suka atau cinta ataupun semacamnya. Akan tetapi, sebab mereka terus bertemu dan bertemu, mereka pun jadi cukup nyaman untuk saling bertukar cerita, bahkan bertukar rahasia—untuk yang terakhir ini baru akan benar-benar berlaku dua arah dalam satu tahun terakhir. Ia tak tahu apakah perempuan itu mengatakan hal yang sebenarnya atau hanya membual, tapi ia tak peduli. Yang ia nikmati dari si perempuan toh bukan apa-apa yang diceritakannya itu, melainkan bagaimana ia menceritakannya. Hampir selalu, perempuan itu seperti sengaja membuat gerakan bibirnya agar lawan bicaranya terpikat. Kadang-kadang ketika perempuan itu sedang bercerita, ia begitu saja melumat bibir perempuan itu dan mengisap-isapnya.

Rutinitas barunya ini cukup bisa membuatnya rileks. Ia telah menyelesaikan novel keduanya dan tengah menunggu kabar baik dari seorang redaktur kenalannya. Dan ia masih rajin berkunjung ke kafe buku itu dan kali ini tak merasa terganggu. Sesekali, ia masih teringat kepada perempuan yang konon mengikuti suaminya ke Eropa itu, namun ia tak lagi merasa itu begitu mengganggunya. Jika kebetulan ketika ia teringat perempuan itu si perempuan panggilan sedang bisa ia gunakan jasanya, ia akan memanggilnya, dan melampiaskan kerinduannya itu kepadanya. Si perempuan panggilan tak pernah mengeluhkan apa pun dan itu cukup membantunya. Suatu ketika ia bahkan menceritakan kerinduannya kepada si perempuan yang pergi ke Eropa itu dan si perempuan panggilan menyimaknya dengan hangat dan memberinya servis yang mengenyangkan dan memuaskannya.

Di tahun ketiga ia mengenal perempuan itu, ia mengutarakan keinginannya untuk menahan perempuan itu lebih lama. Saat itu bulan Desember dan sebentar lagi Natal dan ia sedang tak ingin menikmatinya seorang diri. Memang, ia tidak benar-benar seorang Kristiani, tetapi ia tetap merasa berhak menikmati Hari Raya Natal dengan penuh suka cita, bersama seseorang. Dan karena ia tidak sedang dalam hubungan percintaan dengan siapa pun, perempuan itulah yang melintas di benaknya. Dari pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya ia telah tahu bahwa perempuan itu seorang Kristiani dan bahwa ia pun tidak sedang dalam hubungan percintaan dan tidak selalu menikmati Hari Raya Natal bersama keluarganya. Namun, sayang sekali, perempuan itu menggeleng. Dikatakannya bahwa untuk Natal kali itu ia sudah punya jadwal sendiri bersama teman-temannya, dan apa yang akan dilakukannya itu dirasanya jauh lebih penting dan jauh lebih berguna daripada apa yang ditawarkan si tokoh utama. Dan bisakah kau menebak apa yang akan dilakukannya itu?

Perempuan itu mengatakan bahwa di Hari Raya Natal itu ia dan teman-temannya akan mengikuti sebuah misa yang juga dimaksudkan sebagai aksi protes. Ada sebuah gereja yang pembangunannya diberhentikan paksa beberapa tahun yang lalu, dan misa itu akan dilangsungkan di depan atau di dekat gereja tersebut. Begitulah perempuan itu berkata. Perempuan itu kemudian bercerita tentang bagaimana ia mengetahui gereja yang baru setengah jadi tersebut dan bagaimana ia sampai bisa tertarik untuk mengikuti misa-cum-aksi-protes itu. Dan gereja itu sendiri, rupanya, ada di sebuah kawasan maju di Kota B.

Ia merasa konyol sebab meski ia telah bertahun-tahun menetap di Kota B namun ia sama sekali tak tahu apa-apa tentang gereja tersebut. Seolah-olah, selama bertahun-tahun itu ia hanya sibuk memikirkan dirinya, hanya membiarkan dirinya tenggelam dan terjebak di dalam dunia-dunia-rekaannya, cerita-ceritanya. Si perempuan panggilan itu mengatakan bahwa kasus pemberhentian paksa pembangunan gereja itu terjadi empat tahun sebelumnya, dan itu semakin membuatnya merasa konyol dan tak berguna, dan tak pantas menyebut dirinya penulis cerita. Bagaimanapun, tidak seperti halnya seorang pemain sepakbola atau atlet bulutangkis, seorang penulis cerita memiliki tanggungjawab moral untuk mengangkat apa-apa yang terjadi di sekitarnya ke dalam apa yang dilakukannya (baca: menulis cerita), dan karenanya melewatkan kasus pemberhentian paksa gereja itu adalah sesuatu yang sangat menghantamnya. Setidaknya begitulah ia melihatnya. Usai pertemuannya dengan perempuan itu, ia mulai mencaritahu segala hal tentang gereja tersebut. Beberapa minggu kemudian ia mulai mencoba mengangkatnya ke dalam cerita-ceritanya.

Satu hal lainnya yang kerap dipikirkannya dari pertemuannya dengan perempuan itu adalah si perempuan sendiri. Ia perempuan panggilan, ia meladeni permintaan lelaki-lelaki yang ingin berhubungan seks dengannya, namun ia justru memberikan dukungan yang nyata untuk berdirinya sebuah gereja, yang bisa jadi sebenarnya tidak akan banyak dikunjunginya kendatipun kelak gereja itu berdiri. Sungguh kontras, pikirnya. Tentu orang-orang yang mengikuti misa-cum-aksi-protes itu tak tahu tentang aktivitas-aktivitasnya dan karena itu mereka senang-senang saja ada satu orang lagi yang ikut membantu perjuangan mereka. Namun, kalaupun mereka tahu, bisa jadi mereka tak akan mempermasalahkannya. Lagipula apa korelasinya dukungan si perempuan terhadap gereja itu dengan aktivitas-aktivitasnya yang ilegal dan tak berbudi itu? Agaknya tak ada. Tetapi tentu setiap orang punya cara pandangnya masing-masing, pikirnya segera, mengoreksi pernyataannya sendiri. Dan aku mungkin tak perlu terlalu memikirkannya, sambungnya. Lalu tiba-tiba ia teringat si perempuan yang pernah dicintainya, dan teringat bahwa bersama perempuan itu ia pernah beberapa kali mengikuti misa di gereja. Bersama istrinya di kota kelahirannya dulu, ia hampir-hampir tak pernah memasuki gereja.

 
UNTUK pertama kalinya dalam kurun waktu empat bulan tak satu pun koran menayangkan cerpennya. Ini membuatnya kesal. Ia kemudian mengutuki para redaktur koran yang tak berani menampung cerpen-cerpennya itu hanya karena di dalamnya ada masalah agama, lebih tepatnya perselisihan para pemeluk agama. Apa ini karena aku masih terbilang muda? Apa ini karena posisi tawarku belum benar-benar oke? keluhnya. Sebelumnya ia pernah membaca cerpen-cerpen yang mengangkat masalah agama yang ditayangkan di koran dan memang para penulisnya adalah orang-orang yang memiliki nama besar dan posisi tawar tinggi.

Satu-satunya hal yang sedikit mengobati kekesalannya adalah bahwa ia baru saja dikabari seorang teman redakturnya mengenai draft novel keduanya. Menurut si redaktur tersebut, novelnya itu sudah sangat oke, dan akan diterbitkan dalam waktu dekat. Ia mengulang-ulang berita baik ini di dalam benaknya untuk membuatnya tetap bergairah dan terus menulis. Pernah sebenarnya, saking kesalnya ia kepada para redaktur koran itu, ia sampai hampir tiga minggu lamanya tak menulis apa pun. Apa pun.

Sambil menunggu kabar baik lainnya dari teman redakturnya itu, ia mencoba menulis cerita baru. Kali ini ia berpikir untuk membuat sebuah autobiografi, semacam autobiografi. Ia akan menceritakan apa-apa yang dialaminya di kota kecilnya itu, bersama istri dan anak perempuannya, dan ia juga akan menceritakan apa-apa yang dialaminya di Kota B ini, selama bertahun-tahun, dengan dua sosok perempuan yang kemudian kerap ditemuinya. Akan seperti apa ceritanya ini? Ia tidak tahu. Ia belum memikirkannya. Dan untuk apa ia membuat cerita yang adalah semacam autobiografi ini sendiri, ia juga tidak tahu, dan tak pernah memikirkannya. Ketika ia menulis cerita ia memang tidak pernah benar-benar memikirkan tujuan atau misi di baliknya—kecuali cerita-ceritanya yang mengangkat gereja yang pembangunannya diberhentikan paksa itu—melainkan hanya menulis dan menulis dan melakukan penyaringan adegan dan penyuntingan seperlunya. Soal pesan moral, ia bisa memikirkannya di tengah-tengah menulis cerita, lantas menyisipkannya, dan memolesnya. Begitulah yang biasanya terjadi. Ia memang menganggap aktivitas menulis cerita lebih sebagai upaya bersenang-senang ketimbang memberikan nasihat atau menyampaikan gagasan-gagasan.

Ia sedang menggarap babak awal cerita ketika ia berhenti dan berpikir tentang detail tokoh-tokohnya, terutama si tokoh utama yang adalah representasi dari dirinya—meski tidak sampai 100%. Ia berpikir, apakah si tokoh utama ini mesti dikenai detail yang mendalam termasuk soal bagaimana perawakannya dan seperti apa selera berpakaiannya, atau tidak. Memang detail fisik seperti itu bisa membuat pembaca merasa begitu dekat dengan si tokoh utama, begitu dekat sampai-sampai mereka bisa menentuhnya dan menggenggamnya, dan merasakannya. Tapi, ia sesungguhnya tidak merasa itu sesuatu yang benar-benar perlu. Ia justru lebih ingin mengarahkan perhatian pembaca kepada hal-hal yang sifatnya tak tampak, tak terlihat, namun krusial, seperti sifat dan tingkah laku si tokoh. Untuk penampilan fisik si tokoh utama pembaca bisa menentukannya sendiri, pikirnya. Ia juga menganggap apa yang dilakukannya itu adalah sebuah upaya untuk menunjukkan bahwa sifat dan tingkah laku seseorang, hal-hal yang tidak tampak dari seseorang, jauh lebih penting dan krusial dari penampilan fisiknya, hal-hal yang tampak dan kasat mata darinya.

Berhari-hari ia menggarap ceritanya itu. Pada awalnya ia berniat menyelesaikan cerita itu sebelum mencapai 10 ribu karakter untuk kemudian ia coba kirimkan ke koran, namun seiring waktu berlalu ia mendapati ceritanya itu tidak akan mungkin diakhiri dengan batasan karakter sependek itu; cerita itu seperti memiliki kehendaknya sendiri untuk menerobos batasan karakter itu demi mencapai sesuatu yang lebih penting dan lebih esensial, seperti keutuhan dan kualitas. Ia terus menulis, dan menulis. Ia tak lagi memikirkan batasan karakter atau koran/majalah/jurnal mana yang bisa menampung cerpennya itu. Di suatu titik ia berhenti. Ia merasa semakin lama kompleksitas di dalam ceritanya itu semakin tinggi dan itu memaksanya berpikir lebih keras untuk menghindarkan ceritanya itu dari kesemrawutan.

Sebagai sebuah semi-autobiografi (pada akhirnya ia meniatkannya sebagai “semi-aitobiografi” alih-alih “autobiografi”), cerita itu tentu tak tak perlu sepenuhnya sama dengan apa yang benar-benar dialaminya. Sebagian detail bisa diubah atau ditiadakan, demi mencapai efek atau tujuan tertentu. Begitulah ia berpikir. Dan salah satu detail yang ia ubah (dan kemudian ia hilangkan) adalah tentang orang tua si tokoh utama, juga kehidupan masa kecilnya dan agama lamanya. Ini dilakukannya untuk membuat ceritanya itu tidak terlampau kompleks sekaligus untuk memudahkannya menghindarkan cerita tersebut dari kesemrawutan yang mengancamnya.

Orangtuanya sendiri, yang sebelumnya tidak pernah disinggung dalam cerita ini (cerita yang sama-sama kita simak ini, bukan cerita yang sedang ditulisnya), memang sudah sejak lama tak lagi menjalin hubungan dengannya. Hubungan dan ikatan di antara mereka putus saat ia menikah dengan istrinya, lebih dari sepuluh tahun lalu itu. Ia dan orangtuanya memeluk agama Islam dan mereka mengecam keinginannya untuk menikahi seorang perempuan di luar lingkaran agama mereka. Pada saat ia membawa perempuan yang kelak menjadi istrinya itu ke rumah orangtuanya, dengan maksud membujuk dan meyakinkan mereka, kedua orangtuanya itu justru melontarkan sumpah-serapah dan meninggalkannya dan masuk ke kamar, dan tak pernah menunjukkan batang hidungnya lagi sampai ia membawa perempuan itu pergi. Adik-adiknya sendiri, yang semuanya perempuan dan memang tak akur dengannya, menatapnya dengan benci.

Ia sungguh-sungguh tak mengerti mengapa mereka sampai bersikap sekasar itu. Perempuan yang dibawanya itu adalah perempuan baik-baik (meski kelak ia berselingkuh), dan menjaga sopan-santunnya selama berada di rumah tersebut. Hanya karena ia Kristen, orang-orang di rumah itu lantas membencinya. Ah, bukan. Bukan begitu. Yang benar adalah, hanya karena ia Kristen dan aku akan menikahinya, orang-orang di rumah itu lantas membencinya. Begitu ia meralat dugaannya. Sejak saat itu ia mulai berpikir untuk memutuskan hubungan dan ikatan dengan mereka. Dan itulah yang terjadi, saat ia akhirnya menikahi perempuan itu, di sebuah gereja.

Tentang dirinya sendiri, yang kemudian berganti agama, ia tak pernah benar-benar memikirkannya. Dan ia pun, sungguh merasa, orangtuanya (dan adik-adiknya) itu tak perlu benar-benar memikirkannya. Kendati memang agamanya sebelumnya (yang tertera di KTP) adalah Islam, namun ia tak pernah merasa dirinya menjalani hari-harinya sebagai orang Islam versi para ulama. Ia hampir tak pernah salat, dan tak berpuasa di bulan Ramadhan. Dan ia pun tak pernah membeli Al-Quran, apalagi membacanya. Islamnya benar-benar Islam KTP dan karenanya ia merasa tak ada masalah berarti ketika ia akhirnya memeluk agama lain seperti Kristen. Tapi orangtuanya, tak mau mengerti. Begitu juga adik-adiknya. Mereka pun nyaris sama-sama Islam KTP-nya dengannya namun mereka seperti menganggap bahwa itu masihlah jauh lebih baik ketimbang memeluk agama lain selain Islam.

Begitulah sekilas tentang orangtuanya, dan adik-adiknya, dan kini kau tentu paham mengapa mereka sama sekali tak kusinggung di sepanjang cerita tadi. Dan mungkin, kau pun kini paham, bahwa si tokoh utama ini memang memiliki kecenderungan untuk memutuskan hubungan atau ikatan begitu saja, lantas memulai hidupnya yang baru. Ia memutuskan hubungan dengan orangtuanya (dan adik-adiknya), kemudian memulai hidupnya yang baru dengan istrinya (dan anaknya). Dan suatu hari ia memutuskan hubungan dengan istinya itu (juga anaknya), dan memulai hidupnya yang baru di kota ini, dan bertemu seorang perempuan dan menjalin hubungan dengannya. Kemudian, ia memutuskan hubungan dengan perempuan itu, lantas memulai hidupnya yang baru, meski masih di kota ini, dan menjalani rutinitas 3-4 kali setahun dengan seorang perempuan lain. Jika memang si tokoh utama ini masihlah orang yang sama, maka ia akan juga memutuskan hubungannya dengan si perempuan lain itu, cepat atau lambat.

Namun itu urusan nanti, dan aku tidak akan membahasnya. Tidak di cerita ini. Sekarang aku akan mengajakmu kembali ke upaya si tokoh utama ini menulis cerita semi-autobiografinya itu.

Ia menyelesaikan cerita semi autobiografinya itu di hari kesepuluh. Cerita itu begitu panjang dan sungguhlah lebih pantas disebut novelet ketimbang cerpen. Namun barangkali, untuk disebut novelet pun masih kurang panjang. Entahlah apa kemudian sebutan untuk cerita itu. Mungkin cerbung. Tapi cerbung baru disebut cerbung jika ia ditayangkan secara berkala bagian per bagiannya di sebuah koran, atau majalah, atau jurnal. Sementara ia, setidaknya saat itu, sama sekali tak berniat mengirimkannya ke media massa-media massa tersebut. Sejak awal ia memang menulis cerita semi-autobiografi ini untuk menghibur dan memuaskan dirinya semata.

Pada akhirnya ia memilih untuk menayangkan cerita semi autobiografinya tersebut, seluruhnya, di blog pribadinya, untuk kemudian ia share di salah satu akun media sosialnya. Mulanya, ia berpikir untuk menyimpannya saja, namun kemudian ia merasa itu sesuatu yang sia-sia dan tak berguna. Untuk apa juga membuat cerita panjang-panjang tanpa seorang pun membacanya? pikirnya. Memang ia bisa menyimpan cerita itu untuk keperluan tak terduga suatu hari semisal salah satu teman redakturnya memintanya menyiapkan sebuah kumpulan cerita. Tapi, menurutnya, apa yang akan terjadi nanti adalah soal nanti. Jika memang ia kelak terpaksa menyertakan cerita semi autobiografinya ini, ia toh bisa menghapusnya dari blog pribadinya dan sedikit merevisinya di sana-sini. Ia menilai apa yang dilakukannya ini sama sekali tak merugikannya.

Beberapa hari kemudian, ia mendapati beberapa orang mengomentari postingannya di salah satu akun media sosialnya itu, dan sebagian besar adalah cemoohan atau hujatan atau bahkan makian. Ini karena aku menyinggung-nyinggung soal gereja yang pembangunannya diberhentikan paksa itu, pikirnya. Ia telah membaca satu per satu dari komentar-komentar itu dan membalas beberapa diantaranya, dengan kalimat-kalimat yang teramat formal dan tanpa emoticon. Usai melakukannya, ia terdiam sesaat, kemudian tersenyum, kemudian tertawa-tawa. Ia tak habis pikir orang-orang itu begitu reaktif dan begitu sensitif dan komentar-komentar mereka seakan-akan menunjukkan kegagalan mereka dalam menangkap apa yang berusaha ia sampaikan dalam ceritanya itu (baca: pesan moral yang baru ia pikirkan di tengah-tengah cerita dan kemudian ia sisipkan sedemikian rupa). Mereka mungkin tidak terbiasa mencaritahu apa-apa yang tak terkatakan dan hal-hal yang tersembunyi, pikirnya. Ia pun menduga mereka sama sekali tak bisa merasakan humor yang ia bubuhkan ke dalam ceritanya itu.

 
KETUKAN-KETUKAN di pintu menyeretnya kembali ke titik-saat-ini. Seseorang di balik pintu rupanya adalah pegawai losmen, dan ia menanyakan apakah ia akan segera berkemas atau justru memperpanjang masa inapnya, mengingat limit waktunya tinggal kurang dari satu jam lagi dan ada tamu lain yang membutuhkan kamar—yang terakhir ini sebenarnya dugaannya saja. Ia bilang, ia akan memperpanjang masa inapnya, dan untuk sementara tak ingin diganggu, dan begitulah si pegawai pergi. Ia ingin meraih ponsel untuk mengecek ini jam berapa namun kebutaannya masih belum berakhir. Ditariknya sebuah napas panjang, dan dihempaskannya perlahan. Ia mulai berpikir ia akan mengalami kebutaannya ini untuk waktu yang lama.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu sejak ia mulai membiarkan dirinya tenggelam dalam ingatannya itu. Mungkin satu jam. Atau bahkan dua-tiga jam. Ia pun takjub bahwa ia bisa menelusuri kejadian-kejadian yang dialaminya dalam kurun waktu bertahun-tahun itu hanya dalam hitungan jam saja, seolah-olah ukuran waktu dalam ingatan tidaklah sama dengan ukuran waktu di dunia nyata. Atau mungkin, itu karena ia tidak mengingat setiap hal yang dialaminya itu dengan detail yang sama, dengan urutan yang sama, dengan fokus yang sama, sehingga ia begitu saja melewati hari demi hari dan bulan demi bulan dan tahun demi tahun yang dirasanya tak menarik. Dunianya dalam ingatan itu tak bersifat utuh, melainkan terpecah-pecah, terfragmen-fragmen, dan ketika mengingat itu ia hanya mengambil sejumlah kecil saja dari pecahan-pecahan itu. Namun apa pun itu, ia telah mengingat-ingatnya, dan itu membuatnya merasakan berbagai hal sekaligus seperti senang, sedih, tergelitik, kecewa. Ia telah memutuskan untuk memperpanjang masa inapnya dan kini ia punya waktu leluasa untuk mengatasi segala yang dirasakannya itu dan kembali memikirkan apa yang akan—dan harus—dilakukannya. Tentu saja di sini kita berbicara tentang kebutaannya itu.

Setidaknya aku masih punya waktu satu hari sebelum acara di Kota A itu, pikirnya.

Ia bangkit dari tempat tidur, dan berjalan menuju kamar mandi. Kali ini ia tak membutuhkan waktu lama. Di kamar mandi ia pun tak begitu kesusahan menentukan di sebelah mana kloset dan di sebelah mana bak mandi dan di sebelah mana shower. Ia sebenarnya merasa ini aneh, bahwa beberapa jam berada dalam kebutaan ia seperti telah mulai bisa berdamai dengannya. Apakah ini artinya kemampuan beradaptasiku lumayan bagus? gumamnya. Ia lantas mengubung-hubungkan kemampuan adaptasinya itu dengan bagaimana ia selama ini meninggalkan sebuah babak dalam hidupnya untuk kemudian menjalani babak yang baru. Dan memang, aku pada akhirnya selalu berhasil, dan tak membutuhkan waktu yang terlalu lama, pikirnya. Untuk pertama kalinya ia mulai merasa optimis bahwa ia akan baik-baik saja meskipun kebutaannya ini akan dialaminya untuk waktu yang lama.

Ponselnya berdering tepat di saat ia keluar dari kamar mandi. Setelah meraba-raba beberapa detik, ia mendapatkan ponselnya, dan meraihnya dan menerima panggilan. Si penelepon rupanya si perempuan yang beberapa jam sebelumnya masih bersamanya di kamar itu, dan ia berkata bahwa celana dalam dan branya tertinggal di kamar mandi dan ia meminta dua barang pribadinya itu dikirim via JNE atau Tiki dalam waktu dekat. “Bagaimana kalau aku menyimpannya saja?” ujarnya, lantas tertawa keras, dan ia bisa mendengar perempuan itu memakinya, meski setelahnya ia pun tertawa. Usai percakapan singkat itu ia kembali ke kamar mandi untuk mencari-cari dua barang istimewa itu. Perempuan itu mengaku sedang berada di bis dalam perjalanan ke bandara dan ia ingat kedua barang istimewa itu masih tergantung di gantungan kamar mandi.

Tanpa perlu berusaha begitu keras, ia menemukan kedua benda itu. Sambil membawanya ke tempat tidur, ia mengendus-endus keduanya dan menciuminya. Di titik itu, ia kembali tertawa, dan kali ini tawanya lebih keras lagi dan terbilang lama. Ia benar-benar berpikir untuk menyimpan saja kedua benda itu namun ia khawatir itu akan membuat perempuan itu tak akan lagi memenuhi panggilannya. Ia mendecap pelan. Ia menyesal ia masih buta padahal ia ingin sekali memandangi kedua benda istimewa itu saat itu juga.

Tentang si perempuan pemilik kedua benda itu sendiri, meski memang mereka tidak memiliki hubungan emosional apa pun, namun ia merasa keakraban mereka meningkat, terutama dalam satu tahun terakhir. Perempuan itu mulai mau bercerita, tentang dirinya, tentang kehidupannya. Suatu kali ia bercerita tentang ibunya yang telah melakukan nikah-cerai sebanyak tiga kali, di kali lain ia bercerita tentang adiknya yang ikut-ikutan melakukan apa yang dilakukannya. Suatu kali, pernah juga ia berkata, “Aku sebenarnya tidak berniat melakukan hal ini selamanya. Kalau aku sudah bekerja dan penghasilanku lumayan oke, aku akan berhenti, dan menjalani hidup layaknya perempuan normal lainnya. Tapi itu kan niat. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti dan karenanya bisa saja kelak aku berubah pikiran.” Kali itu, ia menggoda perempuan itu dengan berkata bahwa ia berdoa agar hari di mana si perempuan berubah pikiran itu datang, dan itu membuat perempuan itu tertawa. Sampai saat ini perempuan itu masih tercatat sebagai salah satu mahasiswa di sebuah perguruan tinggi ternama di Kota A. Setidaknya begitulah ia mengaku. Dan kini perempuan itu tengah dalam upaya memenuhi panggilan klien tetapnya yang lain yang kebetulan berada di provinsi lain. Ia tersenyum ketika memikirkan betapa sibuk dan betapa larisnya perempuan itu.

Dalam satu tahun terakhir ini, yang artinya pada empat pertemuan terakhir mereka—termasuk yang semalam, ia berhasil menahan perempuan itu lebih lama. Tentu saja ia membayar lebih. Hampir-hampir dua kali lipat. Tapi ia merasa itu setimpal untuk kenikmatan dan kepuasan yang didapatkannya. Berhubungan seks dengan perempuan itu beberapa ronde, tidur sambil memeluk tubuhnya yang telanjang dan sempurna. Ia kadang-kadang membayangkan bagaimana seandainya perempuan itu adalah pacarnya, atau selingkuhannya, atau bahkan istrinya. Pastilah itu lucu, pikirnya. Sebab lelaki mana yang membiarkan pasangannya melakukan hubungan seks dengan lelaki-lelaki lain meski untuk itu si perempuan dibayar mahal. Kalaupun lelaki seperti itu ada ia pastikan ia bukanlah salah satu dari mereka. Oleh karena itu, setiap kali bayangan menggelikan itu muncul, ia segera mengenyahkannya dan memikirkan hal-hal lain yang lebih harus dipikirkannya.

Kembali ke kebutaannya. Ia kini sudah nyaman berjalan-jalan di kamar itu. Ia bahkan bisa mencapai pintu dan jendela tanpa menendang atau merusak apa pun. Sambil perlahan-lahan membuka jendela, ia menghirup napas panjang dan menahannya sekian lama, lalu melepaskannya sedikit-sedikit. Ia merasa segar. Ia merasa segar dan ringan dan seperti akan melayang tak lama lagi.

Entah dari mana datangnya perasaan ini. Ia tak tahu. Ia terbangun dan menemukan dirinya tak bisa melihat apa-apa dan ia terpaksa memperpanjang masa inapnya yang artinya mengeluarkan sejumlah uang lebih banyak lagi, dan itu bukanlah sesuatu yang bisa mendatangkan perasan itu. Atau mungkin, itu karena ia telah mengingat-ingat sebagian kisah hidupnya, yang kendatipun sekilas tampak seperti tragedi namun ketika ia melihatnya secara berjarak ia menangkap ada banyak hal dari yang dialaminya itu yang mengundang senyum, bahkan tawa. Atau mungkin, perasaan itu datang karena ia sedikit-sedikit teringat pada hubungan seksnya semalam, dan pada segala hal di tubuh perempuan panggilan itu yang selalu mampu membuatnya rileks dan melupakan masalah-masalahnya. Atau mungkin, itu karena ia sudah merasa bisa berdamai dengan kebutaannya itu, bahwa ia tak lagi merasa takut atau cemas kalaupun kebutaan itu akan dialaminya untuk waktu yang lama, bahwa ia telah mulai bisa menyesuaikan diri dengan kebutaannya itu. Ya, bisa jadi. Bisa jadi seperti itu.

Kebutaan ini sendiri toh tidak begitu buruk, pikirnya. Karena kebutaan ini aku jadi mengingat-ingat banyak hal yang selama ini kulupakan, dan itu membuatku terhibur, sambungnya.

Tentu saja, ia tak benar-benar mengharapkan kebutaan itu akan menimpanya untuk waktu yang lama, apalagi selamanya. Bagaimanapun ia telah menghabiskan lebih dari tiga puluh tahun hidupnya dalam keadaan tidak buta, dan jika memang ia akan selamanya buta maka ia punya banyak hal untuk diurus, untuk diatasi, dan itu sungguhlah bukan hal yang mudah dan bukan hal yang menyenangkan. Bagaimana ia akan menulis, misalnya, jika ia tak bisa melihat? Apakah ia harus mempekerjakan juru ketik? Bagaimana juga ia akan membaca? Apakah ia harus menyewa seorang tukang dongeng? Kelak ketika ia memikirkannya ia akan kembali murung, kembali kesal, kembali cemas dan kembali takut. Tapi saat ini, ia sedang menikmati keoptimisannya. Ia berdiri di dekat jendela cukup lama dan berkali-kali menarik-lepas napas panjang dan selalu tersenyum. Meski ia tak bisa melihat apa-apa, ia merasa dirinya baik-baik saja. Ia tak pernah berpikir bahwa kebutaan ini adalah hukuman yang akhirnya menimpanya sebagai balasan dari apa yang dilakukannya dulu terhadap anak dan istrinya, bahwa Tuhan mungkin saja bertingkah konyol dengan menghadiahinya kebutaan yang tiba-tiba seperti halnya Franz Kafka menghadiahi Gregor Samsa sebuah metamorfosis yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya.

Ketika pengelihatanku kembali, aku akan mengembangkan kebutaan yang kualami ini ke dalam sebuah cerita pendek, atau bahkan novel, pikirnya.

Ia terus tersenyum dan senyumnya itu semakin mengembang dan mengembang dan seperti akan membuatnya melayang-layang di kamar itu.(*)

Dramaga, Desember 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s