Rumah Tangga yang Bersih

SUAMIKU bangkit dari tempat tidur, terbangun oleh bunyi beep dari mesin cuci saat proses pencucian berakhir.

“Pagi… Maaf aku telat bangun. Mau kugantikan?”

Mencuci pakaian di akhir pekan adalah tugasnya, namun karena semalam ia bekerja di bank hingga larut dan pulang dengan kereta terakhir hari itu, kuputuskan untuk mengerjakannya saja.

“Tak usah,” jawabku. “Oh ya, kemeja hijaumu kucuci. Tak apa-apa?”

“Tak apa-apa. Terima kasih ya.”

Ketika aku menjemur pakaian-pakaian yang kucuci itu di balkon kamar, ia beranjak ke kamar mandi, dan berpakaian. Selanjutnya ia memasukkan roti ke pemanggang, merapikan meja, dan duduk untuk sarapan.

Hidup dengan suamiku seperti hidup dengan seekor burung hantu yang benar-benar bersih, juga pintar. Tentu sesuatu yang bagus memiliki seekor hewan yang bersih di rumah. Kami telah berumahtangga selama tiga tahun dan hal ini belum berubah. Seorang temanku, yang menikah karena cinta dengan umur pernikahan yang sama, mengatakan bahwa ia mulai merasakan keengganan yang nyata terhadap suaminya, namun tidak begitu denganku. Suamiku seseorang yang memperhatikan cara makannya dan baik di bak mandi ataupun toilet tak pernah kutemukan sisa-sisa cairan atau kotoran. Kadang-kadang aku berpikir semestinya dulu tugas bersih-bersih rumah kuserahkan padanya saja.

Selepas menjemur pakaian-pakaian itu kukatakan hal ini kepadanya dan ia tertawa. “Jadi maksudmu aku ini seperti Roomba?” Sejujurnya, itu tidak jauh dari yang kumaksudkan.

“Di sisi lain,” ujarnya, “kamu, Mizuki, lebih seperti kelinci, atau tupai. Pendiam, sensitif terhadap bunyi. Dan kamu tak pernah kehilangan kesabaran lantas memarahiku.”

“Bukannya tupai bisa juga kehilangan kesabaran?”

“Kupikir tidak. Kamu dan aku, kita berdua ini, adalah hewan-hewan yang bersih dan tak mengusik satu sama lain. Dan bukankah itu bagus?”

Ia benar. Tentu ada beberapa hal kecil darinya yang kerap menggangguku, seperti kebiasaannya mengganti kertas toilet sebelum kertas itu benar-benar habis, atau mengelompokkan piring-piring kotor lebih karena bentuknya ketimbang tingkat kekotorannya, yang justru adalah cara yang kupakai. Tapi hal-hal itu tak sampai membuatku jengah. Agaknya, itu dikarenakan di antara kami memang terbentang jarak.

Kami bertemu di sebuah situs perjodohan. Setelah membaca sejumlah keterangan dari para lelaki tentang “rumah tangga yang ideal”—“Aku ingin membangun sebuah keluarga yang penuh cinta” atau “Aku ingin memiliki banyak anak”—aku tiba pada keterangan ini: “Aku menginginkan sebuah rumah tangga yang bersih.” Sewaktu kubuka profil lelaki tersebut, kutemukan penjelasan seperti ini: “Aku menginginkan sebuah keseharian yang nyaman dan damai dengan seseorang yang akur denganku, seperti halnya kakak dan adik, tanpa adanya keharusan untuk berhubungan sex.”

Aku tertarik. Kami bertukar pesan, dan kemudian memutuskan untuk bertemu. Kacamata berbingkai perak membuatnya terlihat gugup, dan aku mulai berpikir jangan-jangan yang dimaksudkannya dengan “rumah tangga yang bersih” adalah semacam “obsesi terhadap kebersihan”. Ketika kami akhirnya bercakap-cakap, aku paham, kata “bersih” di sana mengacu ke hal lain.

“Aku ingin kehidupan keluargaku seperti sebuah ruang yang tenang, sesuatu yang mungkin kamu rasakan saat kamu menghabiskan waktumu dengan seorang teman-satu-kamar yang dengannya kamu benar-benar akur dan cocok, atau dengan adik perempuan kesayanganmu saat orangtuamu pergi.”

“Aku paham. Bisa kubayangkan itu.”

“Sejujurnya, aku merasa tidak nyaman dengan gambaran sebuah keluarga sebagai perpanjangan dari hubungan yang romantis. Sebuah keluarga semestinya tak memiliki hal lain selain rasa sayang antara si lelaki dan si perempuan—seperti sebuah pertemanan yang sederhana.”

“Aku setuju,” ucapku. “Aku telah tinggal dengan sejumlah laki-laki, tapi selalu saja ada sebuah titik di mana kami berpisah. Kami semestinya menjadi keluarga, tetapi mereka mengharapkan aku menjadi si kekasih sekaligus si teman dekat, yang keduanya justru bertolakbelakang. Di hadapan mereka aku harus menjadi seorang istri, teman, juga ibu… Padahal, aku lebih menginginkan kehidupan sebagai adik dan kakak.”

“Itulah yang kumaksudkan. Tapi tak seorang pun mengerti. Tidak bahkan situs perjodohan itu. Ada pertanyaan-pertanyaan seperti berapa penghasilan si laki-laki dan masakan apa yang menjadi keahlian si perempuan, sementara bukan seperti itu sebuah keluarga di mataku. Yang kuinginkan adalah partner, bukan hubungan lelaki-perempuan seperti yang mereka gambarkan itu.”

Ia benar-benar bersemangat ketika mengatakan semua itu, dan ia mengeluarkan sebuah sapu tangan biru untuk mengusap keringat di keningnya. Kemudian diteguknya segelas air, lalu berkata, “Aku senang kamu memahami apa yang kurasakan. Tapi mungkin, ini sedikit idealis…”

“Tidak juga. Kita tak pernah tahu sampai kita mencobanya.”

“Eh?” Ia meneguk air lagi, dan kini menempatkan gelasnya itu di depan hidungnya.

Aku menatapnya tepat di matanya dan berkata, “Bagaimana? Maukah kamu membangun sebuah rumah tangga yang tanpa hubungan seks denganku?”

 
BUKANKAH ini sudah saatnya kita pergi ke klinik?” tanya suamiku, mengalihkan matanya dari koran yang tengah ia baca sambil menyantap roti panggangnya.

“Ah, klinik ya…”

“Umurmu sudah tiga puluh tiga, Mizuki. Sudah saatnya sel-sel telurmu dibuahi.”

“Ya, benar.” Aku mengangguk, menatap potongan lemon yang mengapung di gelas tehku. Aku pun, sejujurnya, tengah memikirkan hal yang sama. “Saat ini di kantor aku sedang tidak sibuk, jadi kukira memang saatnya.”

“Kita buat janji pertemuan untuk minggu depan?”

“Tunggu dulu. Aku masih meminum pil. Bahkan kalaupun aku berhenti meminum pil besok, tubuhku membutuhkan waktu beberapa lama sampai ia siap untuk pembuahan.”

“Ah, ya. Benar juga. Minggu depan agaknya terlalu cepat,” ujarnya, tampak sedikit malu. “Tapi tunggu, kupikir mereka tak akan langsung melakukan pembuahan di pertemuan pertama. Kamu mungkin akan menjalani sejumlah tes terlebih dulu. Jadi, bagaimana kalau kita segera membuat janji pertemuan setelah kamu haid?”

“Oke.”

Biasanya darahku keluar beberapa hari setelah aku berhenti meminum pil. Lebih ringan dari biasanya, dan akan berakhir dalam dua atau tiga hari. Kujelaskan hal ini kepada suamiku dan kami lantas memutuskan membuat janji pertemuan untuk hari Sabtu dua minggu lagi.

 
SEBUAH pernikahan tanpa hubungan sex ternyata jauh lebih nyaman dari yang kuduga. Penghasilanku empat juta Yen, penghasilan suamiku lima juta Yen. Kami masing-masing mengelurkan 150.000 Yen tiap bulannya untuk keperluan rumah tangga, dan sisanya kami simpan di bank atas nama kami masing-masing. Kami telah memutuskan untuk tidak membagi kepemilikan baik atas rumah ataupun aset-aset lainnya.

Sebab kontribusi kami dalam pengeluaran rumah tangga terbilang sama, kami pun memutuskan untuk berbagi pekerjaan rumah. Tak seperti uang, pekerjaan rumah tak bisa dibagi dua dengan bagian yang persis sama. Suamiku, sebab ia pandai memasak, mengambil tugas ini. Aku sendiri kebagian tugas mencuci baju dan bersih-bersih rumah. Di akhir pekan kami sama-sama kerja sampai larut, sehingga kami mengatasi makan malam kami masing-masing. Ini artinya bebanku lebih besar darinya, dan karena itulah kami pun memutuskan bahwa untuk mencuci baju di akhir pekan itu adalah bagiannya.

Ini hal sederhana saja sebenarnya. Tapi soal hubungan sex, cukup rumit.

Suamiku ingin melarang hubungan seks di rumah. Aku sendiri, sebenarnya oke-oke saja.

“Sejauh yang kupahami, hubungan seks adalah sesuatu yang kamu lakukan sendirian di kamar pribadimu, atau di luar. Memang di beberapa rumah pasangan-pasangan tiba dalam keadaan lelah sehabis kerja dan kemudian berhubungan seks, tapi aku benar-benar tak menginginkannya.”

“Aku juga,” cetusku. “Hubungan sex itu oke-oke saja di tahap awal hubungan percintaan, tapi seiring waktu berlalu dan kalian hidup bersama, kupikir mengerikan jika pasanganmu merasa bergairah saat kamu sedang tidur, atau ia tiba-tiba menerkammu saat kamu sedang bersantai. Aku ingin bisa mengatur nafsu seksualku sendiri sesuka hatiku. Dan selama di rumah, aku ingin menonaktifkannya.”

“Itulah yang kumaksudkan. Aku lega mengetahui bahwa bukan hanya aku yang tidak normal.”

Dan begitulah sejak awal rumah tangga kami adalah rumah tangga yang benar-benar tanpa hubungan seks. Tetapi kemudian, suatu ketika, kami menginginkan kehadiran seorang anak.

Sebelum menikah, kami melakukan pencarian di internet dan menemukan sebuah klinik yang mengkhususkan dirinya pada masalah seksual yang dihadapi sekelompok kecil orang: para homo yang menginginkan anak, para aseksual yang ingin hamil, orang-orang yang tak sanggup membayar biaya inseminasi buatan atau tak menemukan dokter yang bersimpati atas keadaan mereka.

“Jika anda memutuskan untuk memiliki anak,” ujar seorang perempuan di balik telepon tempo hari, “datanglah kemari. Kami akan membantu anda.”

“Hmm, tapi kami bukan pasangan aseksual…”

“Tidak masalah. Di sini kami menangani berbagai macam orang. Mereka datang menemui kami dengan sejumlah masalah yang tidak biasa. Pelayanan kami menawarkan hubungan seks sebagai terapi kesehatan bagi orang-orang seperti ini.”

Kami tidak terlalu paham apa yang dimaksudkannya dengan “hubungan seks sebagai terapi kesehatan”, tapi saat itu setidaknya kami merasa lega bahwa ternyata ada solusi bagi masalah yang kami hadapi.

Usai menghabiskan rotinya, suamiku mulai bermain video game. Aku mengamatinya sambil mencoba menelepon klinik tadi untuk membuat janji pertemuan.

 
KLINIK itu berada di sebuah gedung putih mencolok di kawasan eksklusif Aoyama.

Tempat tersebut menguarkan kemewahan. Di ruang tunggu, kursi-kursi mahal dengan warna cokelat pucat berjejer, dan terdengar alunan musik yang menenangkan. Selain kami berdua ada juga seorang perempuan yang duduk sendirian. Ia sedang akan menerima obat dari resepsionis untuk kemudian pergi.

“Bapak dan Ibu Takahashi, silakan masuk,” ujar si resepsionis, dan kami memasuki ruangan dan berhadapan dengan seorang dokter perempuan berambut pendek.

“Anda berdua telah membuat janji pertemuan untuk pelayanan Clean Breeder kami. Benar begitu?”

“Maksudnya?”

Clean Breeder. Sesuai dengan namanya, itu berarti kami memfasilitasi, dengan cara yang bersih-murni, sebuah reproduksi. Tujuan dari penggunaan hubungan sex sebagai terapi kesehatan bukanlah untuk menawarkan kenikmatan.”

“Ah.”

Si dokter mengamati formulir yang sebelumnya telah kami isi dan mengangguk beberapa kali. “Oke, oke. Saya mengerti. ‘Frekuensi hubungan sex sejak pernikahan: nol. Alasan untuk mencoba Clean Breeder: kami ingin memiliki anak.’ Jadi begitulah tujuan anda berdua datang kemari saat ini. Benar?”

“Hmm, sebenarnya, kami belum memutuskan… Maksud saya, kami bahkan belum tahu apa itu yang dimaksud dengan Clean Breeder, melibatkan (si)apa saja ia, dan karena itu kami minta tolong agar anda menjelaskannya,” ujar suamiku.

Si dokter mengangguk, kemudian menyilangkan kakinya. “Hmm, kalau anda berdua melihat-lihat situs kami, anda berdua sebenarnya akan menemukan penjelasannya di sana. Tapi saya akan menjelaskannya.

“Akhir-akhir ini, muncul fenomena di mana sejumlah orang menolak melakukan hubungan seks dengan pasangannya sendiri. Seseorang yang menarik secara seksual bagimu tidaklah selalu seseorang yang cocok untuk membangun rumah tangga denganmu, dan begitu juga kebalikannya. Tidak setiap orang merasakan ketertarikan seksual terhadap seseorang yang dengannya ia merasa bisa memulai sebuah rumah tangga.

“Pertama-tama, cara berpikir tradisional bahwa dua orang pasangan akan melakukan hubungan seks untuk memiliki anak sudahlah kadaluarsa. Tidak seperti itu kenyataannya saat ini. Hubungan seks untuk kesenangan dan hubungan seks untuk beroleh anak adalah dua hal yang berbeda, dan sangatlah absurd jika mencampurkan keduanya. Itu tidak lagi relevan dengan bagaimana orang-orang menjalani hidup di zaman ini.”

Sembari mengatakan semua itu, si dokter memberikan kepada kami sebuah pamflet bertuliskan “Clean Breeder dan Gambaran Keluarga Baru”.

“Orientasi seksual pun berkembang menjadi lebih beragam,” lanjut si dokter. “Apakah seorang lelaki yang merasa bergairah ketika berhadapan dengan perempuan muda akan mengalami ereksi ketika ia berhadapan dengan istrinya yang sudah berumur tiga puluh lima tahun? Bisakah seorang perempuan yang hanya bergairah pada laki-laki dalam wujud dua dimensi melakukan hubungan seks dengan seorang lelaki dalam wujud tiga dimensi tanpa merasa kesakitan? Sekarang ini, pasanganmu bukan lagi sekaligus sebuah objek seksual—ini perkembangan yang hebat. Itu artinya anda bisa memilih untuk berkeluarga dengan alasan-alasan yang rasional, dengan menggunakan akal sehat anda, bukan dengan nafsu anda. Pasangan-pasangan yang datang ke hadapan kami bisa membantu diri mereka sendiri dengan memanfaatkan keahlian kami dan selanjutnya meneruskan gen superior mereka itu ke anak-cucu mereka. Apa yang mereka lakukan itu adalah mencoba Clean Breeder, fasilitator reproduksi kami yang teruji…”

Sementara si dokter terus memberikan penjelasan, aku membaca sekilas pamflet di tanganku. Ada banyak baris dengan kalimat-kalimat seperti “pasangan di era baru” atau “pengalaman non-erotis dan nyaman dengan memanfaatkan seni teknologi kami”.

“Berdasarkan yang tertera pada formulir ini, anda berdua memutuskan untuk membuat hubungan seks dan rumah tangga terpisah bahkan sebelum anda mencobanya. Itu mengesankan. Itulah persi yang kami maksudkan dengan seni berumah tangga.”

“Oh, itu sebenarnya bukan sesuatu yang istimewa juga.” Aku benar-benar tak menyukai perempuan ini, pikirku, lantas menoleh menatap suamiku. Ia tampak bosan dan hanya fokus mengamati bolpoin yang diputar-putarkan si dokter di jari-jemarinya.

Clean Breader tahap lanjut yang kami sediakan sangat cocok untuk orang-orang seperti anda berdua. Tidak ditanggung oleh asuransi kesehatan nasional memang, dan biaya untuk tiap-tiap perawatan adalah 9.500 Yen. Ibu Takahashi, kami akan meminta anda mengukur pergerakan suhu tubuh anda, dan kami akan melakukan perawatan selama masa ovulasi. Jika setelah mencoba beberapa kali anda belum juga mengandung, kami akan menyarankan anda untuk mengikuti semacam konseling. Anda masih muda, dan saya yakin jika anda mencoba Clean Breeder kami anda bisa mengandung tanpa mengikuti konseling tersebut. Tapi jika memang anda ingin, anda bisa mencobanya dulu sebelum memulai semuanya.”

“Itu mahal sekali!” cetus suamiku kesal.

Si dokter menatapnya. “Kami menggunakan teknik cutting-edge, Bapak Takahashi. Bahkan di Jepang saja sedikit sekali rumah sakit yang menyediakannya. Dan sangat sulit bagi kami untuk menanggung biaya perawatannya. Kemarin pasangan yang datang jauh-jauh dari Tottori mengatakan betapa terkesannya mereka oleh perawatan tersebut. Kapan kira-kira anda berdua mau melakukan pertemuan pertama? Anda berdua bisa juga mencobanya sekarang, jika ingin—anda bisa memilih musik apa yang ingin anda dengarkan selama proses berlangsung. Normalnya anda membuat pertemuan ketika suhu tubuh anda menandakan anda sedang mengalami ovulasi, tapi pengecualian selalu ada dan bisa dilakukan—

“Kami ke sini hari ini hanya untuk berkonsultasi,” aku memotong sebelum si dokter bertindak lebih jauh lagi. “Aku akan membicarakannya terlebih dahulu dengan suamiku.”

Si dokter mengangguk, dan tersenyum. “Tentu. Silakan gunakan waktu anda untuk memikirkannya. Tapi cobalah pahami bahwa Clean Breeder sedang sangat populer dan sebuah pertemuan bisa jadi sedang tak bisa dilakukan saat anda tengah mengalami ovulasi. Segala sesuatu bisa terjadi begitu saja saat ini, jadi saya sarankan anda memutuskannya sesegera mungkin.”

“Saya mengerti. Kami akan membicarakannya dan memberi kabar.”

Suamiku berdiri. Ia tampak benar-benar kesal. Aku bergegas mengikutinya keluar dari ruangan konsultasi.

 
SEBAB kami tak begitu mengenal kawasan Aoyama, sekeluarnya dari klinik kami hanya menyusuri jalan dan masuk ke kafe pertama yang kami temui.

“Kamu mau pesan apa?” tanyaku pada suamiku ketika ia meminum cafe au lait-nya.

“Ada yang mencurigakan tentang semua tadi itu,” ujarnya. “Clean Breeder. Pastilah itu bukan inseminasi buatan. Kitalah yang akan diminta melakukannya sendiri.”

“Kupikir juga begitu,” keluhku, sambil memukul-mukul ujung cangkir dengan jari telunjuk. “Jadi, akankah kita melakukannya?”

“Apa maksudmu?”

“Anak kita… Akankah kita membuatnya sendiri saja? Kita berdua, di rumah.” Bahkan sebelum aku menyelesaikan apa yang ingin kukatakan, aku sudah merasa tidak nyaman, dan aku bisa memastikan itu terlihat jelas dari raut mukaku. Tanpa mengangkat kepala, aku bersandar ke punggung kursi untuk memperlebar jarak yang ada di antara kami.

“Aku…. ehm… Aku tidak…”

Rupa-rupanya suamiku pun merasakan hal yang sama. Sementara aku masih menatap ke bawah, ia menarik kedua kakinya hingga tak lagi tertangkap oleh mataku.

Merasa lega mendapati kami merasakan hal yang sama, aku mengangkat kepalaku. Dan kulihat, ia tampak marah.

“Inseminasi buatan memang akan jauh lebih sulit, tetapi kupikir kita mesti mencobanya,” ujarnya. “Para pasangan aseksual menempuh cara ini, dan aku yakin di luar sana pasti ada setidaknya satu dokter yang bisa memahami keadaan kita. Lagipula, jika kita bicara soal biaya tiap perawatan yang mencapai 9.500 Yen, kita mesti memilih yang satu ini saja.”

“Kupikir begitu.”

Kali ini, ia akhirnya mengalihkan matanya dari kopi di hadapannya ke jendela. Tampak seorang perempuan sedang berjalan-jalan dengan anjingnya, lelaki-lelaki kantoran yang sedikit-sedikit mengecek jam tangan mereka, dan anak-anak muda bersenang-senang dengan mobil mereka. Ada berapa banyak di antara mereka semua itu, pikirku tiba-tiba, yang rupa-rupanya adalah hasil dari hubungan seks sepasang manusia yang saling mencintai? Apakah si perempuan mengandung mereka begitu saja, tanpa memikirkan atau memperhitungkan masa ovulasi? Ataukah mereka adalah hasil inseminasi buatan? Atau bahkan pemerkosaan? Tapi yang mana pun itu, si sel sperma telah menjangkau sel telur, dan si sel telur yang telah dibuahi itu kemudian tumbuh menjadi sebentuk manusia.

Aku melihat ke bawah lagi. Kedua kaki suamiku masih tak terlihat.

 
AKU sedang di kamar mandi perempuan di kantor tempatku bekerja, tengah menggosok gigi sehabis makan siang, ketika ponselku berdering.

Panggilan itu datangnya dari sebuah nomor yang tak kukenali. Untuk sesaat aku merasa ragu, tetapi kemudian kuangkat juga.

“Kamu Mizuki Takahashi?” Suara perempuan.

“Siapa ini?” tanyaku, sedikit kesal dengan ketidaksopanannya.

“Aku temannya Nobuhiro,” jawabnya.

“Ah, kamu pacarnya ya?” cetusku. Mungkin terdengar totol.

Aku dan suamiku melarang hubungan seks di dalam rumah tangga kami, tetapi itu tidak berarti kami tidak merasakan dorongan seksual. Kami dibebaskan untuk melampiaskannya di luar. Kami seperti adik-kakak usia remaja, saling merahasiakan pasangan seks kami dan bertingkah seolah-olah kami tidak memahami apa arti kata “seks” itu sendiri. Bagi orang lain, hubungan kami ini mungkin mencerminkan ketidaksetiaan kami atas pasangan kami. Tapi dari sudut pandang kami, ini sesuatu yang sangat natural. Hingga dua bulan yang lalu aku sendiri memiliki pacar, seseorang yang kutemui di Facebook. Tetapi kemudian, kami mulai lelah dan akhirnya berpisah.

Di titik itu aku menyadari bahwa bisa jadi tujuan di balik pengutaraan suamiku tentang keinginannya memiliki anak adalah sebuah akal-akalan saja agar ia bisa berpisah dengan perempuan ini. Tadinya kupikir suamiku bersungguh-sungguh; ia memikirkan aku yang memiliki sel telur yang siap dibuahi dan ia bisa menyemprotkan sel-sel spermanya sebanyak yang ia mau. Tetapi setelah mendengar cara bicara si perempuan, aku mulai yakin, suamiku memang sedang berusaha menggunakan aku sebagai alasan agar ia bisa berpisah dengan perempuan ini.

“Kamu mau menuntutku?” tantangnya. “Lakukan saja. Kamu yang akan kesusahan, bukan aku.”

“Aku tidak akan menuntutmu. Aku juga tak akan meninggalkan suamiku. Dengar, bisakah kamu bicarakan ini langsung padanya saja? Hubungan kalian tak ada sangkut-pautnya denganku.”

Semakin aku terdengar tak peduli, semakin kesal dan marah rupanya ia.

“Kalian tidak berhubungan seks, kan? Perempuan macam apa kamu ini? Aku selalu memuaskannya, dan kami saling mencintai.”

“Itu sudah pasti—kamu ini kan pacarnya. Aku dan ia adalah keluarga, jadi kami tidak berhubungan seks. Dengar, waktu istirahatku sudah habis. Aku tak bisa bicara sekarang.”

“Itu karena kamu tak bisa memberinya jenis hubungan seks yang diinginkannya. Ia tak bisa melakukannya denganmu!”

“Itu benar. Dan karena itulah kami ini keluarga.”

Kuakhiri percakapan itu dan kublokir nomornya.

 
MIZUKI, ada apa?” Ketika suamiku keluar dari kamar mandi, ia menemukan aku tengah duduk di sofa, dengan ponsel di genggaman tangan. “Akhir-akhir ini kamu sering mengecek ponselmu.”

“Mmm.. Belakangan ini ada banyak spam. Mungkin aku harus mengubah alamat surelku.”

“Cukup pengaturannya saja yang diubah, kamu tahu. Buat supaya spam-spam itu tidak bisa masuk. Kamu ini, kalau tentang hal-hal teknis seperti ini, selalu saja payah.”

Surel yang datang itu dari pacarnya suamiku. Ia mungkin menemukan alamat surelku di ponsel suamiku dan begitulah ia mengirimiku surel setiap harinya. Pada awalnya, aku berniat memblokir alamat surelnya ini juga, tetapi kemudian, di luar dugaan, aku jadi penasaran. Ia mengirimiku foto-foto yang menunjukkan mereka berdua sedang melakukan hubungan seks.

Rasanya seperti aku tengah melihat adikku sendiri bermasturbasi. Foto-foto itu benar-benar konyol. Suamiku tampak sedang berakting—ia bertingkah layaknya bayi yang sedang menyusu atau akan diganti popoknya. Ia sepertinya begitu menikmati posisi-posisi ini, sehingga ereksinya bahkan terlihat begitu jelas di balik popoknya. Itu pertama kalinya aku melihat penisnya sejelas itu.

Foto-foto itu disertai pesan-pesan seperti “Hanya aku yang bisa menjadi mamanya”, atau “Ia meremas-remas lubang anusku dan memintaku melakukan hal yang sama padanya”, atau “Kamu ini perempuan yang payah”, membuatku berpikir bahwa otak perempuan ini sudah dikacau-balaukan oleh cinta dan nafsu.

Foto-foto yang menunjukkan suamiku tengah merangkak dengan dot di mulutnya dan kain pengelap air liur tergantung di lehernya benar-benar menarik. Tetapi, aku senang aku bukanlah pasangan hubungan seksnya.

“Mmm…” gumamku.

Suamiku sedang mengeringkan rambutnya sambil menonton televisi, tetapi ia segera menoleh menatapku. “Ada apa?”

“Aku sedang memikirkan hal ini. Haruskah kita mencobanya?”

“Mencoba apa?”

“Klinik itu. Biar bagaimanapun, inseminasi buatan akan benar-benar jauh lebih mahal, dan benar-benar tak akan mudah menemukan dokter yang bisa memahami keadaan kita dan bersedia melakukannya untuk kita. Dengan klinik itu kita setidaknya tidak perlu memikirkan hal ini, dan kita pun tak perlu membayar tes kesehatan. Selain itu, prosesnya sendiri agaknya mirip-mirip dengan hubungan seks yang natural, yang karenanya bisa jadi akan mudah tubuh kita menerimanya.”

“Benarkah? Yah, aku sejujurnya tak begitu mengerti kesulitan-kesulitan apa saja yang dialami seorang perempuan, jadi aku mempercayai ucapanmu saja.” Ia tampak tidak nyaman. Tetapi reaksinya itu setidaknya jauh lebih mendingan daripada ketika ia menyikapi penjelasan si dokter perempuan tempo hari.

“Sebenarnya, dari sejak konsulitasi tempo hari itu aku terus-menerus mengukur suhu tubuhku. Apakah kita buat janji pertemuan saja untuk masa ovulasiku yang berikutnya?”

“Oke. Kalau pada hari itu aku libur, kita ke sana,” ujarnya, membuat sebuah anggukan yang janggal dan kembali melihat televisi. Yang tampak di layar televisi adalah sebuah pemandangan dari suatu negeri yang jauh. Alunan lembut biola mengiringinya.

 
MASA ovulasiku yang berikutnya kualami pada hari Sabtu. Itu artinya, aku dan suamiku tidak ngantor. Kami pun berangkat ke klinik tersebut.

“Kami ingin mencoba perawatan itu,” ujarku, sambil sedikit membungkuk kepada seorang suster yang menyambut kedatangan kami. Suamiku, meski terlihat enggan, melakukannya juga.

“Silakan lepaskan pakaian anda dan gunakan ini,” ujar si suster, memberi masing-masing kami sebuah pakaian-perawatan berwarna putih. “Lepaskan juga pakaian dalam anda. Barang-barang berharga bisa anda simpan di loker. Jika anda sudah siap, tolong beritahu.”

Kami memasuki ruang ganti kami masing-masing, menarik gorden, lalu berganti pakaian. Pakaian-perawatan untuk perempuan, dengan lengan yang panjang dan rok yang juga panjang, hampir-hampir menutupi segalanya. Aku merasa pakaian seperti ini akan menghambat proses perawatan tetapi aku tak mengutarakannya.

“Baiklah, Bapak Takahashi. Silakan, lewat sini,” ujar si suster.

Ketika gorden kubuka, kulihat suamiku mengenakan pakaian yang serupa denganku. Ia agaknya tidak nyaman dengan pakaian seperti itu dan kesulitan untuk rileks, dan selama kami mengikuti si suster ke ruang perawatan ia terus berusaha menutupi alat kelaminnya dengan kedua tangannya. Ruangan itu tak berjendela, dan dinding-dindingnya berwarna putih. Hanya ada dua kursi besar untuk bersandar, lebih besar dari yang biasa kita temukan di ruangan dokter gigi. Kedua kursi itu diposisikan berhadapan. Dua suster dengan masker berdiri di samping kursi-kursi tersebut. Aroma lavender menguar di udara sementara musik klasik mengalun lembut sebagai latar.

“Silakan berbaring di kursi ini.”

Suamiku dibimbing ke kursi yang jauh. Sandaran kursi itu nyaris horizontal. Suamiku seperti sedang berbaring di tempat tidur saja.

“Ibu Takahashi, di sebelah sini, silakan.”

Aku duduk di kursi satunya lagi dan berhadap-hadapan dengan suamiku. Rupanya lembut, kursi itu. Lebih tinggi juga dari kursi suamiku.

“Taruh kedua kaki anda di sini.”

Seperti yang diinstruksikannya, kutaruh kedua kakiku di samping kursi, yang membuatku jadi mengangkang layaknya akan menempuh pemeriksaan ginekologi. Untunglah pakaian itu cukup panjang, sehingga aku tak merasa malu.

“Sekarang, Bapak Takahashi akan mengeluarkan spermanya.”

Entah kenapa si suster yang membawa kami ke ruangan itu mengenakan masker juga. Ketiganya kemudian mengambil sarung tangan tipis dan mengenakannya, layaknya akan melakukan operasi. Kemudian, setelah saling mengangguk satu sama lain, mereka mengarahkan tangannya ke bawah pakaian suamiku. Mereka tampaknya mencoba memegang penis suamiku bersamaan dengan mengalunnya musik.

“Seperti ini tak apa-apa, Bapak Takahashi? Silakan kerahkan kemampuan anda.”

Suamiku tak lagi mengenakan kacamatanya dan kedua matanya menutup saat ia merespons perkataan suster-suster itu. Wajahnya pucat. Salah satu suster kemudian berkata dengan tenangnya, “Energi kehidupan sudah memasuki tubuh suami anda.”

Aku baru memahami apa yang dikatakannya itu ketika ia menghampiriku dan berkata, “Sekarang, Ibu Takahashi, akan kami oleskan ini.”

Tangan si suster mengarah ke bawah pakaianku di antara kedua kakiku yang mengangkang, dan ia mengoleskan semacam jeli beraroma obat-obatan tradisional ke vaginaku. Aku mengernyit merasakan dingin, tapi rasanya tak jauh berbeda dengan saat menempuh pemeriksaan ginekologi, dan karenanya aku baik-baik saja.

“Sekarang kami akan melakukan persiapan untuk menghubungkan energi kehidupan dengan sel telur anda,” ujar si suster, dan ia mengeluarkan sebuah pipa perak yang tampak seperti sebuah kawat listrik yang dipasangkan ke salah satu ujungnya. Sekilas melihatnya, pipa itu seperti mengandung sesuatu semacam jeli. Dugaanku, itu adalah sebuah alat untuk bermasturbasi.

Dengan gerakan praktis dan hati-hati layaknya tengah melakukan operasi, si suster mengangkat pakaian suamiku dan memasukkan penisnya ke alat tadi.

“Bapak Takahashi, tolong beritahu kami jika anda hampir berejakulasi. Angkat saja tangan anda. Anda paham?”

Suamiku mengangguk. Ia memegang erat keliman pakaiannya. Wajahnya semakin pucat.

“Bapak Takahashi, energi kehidupan anda sedang difasilitasi oleh gelombang elektromagnetik. Anda paham?” jelas si suster, meskipun sejauh yang kulihat si suster itulah yang sedang memfasilitasi suamiku; menggerakkan pipa perak di penis suamiku itu naik-turun. Pipa itu, tampaknya dibuat dengan perhitungan yang matang. Aku bisa melihat tulisan CLEAN BREEDER terukir jelas di sana. Si kawat terayun-ayun ketika si suster menggerakkannya. Sejumlah zat seperti jeli yang dingin mengalir keluar dan jatuh di kakiku.

“Ini model terbaru, Bapak Takahashi. Mungkin sedikit dingin, tapi tolong coba bertahan. Anda sudah hampir sampai!”

Suamiku benar-benar berkeringat dan ia sesekali mengerang seakan-akan sel-sel spermanya tengah diisap dan ditarik-paksa kelular.

“Bapak Takahashi, kerahkan seluruh kemampuan anda!”

“Sebentar lagi! Energi kehidupan sedang mengalir!”

“Bapak Takahashi, sedikit lagi. Ayo. Pegang tangannya. Ya, seperti itu.”

Sedikit bingung, aku gerakkan tubuhku ke depan dan kupegang tangan suamiku dengan lemah.

“Satu dorongan terakhir, Bapak Takahashi!” cetus si suster, sedikit berteriak, sambil terus memompa penisnya dengan alat itu.

“Kamu hampir sampai, Sayang!” ujarku, ikut-ikutan, dan saat itulah suamiku mengangkat tangan kirinya yang gemetaran.

“Aliran kehidupan sedang dikeluarkan!” teriak si suster, dan seketika sandaran kursiku turun dengan kasarnya dan kursiku mulai bergerak.

Aku kini hanya bisa menatap langit-langit dan tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Itu begitu cepat. Aku seperti terlempar dari realitas, seakan-akan aku tengah berada dalam sebuah video. Lambat-laun aku menyadari bahwa aku sedang didorong menghampiri suamiku, dengan posisi masih mengangkang. Ketika kursi berhenti bergerak, sesuatu menancap masuk ke vaginaku, seperti sengaja dipasangkan. Aku di antara yakin atau tidak bahwa sesuatu itu adalah penis suamiku, yang masih dingin akibat jeli itu. Rasanya lebih seperti sebuah mesin yang menyemprotkan sperma.

“Berhasil!” Rasa hangat mengalir masuk menuju pinggangku. Suamiku agaknya berhasil berejakulasi.

“Bagus sekali, Bapak Takahashi!”

“Selamat, Ibu Takahashi!”

Suster-suster itu mengelap keringat kami dengan flannel basah yang hangat sementara kami berbaring menatap langit-langit.

“Silakan gunakan ini,” ujar si suster, menyerahkan padaku sebuah handuk bersih. Aku mengarahkannya ke balik celanaku dan menempelkannya di tempat yang semestinya. Suster-suster yang lain menyelamati suamiku dan menyeka keringat di dahinya. Itu seperti suamiku baru saja melalui proses persalinan, dan aku tengah memangku anak yang dilahirkannya.

“Untuk jaga-jaga, tolong pastikan anda tetap mengenakan handuk bersih ini dan hindari membasuh alat kelamin anda. Jika anda ingin bersih-bersih, tunggu sampai anda tiba di rumah dan lakukan cepat saja. Untuk hari ini seperti itu saja, Ibu Takahashi.”

Aku mengangguk, merasa semua ini berakhir antiklimaks. Suamikulah yang benar-benar mengerahkan semua tenaganya. Ia tampak kesulitan bernapas dan terlihat kelelahan. Itu wajar. Ia baru saja dipaksa berejakulasi meski ia sama sekali tak merasakan dorongan untuk itu.

 
SEMBILAN ribu lima ratus Yen untuk semua itu! Buang-buang uang saja,” keluh suamiku dalam perjalanan pulang. Aku menahan diri untuk tidak tertawa.

“Itu benar-benar konyol, bukan? Aku sendiri tidak melakukan aktivitas seksual apa pun sih… Rasanya bagaimana?”

“Seumur hidup aku tak pernah merasa diperlakukan secara kasar seperti itu. Mereka memberiku Viagra. Harusnya kusuruh mereka saja yang menelannya.” Semakin kesal dan kesal, suamiku bersungut-sungut, “Aku tak bisa membedakan antara memasukimu atau memasuki alat aneh itu, dan aku masih tak bisa memastikan apakah aku menyemprotkan spermaku ke vaginamu atau ke alat itu.”

“Tapi bukankah itu bagus? Dengan begitu, kita berhasil menjaga rumah tangga kita tetap tanpa hubungan seks.”

“Soal itu, iya sih. Tapi…”

Kami berhenti di sebuah taman yang kecil.

“Aku boleh ke toilet sebentar? Aku mau mengganti handuk ini.”

“Oh, oke,” ujarnya, mengangguk, dan memberiku tatapan aneh, seolah-olah merasa tak nyaman bahwa bagian dari dirinya telah mengalir masuk ke dalam diriku.

Aku masuk ke toilet umum di taman itu dan memelorotkan celanaku dan menemukan air mani suamiku memenuhi handuk itu. Itu seperti aku sedang mengalami keputihan. Aku menggantinya dengan yang baru, lalu kembali ke suamiku. Kulihat ia sedang duduk di bangku, menunggu.

“Mudah-mudahan aku tak terlalu lama.”

“Ah, tidak. Semuanya baik-baik saja?”

Aku duduk di sampingnya, dan berkata, “Aku baik-baik saja. Sedikit lelah memang. Bisa kita istirahat sebentar sebelum pulang?”

Untuk sesaat kami duduk dan mengamati taman, yang pada saat itu banyak anak-anak terlihat di sana.

“Oh, baiklah. Mungkin ini bukan pengalaman yang begitu buruk.”

“Apa? Tadi kamu benar-benar kesal dan marah.”

“Yah, memang. Tapi, bagus juga aku tak benar-benar melakukan hubungan seks denganmu. Sedari dulu kita tak memasukkan aktivitas seksual ke dalam hubungan kita,” ujarnya lembut, sembari mengamati seorang anak perempuan bermain-main di tanah pasir.

“Kalau kita akhirnya punya anak, kamu lebih suka ia laki-laki atau perempuan?”

“Perempuan, kurasa. Laki-laki juga tak apa-apa sebenarnya, tapi aku membayangkan aku bermain-main dengan anak perempuanku.”

“Hmm…”

Matanya setengah terpejam. Ia terus mengamati si anak perempuan tadi sementara anak itu kemudian berdiri dan berlari.

“Mama!” teriak si anak perempuan, dan sesosok ibu muda berdiri, dan tersenyum.

Suamiku mengamati si ibu yang tengah mengelus-elus rambut anak perempuannya itu dengan lembutnya, juga si anak yang tersenyum dan memeluk ibunya. Dan ketika itu, sejumlah keringat tampak di keningnya, dan raut mukanya menandakan ia mulai panik.

“Ada apa?”

Ia tak menjawab. Tiba-tiba ia meletakkan tangannya menutupi mulutnya dan berjongkok, dan muntah-muntah. Ia belum melahap apa pun sedari pagi, dan yang keluar itu adalah cairan dari lambungnya saja. Aku menatapnya sementara ia meringkuk mencoba mengatasi rasa mualnya. Kemudian kusadari, ini seperti mual-mual di masa kehamilan.

Mama, Mamaaaa! Suara si anak perempuan yang tak berdosa itu menggaung di sekitar taman.

Rasa mual suamiku bangkit lagi, dan punggungnya terlihat gemetar. Aku sentuhkan tanganku ke punggungnya untuk sedikit menenangkannya. Dan pada saat itu, aku merasa, air mani suamiku menyembur hebat dari vaginaku.(*)

  
Cerpennya Sayaka Murata ini diterjemahkan oleh Ardy Kresna Crenata dari terjemahan bahasa Inggris oleh Ginny Tapley Takemori.

Iklan

2 pemikiran pada “Rumah Tangga yang Bersih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s