Orang-orang Menghilang

HARI ini dua orang lagi menghilang. Yang satu seorang perempuan berumur 33 tahun, istri dari seorang dosen di sebuah perguruan tinggi swasta di pinggir kota. Yang satu lagi seorang lelaki berumur 42 tahun, seorang satpam di sebuah bank ternama di pusat kota. Keduanya menghilang dengan meninggalkan sesuatu yang sama: bau. Pemerintah kota mencatat, dengan ini jumlah warga kota yang menghilang adalah 178 orang.

Aku menemukan berita itu dari sebuah website terpercaya saat sedang mencoba menikmati makan siang. Sendirian, di atap gedung, aku seperti merasakan apa yang kubaca itu menghampiriku, seolah-olah kalimat demi kalimat yang tertera di sana bermunculan keluar dan berdiri di hadapanku dan mengatakan beberapa hal kepadaku, namun aku tak memahaminya. Setelah itu, mereka lenyap, begitu saja. Angin musim kemarau berembus dari arah timur dan aku terpaksa memalingkan muka. Nafsu makanku yang semula memang tidak begitu baik menjadi lebih tidak begitu baik lagi.

Dalam dua bulan terakhir ini, setiap kali mendengar atau membaca berita tentang orang-orang yang menghilang aku mengalami semacam gangguan fisiologis. Aku tak tahu persis bagaimana mengatakannya, atau istilah apa yang tepat untuk menggambarkannya, yang jelas setiap kali mendengar atau membaca berita tentang hal itu aku akan seperti dikerubungi udara dingin, sehingga untuk sepersekian detik aku merasa tubuhku membeku dan darahku berhenti mengalir. Setelahnya, aku akan merasakan hal-hal yang tak membuatku nyaman, seperti sakit kepala atau mata berkunang-kunang atau berkeringat dingin atau kehilangan nafsu makan. Seorang teman kantor sekaligus teman baikku, Bana, menilai apa yang kualami ini sebentuk trauma.

Bisa jadi ia benar. Orang-orang menghilang. Orang-orang menghilang dan meninggalkan bau yang sama yang bahkan kadang bertahan hingga beberapa hari setelahnya, di tempat ia menghilang itu. Kau tak pernah tahu bagaimana sesungguhnya mereka menghilang, berada di mana mereka kemudian, apakah kelak mereka akan kembali atau tidak. Dan kau pun tak pernah tahu apa sesungguhnya yang membuat orang-orang itu menghilang, lalu siapa yang akan menyusulnya kemudian, lalu kapan keanehan ini akan berakhir. Dan ketika di antara orang-orang yang menyusul itu rupanya seseorang yang dekat denganmu, yang begitu dekat denganmu, yang bahkan kaucintai dan mencintaimu, kau akan tak tahu apa yang harus kaulakukan, bahkan kaupikirkan. Kau akan merasa bingung, seolah-olah dunia dan kehidupan ini tak benar-benar ada, seolah-olah orang-orang di sekitarmu tak benar-benar ada, seolah-olah dirimu tak benar-benar ada. Aku mengalaminya tiga bulan yang lalu dan sebab terlampau tak siap menerimanya aku sempat tak ingin bicara dengan siapa pun selama seminggu lebih. Aku sempat berpikir untuk berhenti bekerja, untuk beristirahat dan menenangkan diri—untuk waktu yang bisa jadi lama. Tetapi Bana mati-matian meyakinkanku untuk mengambil cuti saja. Itu pun hanya satu-dua hari. Menurutnya yang kubutuhkan saat itu justru berada dalam situasi yang memaksaku berinteraksi dengan orang-orang di sekitarku.

Seseorang yang menghilang itu adalah Nana, seorang perempuan berusia 23 tahun, anak tunggal dari sepasang suami-istri kaya raya dan berpengaruh di kota ini, seseorang yang dengannya aku telah menjalin hubungan intim selama tiga tahun lebih. Ia menghilang di sebuah Hari Minggu, di kamar kosnya sendiri. Saat aku tiba di sana kamarnya itu dalam keadaan terkunci dan ketika aku membukanya—Nana membiarkanku menyimpan kunci duplikat—aku seketika mencium bau misterius yang membuatku cemas. Bau itu, begitu kuat, begitu kuat sampai-sampai aku ingin berhenti bernapas untuk beberapa saat. Namun kau keliru jika mengira itu semacam bau busuk. Tidak. Bau itu justru begitu wangi. Mungkin lebih tepat mengatakannya aroma. Saking wanginya aroma itu aku sampai-sampai terpaksa memejamkan mata dan mematung di ambang pintu sekian hitungan jantung.

Beberapa menit kemudian, para penghuni kamar lain muncul, keluar dari kamarnya masing-masing, dan menoleh ke arahku. Mereka pastilah mencium juga aroma atau bau itu, dan mungkin lekas menduga-duga seseorang lainnya telah menghilang, dan mungkin juga bertanya-tanya kapan persisnya seseorang itu menghilang mengingat baru saat itu mereka mencium aroma tersebut. Tak ada yang menghampiriku untuk bertanya, dan aku mensyukurinya. Setelah sepenuhnya mendapatkan kesadaranku aku masuk dan menutup pintu, dan menguncinya. Kuamati apa-apa yang ditinggalkan Nana sambil terus menghirup aroma yang begitu kuat itu.

Pada makan malam kami beberapa hari sebelumnya, juga pada makan malam-makan malam kami lainnya sebelum itu, kami begitu intens membahas peristiwa menghilangnya orang-orang ini. Nana tampaknya telah melakukan semacam penelitian tentang hal ini—entah sejak kapan. Suatu kali ia mengungkapkan kekesalannya setelah membaca sebuah tulisan dari sumber terpercaya tentang bagaimana orang-orang di kota ini mudah terbiasa dengan peristiwa aneh ini, bahwa kendatipun pada awalnya mereka melihatnya sebagai sesuatu yang kritis dan perlu segera ditanggulangi namun pada akhirnya mereka menjadi abai, seakan-akan telah menyerah dan tak lagi peduli. Kali lain, ia mengaku terkejut mendapati begitu lambat dan tidak tepat sasarannya langkah-langkah yang ditempuh pemerintah kota untuk mengatasi hal ini.

“Bisa jadi benar, bahwa kita baru bersungguh-sungguh dan mengerahkan segenap kemampuan kita jika sesuatu yang ‘tak biasa’ itu ikut menimpa kita atau orang-orang terdekat kita. Kita, manusia, bisa jadi memang seperti itu,” ujarnya tempo hari, yang anehnya tak bisa kuingat persisnya kapan. Aku yang pada saat itu memang tak tertarik memikirkan peristiwa aneh ini hanya berusaha menunjukkan bahwa aku memahami kegundahannya dan bahwa ia bisa berceloteh sesukanya dan aku akan menyimaknya. Ketika ia telah menghilang, aku baru menyadari bahwa pilihan yang kuambil itu salah.

 
KIRA-KIRA dua minggu setelah Nana menghilang, aku mulai mencari-cari informasi tentang peristiwa aneh ini, termasuk dari sumber-sumber yang dulu sering disebutkannya. Setiap harinya, nyaris di setiap aku memiliki waktu luang, aku melakukan pencarian dan pencarian. Seperti orang gila aku membaca berpuluh-puluh tulisan dan mem-print-out-nya dan mengumpulkannya dalam berkas-berkas yang kususun sedemikian rupa sehingga aku tidak akan kesulitan jika suatu saat ingin membacanya lagi. Aku menjadi lebih kurus, dan sorot mataku mulai terlihat redup. Begitulah Bana pernah berkata. Aku tak mengacuhkannya dan malah semakin gila melakukan pencarian demi pencarian.

Dan inilah beberapa hal penting yang kudapatkan dari pencarian-pencarianku itu:

Pertama kalinya peristiwa aneh ini terjadi adalah pada bulan Juni dua tahun lalu. Korban adalah seorang lelaki berumur 73 tahun; seorang pengurus masjid yang kerap membangunkan warga menjelang subuh dengan melantunkan salawat dengan suaranya yang serak dan tak enak didengar. Orang-orang baru menyadari lelaki tua ini menghilang siang harinya, setelah beberapa anak dan cucu si kakek menanyai orang-orang di sekitar masjid apakah mereka melihat si kakek. Tak ada tanda-tanda si kakek tengah bepergian ke sebuah tempat yang jauh. Semua barang kepunyaan si kakek, termasuk yang penting-penting seperti album foto almarhum istrinya dan radio butut kesayangannya, tak ada satu pun yang tak di tempat. Beberapa orang lantas mengatakan bahwa mereka mencium bau aneh yang begitu kuat saat mereka memasuki masjid di pagi si kakek diduga menghilang.
 
Sampai peristiwa kesembilan, korban selalu orang-orang lansia. Tiga laki-laki, enam perempuan. Domisili dan keadaan ekonomi korban beragam, begitu juga lokasi mereka menghilang. Sebuah sumber mengatakan sempat ada seorang tokoh masyarakat (yang juga seorang pemuka agama) yang menghubung-hubungkan menghilangnya para lansia itu dengan peringatan dan atau hukuman dari Tuhan, bahwa jika kita anak-anak muda tidak mensyukuri keberadaan orang-orang tua kita maka Tuhan bisa saja mengambil mereka begitu saja, dengan cara-cara yang tidak akan pernah kita ketahui, dan bahwa terjadinya peristiwa tak terjelaskan ini harus dilihat sebagai sesuatu yang bisa membuat kita menjadi (kembali) agamis. Konon, entah yang satu ini benar atau tidak, beberapa bulan kemudian si pemuka agama ini pun menjadi salah satu korban. Pada saat itu komposisi orang-orang yang menghilang dari segi usia sudah sangat beragam. Bahkan seorang anak berumur lima setengah tahun pun tercantum di daftar korban.
 
Menghilangnya orang-orang itu, selalu diikuti oleh merebaknya bau yang begitu kuat, yang anehnya seperti tak pernah ada yang mencium bau seperti itu sebelumnya, yang oleh seseorang kemudian dikatakan “bau yang diciptakan Tuhan untuk sebuah dunia lain yang bukan dunia ini”. Bau inilah, yang menghubungkan peristiwa orang menghilang yang satu dengan peristiwa orang menghilang yang lain. Pihak kepolisian mengatakan ada kemungkinan ini adalah sebentuk kejahatan berencana, sebuah tindakan kriminal yang terstruktur, masif, dan sistematis, yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan keahlian yang bukan main tingginya, yang saking tingginya keahliannya itu pihak kepolisian pun sampai nyaris tak berkutik menghadapi kasus ini. Dugaan ini dilontarkan kira-kira satu setengah tahun lalu dan, sampai saat ini, belum ada juga bukti-bukti yang merujuk ke arah sana. Penjelasan bahwa ini adalah sesuatu yang gaib—seperti peringatan atau hukuman dari Tuhan atas orang-orang di kota ini—lebih populer dan lebih diterima oleh masyarakat. Walikota sendiri berkata ia percaya setiap permasalahan akan ada solusinya dan ia meminta para penghuni kota untuk tidak panik dan menjalani hari-hari mereka seperti biasa, dan tentunya memberikan suara mereka untuknya (lagi) di Pemilukada tak lama setelahnya. Sayangnya, sebab kasus menghilangnya orang-orang ini tak juga menemu titik terang, pada Pemilukada tahun lalu itu si walikota tak terpilih. Yang menggantikannya kemudian adalah seorang pemuka agama yang gemar menyitir sabda Nabi dan ayat-ayat Tuhan. Akan tetapi, di tangannya pun, kasus menghilangnya orang-orang ini tak juga menemu titik terang.
 
Selain menghilangnya orang-orang, kota ini pun rupanya menghadapi satu masalah kritis-cum-aneh lainnya: terkucilkan. Ini baru diketahui—lebih tepatnya disadari—kira-kira setengah tahun setelah peristiwa menghilang pertama terjadi. Rupa-rupanya, orang-orang yang berada di kota ini, entah karena apa dan entah bagaimana, tak bisa lagi bepergian ke luar kota. Bukan berarti kota ini terbang ke langit atau terbenam ke dalam tanah, atau tenggelam ke dalam lautan. Kota ini tetap seperti biasanya. Setidaknya begitulah yang dirasakan para penghuninya. Tetapi setiap upaya untuk keluar dari kota ini berbuah kegagalan. Memang seolah-olah kita menempuh jalan yang benar dan meninggalkan kota, tetapi tahu-tahu kita sudah berbalik arah dan kembali ke kota ini. Selalu seperti itu. Tidak ada, setidaknya sampai detik ini, yang bisa menjelaskan mengapa bisa demikian, seperti halnya tak ada yang bisa menjelaskan mengapa orang-orang di kota ini begitu saja menghilang. Dengan begitu dipastikan kepadatan penduduk di kota ini semakin menurun dari waktu ke waktu.
 
Kira-kira delapan bulan yang lalu, sebuah gerakan lain muncul. Sekelompok orang menamakan diri mereka Pemerhati Orang-orang Hilang (POH). Mereka mengadakan aksi-aksi protes di jalan-jalan dan di depan gedung-gedung pemerintahan dan menggalang dukungan dari seluruh warga kota. Dalam setiap aksinya, ada satu pernyataan yang selalu mereka ulang-ulang, yakni bahwa pemerintah kota bertanggungjawab atas hilangnya sejumlah warganya (juga atas terkucilkannya kota ini) dan mereka harus melakukan apa pun itu untuk membuat orang-orang itu kembali. Di mata mereka, pemerintah kota, juga pihak kepolisian, tidak bersungguh-sungguh mengatasi masalah ini. Empat bulan semenjak kelompok ini berdiri sebuah gerakan yang melibatkan lebih dari separuh warga kota menjadi perhatian media massa bahkan yang berasal dari luar kota, membuat lumpuh jalan-jalan utama di pusat kota, membuat si walikota keluar dari kediamannya dan mempermalukan dirinya sendiri dengan berkata bahwa ia sesungguhnya bukanlah pihak yang harus sepenuhnya bertanggungjawab atas menghilangnya sejumlah warganya itu, sebab ia hanyalah makhluk yang tak bisa berbuat apa-apa jika Sang Mahakuasa menginginkan sesuatu lantas melakukannya, dan ia pun menambahkan bahwa warga kota adalah pihak yang lebih harus diminta untuk bertanggungjawab sebab mereka seolah-olah membiarkan peristiwa aneh ini dan tak benar-benar melakukan tindakan penanggulangan berarti selain menuntut pemerintah mengatasinya. Akibatnya, hujatan dan hinaan bagi si walikota bertebaran di media sosial seperti twitter dan Facebook. Sejumlah orang meminta si walikota mengundurkan diri, namun ia mengabaikannya. Setelah bertahan selama hampir dua bulan, keributan ini lenyap dengan sendirinya.

 
AKU ingat, saat aksi yang melibatkan begitu banyak orang itu berlangsung, aku dan Nana sedang akan merayakan tahun ketiga kebersamaan kami. Aksi itu berlangsung hingga malam, dan itu adalah sebuah hari yang buruk untuk berkencan. Setelah mendapati kemacetan tak akan cepat terurai kami turun di depan stasiun dan mencoba menghibur diri dengan menghabiskan waktu di kafe terdekat. Pada saat itulah untuk pertama kalinya kami membahas peristiwa menghilangnya orang-orang ini di sebuah makan malam. Aku, seperti yang sempat kubilang tadi, sesungguhnya tidak peduli.

“Kamu tidak merasa ini aneh?” ujar Nana saat itu. “Kita—kamu dan aku—tinggal di kota ini, yang di sini entah sejak kapan orang-orang mulai menghilang, yang juga entah sejak kapan terkucilkan dari kota-kota lain, dan kini sebuah gerakan nyata menuntut penanganan atas hal ini berlangsung di hadapan kita, dan kita tak memedulikannya. Kita tentu bukannya tak tahu seperti apa keadaan kota ini, juga gerakan yang kini berlangsung itu. Kita tahu, tetapi kita memilih untuk tak peduli. Kamu tidak merasa ini aneh?”

Aku menatapnya, dan merasa tak mengenalnya. Aku tak ingat apa yang persisnya kukatakan untuk menanggapinya tapi intinya aku menyadari bahwa aku—dan mungkin juga ia—bukanlah tipe orang yang mau ikut peduli pada apa-apa yang terjadi pada orang lain, dan aku menerima diriku yang seperti itu dan tak menilai itu sesuatu yang buruk. Kami terus membahas kasus menghilangnya orang-orang itu di sepanjang makan malam berlangsung. Setelah malam itu, ia agaknya memutuskan untuk memilih jalan yang berbeda: menjadi peduli.

Sampai saat itu kami memang bisa dikatakan “tidak berkaitan” dengan menghilangnya orang-orang ini, dalam arti dari semua korban yang ada tidak satu pun seseorang yang dekat dengan kami; bahkan, dan kupikir ini sedikit aneh, tak satu pun yang kami kenal dalam arti pernah bertatap muka dan berinteraksi dengannya. Dan soal terkucilkannya kota ini pun, kami bisa dikatakan tak “berkaitan” dengannya; kami tinggal di kota ini dan beraktivitas di kota ini dan benar-benar memiliki kepentingan di luar kota. Oleh karena itu, menurutku saat itu, adalah sangat wajar bahwa kami tak ikut melibatkan diri dalam aksi yang sempat menyedot perhatian media massa itu. Lagipula kalaupun kami ikut andil, ikut melibatkan diri, aku curiga kami hanya akan diposisikan sebagai pemanis, atau pelengkap, atau lebih parah lagi sesuatu yang ada sekadar untuk memenuhi kuota. Aku tidak suka dengan sesuatu seperti ini, dan karenanya aku bertahan untuk tidak melibatkan diri ketika aku menyadari Nana telah memutuskan untuk sebaliknya. Tak ada masalah, pikirku saat itu. Lagipula meskipun kami telah berbeda jalan kami toh tetap bertemu dan menikmati makan malam kami seperti biasa. Aku hanya perlu bersabar menyimak setiap ocehannya mengenai menghilangnya orang-orang itu, dan aku percaya itu bukan hal sulit.

Lalu suatu ketika, Nana mengatakan sesuatu yang membuatku terdiam.

“Bagaimana seandainya salah satu dari kita suatu saat nanti ikut menghilang? Kau pernah berpikir ke arah sana?”

Aku menatapnya, dan kembali seperti tak mengenalnya. Sementara aku hanya terus terdiam ia menjelaskan beberapa hal yang membuatnya berpikir ke arah sana, dan sejujurnya aku nyaris tak menyimaknya sedikit pun. Di sisa kebersamaan kami malam itu, bisa dikatakan aku tak lagi menikmatinya. Bagaimana seandainya salah satu dari kami kelak ikut menghilang? Bagaimana seandainya aku atau ia suatu saat menghilang, begitu saja? Tanpa bisa kutahan aku terus memikirkannya dan memikirkannya.

Beberapa hari sebelum Nana menghilang, aku agaknya merasakan sesuatu yang aneh, yang asing; sebuah perasaan yang sebelumnya aku tak pernah merasakannya. Semakin lama Nana semakin terobesi dengan penyelidikannya itu, dan aku jadi harus lebih bersabar lagi setiap kali kami bertemu sebab ia tak henti-henti mengoceh tentang menghilangnya orang-orang. “Kamu tahu,” katanya suatu hari, “dari sekian banyak orang yang menghilang, sedikit saja yang kedudukannya di masyarakat terbilang tinggi, dan lebih sedikit lagi yang ketiadaannya yang tiba-tiba itu dibicarakan secara intens untuk waktu yang lama. Orang-orang itu menghilang, lalu dilupakan. Orang-orang itu menghilang, dan orang-orang yang masih ada tetap melanjutkan hidupnya masing-masing. Kita, orang-orang di kota ini, seperti telah mulai terbiasa dengan menghilangnya orang-orang itu, dan seakan-akan menerima bahwa kelak akan ada orang-orang lainnya menghilang menyusul yang telah hilang itu. Semakin lama semakin seperti itu. Semakin lama semakin mudah kita jadi seperti itu. Dan ini, membuatku kesal.” Aku sesungguhnya cemas obsesinya ini membuatnya tak lagi bisa menikmati hidupnya seperti biasa, dan mungkin saja membuatnya menjadi dirinya yang lain yang tak kukenal dan kelak tak kusukai. Tapi, aku mencoba bersabar—membiarkannya. Dan kemudian ia menghilang. Begitu saja. Sore itu aku merasa gelisah dan entah kenapa aku ingin sekali menemuinya padahal sehari sebelumnya kami baru saja bertemu dan menikmati makan malam yang menyenangkan.

Seperti yang tadi kukatakan padamu, aku baru mencium bau yang kuat itu setelah aku membuka pintu kamarnya. Dan ini, membuatku bertanya-tanya. Aku membayangkan sosoknya itu masih ada ketika aku di dalam angkot, dan masih ada ketika aku telah turun dari angkot dan berjalan menyusuri gang, dan masih ada ketika aku menaiki anak tangga demi anak tangga, dan bahkan masih ada ketika aku telah berdiri di depan pintu kamarnya. Dengan kata lain, ia baru menghilang ketika aku membuka pintu itu, atau saat aku memasukkan kunci duplikat. Beberapa kali aku memikirkan skenario ini dan aku selalu merasakan sakit yang tak tertanggungkan setelahnya.

 
ORANG-ORANG yang paling direpotkan atas menghilangnya Nana tentu saja adalah orangtuanya. Seperti kubilang tadi, mereka adalah orang kaya dan berpengaruh di kota ini. Si ibu, menjalankan bisnis kuliner sejak belasan tahun lalu, dan kini di kota ini saja ia telah memiliki lebih dari dua puluh rumah makan atau toko makanan awetan. Sementara itu suaminya, yang umurnya lebih muda dua tahun darinya, mengelola sebuah percetakan yang omset bersih per bulannya sangatlah besar. Sebagai satu-satunya anak yang mereka miliki Nana memperoleh begitu banyak perhatian dan kasih sayang dari mereka—termasuk soal materi. Dan ketika Nana menghilang, mereka seperti kebingungan akan melimpahkan perhatian dan kasih sayangnya itu kepada siapa.

Mungkin kau merasa sedikit aneh, bahwa orang tua Nana yang keduanya pengusaha itu seperti tidak terlalu memikirkan keanehan yang terjadi pada kota ini. Tapi begitulah memang kenyataannya. Meskipun dengan terkucilkannya kota ini jangkauan mereka jadi berkurang, yang artinya omset bersih mereka pun ikut berkurang, namun mereka tak terlalu memikirkannya. Atau, lebih tepatnya, tak terus-terusan memikirkannya. Alih-alih mencari cara supaya kota ini tak lagi terkucilkan dan mereka bisa mengembalikan jangkauan mereka menjadi seperti semula, mereka lebih memilih bertahan dengan keadaan ini dan mencari cara supaya bisa memperbesar omset dengan keterbatasan yang kini mereka hadapi. Dengan kata lain, mereka beradaptasi. Tadi telah kukatakan bahwa Nana pernah mengeluhkan kecenderungan beradaptasi semacam ini. Menurutnya, itu bukan cara bertahan hidup yang baik.

Aku tidak dekat dengan kedua orang tua Nana. Meskipun telah menjalin hubungan dengan Nana selama tiga tahun, aku hampir-hampir tak pernah secara sengaja bertemu orangtuanya dan bercakap-cakap dengan mereka. Mereka, tak menyukaiku. Aku bisa memahami hal ini di detik-detik pertama aku bertatap muka dengan mereka. Dan mengingat sejauh ini aku bisa dikatakan tak membutuhkan mereka, dan Nana pun tak memaksaku atau mendesakku mengakrabi mereka, aku memilih tak memikirkannya saja. Pertemuan tatap muka kami—aku dan orangtuanya Nana—dalam tiga tahun ini agaknya bisa dihitung dengan jari tangan saja.

Setelah Nana menghilang pun, hubunganku dengan mereka masih seperti itu. Aku tahu mereka memikirkan Nana; aku tahu mereka berusaha menolak kenyataan bahwa putri mereka itu telah menghilang dan mencaritahu di mana sesungguhnya putri mereka itu berada. Tetapi aku, meskipun sesungguhnya kasihan kepada mereka, memilih tak ikut campur. Mereka menyikapi menghilangnya Nana dengan caranya sendiri, aku menyikapi menghilangnya Nana dengan caraku sendiri. Aku sendiri sejujurnya tak ingin memercayai bahwa Nana, seseorang yang kucintai dan mencintaiku, telah menghilang, menyusul orang-orang yang telah menghilang sebelumnya. Tapi aku menyaksikan sendiri—meski tidak sepenuhnya—detik-detik ia menghilang itu. Kamarnya itu, juga bau teramat kuat yang merebak dari sana; setiap kali aku teringat dua hal ini aku seperti disadarkan bahwa ini kenyataan, bahwa Nana memang menghilang, dan aku mungkin tak akan pernah melihatnya lagi. Tentulah aku sangat bersedih karenanya, makanya tadi kuceritakan bagaimana selama seminggu aku sama sekali tak ingin berbicara dengan siapa pun.

 
BANA, dalam suatu obrolan makan siang kami jauh sebelum Nana menghilang, mengatakan padaku pandangannya soal keanehan yang terjadi pada kota ini. “Menurutku apa yang dilakukan orang-orang justru tepat. Daripada terus mengeluh dan menuntut sesuatu yang hampir mustahil dilakukan, lebih baik mencoba bertahan dengan keadaan yang ada, lalu beradaptasi. Kehidupan toh tak akan berakhir hanya karena satu-dua keanehan terjadi. Setidaknya, sejarah dan masa lalu menunjukkan hal itu.” Aku menyimak setiap kata yang dilontarkannya itu, dan menyerapnya sebagian, dan melepaskan sebagian yang lainnya. Aku kira aku sependapat dengan Bana, hanya saja aku teringat Nana dan aku merasa aku pun harus memikirkan perasaannya. Bisa jadi Nana yang benar, gumamku, meski aku tak mengucapkannya. Dan setelah Nana menghilang aku menjadi yakin bahwa memang Nanalah yang benar.

“Sampai kapan orang-orang akan seperti ini? Sampai kapan mereka begitu mudah terbiasa dengan keanehan-keanehan yang terjadi di sekitar mereka, di hadapan mereka, seolah-olah mereka benar-benar lupa bahwa sebelumnya kehidupan di sekitar mereka itu begitu normal, begitu baik-baik saja? Sampai orang-orang yang mereka cintai menghilang?”

Nana mengatakan itu di makan malam terakhir kami, beberapa menit sebelum aku akhirnya berhasil membuatnya cair dan tertawa-tawa. Aku tak ingat apa yang kugumamkan di benakku saat Nana mengatakannya. Aku hanya ingat pipinya semakin tirus dan tulang-tulang pipinya semakin terlihat, dan itu membuatku sedih, tapi sekaligus bahagia. Entah itu perasaan semacam apa. Mungkin aku bahagia karena meskipun ia telah begitu terobsesi pada pencariannya akan orang-orang yang menghilang itu ia masih berada di hadapanku dan menikmati makan malam denganku dan bercakap-cakap denganku. Mungkin, aku bahagia karena meskipun ia telah memilih jalan yang berbeda dan akan menjadi orang yang berbeda aku ternyata tetap mencintainya. Bahkan, dan kukira ini benar, aku jadi semakin mencintainya.

 
JAM makan siang habis. Aku, entah didorong oleh setan apa, telah membaca lagi berita tentang menghilangnya dua orang itu tiga kali, seolah-olah berusaha mengingat-ingat setiap detail penting tentang peristiwa itu atau bahkan si berita secara keseluruhan. Nana, entah di mana ia sekarang, entah apa saja yang telah dilakukannya di sana dalam dua bulan ini. Apakah aku merindukannya? Ya. Apakah aku sangat merindukannya? Ya. Apakah aku sangat sangat sangat merindukannya? Ya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika saja pada titik ini Bana tidak muncul dan memanggilku dan menghampiriku. Mungkin aku menangis, tersedu-sedu seperti anak kecil. Atau mungkin, lebih parah dari itu.(*)

 
Dramaga, Juni 2015

  
Ardy Kresna Crenata tinggal di Dramaga, Bogor. Ia bekerja sebagai Direktur Program di Saung Menulis Indonesia, sebuah wadah yang memfasilitasi kursus penulisan fiksi di Bantarjati, Bogor.

Iklan

4 pemikiran pada “Orang-orang Menghilang

  1. “Dan soal terkucilkannya kota ini pun, kami bisa dikatakan tak “berkaitan” dengannya; kami tinggal di kota ini dan beraktivitas di kota ini dan benar-benar memiliki kepentingan di luar kota.” <= Apakah saya keliru, ataukah memang sebaiknya ada 'tak' di antara 'benar-benar' dan 'memiliki', Bang? 😀

    BTW, yang ini setengah kali lebih pendek daripada yang sebelumnya, ya. 😀

    1. Makasih buat koreksinya. Ada kata “tak” yang hilang di situ, tapi bukan di antara “benar-benar” dan “memiliki”, tapi sebelum “benar-benar”. Jadinya: tak benar-benar memiliki kepentingan di luar kota. 😀

      Yang ini lebih pendek tapi tetap terhitung panjang untuk ukuran cerpen. Cerita paling panjang yang saya posting di sini ya “Kegelapan”. Yang paling panjang kedua mungkin “Ketika Angin Berembus”.

  2. Cerpennya bagus bang. Awal-awalnya saya sempat mengira cerpen ini menyiratkan hal berbau politik (meski saya sama sekali tidak mengerti dan tidak tertarik dgn politik) hahah tapi setelah baca sampai selesai rasanya cerpen ini lebih menggambarkan suatu misteri yang benar2 pure mystery karena tak menjanjikan jawaban apapun. Sebenarnya saya juga penasaran kenapa cerpen ini juga diberi hashtag rasa sakit…
    Btw, salam kenal bang. Saya juga suka nulis meski bukan cerpen. Semoga abang tidak keberatan kalau saya belajar menulis dari sini hehehe.

    1. Terima kasih sudah mampir dan baca-baca. Banyak yang nggak suka cerpen ini karena bertele-tele & nggak jelas. Tapi bisa jadi, di situ menariknya. Haha~

      Salam kenal juga, Jonah. Lain kali mampir lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s