Pagi yang Berbeda

BUNYI sirene dan teriakan[1] yang membangunkannya pagi ini terdengar begitu nyaring dan berdengung. Ia merasa pusing. Ingin sekali ia menyumbat kedua lubang telinganya dan kembali memejamkan mata dan terus berbaring di tempat tidur. Namun, itu bukan pilihan yang baik. Lebih tepatnya, bukan pilihan yang bijak. Ia tahu sesuatu yang buruk akan menimpa bukan saja dirinya tetapi juga ayah dan ibunya serta adik-adiknya jika ia malah bermalas-malasan usai mendengar bunyi sirene dan teriakan itu. Banyak kasus bisa dijadikan contoh. Bahkan, rumor yang beredar mengatakan bahwa hukuman bagi mereka yang malas dan tidak patuh itu tidak main-main menyakitkannya.

Ia bisa mendengar orang-orang di rumahnya telah bangkit dan mulai beraktivitas. Ibunya, tak lama lagi akan memasak di dapur, sementara ayahnya akan membersihkan garasi dan adik-adiknya akan merapikan ruang tamu dan menyapu teras. Ia sendiri, seperti yang sudah-sudah, akan diminta ibunya membersihkan kamar mandi dan mengisi bak hingga penuh. Menyusahkan saja, pikirnya. Sementara ia masih terus mengeluh sambil mengumpulkan kesadarannya, teriakan itu terus terdengar dan terdengar, seperti semakin nyaring dan semakin berdengung saja setiap detiknya, membuatnya tambah pusing dan tambah enggan beranjak. Suatu hari nanti, aku akan meninggalkan kota ini dan hidup di sebuah tempat di mana aku bisa mendapatkan ketenangan, dan tak pernah kembali lagi ke sini. Begitu ia bergumam. Dengan gerakan yang teramat malas ia pun bangkit dari tempat tidur dan menuju pintu.

Suatu kali di sekolah ia pernah mengutarakan keinginannya itu kepada teman-temannya. “Hidup selamanya di kota ini, harus mematuhi aturan-aturan yang tak masuk akal dan menggelikan itu, yang benar saja?” ujarnya. Teman-temannya memandanginya dengan sorot mata penuh kecemasan, dan mungkin juga ketakutan. Mereka mungkin teringat pada kisah-kisah yang kerap diceritakan para Guru tentang orang-orang yang menolak mematuhi aturan dan akhirnya harus menjalani hukuman bukan saja dari pemerintah kota, tetapi juga dari para penghuni kota. Dikucilkan. Diabaikan. Dianggap tak ada. “Banyak bertanya itu salah satu tanda bahwa seseorang penuh keraguan. Dan penuh keraguan adalah salah satu tanda bahwa seseorang itu imannya lemah.” Begitulah salah satu Guru di sekolahnya itu pernah berkata. Mengunyah pernyataan seperti itu, ia merasa gendang telinganya menggeliat-geliat gatal, dan ia pun mengorek-ngoreknya dengan telunjuk.

Apa yang dimaksudkannya dengan aturan-aturan tak masuk akal dan mengelikan itu diantaranya adalah hal-hal ini: 1) setiap pagi menjelang pukul lima, dari Gedung Suci akan dibunyikan sirene dengan nyaring lalu diperdengarkan teriakan panjang yang dihantar-sebarkan oleh pengeras-pengeras suara yang ditempatkan di beberapa titik strategis kota, dan setiap orang yang mendengarnya diwajibkan untuk bangun dan memulai aktivitas hariannya; 2) satu kali dalam seminggunya, biasanya di hari Jumat, para lelaki diharuskan berkumpul di Gedung Suci itu, lalu menyimak petuah-petuah yang dilontarkan salah seorang Guru di atas mimbar; 3) setiap akan memulai pelajaran dan akan mengakhirinya, para siswa di sekolah diharuskan memanjatkan doa-doa dan puja-puji dengan dibimbing oleh Guru yang bertugas; 4) dalam setiap bulannya, sekolah akan mengeluarkan sebuah surat yang menyatakan seberapa baik atau seberapa buruk tingkat kepatuhan dan keimanan siswa, yang harus diteruskan siswa kepada orangtuanya dan kemudian ditindaklanjuti oleh si orang tua; 5) di hari penentuan kelulusan atau kenaikan kelas, seorang siswa bisa dinyatakan tidak lulus atau tinggal kelas hanya karena pihak sekolah menilai tingkat kepatuhan dan keimanannya jauh di bawah yang ditetapkan.

Masih ada beberapa aturan lainnya, yang di matanya semua itu sama tak masuk akalnya. Sedari kecil ia memang anak yang penuh rasa ingin tahu dan gemar bertanya, dan sifat seperti inilah rupanya yang tidak dikehendaki oleh para Guru di sekolah. Tak jarang, ketika sang Guru tengah menjelaskan, ia mengangkat tangan dan mengajukan pertanyaan, seperti tentang seberapa akurat apa-apa yang disampaikan Guru tersebut atau seberapa pentingnya hal tersebut dibandingkan hal-hal lain, dan sang Guru akan menegurnya, lantas memintanya untuk diam dan menyimak saja. Tatapan sang Guru selalu penuh penghakiman. Begitulah ia merasakannya. Tak ada ruang untuk meragukan pernyataan Guru. Setiap yang dinyatakan Guru adalah benar dan itu pasti. Suatu kali, ia pernah dihukum membersihkan toilet guru dan toilet siswa—yang jumlahnya puluhan—gara-gara ia bersikeras terus bertanya sementara Guru yang bertugas saat itu telah memintanya diam dan menyimak saja.

Apa yang disaksikannya saat berada di Gedung Suci di hari Jumat lebih menggelikan lagi. Kali itu, bukan hanya anak-anak usia sekolah yang diharuskan diam dan menyimak apa-apa yang dilontarkan seorang Guru, melainkan juga orang-orang dewasa, lelaki-lelaki yang mungkin telah bekerja dan berkeluarga. Ia duduk di samping ayahnya saat itu, dan ayahnya sebentar-sebentar menepuk pahanya memintanya menahan diri dan berpura-pura tak terganggu. Tapi itu bukan hal mudah baginya. Apa-apa yang dilontarkan sang Guru di mimbar itu di matanya adalah informasi-informasi yang bisa dengan cepat ia bantah dan pertanyakan; dan anjuran-anjuran sang Guru untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu selalu tidak benar-benar beres dari segi logika. Ia kadang-kadang ingin berdiri dan begitu saja meninggalkan Gedung Suci itu saat acara masih berlangsung. Ketika di suatu kesempatan ia berpapasan dengan sang Guru yang berbicara di Gedung Suci itu, ia menatapnya dengan jijik, dan harus berusaha keras untuk tidak meludah di hadapannya.

Beberapa kali ibunya menasehatinya untuk memperbaiki sikapnya ini. Perempuan itu cemas, bahwa kendatipun sampai detik itu nasib baik masih berpihak pada anaknya, namun suatu hari bisa saja anaknya itu bernasib sial dan hukuman-hukuman itu pun menimpanya. Ia selalu mengangguk-angguk saja di hadapan ibunya, namun setibanya di kamar ia akan bersungut-sungut dan mencemooh ketidakberdayaan ibunya. “Sudah dewasa, tetapi kok tidak berani mempertanyakan yang sudah semestinya dipertanyakan.” Begitu ia bergumam. Kepada adik-adiknya ia kerap diam-diam membiasakan mereka untuk bersikap skeptis dan terus bertanya, seperti dengan mengajak mereka bermain teka-teki dan analisa. Kepada ayahnya, ia pernah berkata bahwa Guru-Guru di sekolah adalah orang-orang dungu.

Sebenarnya, sampai dua tahun yang lalu, ia memiliki seorang kakak. Perempuan. Sama sepertinya, kakaknya itu anak yang penuh rasa ingin tahu dan gemar bertanya. Di rumah, setiap kali mereka bercakap-cakap, ia akan dibawa kakaknya itu menyelami satu demi satu misteri, mengungkap satu demi satu kejanggalan, menerobos batas-batas yang ditetapkan suci dan tabu oleh para Guru di sekolah. “Kau dan aku, kita semua yang ada di kota ini, sebenarnya tak punya alasan untuk hidup dengan cara mematuhi perintah orang lain, apalagi jika perintah-perintah itu tidak masuk akal.” Begitulah suatu hari kakaknya pernah berkata. Ia membenarkannya. Ia bahkan selalu ingat sorot mata kakaknya yang begitu tajam dan penuh sinar saat mengatakannya. Ketika akhirnya kakaknya itu pergi dan tak kembali lagi, ia masih sesekali membayangkan percakapan mereka itu. Ia merasa kakaknya itu selalu hadir di sampingnya menemaninya meskipun sosoknya kini entah di mana.

Tentang kepergian kakaknya itu, ayahnya berkata bahwa pihak sekolah memutuskan untuk mengirimnya ke sebuah sekolah di luar kota, dalam rangka pertukaran pelajar. Ia tak memercayainya. Rumor-rumor beredar liar di sekolah. Bahkan teman-teman sekelasnya sendiri ada yang memberitahunya beberapa berita miring yang konon mereka dapatkan dari orang tua mereka. Misalnya: kakaknya itu meludahi muka seorang Guru dan menendang kemaluannya dan akibatnya ia dihukum berat, dibawa ke sebuah tempat semacam penjara dan ditahan di sana. Atau: kakaknya itu tertangkap basah tengah melakukan tindakan asusila dengan seorang lelaki yang jauh lebih tua darinya—mungkin salah satu Guru?—dan ia pun dikenai hukuman yang teramat berat sampai-sampai ia mati. Tak ada yang mendingan. Ia sendiri sesungguhnya sulit memercayai kabar-kabar tersebut mengingat di matanya kakaknya adalah sosok yang positif dan nyaris sempurna. Dan ia pun akhirnya tiba pada sebuah kesimpulan—yang sebenarnya hanyalah dugaannya saja: kakaknya itu, suatu hari, pernah berusaha disetubuhi oleh salah seorang Guru, namun ia melawan dan Guru tersebut terluka, dan begitulah Guru tersebut mengarang cerita bahwa kakaknya itu melakukan tindakan asusila dengan seseorang dan untuk itu ia dikenai hukuman yang benar-benar berat, seperti dicambuk berpuluh-puluh kali atau ditahan bertahun-tahun atau bahkan ditembak mati. Ia, jadi ngeri sendiri membayangkan seperti itulah yang sebenarnya terjadi.

Sejak kepergian kakaknya, yang agaknya akan selamanya menjadi misteri itu, ia semakin membenci sistem kehidupan yang dijalankan di kota ini, dan semakin berniat untuk meninggalkan kota ini suatu hari nanti. Jika memungkinkan, pada saat ia pergi itu ia ingin membawa serta kedua adiknya, juga ayah dan ibunya. Dari salah seorang teman sekolahnya ia pernah mendengar cerita tentang sebuah keluarga yang tiba-tiba lenyap di suatu pagi; rumah mereka kosong dan sampai bertahun-tahun kemudian pun rumah itu tetap kosong. Menurut cerita itu, peristiwa aneh tersebut terjadi berbelas-belas tahun lalu. Orang-orang di sekitar rumah itu pun mulai berspekulasi. Ada yang mengatakan keluarga itu berhasil keluar meninggalkan kota lewat sebuah jalan rahasia, yang mungkin hanya diketahui oleh sedikit orang saja, termasuk keluarga itu. Ia sungguh senang jika memang itu yang terjadi. Setidaknya, harapan itu ada.

 
IA telah selesai membersihkan kamar mandi dan kini tengah mengisi bak. Ia menyimak bunyi yang dihasilkan air yang meluncur deras dari keran, yang dengan cepat membentur dasar bak mandi dan menghasilkan buih-buih putih yang seperti hidup. Kurasa, seperti inilah aku ini, pikirnya. Di dalam benaknya ia membayangkan di dalam dirinya ada sebuah keran yang selalu terbuka dan mengalirkan air dengan deras dan tak henti-henti, yang kemudian membuatnya tak bisa diam saja dan menerima namun justru terus mempertanyakan dan mencaritahu. Sesuatu di dalam diriku terus mengalir. Sesuatu di dalam diriku terus terisi dan terus mengalir. Begitu ia bergumam. Ketika akhirnya bak mandi penuh, ia menutup keran dan meninggalkan kamar mandi dan menuju dapur.

Ibunya telah selesai memasak dan ia melihat perempuan itu tengah menatap hidangan di meja makan. Tak lama lagi, ayah dan adik-adiknya akan berkumpul di meja makan itu, dan mereka akan bersama-sama memanjatkan doa-doa dan puja-puji sebelum akhirnya melahap apa-apa yang ada. Dan seperti biasa, akan ada sebuah kursi yang dibiarkan kosong, juga sebuah piring dengan sendok-garpu dan sebuah gelas yang dibiarkan kosong, tepat di hadapan kursi tersebut. Mereka melakukannya untuk mengenang kepergian kakaknya. Ia tahu itu. Di tengah-tengah melahap hidangan ibunya akan sesekali menoleh ke arah kursi kosong itu dan sepasang matanya akan tampak sayu. Ia sendiri suka menoleh ke arah kursi itu, dan mengamatinya beberapa lama. Ia membayangkan sosok kakaknya itu ada di sana dan melahap hidangan yang ada dan sesekali balas menatapnya dengan sorot mata penuh cahaya.

Terakhir kali kakaknya berada di kursi itu, dua tahun yang lalu, sebuah bunyi sirene tiba-tiba diperdengarkan dan selain bunyinya lebih nyaring durasinya pun terasa lebih lama. Seperti ada ancaman atau peringatan yang menyertainya. Mereka, di meja makan itu, langsung menghentikan aktivitas makannya. Ayahnya dan ibunya saling menoleh dan tampak ketakutan. Adik-adiknya, yang tentulah masih kecil-kecil dan tak tahu apa-apa, hanya menoleh ke sana kemari mengharapkan seseorang bicara. Sementara kakaknya, yang saat itu berada persis di sebelah kanannya, hanya menunduk. Ia tidak terlihat cemas atau takut atau semacamnya. Namun, ia pun tidak terlihat rileks. Dengan kata lain, bunyi sirene itu mengusiknya, mengganggunya, bahkan mungkin menghantamnya. Tak lama kemudian kakaknya itu menatapnya dan tersenyum dan mengucapkan sesuatu namun tak mengucapkannya. Gerakan bibirnya ia pahami sebagai ini: “Ingat, kita tidak hidup untuk patuh dan menerima begitu saja.”

Jadi rupanya itulah kata-kata terakhir kakaknya. Ia merasa aneh baru menyadarinya sekarang, seolah-olah pagi kemarin dan pagi kemarinnya lagi dan pagi-pagi sebelumnya tak pernah ada. Apakah ini firasat? Hmm… Ia tersenyum pahit. Jika memang pagi ini ia akan mendengarkan bunyi sirene yang sama dengan dua tahun yang lalu, ia berharap, saat itu ia bisa menunjukkan reaksi yang sama dengan reaksinya kakaknya dua tahun lalu itu.

Sekitar seminggu sebelumnya, di sekolah, ia melakukan sesuatu yang membuatnya menjadi pusat perhatian teman-teman sekelasnya. Saat itu, seorang Guru sedang bertugas, dan ia mengangkat tangan lantas mempertanyakan apa yang tengah dilakukan sang Guru tersebut. Apa yang dilakukan sang Guru saat itu adalah menjelaskan kepada para siswa tentang kondisi memprihatinkan tempat-tempat di luar kota ini, lebih tepatnya orang-orangnya. Misalnya, Guru itu bilang bahwa orang-orang di Kota A tidak membiasakan diri mereka untuk berdoa dan melantunkan puja-puji, dan itu membuat situasi Kota A menjadi tidak kondusif dan penuh masalah. Atau, Guru itu mengatakan bahwa orang-orang di Kota B telah lupa bagaimana semestinya mereka menjaga keimanan mereka, sehingga sedikit demi sedikit kota tersebut mulai hancur dan rusak dihantam bencana. Ia benar-benar gerah. Ia lantas dengan lantangnya meminta sang Guru menjelaskan apa yang menurutnya membuat orang-orang (dan situasi) di kota ini jauh lebih baik daripada orang-orang di kota-kota itu sehingga sang Guru merasa ringan-ringan saja menilai dan menghakimi orang-orang di kota itu. Sang Guru, usai mendengar permintaan yang serupa tantangan ini, menatapnya benci. Raut mukanya yang semula santai seketika menjadi tegang, dan itu rupanya memberikan dampak yang berarti pada suasana kelas. Tak seorang pun dari para siswa, berani menatap ke depan. Hanya ia yang melakukannya. Ia balas menatap sang Guru seolah-olah tengah berkata bahwa ia sama sekali tidak takut dan kali itu ia tidak akan menahan diri ataupun mengalah.

Sepulang sekolah ia diminta menghadap Ketua Guru—semacam kepala sekolah. Di ruang Ketua Guru ia duduk dan merasakan perlahan-lahan bulu kuduknya mulai berdiri, dan tangan dan kakinya sedikit-sedikit gemetar. Ketika sang Ketua Guru duduk di hadapannya, dan memberinya senyum-yang-telah-diukur-sedemikian-rupa, ia merasa gugup. Entah kenapa ia merasa seseorang di hadapannya bukanlah seseorang yang kepadanya ia bisa mengucapkan apa saja sesuka hatinya.

“Kamu ini adiknya X ya?” ujar si Ketua Guru.

Ia mengangguk.

“Kamu tahu kakakmu itu orang yang seperti apa?” tanya si Ketua Guru kemudian.

Ia tak menjawab.

“Kakakmu itu sebenarnya orang yang cerdas, dan menjanjikan. Tetapi dia sulit sekali patuh, dan suka sekali bertanya dan bertanya. Itu menyusahkan kami, dan tidak baik bagi sekolah ini, bagi kota ini. Kamu tahu kenapa?”

Lagi-lagi, ia tak menjawab.

“Itu karena kita hidup dalam sistem yang seperti ini. Ada orang-orang yang menetapkan aturan, ada orang-orang yang mematuhinya. Ada orang-orang yang diharuskan menyampaikan petuah-petuah, ada orang-orang yang diharuskan menyimaknya. Ada orang-orang yang diharuskan mengajar dan mendidik demi menjaga kelangsungan sistem, ada orang-orang yang dididik sehingga kelak mereka bisa ikut menjaga kelangsungan sistem. Bagaimana? Kamu paham?”

Tidak! Itulah yang ia teriakkan di dalam kepalanya. Namun ia tak mengatakan apa pun. Ia pun tak menggeleng atau mengangguk. Kehadiran sang Ketua Guru dan bagaimana lelaki itu berbicara seperti telah benar-benar menghancurkan pertahanannya.

“Sekarang pulanglah dan pikirkan baik-baik. Kamu hidup untuk membuat orang-orang di sekitarmu bisa terus hidup. Begitulah kita semua menjalani hidup. Begitulah sejatinya hidup itu.”

Sekeluarnya dari ruang sang Ketua Guru, ia merasakan sesuatu di dalam dirinya bergejolak. Keran, yang terbuka itu, mengalirkan bukan lagi air biasa, melainkan air mendidih. Air yang benar-benar mendidih. Ia mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Gigi-giginya bergemeletuk. Kedua tinjunya mengepal dan langkah-langkahnya terasa berat. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus melakukan sesuatu untuk meluapkan kemarahanku ini. Begitu ia terus bergumam. Dan yang kemudian dilakukannya adalah: pergi ke kamar mandi dan mengumpulkan air kencingnya di gayung dan membawa gayung itu ke depan ruang Ketua Guru lantas menyiramkannya begitu saja. Cairan kekuning-kuningan itu membasahi pintu dan sebagian jendela. Ia cepat-cepat kembali ke kamar mandi dan tak bisa menahan diri untuk tak tersenyum dan sedikit tertawa.

Mengapa ia sampai merasa semarah itu, ia sendiri tak tahu. Mungkin itu dikarenakan sang Ketua Guru menyebut-nyebut kakaknya, dan apa-apa yang dikatakan sang Ketua Guru tentang kakaknya seperti menegaskan bahwa pihak sekolah memang melakukan sesuatu yang buruk terhadap kakaknya itu, sebagai hukuman dari sikap kakaknya yang bertentangan dan dianggap tidak baik bagi sistem yang berlaku. Rupanya, menyimpulkannya sendiri dengan mengetahui kebenarannya adalah dua hal yang berbeda, pikirnya. Barangkali selama ini ia menyimpan harapan bahwa hal buruk yang menimpa kakaknya itu, yang terus hidup dalam benaknya, tidaklah benar-benar terjadi.

Hari-hari setelahnya ia merasa suasana di sekolah sedikit berbeda. Kegiatan belajar mengajar memang masih berlangsung normal, begitu juga kegiatan-kegiatan lain. Namun, beberapa kali, ia menangkap dengan ujung matanya orang-orang yang tidak ia kenali berkeliaran di koridor. Lelaki-lelaki. Lelaki-lelaki dengan sorot mata penuh ancaman dan penghakiman. Lama-lama ia menduga lelaki-lelaki itu tengah berusaha menyudutkannya dan menunggu ia melakukan sebuah kesalahan, sesuatu yang bisa memberi mereka alasan untuk menangkapnya dan membawanya ke sebuah tempat yang teramat gelap, di mana di sana mereka akan menanyainya segala macam hal dan ia akan terpaksa menerima hukuman demi hukuman. Ia menduga, lelaki-lelaki itu adalah suruhan sang Ketua Guru.

Sampai kemarin, suasana seperti itulah yang ia rasakan di sekolah. Ia tak tahu apakah hari ini pun ia masih akan merasakan suasana yang sama.

 
IBUNYA mengatakan padanya bahwa hidangan sudah siap dan perempuan itu memintanya memanggil ayahnya dan kedua adiknya. Ia pun melakukannya. Ia bergerak menuju ruang tamu dan ia melihat adik bungsunya hampir selesai merapikan sofa. Ia lanjut bergerak menuju teras depan dan ia menemukan adik pertamanya sedang akan membakar sampah. Dan ia pun lanjut bergerak menuju garasi dan menemukan ayahnya sedang membasuh mobilnya yang dipenuhi busa sabun. Lalu, entah kenapa, ia merasa semua itu begitu semu. Semua hal yang telah dialaminya pagi ini sejauh ini, entah kenapa, begitu semu. Seakan-akan tak benar-benar terjadi. Seakan-akan, tak pernah ada.

Sambil melangkah menuju ruang makan ia membayangkan bunyi sirene yang nyaring itu tiba-tiba diperdengarkan saat mereka tengah menyantap hidangan yang ada. Dan ia bisa melihat kakaknya, tengah duduk di kursi yang kosong itu, dan tersenyum padanya dan berkata: “Ingat, kita tidak hidup untuk patuh dan menerima begitu saja.”(*)

Cianjur, 15 Februari 2015

  
[1] Kata yang tepat sebenarnya adalah “lantunan”, sebab yang terdengar atau diperdengarkan setelah bunyi sirene yang nyaring dan panjang itu adalah doa-doa serta puja-puji yang dilagukan. Namun, si tokoh utama di cerita ini lebih suka menyebutnya “teriakan”, untuk menunjukkan betapa ia tidak menyukainya dan begitu terganggu olehnya. Kadang-kadang ia menyerupakan lantunan itu dengan bunyi lonceng, sehingga ketika mendengarnya ia seolah-olah merasakan ada dengung, dan itu semakin mengganggunya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s