Ketika Angin Berembus

TIGA bunyi alarm dari tiga jam weker membangunkanku tadi pagi. Jika ini adalah hari lain, aku akan mendiamkannya beberapa lama, sambil membayangkan aku masih berada di dalam mimpi. Bunyi alarm itu begitu bising dan mengganggu, dan selalu berhasil membuat kepalaku berdenyut-denyut dengan hebatnya. Kadang memang aku terbantu jika kebetulan sebelumnya aku tengah mengalami mimpi buruk. Namun, seringkali, aku menjadi kesal. Mendengar tiga bunyi alarm itu aku seketika merasakan dorongan yang kuat untuk meraih ketiga jam weker tersebut lantas melemparkannya ke dinding atau ke lantai hingga ketiga benda itu benar-benar rusak, benar-benar tak akan berbunyi lagi. Tentu saja, aku tak pernah benar-benar melakukannya.

Tadi pagi aku memilih bersabar. Di detik aku mendengar tiga bunyi alarm itu aku membuka mata dan bangkit terduduk dan tak lama kemudian aku bahkan sudah berada di kamar mandi. Hari ini, adalah ulang tahun kelima kematian Yuri.

Dua tahun yang lalu, di tanggal yang sama, aku meninggalkan kamar kos pagi-pagi sekali. Lantai masih begitu dingin ketika aku mematut-matut diri di depan cermin. Kaus lengan pendek warna hitam, jeans warna hitam, blazer warna hitam. Aku sempat berpikir untuk juga mengenakan kacamata warna hitam namun aku membatalkannya di detik-detik terakhir, tepat saat ponselku akhirnya berdering. Sebuah pesan yang kutunggu-tunggu sejak semalam sebelumnya tiba juga. Lewat pesan itu, Rena, salah satu teman baikku, mengatakan bahwa ia dan dua orang lainnya, Mimi dan Yuka, akan juga melakukan perjalanan lintas kota seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanya saja Mirna tak akan ikut. Begitulah ia menambahkan. Aku membalas pesan Rena itu dengan menulis “oke” tanpa emoticon apa pun.

Tidak ikutnya Mirna adalah semacam kelanjutan dari tidak ikutnya Maya setahun sebelumnya. Setidaknya begitulah aku melihatnya. Aku sudah memperkirakan hal ini sejak lama. Mengenang kematian Yuri dari tahun ke tahun, tentunya bukan sesuatu yang menyenangkan. Dan bagi orang-orang seperti Maya dan Mirna, barangkali, juga sesuatu yang menyusahkan. Lima tahun yang lalu akulah yang mengajak mereka melakukan hal ini, dan aku memiliki alasan yang kuat mengapa sampai detik ini aku ingin tetap melakukannya dan tak sedikit pun merasa hal ini menyusahkanku. Kelima teman baikku itu, mungkin memang menyukai Yuri. Tetapi, aku yakin, benar-benar yakin, tak satu pun dari mereka menyukai Yuri sebesar aku menyukainya. Kupikir mereka pun menyadari hal ini. Aku dan Yuri sudah berteman dekat jauh sebelum kami berdua berteman dengan mereka berlima.

Kami pertama kali bertemu di tahun pertama kami di SMA. Kami satu kelas waktu itu, juga satu meja. Yuri orang yang riang dan suka bicara dan dengan sendirinya kami menjadi dekat; kami sering ke kantin bersama dan mengerjakan tugas bersama dan menghabiskan waktu senggang kami bersama-sama. Bisa jadi ini dikarenakan kami memiliki karakter yang benar-benar berbeda, bahkan bertentangan. Ia periang dan aku pemurung. Ia suka bicara dan aku pendiam. Kami seperti saling mengisi satu sama lain, saling mengalirkan kelebihan dan kekurangan kami satu sama lain. Hanya butuh waktu tiga-empat bulan saja sampai aku benar-benar menceritakan rahasia-rahasiaku, hal-hal yang sewajarnya kusembunyikan, kepadanya. Sebelumnya aku tak pernah mengalami keadaan di mana aku bisa dengan mudahnya melakukannya.

Kehadiran Yuri membuatku merasa memasuki babak baru dalam hidupku. Aku jadi banyak tersenyum, dan mulai lepas tertawa. Yurilah yang mengatakannya. Sampai detik itu aku tak sedikit pun menyadarinya. Yang kurasakan hanyalah sebatas pada lebih bisanya aku bersemangat bersekolah dan mengerjakan tugas-tugasku, dan melalui hari demi hari tanpa mengurung diri di kamar atau menangis tanpa suara. Yuri seperti cahaya, dan aku adalah kamar gelap dengan pintu yang perlahan terbuka. Satu tahun kami berteman dan aku sudah merasa kami akan selamanya seperti itu.

Di tahun kedua kami di SMA, Yuri jatuh cinta, dan berpacaran. Mungkin itu pengalaman pertamanya. Mungkin juga tidak. Saat itu baru kusadari bahwa selama satu tahun pertemanan kami akulah pihak yang lebih banyak bercerita, dan ia si pendengar yang sabar dan teramat hangat. Kami tak lagi satu kelas, sehingga intensitas pertemuan dan kebersamaan kami mau tak mau berkurang. Benar-benar berkurang. Ada momen-momen di mana kami yang seharusnya menghabiskan waktu bersama terpaksa tidak melakukannya, dan itu disebabkan Yuri memiliki aktivitasnya sendiri bersama pacarnya. Satu kali, tiga kali. Lima kali, sebelas kali. Lama-lama itu membuatku kesal dan aku sempat berpikir untuk mengabaikan Yuri sementara waktu. Akan tetapi, meski waktu telah berlalu berbulan-bulan pun, aku tak juga melakukannya. Aku tak juga bisa melakukannya. Ia teman baikku dan aku menyukainya dan aku tak semestinya memperlakukan dengan buruk seseorang sepertinya. Begitulah saat itu aku berpikir. Tanpa kehadirannya aku sedikit-banyak kembali menjadi diriku yang lampau, diriku yang sedikit-sedikit mengurung diri di kamar dan menangis tanpa suara. Yuri tak pernah tahu hal ini. Tidak, sebab aku tak pernah memberitahunya. Ia sedang menikmati saat-saat menyenangkan bersama seorang lelaki yang dicintainya, dan sebagai teman baiknya aku tak boleh mengganggunya apalagi mengusiknya. Yang kulakukan, adalah membiasakan diri dengan keadaan yang baru itu. Kami masih berteman baik. Kami masih sesekali menghabiskan waktu bersama dan berbagi rahasia. Setidaknya, dua hal ini benar-benar kusyukuri.

Suatu ketika, sekitar satu bulan sebelum UTS, Yuri tampak begitu murung. Ia tipe orang yang selalu berusaha tampak tegar dan kuat dan kali itu aku cukup beruntung menemukan dua-tiga detik di mana raut mukanya benar-benar tak mencerminkan ketegaran atau kekuatan. Ketika aku bertanya “ada apa”, ia cepat-cepat tersenyum dan menggeleng dan berkata bahwa ia baik-baik saja, benar-benar baik saja. Tentu ia berbohong. Tiga hari kemudian ia baru mengatakan yang sebenarnya. Rupanya ia sedang patah hati.

Lelaki yang dicintainya, seseorang yang dipacarinya selama berbulan-bulan itu, ternyata memiliki perempuan lain. Dan, ini yang benar-benar mengejutkannya, si lelaki telah menjalin hubungan dengan perempuan itu bahkan sebelum ia mendekati Yuri. Ini sebuah pukulan. Benar-benar sebuah pukulan. Dan sebuah pukulan lainnya adalah bahwa lelaki itu memilih untuk memutuskan Yuri dan mempertahankan hubungannya dengan perempuan itu setelah Yuri membongkar kedoknya dan habis-habisan memarahinya. “Aku mungkin nggak semestinya memarahinya separah itu,” ujar Yuri, dengan sorot mata yang nyaris padam. Yuri yang biasanya tampak tegar dan kuat, Yuri yang periang dan suka bicara dan sedikit-sedikit tertawa, kali itu begitu diam, begitu rapuh dan tak bergairah, begitu putus asa, begitu tak bertenaga. Dan airmatanya menetes, mengaliri kedua pipinya. Ia tak tersedu-sedu atau terisak-isak atau mengeluarkan bebunyian apa pun. Dan aku, di hadapannya, justru mulai menangis tersedu-sedu.

Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Mungkin aku membayangkan apa yang menimpa Yuri itu menimpaku. Atau, bisa jadi, aku merasa sakit hati bahkan hanya dengan mengetahui bahwa Yuri, seseorang yang begitu dekat denganku dan begitu kusukai, mengalami sesuatu seburuk itu. Aku menangis dan terus menangis, seolah-olah tak peduli bahwa di hadapanku adalah seseorang yang tengah bersedih dan tak membutuhkan airmata seperti itu. Dan tak seperti Yuri, dan tak seperti diriku yang biasanya, kali itu aku menangis dan tersedu-sedu, dan terisak-isak. Kedua bahuku gemetar dan kedua tanganku mengepal. Dan sebab aku terus menunduk, airmataku berjatuhan dengan begitu cepatnya menuju kaki telanjangku. Saat itu hari sudah sore dan kami hanya berdua di balkon kamarnya. Cahaya matahari, yang seperti datang dari arah jam dua, seakan-akan tengah berusaha keras menghibur kami.

Yuri agaknya begitu terkejut dengan reaksiku itu. Satu tangannya menyentuh pundakku dan satu tangannya yang lainnya mengangkat wajahku. Aku bisa melihat kecemasan membayang kuat di matanya, dan lidahnya di ambang mengucapkan sesuatu atau menahannya. “Kamu kenapa? Kok nangis? Aku salah ngomong ya?” Begitulah Yuri bertanya. Sesungguhnya aku ingin menjawabnya tetapi entah kenapa aku hanya bisa menangis dan terus menangis, terisak-isak dan terus terisak-isak. Kecemasan di mata Yuri pun semakin kuat membayang. Pada akhirnya, ia memelukku dan mengelus-elus belakang kepalaku, dan itu justru membuatku tangisku semakin menjadi-jadi dan menjadi-jadi. Setelah aku cukup tenang ia menjauhkan tubuhku darinya. Dan, sambil mengusap pipiku yang basah, ia tersenyum, dan berkata, “Air mata itu hangat ya… Kenapa ya kira-kira?” Mendengarnya, mau tak mau aku pun tersenyum.

Sejak saat itulah agaknya kami menjadi semakin dekat. Yuri tak lagi berpacaran dan itu artinya ia hanya menghabiskan waktu senggangnya denganku. Hanya denganku. Seiring waktu berlalu, cara Yuri menunjukkan perhatiannya padaku jadi semakin terang-terangan, dan semakin hangat, dan itu membuatku senang. Ia, misalnya, tak akan segan-segan memelukku dan mencium pipiku saat kami sedang berada di sekolah. Di dalam angkot, ketika nyaris tak ada penumpang lain selain kami, ia dengan entengnya meraih tanganku dan menggenggamnya, dan ketika aku menatapnya ia memberiku senyum manisnya yang selalu mampu membuat jantungku seperti meleleh dalam waktu singkat.

Sehabis UTS, ketika kami kembali berdua saja di balkon kamarnya, tiba-tiba ia menyodoriku sebuah kado padahal itu bukanlah hari ulang tahunku atau hari apa pun. “Ini hadiah dariku, buat kamu dan airmatamu,” ujarnya. Senyum di wajahnya seperti sinar lampu Taman Kota di malam hari. Aku membuka kado itu dan menemukan di dalamnya selembar foto kami berdua yang sedang saling menempelkan pipi sambil memonyongkan bibir dan memicingkan mata. Di balik foto itu, ada tulisan seperti ini: “Kenapa airmata selalu terasa hangat? Mungkin untuk mengingatkan kita kalau kesedihan itu sifatnya sementara.Selalu… sementara.”

Sampai kini, aku menyimpan baik-baik foto pemberiannya itu, di kamarku, dan sewaktu-waktu aku mengamatinya sekadar untuk mengingatkanku bahwa ia pernah ada, bahwa kami pernah menikmati waktu yang menyenangkan bersama-sama. Di balik foto itu sendiri, aku telah menambahkan tulisan lainnya: “Yuri dan Hana. Sedekat ini… selamanya.”

 
KETIKA aku memberitahu Rena tentang keinginanku memperingati kematian Yuri setiap tahunnya, ia terdiam beberapa lama. Kami berbicara lewat telepon sehingga aku tidak bisa melihat raut mukanya, tetapi bisa kubayangkan mulutnya sedikit terbuka dan matanya yang pipih itu sedikit memicing. Pada akhirnya, ia tak mengucapkan kata-kata penolakan apa pun. Ia justru mengatakan akan memberitahukan keinginanku itu kepada teman-teman kami yang lainnya. Pasca kematian Yuri, Rena bisa dikatakan satu-satunya teman-dekat-yang-benar-benar-teman-dekat yang kumiliki. Memang, aku juga berteman dekat dengan Mirna, dengan Yuka, dengan Mimi, dengan Maya, tetapi kepada mereka aku rasanya tak pernah membagikan rahasia-rahasiaku.

Aku bisa memahami mengapa Rena bersikap seperti itu, seolah-olah ia tengah berusaha menjaga diri agar tidak mengatakan atau melakukan sesuatu yang bisa mengecewakanku atau bahkan menyakitiku. Di antara tujuh orang dalam kelompok-main kami, aku adalah yang paling pendiam, yang paling pasif, yang paling tak banyak bertingkah dan tak mencari-cari masalah, yang karenanya ketika tiba-tiba aku mengutarakan keinginanku akan sesuatu maka mereka, khususnya Rena, akan dengan sendirinya melihatnya sebagai sesuatu yang teramat penting, bagiku. Dan ketika keinginan yang kuutarakan ini berhubungan erat dengan kematian Yuri, Rena tentulah melihatnya sebagai sesuatu yang lebih penting lagi. Ia tak mengatakannya kepadaku, tetapi aku tahu ia berusaha keras meyakinkan keempat teman kami yang lainnya untuk ikut memperingati kematian Yuri setiap tahunnya, sekadar untuk menjaga perasaanku. Di hari peringatan kematian Yuri yang pertama, mereka semua benar-benar datang. Aku benar-benar tersenyum dan menyambut mereka dengan hangat. Baru kali itu agaknya aku bisa benar-benar tersenyum lagi dalam satu tahun itu.

Yang kami lakukan di hari itu adalah mengunjungi makam Yuri dan berdoa di sana. Aku tak tahu apakah kelima temanku itu benar-benar berdoa atau hanya memejamkan mata saja. Aku sendiri, sejujurnya, tidak bisa dibilang berdoa. Aku hanya memandangi nisan yang padanya tercatat nama Yuri, dan aku membayangkan sosok Yuri yang tengah berbaring di dalam tanah. Tentulah wujudnya sudah tak utuh lagi, tetapi aku lebih suka membayangkan wujudnya itu masih utuh, masih ia yang cantik dan bersinar dan kusukai. “Hana, terima kasih sudah datang.” Aku seperti mendengar Yuri membisikkannya di telingaku. Pada kunjungan-kunjungan di tahun-tahun setelahnya pun, aku seperti mendengarnya.

Dari makam Yuri kami bergerak menuju rumah orangtuanya. Itu sebuah kunjungan yang tak direncanakan tetapi untunglah tidak berbuah buruk. Orang tua Yuri, terutama ibunya, terlihat sangat senang melihat kami. Di detik ia menemukan sosokku ia bahkan langsung menghampiriku dan memelukku dan menangis tersedu-sedu, dan aku pun mau tak mau menangis tersedu-sedu sambil balas memeluknya. Di rumah itu, kami menghabiskan waktu sekitar satu jam, berbicara tentang Yuri dan masa lalu kami, dan kesibukan mereka dan hal-hal lainnya. Ibunya Yuri menjalankan usaha catering sejak lama. Suaminya membantunya mengelola dan mengembangkan usaha tersebut selepas kematian Yuri. Sebelumnya, ia adalah seorang dokter bedah yang bertugas di rumah sakit besar di luar kota.

Sekeluarnya dari rumah tersebut, kami tidak langsung pulang, melainkan bersantai-santai dahulu di Taman Kota. Di taman ini kami memang kerap menghabiskan waktu bersama, bersenang-senang mengomentari orang-orang yang ada atau menikmati penganan dan atau minuman sambil merasakan hangatnya sinar matahari sore. Yuri, seperti yang mungkin sudah kauduga, selalu yang paling berisik. Ia bisa tanpa henti dan tanpa jeda mengomentari orang-orang yang tertangkap matanya dan tak jarang komentar-komentarnya itu membuat kami terbahak-bahak dan meneteskan airmata. Dan aku, tentu saja, selalu yang paling diam. Di sela-sela kebersamaan kami di taman itu Yuri kadang menatapku lama dan memberiku senyum manisnya. Di detik aku membalas senyumnya itu, aku merasa bahagia.

Kali itu tanpa kehadiran Yuri suasana Taman Kota terasa berbeda. Banyak orang berada di sana tetapi kami tak lagi antusias mengomentari mereka. Bangku semen yang kami duduki, juga air mancur yang persis berada di belakang kami, sesungguhnya tak sedikit pun mengalami perubahan, tetapi jelas sekali aku merasa keduanya berbeda. Bahkan obrolan teman-temanku di sepanjang kami berada di taman itu terasa berbeda. Aku yang semula paling diam menjadi lebih diam lagi. Rena sewaktu-waktu menyentuh pundakku dan tersenyum dan itu mengingatkanku pada Yuri. Di saat yang sama, apa yang dilakukannya itu juga mengingatkanku bahwa Yuri sudah tak ada.

Satu tahun setelahnya, hal itu terulang. Begitu juga satu tahun setelahnya dan satu tahun setelahnya lagi. Kadang memang aku memikirkannya dan merasa apa yang kami lakukan itu begitu lucu. Yuri sudah tak ada dan ia tak pernah meminta kami mengenang kematiannya, tetapi begitulah kenyataannya kami mengenang kematiannya dengan tujuan yang sesungguhnya tak jelas juga apakah kami ingin menjaga agar Yuri selalu bersama kami ataukah hanya membenamkan diri kami pada kesedihan yang sama, seolah-olah tengah berusaha mengekalkan kesedihan itu. Teman-temanku tak pernah mengeluhkannya. Rena, yang seakan-akan bertugas sebagai juru bicara keempat temanku yang lainnya, selalu mengatakan bahwa kematian Yuri memanglah sesuatu yang menyisakan ruang kosong dalam kebersamaan kami, dalam kelompok-main kami, dan dengan mengenang kematiannya setiap tahunnya ia merasa ruang kosong itu sedikit-sedikit terisi. Aku tahu, dan aku yakin aku benar, Rena mengucapkan itu sekadar untuk menjaga perasaanku saja.

Bagaimana kami sampai membentuk kelompok-main ini, itu ulah Yuri. Di tahun ketiga kami di SMA kami kembali satu kelas dan satu meja dan ia mengajakku berteman dekat dengan teman-teman sekelasnya sewaktu di tahun kedua dan dengan orang-orang yang menurutnya akan menambah keseruan ketika kami menghabiskan waktu bersama. Aku, sesungguhnya bukan tipe orang yang suka berteman dan menghabiskan waktu dengan banyak orang, tetapi Yuri kulihat begitu antusias dan aku tak sampai hati merusak kesenangannya. Dan begitulah, kelompok-main ini terbentuk. Kami banyak melakukan hal menyenangkan seperti ngaliwet dan menginap di rumah salah satu anggota dan bermain kartu di sela-sela pergantian jam pelajaran. Yuri tampak begitu menjaga kelangsungan kelompok-main ini, sedangkan aku, sejujurnya, acuh tak acuh saja dan tak begitu peduli kalaupun kelompok-main ini kelak bubar.

Di titik ini kau mungkin berpikir pasca kematian Yuri aku tak akan lagi berteman dekat dengan mereka. Sejujurnya, aku pun berpikir seperti itu. Aku sempat berpikir seperti itu. Akan tetapi, kenyataannya, kami tetap berteman. Meski waktu telah berlalu bertahun-tahun pun kami tetap berteman. Aku seperti tak bisa mengingkari bahwa aku dan mereka pernah menikmati waktu-waktu menyenangkan bersama-sama, meskipun kehadiran Yuri sangat berperan di sana. Belakangan aku bahkan berpikir tujuan tersembunyi Yuri membentuk kelompok-main ini adalah agar aku tak terlampau kesepian ketika ia akhirnya—karena suatu hal—tak lagi ada di sampingku, agar aku tak kembali menjadi diriku yang lama yang sedikit-sedikit mengurung diri di kamar dan menangis tanpa suara ketika ia akhirnya tak ada. Apakah benar begitu? Jika iya, maka aku semakin memiliki alasan untuk menyukainya dan terus mengingatnya. Kalau dipikir-pikir, kedekatanku dengan Rena pun Yurilah yang, secara halus, mengaturnya.

 
SEBELUM bertemu Yuri, kehidupanku begitu muram. Setiap harinya aku menghabiskan waktuku dengan mengurung diri di kamar, dan hanya sesekali aku keluar seperti ketika harus makan-minum dan buang air kecil. Sempat bahkan, di saat aku semestinya pergi ke sekolah, aku memilih tetap mengurung diri di dalam kamar. Aku berbaring di tempat tidur sambil memandangi jendela yang kubiarkan terbuka, merasakan angin sedikit-sedikit merangsek masuk dan membuatku kedinginan. Jika pada saat itu hujan turun, aku menarik selimut dan membenamkan kepalaku ke dalam bantal.

Ibuku tak bisa melakukan apa-apa untuk membuatku keluar dari kemuramanku itu. Atau, lebih tepatnya, ia memang tak melakukan apa-apa. Ia terlampau bersedih dan harus berjuang melawan kesedihannya itu. Ia terlampau tersakiti dan harus berusaha keras mengobati rasa sakitnya itu. Tanpa perlu ia mengatakannya pun, aku sudah memahaminya. Di antara kami berdua pada saat itu bisa jadi memang ia yang paling tidak beruntung. Ayahku pergi meninggalkannya dan membawa kakakku yang adalah anak kesayangannya.

Seandainya kepergian ayahku adalah karena ia berselingkuh dengan istri orang atau bahkan pelacur sekalipun, kupikir ibuku tak akan sesedih itu. Ia pada awalnya akan marah besar tetapi lambat-laun ia akan memahami bahwa ayahku adalah seseorang seperti itu, lelaki yang lama-kelamaan jatuh bosan pada istrinya dan mencari perempuan lain yang lebih menarik dan lebih segar sebagai pelarian, dan pelampiasan. Namun yang terjadi adalah, ayahku berselingkuh dengan kakakku sendiri, anak kandungnya sendiri. Ia melakukan hubungan badan dengan kakakku dan aku sendiri sangatlah terpukul ketika harus menerima kenyataan bahwa mereka berdua telah melakukannya selama lebih dari satu tahun. Kakakku sedang di tahun terakhirnya di SMA saat itu. Ibuku memergoki perselingkuhan mereka, dengan mata kepalanya sendiri. Saat itu ia mendadak harus kembali ke rumah untuk mengambil beberapa dokumen penting dan ayahku sedang di tengah-tengah hubungan badan kesekiannya dengan kakakku. Ketika ia menceritakannya padaku, airmatanya mengucur deras dan aku seperti tak tahu lagi apa yang semestinya aku lakukan selain memeluknya.

Masalah kami yang sesungguhnya adalah setelah peristiwa itu. Lebih tepatnya, setelah ayahku pergi membawa kakakku. Orang-orang di sekitar rumah menggunjingkan kami dari waktu ke waktu. Begitu juga orang-orang di sekolah. Entah kenapa kabar buruk selalu begitu cepat menyebar. Dan entah kenapa semakin lama kadar keburukannya seperti semakin parah dan semakin parah. Pada awalnya obrolan-obrolan yang sering kudengar adalah seputar pertengkaran ayah dan ibuku. Beberapa lama kemudian, topik dalam obrolan-obrolan itu adalah hubungan badan antara ayahku dengan kakakku. Dan tak lama setelahnya, dalam obrolan-obrolan itu disebut-sebut pula bahwa ayahku bisa saja sudah berhubungan badan denganku juga. Orang-orang itu seperti begitu menikmati apa yang mereka lakukan. Barangkali, mereka mengira menyebarkan kabar buruk bisa membuat mereka cepat kaya dan awet muda.

Meskipun terbilang beruntung sebab perilaku buruk yang kuterima tidak berlanjut ke tindakan fisik, namun tetap saja aku jauh dari kata baik-baik saja. Di sekolah, aku tak lagi berbicara dengan siapa pun. Sejak hubungan terlarang ayahku dan kakakku menjadi salah satu topik utama dalam obrolan-obrolan di sekolah, aku merasa enggan bahkan untuk membuka mulut saja. Atau mungkin, aku bukannya enggan, tetapi takut. Ya, takut. Takut apa yang kukatakan malah membuat orang-orang di sekitarku itu menertawakanku. Takut apa yang kuucapkan itu malah membuat mereka memperlakukanku dengan lebih buruk lagi. Pada saat itu hukuman yang mereka berikan padaku adalah dengan tidak mengajakku bicara dan sebisa mungkin menganggapku tak ada. Guru-guru pun sama. Mereka telah dewasa tetapi seperti tak mampu memahami bahwa apa yang terjadi pada keluargaku sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan mereka, sama sekali tak memberikan pengaruh kepada kehidupan mereka. Saat itu baru kusadari: tidak memiliki satu pun teman dekat ternyata bisa sangat sangat menyakitkan.

Namun wajarkah sebenarnya apa mereka lakukan itu? Mereka menghukumku seolah-olah aku telah bersalah kepada mereka, seolah-olah aku telah melakukan sesuatu yang buruk kepada mereka, sesuatu buruk yang tidak bisa mereka lupakan dan abaikan begitu saja. Aku tidak melakukan apa pun. Yang melakukan hubungan terlarang itu adalah ayahku dan kakakku. Jikapun hukuman itu tetap diberikan maka ayahku dan kakakkulah yang semestinya menerimanya. Bukan aku. Bukan ibuku. Tetapi bisa jadi mereka tidak berpikir ke arah sana. Yang mereka tahu adalah ayahku dan kakakku melakukan hubungan badan, dan karena aku (dan ibuku) berada dalam lingkaran yang sama dengan mereka berdua maka aku ikut menerima akibatnya. Atau mungkin, lebih buruk lagi: mereka menghukumku karena akulah yang bisa mereka jangkau dengan mudahnya. Seandainya ayahku dan kakakku berada dalam jangkauan mereka, bisa jadi ayahku dan kakakku itulah yang mereka beri hukuman tersebut.

Berbulan-bulan kami berada dalam keadaan seperti itu dan tak ada tanda-tanda semuanya akan membaik. Ibuku selalu menangis tersedu-sedu setibanya ia di rumah sepulang kerja. Kadang ia tak menyiapkan makan malam. Aku sebagai satu-satunya orang yang masih terhubung dengannya mungkin semestinya menghampirinya dan menghiburnya. Akan tetapi, bagaimana aku bisa menghibur orang lain jika aku sendiri begitu terpuruk, begitu tak merasa hidup, begitu tak ingin lagi melanjutkan hidup? Di waktu-waktu tertentu aku memikirkan kemungkinan bunuh diri. Seandainya aku mati, apakah kemuraman ini akan berakhir? Begitulah berulangkali aku berpikir. Pada akhirnya pikiran gila ini selalu kusingkirkan di detik aku teringat bahwa ibuku akan benar-benar sendirian jika aku mati. Ia akan tak memiliki siapa-siapa lagi. Hubungannya dengan orangtuanya dan saudara-saudaranya benar-benar terputus di hari ayah dan ibuku menikah. Ibuku berganti keyakinan mengikuti ayahku.

Aku sempat mengutarakan keinginan untuk pindah sekolah. Ibuku mendengarkan ocehanku, namun matanya seperti mati. Mata itu tak memancarkan cahaya, atau apa pun. Ketika mulutnya terbuka dan lidahnya bergerak-gerak, aku seakan-akan sedang berada di ruang hampa udara.

Percakapan itu terjadi setelah aku tak pergi ke sekolah selama lima hari berturut-turut dan kupikir itu adalah percakapan pertama kami sejak ayah dan kakakku benar-benar pergi. Aku merasa lega, bahwa kami rupanya masih bisa bicara, masih bisa saling membalas gerakan tangan dan raut muka. Ibuku memang tak mengabulkan keinginanku, tetapi entah bagaimana aku bisa menerima keputusannya itu begitu saja, tanpa merasa kesal atau kecewa atau apa pun. “Kita bertahan sedikit lebih lama lagi. Setelah kamu lulus, kita pindah ke luar kota. Di sana kita mungkin bisa membuka lembaran baru.” Begitulah ibuku berkata. Suaranya yang tipis merasuk-masuk ke dalam diriku. Besok harinya aku kembali bersekolah.

Dan setelah berbulan-bulan lainnya yang penuh kemuraman itu, aku lulus dari SMP, dan segera ibuku mengatur segala hal terkait kepindahan kami. Ia memasang tanda bahwa rumah kami akan dijual. Di kota tujuan kami, ia mencari-cari pekerjaan yang menurutnya bisa dilakukannya. Tak lama kemudian ibuku telah berganti profesi dari seorang notaris ke seorang pembuat kue.

Di kota itulah aku kemudian bertemu Yuri. Hari pertamaku di SMA. Kelas masih lengang ketika aku masuk dan memilih salah satu meja di belakang. Beberapa menit setelahnya, Yuri masuk, dan begitu saja ia menuju ke arahku dan duduk di kursi di sampingku. “Hai, aku Yuri. Mulai saat ini kita berteman ya,” ujarnya. Ia tersenyum lebar dan melihat senyumnya itu aku seketika memiliki tenaga untuk menggerakkan tangan dan menjabat tangannya. “Senyummu cantik.” Begitulah kemudian ia berkata. Darahku berdesir hebat dan aku terpaksa memalingkan muka untuk menyembunyikan mataku yang berkaca-kaca.

 
JADI agaknya benar dugaanku bahwa kami memang sudah ditakdirkan untuk bersama, untuk menjadi teman dekat dan melakukan banyak hal bersama-sama. Ia muncul di saat yang tepat, dan setelah bersamanya hari-hariku menjadi semakin baik dan semakin baik, semakin cerah dan semakin cerah. Kepergian ayahku dan kakakku, aku tak lagi memikirkannya. Ibuku pun kulihat berasyik-masyuk dalam profesi barunya dan itu benar-benar membantuku. Meskipun kami tetap saja jarang sekali bicara seperti biasanya, namun kami saling menerima keberadaan satu sama lain. Kadang-kadang, hanya dengan melihat punggungnya saja, aku sudah memahami bahwa ibuku menginginkan aku menemaninya.

Semua itu berkat Yuri. Semua hal baik itu, segala sesuatu yang membuatku mendapatkan kembali gairah hidupku itu, muncul satu per satu berkat Yuri. Kehadirannya, perhatiannya, kasih sayangnya. Aku tak pernah lagi merasa kesepian meskipun aku tak berteman dengan siapa pun selain dirinya. Ia seorang saja sudah cukup. Sudah benar-benar cukup. Aku bahkan pernah berpikir bahwa jika aku berteman juga dengan orang(-orang) lain maka pertemananku dengan Yuri bisa terganggu, dan itu tentu bukan sesuatu yang kuinginkan.

Satu hal dari Yuri yang membuatku benar-benar menyukainya—atau bahkan menyayanginya—adalah bahwa ia membuatku merasa dibutuhkan olehnya, membuatku merasa keberadaanku di dunia ini berguna, untuknya. Pada malam larut, ketika ia belum bisa tidur, ia selalu meneleponku. Ia mengajakku bicara ini-itu dan sesekali tertawa dan sesekali mengumpat. Aku sendiri, kadang tertawa-tawa. Lebih seringnya aku hanya tersenyum tetapi senyumku itu memberiku kenikmatan dan kepuasan yang luar biasa. Berjam-jam mengobrol dengannya, aku tak pernah bosan, dan tak pernah lelah. Di suatu kesempatan ia mengatakan bahwa ia bersyukur memiliki seseorang sepertiku yang bisa ia hubungi setiap kali ia kesepian. Menurutnya, kesepian adalah hal terburuk yang harus dihadapi manusia.

Oleh karena itulah setelah Yuri meninggal aku benar-benar merasa kehilangan. Rena meneleponku dan mengabariku berita buruk itu dan saat itu aku sedang dalam perjalanan pulang di dalam gerbong kereta. Sedu-sedan Rena bercampur-baur dengan gesekan roda pada rel. Di sekitarku, perempuan-perempuan yang tak kukenal. Dua orang perempuan di arah jam sepuluh tertawa-tawa dan aku ingin sekali meludahi mereka.

Selepas Rena mengakhiri percakapan, aku bertanya-tanya apakah sesungguhnya kesepian itu. Apakah itu berarti kita berada di suatu ruangan dan tak ada seorang pun di ruangan itu selain kita? Ataukah itu berarti kita berada di antara banyak orang namun tak satu pun dari orang-orang itu memahami apa yang saat itu tengah kita rasakan? Yuri, sebelumnya, sejauh yang kutahu, hanya merasa kesepian ketika ia berada di malam larut dan ia belum bisa tidur, yang karenanya ia meneleponku. Namun saat itu, aku berpikir, bisa jadi, Yuri juga merasa kesepian di waktu-waktu yang lain. Di sore hari saat kami bertujuh bersantai-santai di Taman Kota. Di siang hari saat kami mengobrol menunggu bel pulang dibunyikan. Di pagi hari saat ia menyapaku dan mengajakku bicara dan memberiku senyum lebarnya. Apakah aku benar-benar memahaminya? Apakah aku benar-benar memahami Yuri sebagaimana ia memahamiku? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar-putar dalam kepalaku. Dan, ketika kereta berhenti di sebuah stasiun, ketika pintu-pintu di sebelah kiri perlahan membuka, sesuatu yang asing mengalir masuk dan menghampiriku. Aku tak lagi mendengar apa pun selain detak jam yang entah berasal dari mana. Detak demi detak. Detak demi detak. Lalu perlahan aku dengar langkah-langkah kaki, percakapan-percakapan, dan tawa. Tak lama setelahnya pintu-pintu menutup dan kereta kembali berjalan dan saat itulah aku menyandarkan kepala dan memejamkan mata. Seseorang yang kusayangi telah pergi. Satu-satunya orang yang benar-benar kusayangi di dunia ini… telah pergi.

 
YURI menemui ajalnya dengan cara yang tidak wajar, dan juga sadis. Ia ditemukan berada di dalam sebuah mobil di lapangan parkir sebuah mall dalam keadaan sekarat. Banyak darah keluar dari tubuhnya. Kulit mukanya pucat dan tatapan matanya kosong. Dua orang satpam yang menemukannya langsung memanggil ambulan dan salah satu dari mereka menemaninya ke rumah sakit.

Seandainya kedua satpam tersebut menemukan Yuri di dalam mobil itu lebih cepat beberapa jam, atau bahkan satu hari, barangkali Yuri masih bisa terselamatkan. Ia tak harus mati dan Rena tak perlu menangis dan aku akan menjenguknya, dan menemaninya hingga kondisinya membaik. Akan tetapi, pengandaian hanyalah pengandaian. Seringkali dengan melakukannya penderitaan dan rasa sakit yang kita rasakan menjadi lebih kuat dan lebih kuat. Yuri sudah tak ada dan itu kenyataan. Tak ada yang bisa dilakukan untuk membuatnya kembali hidup.

Pada saat Yuri yang sekarat itu memasuki rumah sakit, kebetulan pada saat itu ayahnya sedang bertugas di sana. Dan, mungkin karena Yuri cukup sering bermain ke sana, salah seorang suster mengenalinya dan langsung memberitahu ayahnya Yuri. Lelaki itu sempat terdiam, seolah-olah berusaha menolak kabar buruk yang baru saja didengarnya. Ketika ia setengah berlari menuju ruang gawat darurat, degup jantungnya jauh lebih cepat dari semestinya dan tarikan napasnya terasa berat.

Ayahnya itulah yang berusaha menyelamatkan Yuri. Beberapa suster dan dokter mendampinginya, namun itu tak banyak membantu. Keadaan Yuri sudah teramat buruk dan ayahnya itu mulai panik dan akhirnya putus asa. Rekan-rekan kerjanya, tampak bersimpati. Mereka tahu lelaki itu adalah lelaki yang kuat namun dihadapkan pada kondisi anaknya yang seperti itu ia seperti kehilangan kekuatannya. Pada akhirnya, ketika denyut nadi Yuri sudah tak lagi terasa, dan ketika segala daya upaya untuk membuatnya kembali terasa tak juga membuahkan hasil, lelaki itu menangis. Airmatanya menetes dan ia menutupi wajahnya dengan tangan kanannya yang berlumuran darah. Di ruangan itu, waktu seperti berhenti.

Begitulah kira-kira detik-detik kematian Yuri enam tahun yang lalu. Aku mendengarnya langsung dari ayahnya di hari kami berenam berkunjung ke rumahnya satu tahun kemudian. Pada beberapa kesempatan sebelumnya, meski aku berhadapan dengan lelaki itu, ataupun istrinya, kami seperti bersepakat untuk tidak dulu membahas apa pun terkait kematian anaknya itu.

Kini aku kembali berhadapan dengannya, seorang diri. Istrinya sedang menyiapkan sesuatu di dapur. Aku masih merasa sedikit canggung meskipun ini adalah pertemuan kami yang keenam—atau ketujuh?—sejak kematian Yuri. Kami sudah mengobrol tentang bagaimana kehidupan kami masing-masing dalam satu tahun ini, dan tentu saja di sela-sela obrolan kami itu kami mengingat Yuri dan mengenangnya. Ada hening yang benar-benar hening pada titik-titik kami mengenang Yuri. Bagaimanapun, Yuri seseorang yang sangat berarti bagiku, dan tentu juga sangat berarti baginya. Waktu berlalu dan kami terus berusaha menguatkan diri dan bertahan, meski mungkin sebagai diri kami yang baru.

“Kamu tahu, waktu Om memutuskan untuk resign empat setengah tahun yang lalu, Om sebenarnya tidak yakin juga keputusan yang Om ambil itu tepat. Om sudah menggeluti dunia kedokteran selama lebih dari dua puluh tahun. Itu waktu yang sangat lama. Om sempat juga merasa bahwa selain menjadi dokter Om tak bisa menjadi apa-apa lagi. Akan tetapi, Om tetap resign. Itu harus, atau Om akan tetap tertahan di titik yang sama dan tak akan bisa melanjutkan hidup. Yuri meninggal di depan mata Om sendiri. Om menyaksikan detik-detik terakhirnya. Dan Om gagal menyelamatkannya.”

Begitulah ayahnya Yuri ini berkata. Ia sesekali menatapku namun lebih seringnya ia menatap ke jendela seolah-olah ada sesuatu yang menarik perhatiannya di luar sana. Aku tak tahu harus bereaksi seperti apa dan hanya sedikit mengangguk dan tersenyum.

“Kamu sendiri bagaimana? Bukankah kamu juga mengambil langkah baru setelah kepergian Yuri? Om dengar dari Rena kalau kamu kini memasang tiga alarm dari tiga jam weker seperti halnya Yuri dulu.”

Kali ini ia menatapku. Aku memaksakan diri untuk sedikit tersenyum.

Sejujurnya aku tidak tahu apakah aku telah mengambil langkah baru setelah kepergian Yuri atau tidak. Aku masih bekerja di kantor yang sama. Aku masih melakukan rutinitas harian yang sama. Selain kenyataan bahwa Yuri sudah tak ada, kehidupanku seperti begitu-begitu saja. Aku menghabiskan waktu-waktu senggangku seorang diri, entah itu dengan membaca novel atau berjalan-jalan di mall. Ketika Yuri masih ada, ia memang sesekali mengejutkanku dengan mengetuk-ngetuk pintu kamarku atau meneleponku dan memberitahu bahwa ia sudah hampir tiba di terminal. Untuk yang satu ini perbedaan itu memang ada. Sangat sangat terasa. Tapi selain itu, mungkin begitu-begitu saja.

Tetapi aku memang memasang tiga alarm dari tiga jam weker untuk membangunkanku di pagi hari dan aku baru melakukannya selepas kepergian Yuri, tepatnya tiga bulan setelah Rena mengabariku kabar buruk itu. Apakah aku melakukannya dalam rangka mengenang Yuri? Entahlah. Saat itu Rena meneleponku dan menanyakan kabarku dan kukatakan padanya bahwa beberapa hari itu aku sulit sekali bangun pagi, dan itu menyusahkanku sebab kantor tempat aku bekerja berada di luar kota dan aku harus menempuh perjalanan kereta sekitar satu jam untuk bisa sampai ke sana. “Kenapa memangnya kamu jadi sulit bangun pagi?” tanya Rena. “Karena aku jadi susah sekali tidur sebelum jam dua belas,” jawabku. Rena, kemudian menyarankanku untuk memasang tiga alarm saja. “Mungkin itu bisa meningkatkan gangguan dan mau nggak mau kamu pun bangun,” katanya. Baru sekitar seminggu kemudian aku menyadari bahwa apa yang disarankan Rena itu adalah kebiasaan Yuri.

Jadi mungkin yang dikatakan ayahnya Yuri ini tidak benar juga. Aku memang memasang tiga alarm dari tiga jam weker berbeda, tetapi aku tidak meniatkannya untuk mengenang Yuri atau mengambil langkah baru selepas kepergiannya. Apa pun yang kulakukan, langkah baru apa pun yang kuambil, Yuri tak akan kembali. Tanpa kusadari aku mungkin menerima kepergian Yuri. Kendatipun itu membuatku sedih, aku berusaha menjalani kehidupanku sebagaimana biasanya.

Tetapi soal setiap tahunnya aku mendatangi kota ini di hari kematian Yuri, kuakui, itu kulakukan dalam rangka mengenang Yuri. Aku berdoa di depan makamnya, aku bercakap-cakap dengan orangtuanya. Dan aku juga menghabiskan waktu beberapa lama di Taman Kota di mana kami dulu melakukannya. Apakah itu berarti aku mengambil langkah baru? Apakah aku melihatnya sebagai sebuah cara untuk mengatasi kehilangan dan kesedihanku atas kepergian Yuri? Apakah jika aku tak melakukannya aku tak akan bisa lagi menjalani kehidupanku dengan baik sebagaimana biasanya? Apakah yang kulakukan ini membawaku memasuki babak baru dalam kehidupanku, membawa diriku menuju diriku yang baru?

Aku tak tahu. Dan bisa jadi aku mungkin tak perlu memikirkannya.

 
DI makam Yuri tadi aku menyiramkan sisa air mineral dalam botol sambil mengajak Yuri bicara. Kukatakan padanya bahwa pada kunjungan kali ini kelima teman kami tak bisa ikut. Dua tahun lalu empat orang. Tahun lalu aku dan Rena. Kali ini hanya aku. Aku meminta Yuri agar tidak kesal atau marah sebab kelima teman kami itu memiliki alasannya masing-masing, dan kami perlu menghargainya. Rena, dalam percakapan via teleponnya semalam, berkali-kali meminta maaf dan berjanji akan kembali ikut pada tahun berikutnya. Kukatakan padanya bahwa aku akan baik-baik saja.

Tanpa ada yang menemaniku, aku rupanya jadi begitu lancar berbicara. Kukatakan kepada Yuri apa saja. Dan seakan-akan di dalam sana ia memang mendengarnya, aku terus bercerita dengan raut muka dan bahasa tubuh yang begitu hidup. Dulu sekali, aku menjadi seperti ini ketika suasana hatiku sedang sangat baik dan kami hanya berdua saja. Di balkon kamarnya. Di beranda rumahku. Terakhir kali itu terjadi adalah saat Yuri tiba-tiba mengunjungiku di kamar kosku yang lama. Saat itu aku masih mahasiswa dan ia pun begitu. Kami memang memilih melanjutkan pendidikan kami di dua kota yang berbeda, juga berjauhan.

Pada awalnya aku tak bisa menerima keputusan Yuri ini. Kami sudah dekat selama tiga tahun dan kupikir kami akan kuliah di kota yang sama, di universitas yang sama. Aku sempat begitu kesal. Yuri berkata bahwa apa yang dilakukannya ini justru adalah untuk kebaikan kami, agar kedekatan kami bertahan lama dan semakin baik, namun aku sulit mempercayainya. Lebih tepatnya, aku enggan mempercayainya. Kelak ia kemudian mengatakan juga bahwa ia ingin berusaha menyenangkan ayahnya dan ia meyakini bahwa lambat-laun aku akan memahaminya. Yuri memang pernah bercerita bahwa ayahnya yang (dulu) seorang dokter itu mengharapkan ia berkuliah di kota yang sama dengan kota di mana ia bertugas. “Tujuannya agar Ayah bisa cepat-cepat turun tangan kalau-kalau sesuatu yang buruk menimpaku.” Begitulah Yuri menjelaskan. Ketika itu ia mengatakannya sambil tersenyum. Kami, termasuk juga ayahnya itu, tentu tak pernah mengira bahwa hal itu akan benar-benar terjadi. Ketika sesuatu yang buruk itu menimpa Yuri ia masih sedang berusaha keras merampungkan tugas akhirnya.

Untuk sedikit menyenangkanku, barangkali juga untuk mengobati rasa bersalahnya, Yuri beberapa kali melakukan kunjungan tiba-tiba ke kota di mana aku kuliah. Kadang ia datang di saat yang kurang tepat, seperti ketika aku sedang harus mengerjakan tugas praktikum yang tenggat waktunya adalah besok harinya. Tetapi aku tak pernah merasa terganggu. Kesal pun tidak. Melihat Yuri muncul di hadapanku, melihat ia tersenyum dan kemudian menghampiriku, aku selalu merasa bahagia. Entah bagaimana menjelaskannya. Seolah-olah Yuri benar-benar memancarkan cahaya dan aku menangkap pancaran tersebut dengan penuh rasa syukur. Tentu saja, cahaya tersebut juga mengalirkan kehangatan.

Bertahun-tahun berlalu, dan aku mulai memahami apa yang dimaksudkan Yuri. Dengan terpisah jauh, kami justru jadi memiliki alasan yang kuat untuk sesekali bertemu, untuk sesekali menghabiskan waktu dan melakukan hal-hal gila. Kebersamaan dan kedekatan kami benar-benar terasa ketika kami bertemu itu. Kami bercerita tentang apa-apa yang kami alami selama kami terpisah. Kami bercerita tentang apa-apa yang akan kami lakukan setelah kami kemudian terpisah lagi. Jika kami selama bertahun-tahun itu menempuh kuliah di kota yang sama, di universitas yang sama, sangat mungkin kami menemui titik jenuh, mulai merasa bosan satu sama lain, dan akhirnya dengan sendirinya kami menempuh jalan kami masing-masing. Ia tak ingin ini terjadi, dan ia mengambil risiko dengan membuat kami terpisah. Sesungguhnya itu pun sesuatu yang sulit baginya. Begitulah di suatu pertemuan kami ia mengaku. Aku lantas benar-benar memaafkannya dan jadi semakin menyukainya. Pada saat itu, aku sangat yakin kami masih akan sedekat itu pada sepuluh tahun setelahnya.

Tetapi kehidupan ini kadang-kadang menyebalkan. Apa yang kita yakini tidak selalu benar terjadi. Seringnya tidak. Selalu ada hal-hal tak terduga yang bisa terjadi, yang tak pernah kita pikirkan, dan ketika saat-saat terburuk itu tiba kita hanya bisa menerimanya dan berusaha bangkit. Itu pun kalau setelahnya kita masih memiliki keinginan untuk terus hidup.

“Kematian itu, Hana, benar-benar bukan sesuatu yang bisa kita kendalikan. Ia bagian dari takdir, dan ia bisa menghampiri kita begitu saja. Bahkan di saat kita sama sekali tak sanggup menanggungnya.”

Begitulah ayah Yuri kembali berkata.

“Tetapi barangkali, Hana, kematian juga bukan sesuatu yang semestinya kita tolak, bukan sesuatu yang semestinya kita ingkari. Ketika Yuri mati, Om benar-benar merasa hancur. Benar-benar, merasa hancur. Ditambah lagi kenyataan bahwa ia mati dengan cara seburuk itu. Siapa yang melakukannya? Manusia keji mana yang bisa-bisanya melakukannya? Begitulah pada saat itu Om kerap berpikir, dan setiap kali memikirkannya Om seketika merasa marah dan putus asa, dan semakin hancur. Maka pada akhirnya, Om, begitu juga ibunya Yuri, memilih untuk merelakannya saja. Yuri harus menemui ajalnya dengan cara seburuk itu. Mungkin itu sebuah teguran atau peringatan dari Tuhan. Mungkin kami kurang menjalani hidup sebagaimana semestinya. Mencari tahu siapa yang menyebabkan Yuri sampai seperti itu, apalagi jika melibatkan polisi dan media massa, hanya akan membuat kami semakin tertahan di titik yang ingin sekali kami tinggalkan itu. Kami harus bertahan hidup. Kami harus melanjutkan hidup. Karena, kami yakin, itulah yang diinginkan Yuri.”

Kali ini, sepasang matanya terarah ke jendela, dan lagi-lagi aku tak tahu harus mengatakan apa, dan hanya terus tersenyum dan tersenyum. Dari arah jam dua istrinya muncul. Ia membawa sesuatu seperti puding dan minuman hangat dengan asap yang mengepul-ngepul. Jika kelima temanku ada di sini, merekalah yang akan menyentuhnya terlebih dulu.

 
SEPULUH tahun yang lalu, terakhir kalinya kami bertujuh bersantai-santai di taman ini, Yuri membisikkan di telingaku bahwa ia menyukaiku. Aku menoleh menatapnya dan memicingkan mata. Apakah kamu sedang menggodaku? pikirku. Dan ia, seperti bisa membaca apa yang kupikirkan itu, cepat-cepat menggeleng dan tersenyum dan menggerakkan bibirnya. I love you. Itulah yang diucapkannya. Aku kemudian menjadi bingung menentukan mana yang benar. Sebelumnya ia bilang ia menyukaiku dan kemudian ia bilang ia mencintaiku.

Apakah Yuri memang mencintaiku? Aku tak tahu. Apakah aku mencintai Yuri? Aku juga tak tahu. Yang kumaksudkan dengan “cinta” di sini tentu adalah perasaan yang umumnya dimiliki sepasang kekasih, bukan teman baik, bukan keluarga. Kadang-kadang aku memikirkannya namun selalu aku tak juga bisa memastikan apakah yang ada di antara kami adalah cinta atau perasaan lainnya. Tetapi mungkin, itu tidak begitu penting juga. Ketika aku bersamanya aku merasa bahagia. Dan ia pun begitu. Saling mencintai atau tidak, kami berbagi kegembiraan dari waktu ke waktu dan itu sesuatu yang baik.

Sebuah pesan dari Rena baru saja tiba. Ia menanyakan bagaimana kunjungan kali ini dan apakah aku baik-baik saja. Kubalas: Semuanya lancar seperti biasa. Dan aku baik-baik saja. Rena kemudian membalas dengan emoticon orang tersenyum dan ia memintaku untuk berhati-hati ketika pulang nanti. Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja. Begitu aku membalas. Setelah beberapa detik berlalu aku merasa perlu mengirim juga sebuah emoticon orang tersenyum.

Sebenarnya kalau dipikir-pikir, Rena benar-benar baik padaku, dan aku mungkin perlu lebih mensyukurinya. Memang ia tak bisa menggantikan Yuri, tetapi kehadirannya sendiri, perhatiannya padaku itu, sudah benar-benar membantuku. Bisa jadi karena keberadaan Renalah aku selama ini bisa melanjutkan hidupku seperti biasa. Ah, mengapa aku tak pernah berpikir ke arah sana? Bukankah itu masuk akal. Sangat sangat masuk akal. Ketika Yuri masih hidup Rena rasanya tak pernah sebaik dan sehangat itu padaku. Ia seperti mengambil jarak, mungkin untuk membiarkan Yuri memiliki ruang yang leluasa denganku. Apakah Yuri memang mengatakan sesuatu padanya, sesuatu seperti apa yang harus dilakukan Rena ketika kelak sesuatu yang buruk terjadi? Aku tak tahu. Benar-benar tak tahu. Rena dan Yuri menempuh kuliah di kota yang sama, bahkan di kampus yang sama, dan mereka tentu punya banyak kesempatan untuk membahas hal-hal semacam itu. Dulu sekali aku pernah begitu cemburu dengan hal ini dan aku sempat membenci Rena beberapa lama.

Menurutmu, apa yang sebaiknya kulakukan sekarang, setelah hari ini? Bagaimana aku sebaiknya melanjutkan hidupku? Jujur saja, belakangan ini aku mulai merasa bahwa aku sebenarnya sudah tak lagi benar-benar hidup. Entah sejak kapan. Mungkin sejak dua tahun lalu. Atau bahkan lima tahun lalu. Tentang apa yang tadi dikatakan ayahnya Yuri, aku mungkin perlu memikirkannya lagi sewaktu-waktu, apakah aku telah mengambil langkah baru atau belum, apakah aku perlu mengambil langkah baru atau tidak. Satu hal, yang sedari tadi lupa kukatakan, yang mungkin akan membuatmu terkejut atau setidaknya mengerutkan kening: aku rupanya sudah sangat lama tak lagi menangis.

Terakhir kali aku menangis adalah pada kunjungan pertama kami lima tahun yang lalu. Aku sudah menyebutkannya tadi, yakni saat ibunya Yuri memelukku dan menangis tersedu-sedu. Pada saat itu, aku menangis mungkin lebih sebagai respon atas tangisannya itu. Jika ia tak menangis maka mungkin aku pun tak akan menangis. Tidakkah aku bersedih? Tentu aku bersedih. Tidakkah aku merasa kehilangan? Tentu aku merasa kehilangan. Tetapi aku seperti kehilangan dorongan untuk menangis. Entah kenapa.

Di suatu kesempatan Rena menyinggung hal ini dan raut mukanya menunjukkan bahwa ia mencemaskanku. Aku sebelum bertemu Yuri adalah orang yang mudah menangis. Mungkin ia pernah mendengar itu dari Yuri. Kenyataannya, setelah mengenal Yuri pun aku masih terbilang mudah menangis, meski frekuensinya berkurang drastis. Lalu selepas kematian Yuri aku tak lagi menangis bahkan ketika aku teringat kebersamaan kami. Rena mungkin menilai reaksiku itu tidak normal. Aku tak memberikan penjelasan apa pun padanya sebab aku sendiri memang tak mengerti. Apakah aku sewajarnya memang menangis? Apakah saat ini aku sudah sepantasnya menangis?

“Hana, salah satu hal yang membuatku senang menghabiskan waktu denganmu adalah bahwa ketika aku memegang tanganmu seperti ini, ketika aku menatap matamu seperti ini, aku bisa melihat dengan jelas bahwa kamu bahagia. Aku bisa memastikannya. Dari matamu. Dari getaran tanganmu. Dari denyut nadimu.”

Itu dikatakan Hana lebih dari sepuluh tahun yang lalu, ketika kami hanya berdua di taman ini, ketika langit mulai memerah dan angin berembus tiba-tiba menggerakkan dedaunan yang ada. Dan pada saat itu, di hadapannya, sementara ia masih menggenggam tanganku, aku menangis sejadi-jadinya, tanpa peduli apakah orang-orang di sekitar kami akan memandangiku dan terganggu olehku.

“Kamu ini konyol. Di saat kamu harusnya tersenyum dan merasa senang, kamu malah menangis.” Begitulah waktu itu Hana berkata, sambil salah satu tangannya menyentuh pipiku dan mengusap airmataku.

Mengapa aku baru mengingatnya sekarang? Mengapa pada kunjungan tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya aku tak mengingatnya, seakan-akan itu bukan sesuatu yang penting bagiku? Apakah karena baru pada kunjungan kali ini aku benar-benar sendirian? Apakah karena baru pada kunjungan kali ini aku benar-benar merasa kesepian?

Sendirian. Kesepian. Dua kata ini kadang-kadang terasa mengerikan. Dan bisa jadi benar apa yang dikatakan Yuri tempo hari: kesepian adalah hal terburuk yang harus dihadapi manusia.

“Hana, sepuluh tahun lagi dari sekarang, kalau kita berdua lagi seperti ini di taman ini, apa yang menurutmu akan kita lakukan?” tanya Yuri, lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

“Hmm… apa ya? Berciuman?” jawabku, dan ia tertawa.

“Kamu serius?” tanyanya.

“Aku serius,” jawabku, meski saat itu aku tersenyum.

Dan Yuri kembali tertawa. Dan aku harus sekuat tenaga menahan diri untuk tidak mendekatkan diriku padanya dan menciumnya.

Ah, mungkin semestinya, saat itu, aku menciumnya saja.

Di hadapanku kini, di atas sana, langit mulai memerah. Persis seperti saat itu. Dan tak lama kemudian angin berembus tiba-tiba, menggerakkan rumput-rumput dan dedaunan yang ada.

“Saat ini ada orang yang kamu sukai, Hana?” tanya Yuri, di percakapan-via-telepon terakhir kami, beberapa hari sebelum kabar buruk itu tiba.

“Ada,” jawabku. Dan dalam hati aku menambahkan: kamu.

Seandainya ingatanku tak menipuku, saat itu Yuri baru saja mengatakan padaku bahwa ia sedang menjalin hubungan dengan seseorang, dan hubungan itu telah berlangsung berbulan-bulan lamanya namun baru kali itu ia bisa memberitahukannya padaku.

“Orangnya gimana? Baik?” tanyanya kemudian.

“Sangat baik,” jawabku.

Dan teringat hal itu tiba-tiba di taman ini aku merasa seorang diri. Orang-orang yang sedari tadi ada seperti seketika pergi. Atau, mereka tetap ada tetapi hanya diam seperti patung-patung.

Sementara itu angin masih terus berembus. Dan langit, semakin memerah.(*)

 
Cianjur, Maret-April 2015

  
*Lagu yang cocok dinikmati sambil membaca cerita ini adalah “Sakura no Ki ni Narou”-nya AKB48. Cerita ini sendiri terinspirasi dari lagu tersebut, tepatnya video klipnya.

**Nama tokoh-tokoh dalam cerita ini berasal dari nama beberapa member atau mantan-member AKB48 (juga SKE48). Yuri dari Matsui Jurina, Hana dari Kojima Haruna, Rena dari Matsui Rena, Yuka dari Oshima Yuko, Mirna dari Takahashi Minami, Maya dari Watanabe Mayu, dan Mimi dari Minegishi Minami.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s