Hujan

TEPAT dua minggu yang lalu, di tempat ini, ia mengatakan padaku bahwa hujan akan turun. “Lebih sedikit dari jam dua. Hujan yang deras, tetapi hangat.” Aku saat itu tak sedikit pun meragukan apa yang dikatakannya, sebab selama ini ramalan-ramalannya selalu tepat. Setidaknya sepuluh kali—atau mungkin sebelas kali?—ia memberitahuku hal-hal yang berkaitan denganku dan itu benar-benar terjadi, di waktu yang persis sama dengan waktu yang disebutkannya, meski entah kenapa aku selalu saja dalam keadaan terlambat menyadarinya. Tentang panggilan telepon dari seorang teman lamaku, tentang beberapa celana dalamku yang lenyap begitu saja dari jemuran. Tentang sebuah mimpi buruk yang berkali-kali kualami dan membuatku terbangun dalam keadaan menangis, tentang pertengkaran tak masuk akal yang membuatku akhirnya berpisah dengan lelaki yang telah kupacari hampir tiga tahun lamanya. Suatu kali, ia membisikkan padaku bahwa ia bahkan bisa tahu kapan persisnya aku akan melepaskan keperawananku, dan itu mau tak mau membuatku takut. Benar-benar membuatku takut. Pada dasarnya, kemampuan meramalnya ini memang sesuatu yang menakutkan. Tapi, seiring waktu berlalu, aku menjadi terbiasa.

Dua minggu yang lalu itu ia melontarkan ramalannya setelah kami tak lagi tahu apa yang bisa kami katakan dan hanya saling terdiam selama kira-kira sepuluh menit. Malam baru turun, dan suhu belum dingin. Belum benar-benar dingin. Dari jalan besar yang tak tertangkap mata kami mendengar bebunyian yang telah terlampau sering kami lahap setiap harinya: deru mesin, decit ban, lengking klakson, teriakan. Di antara kami, hampir-hampir tak ada jarak; ia berdiri di sebelah kananku dan meski tangan kami tak bergenggaman namun bahu kami saling bersentuhan, seolah-olah menempel satu sama lain. Akan tetapi, meski suasana seperti itu, aku tahu betul, kami tahu betul: kami akan berpisah.

“Menurutmu kita akan bertemu lagi?” ujarnya kemudian.

“Entahlah. Kau yang tahu,” jawabku.

Ia tersenyum. Aku bisa melihatnya dengan ujung mataku. Setelahnya kami benar-benar tak saling mengatakan apa pun lagi hingga malam benar-benar jatuh dan suhu benar-benar dingin. Ia pergi, lebih dulu. Ketika aku akhirnya membalikkan badan dan berusaha membayangkan kehadirannya, yang kulihat hanyalah sebuah kamar dengan pintu dan jendela yang tertutup.

 
MENURUTMU apa yang akan kaulakukan jika kau sedang makan malam bersama seseorang dan tiba-tiba kau tahu betul kapan persisnya seseorang itu akan mati? Kau akan memberitahunya? Atau kau akan menyimpan pengetahuan itu untuk dirimu sendiri?”

Pertanyaan seperti itu jelaslah bukan sesuatu yang kauharapkan ada di sebuah makan malam saat kau sedang kelelahan akibat kerja berlebih dan suasana hatimu sedang buruk gara-gara seharian kau teringat lelaki yang pernah kaucintai dan kini kau tak lagi bersamanya. Namun, begitulah, ia melontarkannya di saat kami sedang makan malam, berdua saja, di sebuah kafe di dekat stasiun. Aku langsung memberinya tatapan tak menyenangkan dan berharap ia segera memikirkan sesuatu lain yang bisa ia ucapkan. Tapi, dilihat dari matanya yang tertuju padaku, ia tampak bersungguh-sungguh. Tingkahnya itu sesungguhnya membuatku kesal, tetapi aku berbaik hati dengan berusaha memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaannya itu.

“Hmm… Mungkin tergantung orangnya. Tergantung sikonnya juga,” cetusku.

“Maksudmu?”

“Yah… kalau dia bukan seseorang yang penting bagiku, untuk apa juga kuberitahu?”

“Bukan itu. Sikonnya.”

“Oh… Yah… kau pasti tahu lah: ada saat-saat di mana kau bahkan tak bisa mengatakan sesuatu yang teramat penting sekalipun.”

“Seperti lawan bicaramu sedang habis-habisan curhat soal mantan pacarnya yang baru saja punya pacar baru?”

Lagi-lagi, apa yang dikatakannya membuatku kesal. Tapi aku masih berusaha menahan diri.

“Ya, semacam itu.”

“Bagaimana seandainya sikonnya oke-oke saja dan seseorang itu adalah seseorang yang penting bagimu? Kau akan memberitahunya?”

“Hmm… Kurasa iya.”

“Dan apa yang kauharapkan dari seseorang itu? Reaksi macam apa yang kauinginkan darinya?”

“Hmm… Apa ya?”

“Menangis?”

Aku menggeleng.

“Terkejut dan terdiam?”

Aku menggeleng lagi.

“Berteriak, dan menamparmu?”

Lagi-lagi, aku menggeleng.

“Lalu?”

Kucoba memikirkannya sejenak, dan sampailah aku pada gambaran ini: “Tertawa. Ya, tertawa. Setelah mendengar ucapanku yang konyol itu dia tertawa dan tertawa. Dia tertawa dan tertawa sampai-sampai perutnya sakit dan airmatanya tumpah dan tahinya keluar. Setelah itu aku akan mengambil gelasku dan kumur-kumur dan kumuntahkan air itu ke mukanya. Selesai!”

Tentu saja itu bukan jawaban yang diharapkannya, dan aku memang tak berniat memberinya jawaban seperti itu. Niat itu, tak lagi ada. Katakanlah aku sudah mencapai batasku dan ingin segera mengakhiri percakapan tak penting nan melelahkan itu. Tapi ia, rupanya, masih saja menatapku, dan terlihat bersungguh-sungguh. Aku jadi berada dalam sebuah keadaan yang ganjil: aku kesal karena dibuat tak nyaman olehnya, tapi aku merasa bersalah kepadanya dan terdorong untuk segera meminta maaf. Dan memang, itulah yang kulakukan. Dengan sebuah gerakan tangan dan anggukan aku meminta maaf dan setelah itu aku mengalihkan mataku ke gelas kosong di hadapanku. Aku ingin pulang. Aku ingin saat itu juga meninggalkan meja itu dan melesat menuju kamarku. Aku ingin mendekam di kamarku dan mematikan lampu dan mulai menangis dan menangis. Seperti itulah agaknya yang kurasakan—dan kupikirkan—saat itu.

“Dulu, aku pernah terjebak dalam keadaan seperti itu,” ujarnya, kali ini dengan nada yang lebih rendah. Aku menahan diri untuk terus menatap gelas kosong itu, dan ia terus berbicara seakan-akan ia tak peduli aku akan menyimaknya atau tidak.

“Seseorang itu adalah teman baikku. Kami sudah berteman sejak SD dan kami sudah terlampau akrab sampai-sampai saling melontarkan cacian bukan lagi hal yang asing bagi kami. Dan tentunya, sebab kami sama-sama laki-laki, ketika ada sesuatu yang tidak kami sukai atau mengganggu kami, maka kami akan langsung mengatakannya. Dengan tegas. Saat itu juga. Dan begitulah, tiba-tiba, saat kami sedang makan malam di sebuah kedai di dekat kampus, aku mendapat pengetahuan bahwa dia akan mati. Aku bisa melihat hari kematiannya, tanggal kematiannya, waktu kematiannya. Aku juga bisa melihat di mana dia mati dan dengan cara apa dia mati. Dan selama pengetahuan-pengetahuan itu mendatangiku, dia di sampingku terus saja mencerocos tentang banyak hal. Sungguh aneh berada dalam keadaan seperti itu; seseorang di sampingmu terus berbicara sementara dalam bayanganmu dia terbaring dingin di sebuah peti mati. Aku tidak menyadari berlalunya waktu, sehingga ketika aku tersadar aku menemukan sepasang matanya menatapku cemas, seperti sedang bertanya-tanya apa yang sedang kupikirkan atau apakah aku baru saja tersakiti oleh apa yang dikatakannya. Dan, pada saat itulah, entah dari mana dorongan itu muncul, aku mengatakannya. Aku memberitahunya bahwa dia akan mati; aku memberitahunya apa-apa yang baru saja berdatangan ke dalam kepalaku. Dia akan mati, tiga puluh sembilan hari dari hari itu. Orang-orang akan menemukan mayatnya yang teronggok di sebuah parit kering, dengan bekas luka yang memanjang di lengan dan bahunya. Si pembunuh adalah dua orang pemuda tanggung yang kelihatannya sudah begitu sering melakukan hal semacam itu. Mereka membunuh temanku itu untuk mengambil motornya.”

Apa yang diceritakannya itu di luar perkiraanku. Aku, entah sejak kapan, sudah tak lagi memandangi gelas kosong itu; mataku justru terarah tepat ke sepasang matanya. Aku seperti sedang mencari-cari jejak-jejak peristiwa makan malam itu di dalam matanya, di balik matanya. Ia tampak tidak terganggu dengan tatapanku itu dan lanjut bercerita.

“Reaksi temanku setelah mendengar apa-apa yang kukatakan itu adalah terdiam, terpaku beberapa lama, dengan raut muka seperti seseorang yang sedang mengejan. Lalu tiba-tiba, dia tertawa. Tawanya begitu keras dan panjang dan itu membuat orang-orang di sekitar kami memandangi kami dan terlihat terganggu. Aku kembali berada dalam sebuah keadaan yang ganjil: di satu sisi aku ingin memintanya berhenti tertawa namun di sisi lain aku ingin memintanya untuk terus tertawa, dengan tawa yang lebih keras dan lebih panjang lagi, sebab itu rupanya mampu sedikit mengatasi kesedihanku. Seandainya saat itu kami hanya berdua, aku mungkin sudah meneteskan air mata.”

Di titik ini aku mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi padanya, juga apa yang dirasakannya, juga apa arti dari pertanyaan-pertanyaan dan tingkah-tingkah menyebalkannya tadi. Ia sedang teringat pada temannya itu; makan malam kami membuatnya teringat pada makan malamnya dengan temannya itu. Dan aku, lewat jawaban-jawaban yang kuberikan atas pertanyaan-pertanyaannya tadi, membuatnya semakin teringat pada hal tersebut.

“Pada akhirnya dia mati, dengan detail seperti yang kugambarkan tadi. Itu bukan pertama kalinya aku melihat gambaran kematian seseorang dan bukan pertama kalinya juga aku kehilangan seseorang. Tapi, terserah kau mau percaya atau tidak, saat itu aku berpikir untuk mempercepat kematianku.”

Mempercepat kematian?

“Maksudmu bunuh diri?”

Ia mengangguk.

“Tapi sia-sia. Tentu saja aku sudah lebih dulu mendapatkan pengetahuan tentang kematianku, dan itu masih sangatlah jauh. Jauuuuh sekali.”

Aku merasa haus, dan ketika aku kembali menatap gelas di hadapanku aku menyadari satu hal: aku tidak ingat kapan aku mengosongkannya.

 
MAKAN malam kami yang tak biasa itu menyadarkanku akan satu hal: kesedihan bisa tergantikan. Tadi telah kukatakan bahwa pada saat makan malam itu dimulai aku sedang kelelahan dan suasana hatiku sedang begitu buruk, dan seiring waktu berlalu kadar kedua hal ini semakin meningkat. Akan tetapi, tanpa kusadari, aku telah tak lagi memikirkannya. Apa yang diceritakannya tentang temannya itu membuatku dengan sendirinya melupakan rasa lelahku dan suasana hatiku yang buruk. Aku mungkin semestinya berterima kasih padanya. Ia, dengan caranya sendiri, telah menghiburku.

Dan suatu malam ia kembali menghiburku, dengan cara yang lain lagi. Kali itu aku lagi-lagi sedang kelelahan dan ingin segera mengurung diri di kamar. Kami makan malam di tempat yang sama, di kafe yang sama. Sebelumnya kami tak sengaja bertemu saat aku keluar dari stasiun. Ia kelihatannya sedang berjalan-jalan saja di sekitar taman-dekat-stasiun.

“Seberapa yakin kau dengan ramalan-ramalanku?” tanyanya, di saat kami baru mulai makan.

Aku malas menjawabnya (aku bahkan malas memikirkannya), sehingga aku hanya meresponsnya dengan mengangkat bahu.

“Sejauh ini sudah berapa kali aku mengatakan hal-hal tentang dirimu dan itu benar-benar terjadi? Tujuh? Delapan?”

“Tujuh.”

“Ah, tujuh. Pernahkah apa yang kukatakan itu meleset?”

Kali ini aku memikirkannya, sejenak, lantas menggeleng.

“Itu artinya akurasiku 100%.”

Aku mengangguk. Seperti pada makan malam kami tempo hari itu, aku sudah ingin menyudahi percakapan kami dan melesat menuju kamarku.

“Malam ini, di sini, aku akan memberitahumu satu hal lagi. Aku akan membocorkan satu lagi rahasia hidupmu. Kau siap?”

Sialnya, apa yang dikatakannya itu membangkitkan minatku, dan aku pun telah menatap matanya entah sejak kapan. Ia, tampak bersungguh-sungguh. Tapi tak seperti pada makan malam kami tempo hari itu, di matanya aku tak menemukan kesedihan. Jadi ini mungkin sesuatu yang baik, pikirku. Dan aku berusaha santai.

“Kau dan aku, tak lama lagi, akan berpacaran. Aku bisa melihat kapan pertama kalinya kita berciuman. Aku bisa melihat pakaian seperti apa yang kaukenakan pada saat itu. Aku juga bisa melihat aku memberimu sesuatu yang sedang sangat kauinginkan dan begitu saja kau memelukku, dan menciumku. Tak lama lagi.”

Aku tersentak. Kerongkonganku terasa kering. Cairan ludahku seperti menguap entah ke mana.

“Kau sedang mengerjaiku, kan?” tanyaku, tapi matanya segera membantahnya. Ia lalu tersenyum dan senyumnya itu begitu sulit untuk kupahami. Apakah kami akan benar-benar berpacaran? Saat itu aku sama sekali tak bisa membayangkannya. Benar-benar tak bisa membayangkannya. Tapi satu hal: ia kembali berhasil membuatku tak lagi memikirkan rasa lelahku.

Beberapa bulan kemudian kami memang berpacaran, dan itu terjadi dengan begitu alami. Aku tak sedikit pun merasa terpaksa atau terjebak atau semacamnya. Begitulah yang kumaksudkan. Lalu suatu ketika, saat aku sedang makan siang bersama salah satu klien di sebuah kafe tak jauh dari kantor tempat klienku itu bekerja, aku tersadar akan satu hal: jika ia tahu bahwa kapan kami akan berpacaran, tidakkah ia juga tahu kapan kami akan berpisah? Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa aku saat itu ingin berpisah dengannya. Sebaliknya, aku justru ingin perpisahan kami itu tidak terjadi. Setidaknya tidak dalam waktu dekat.

Berhari-hari aku memikirkannya dan pada akhirnya aku menanyakan hal ini padanya. Itu sebuah malam di mana kami memandangi langit kota yang gelap di balkon sebuah kamar. Jauh di bawah kami, sebuah kehidupan tengah berlangsung. Orang-orang dan mobil-mobil. Langkah-langkah kaki dan deru mesin. Aku merangkul lengannya dan menyandarkan kepalaku ke bahunya. Angin sesaat mampir, lalu pergi. Aku membayangkan sebagian dari dirinya (dalam wujud bau) merasuki lubang hidungku dan mengalir ke dalam diriku, seperti cairan obat pada selang infus.

“Kalau tidak salah dulu aku pernah memberitahumu bagaimana cara kerja meramalku,” cetusnya, tanpa mengalihkan matanya dari langit kota. “Aku sedang berhadapan dengan seseorang, dan tiba-tiba beberapa hal tentang seseorang itu, beberapa rahasia hidupnya yang semestinya tak diketahui oleh siapa pun, berdatangan ke dalam diriku, ke dalam kepalaku. Kapan terjadinya hal itu bukan aku yang menentukan. Aku sama sekali tak bisa mengaturnya. Aku seperti nabi yang menerima wahyu. Aku mengunyahnya dan mencernanya, sebisaku. Tidak ada pola atau keteraturan yang bisa kutarik dari apa yang sejauh ini kualami. Ada orang-orang yang ketika aku bersamanya aku beroleh banyak sekali rahasia-rahasia hidupnya. Ada juga orang-orang yang sebaliknya: meskipun aku telah begitu sering menghabiskan waktu bersamanya namun aku hanya sedikit saja mengetahui rahasia hidupnya.”

Sejujurnya, aku sudah memahami apa yang berusaha dikatakannya. Tapi, kubiarkan saja ia terus berbicara.

“Aku memang mendapatkan pengetahuan bahwa kita akan berpacaran, dan tempo hari aku mengatakannya kepadamu. Tapi, soal apakah kita akan berpisah nantinya, itu… hmm… bagaimana ya mengatakannya…. belum tentu aku mengetahuinya.”

“Kau berkata seolah-olah pengetahuan tentang hal itu sudah kaudapatkan dan kau berusaha merahasiakannya dariku,” ujarku, dan kali ini ia menatapku.

“Seandainya aku memang sudah mendapatkan pengetahuan tersebut, apakah kau benar-benar ingin tahu?”

Aku memikirkannya, dan aku mulai ragu.

“Percayalah, mengetahui sesuatu tidak selalu menyenangkan. Seringkali aku berpikir betapa beruntungnya orang-orang yang menjalani hidup dengan cara yang normal; mereka hanya tahu apa-apa yang sewajarnya mereka tahu dan mereka tak perlu memikirkan apa-apa yang tak sewajarnya mereka tahu. Pengetahuan-pengetahuan ini, kadang-kadang, seperti kutukan; mereka menghampiriku tanpa aku memintanya dan ketika aku tersiksa oleh kehadirannya mereka tak sedikit pun membantuku atau menghiburku. Kematian teman dekatku, yang kuceritakan tempo hari itu, adalah salah satu contohnya.”

Tiba-tiba aku ingin mengatakan sesuatu untuk menghiburnya, tetapi aku batal mengeluarkan satu kata pun.

“Di awal-awal aku mendapatkan pengetahuan ini, aku begitu reaktif; orang-orang yang berkaitan dengan pengetahuan-pengetahuan itu kuberitahu, dengan maksud membantu mereka. Sayangnya, tidak setiap pemberitahuan berbuah baik. Seringnya justru sebaliknya. Aku pun menjadi tidak nyaman sebab banyak dari orang-orang itu berubah mengasariku atau menjaga jarak dariku. Di satu titik, aku memutuskan untuk melakukan yang sebaliknya saja: menyimpan semua pengetahuan yang datang padaku itu. Tapi rupanya ini pun bukan sesuatu yang baik. Aku kerap merasa bersalah sebab berpura-pura tak melihat apa-apa yang sesungguhnya kulihat; aku merasa bersalah sebab aku tak menolong orang-orang yang sewajarnya bisa kutolong. Berbulan-bulan aku menyimpan pengetahuan-pengetahuan itu, dan rupanya berat badanku turun drastis. Setelahnya aku memutuskan untuk menyimpan sebagian dan memberitahukan sebagian lainnya. Tentu saja, di sini aku dihadapkan pada aktivitas memilih. Sangat tidak mudah menentukan mana yang perlu kauutarakan dan mana yang perlu kausimpan. Yang kau tahu hanyalah kau tak bisa menyimpan semuanya dan tak bisa juga mengutarakan semuanya.”

Sementara ia mengatakan semua itu, aku seperti terbawa melintasi waktu dan menyaksikan apa-apa yang dilakukannya dulu; penderitaan-penderitaannya; kesusahan-kesusahannya. Angin kembali mampir, dan aku kembali merasakan sebagian dari dirinya mengalir ke dalam diriku.

“Hidup ini, kupikir, adalah soal keseimbangan, adalah soal bagaimana kita menjaga segala sesuatunya tetap seimbang,” ujarnya, dengan mata tertuju ke langit jauh. Aku masih menyandarkan kepalaku di bahunya. Di belakang kami, sebuah pintu terbuka seperti mata kamera yang sedang merekam peristiwa ini.

“Hidup adalah soal menjaga segala sesutunya tetap seimbang. Tidakkah kau pun berpikir seperti itu? Jika aku mengutarakan setiap pengetahuan yang datang padaku, hidupku akan terlampau ‘ramai’, terlampau merepotkan. Sedangkan jika aku menyimpan semua pengetahuan itu, aku akan mati bosan, dan begitu tertekan. Sederhananya aku harus menempatkan diri diantaranya. Tapi, sialnya, aku tak pernah tahu (dan mungkin tak akan pernah tahu) di titik mana persisnya posisi itu persisnya.”

“Kau ingin mengatakan bahwa selama ini kau sebenarnya mencoba-coba saja? Dengan kata lain, bertaruh?”

“Kira-kira begitu.”

“Dan apakah kau lebih sering menang?”

Ia tertawa.

Terdengar bunyi sirene. Sebuah mobil ambulan mungkin sedang melintas.

“Aku tak bisa memberitahumu apakah nanti kita akan berpisah atau tidak. Tak bisa,” ujarnya, kali ini pelan serupa bisikan.

“Ya sudah. Tidak apa-apa,” balasku, masih sambil menyandarkan kepalaku ke bahunya, masih sambil merasakan sebagian dari dirinya mengalir masuk ke dalam diriku.

Dan beberapa bulan kemudian di tempat yang sama, kali itu siang, kami menikmati kebersamaan kami untuk terakhir kalinya. Ia akan pergi ke luar negeri, dalam rangka melanjutkan studi dan mengejar mimpi. Berkali-kali dalam percakapan terakhir kami itu ia meminta maaf dan memintaku untuk tidak terlampau bersedih, untuk lekas-lekas bangkit dan menjalani hidupku seperti sedia kala. “Akan kucoba,” itulah yang kukatakan, dan ia mencubit pipiku dan mengatakan bahwa ia mencintaiku. Aku juga, ujarku, dalam hati. Beberapa lama kemudian kami hanya saling terdiam dan begitulah tiba-tiba ia berkata bahwa dua minggu lagi, yakni hari ini, hujan yang deras namun hangat akan turun, di tempat ini. Aku masih menunggunya, meski aku sesungguhnya mulai ragu. Langit di hadapanku ini begitu biru dan sama sekali tak terlihat gumpalan awan. Tapi memang masih ada beberapa menit lagi sampai pukul dua. Dan bukankah dia bilang sekitar pukul dua? Itu artinya, awan-awan bisa sedikit-sedikit bermunculan dan hujan kelak turun.(*)

Dramaga, 14 Mei 2015

  
(Bocoran: Siang itu hujan sama sekali tidak turun. Tidak sedikit pun. Si tokoh utama dalam cerita ini begitu kecewa dan meninggalkan balkon kamar dengan bahu lemas, dengan langkah-langkah yang tak bertenaga. Di sana ia telah berdiri lebih dari satu jam. Dan selama setengah jam terakhir, pikirannya hanya berputar-putar pada dua hal saja: hujan yang belum juga turun dan percakapan terakhirnya dengan lelaki itu. Dan semakin lama ia memikirkannya, semakin nyata dan semakin kuat kerinduannya, juga kesedihannya. Ia memang tak meneteskan air mata tetapi di dalam dirinya ia tahu ia menangis, tersedu-sedu, terisak-isak, meski anehnya ia merasa akan baik-baik saja dan melanjutkan hari-harinya seperti sedia kala. Kelak, ia akan menyadari, bahwa inilah yang dimaksud lelaki itu dengan hujan yang deras namun hangat. Hujan itu, turun bukan di depan matanya, tapi di dalam dirinya. Dan rasa hangat itu, mungkin berasal dari cara ia menyikapi ingatannya akan percakapan terakhir mereka. Hanya karena seseorang yang ia cintai tak lagi bersamanya tidak berarti hidupnya berakhir. Ia, bisa jadi dalam waktu dekat, bisa kembali merasa bahagia.)

Iklan

3 pemikiran pada “Hujan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s