Aku dan Seseorang yang Kau Kenal

Dini hari seperti ini biasanya dia belum tidur, atau terbangun karena tidur yang tak nyenyak. Dia akan menyalakan televisi, mencari-cari channel yang menayangkan acara yang kira-kira menarik baginya. Jika tak ada, dia akan menggerutu beberapa lama, mengucapkan kata-kata makian yang disukainya sampai ia puas. Lalu ketika kesadarannya sepenuhnya kembali, ia akan mengambil ponsel, mencari namaku di phonebook-nya, lantas menekan tombol call. Begitulah. Kami kemudian akan bicara tentang banyak hal sampai pagi tiba, sampai salah satu dari kami tertidur dan percakapan pun berakhir.

Tak jarang, akulah yang membuatnya terbangun. Dia sepertinya cukup sensitif terhadap nada dering pada saat hening. Hanya satu dua kali panggilanku tak langsung membangunkannya. Kadang aku tak sampai hati mengganggu waktu istirahatnya itu. Aku tahu. Aku bisa membedakan ketika dia sesungguhnya lelah dan mengantuk. Tapi jika kusarankan dia untuk melanjutkan tidurnya, dia akan menolak. Dia bilang dia tak mungkin membiarkanku sendirian ketika aku justru membutuhkannya. Ah, dia memang begitu baik. Terlalu baik. Di beberapa waktu aku bahkan merasa dia lebih menyayangi aku ketimbang dirinya sendiri. Serius. Apa yang berikutnya kuceritakan ini hanyalah satu dari sekian banyak hal manis yang dilakukannya untukku.

Saat itu malam dan kami sedang berbincang-bincang lewat telepon. Kukatakan padanya bahwa aku sedang ingin makan cokelat. Dia bertanya cokelat seperti apa. Kusebutkan sebuah merek lengkap dengan rasanya. Saat itu kukira pertanyaan dia itu hanya sekadar basa-basi, semacam respons aktif yang menandakan kalau dia mendengarkanku. Tapi beberapa hari kemudian, ketika adikku datang mengunjungiku, bukan hanya buku pesananku yang dibawa adikku itu, melainkan juga cokelat yang malam itu kuandai-andaikan. Merek yang sama. Rasa yang juga sama. “Dari pacarmu,” kata adikku itu. Aku langsung sumringah. Ketika adikku itu akhirnya pergi bersama seorang temannya—yang berarti aku sendirian lagi di kamar kos—aku langsung berusaha meneleponnya. Tak lama kemudian, dia balik meneleponku, dan langsung menggodaku apakah aku akan memberinya ciuman jarak jauh atau tidak. Tentu saja, aku memberinya ciuman itu.

Kurasa dia adalah tipe orang yang selalu berusaha menyenangkan pasangannya. Atau barangkali, lebih tepatnya, dia tak suka melihat pasangannya kesusahan, sedih, murung. Dia akan berusaha melakukan apa pun yang dia bisa untuk membuat pasangannya itu merasa lebih baik. Dan pasangannya itu, pada akhirnya, akan terharu dengan apa yang telah dilakukannya. Setidaknya itulah yang terjadi padaku. Seperti kejadian yang satu ini.

Saat itu aku sedang tidur. Suasana hatiku buruk karena suatu hal. Tiba-tiba ponselku berdering dan kutemukan nomor yang tak kukenal muncul di sana. Aku mengabaikannya, berpikir si penelepon begitu usil menggangguku di saat-saat seperti itu. Tapi ketika dering itu semakin nyaring, akhirnya aku mengangkatnya juga. Si penelepon, ternyata, seorang kurir yang mengantarkan sebuah paket untukku.

Seperti yang kau tahu, aku seorang pecinta buku yang tak segan-segan membeli buku yang kusuka—selama uang untuk itu ada—meskipun aku sadar tak akan sempat aku membacanya dalam waktu dekat. Dan paket, yang diantarkan kurir itu, rupanya adalah setumpuk buku berseri yang telah kuidam-idamkan berada di tanganku sejak lama; buku-buku tebal yang kemasannya pun memuaskanku. Aku begitu senang. Histeris. Seluruh tubuhku bergetar menahan keinginan untuk berteriak.

“Kamu ini ada-ada aja deh. Buku-buku ini kan mahal,” kataku kemudian, ketika meneleponnya.

“Nggak apa-apa. Mungpung aku lagi ada rezeki,” responnya.

“Aku surprised banget loh.”

“Baguslah.”

“Terima kasih banyak ya.”

“Sama-sama.”

Seandainya saja saat itu dia sendiri yang mengantarkan buku-buku itu, aku tentu akan memberinya peluk-cium yang dia harapkan.

“Aku mencintaimu,” katanya.

“Aku juga,” jawabku.

Kalau dipikir-pikir, dengan maksud membuatku merasa senang, banyak sekali yang telah diberikannya padaku. Berbagai macam hal. Kadang di waktu senggang kucoba mengingat-ingat pemberiannya itu satu per satu, kucatat rapi dalam sebuah buku kecil. Kubayangkan detik-detik ketika benda-benda itu dia sentuh untuk pertama kalinya. Kubayangkan detik-detik ketika dia mencari dan membeli benda itu. Kubayangkan detik-detik ketika dia dengan susah-payahnya mengemasnya. Banyak diantaranya hal-hal kecil, hal remeh temeh seperti cangkang kelomang, uang logam seribuan, koran Minggu, bolpoin cair, sesuatu yang bagi orang lain mungkin tak penting dan sepele. Tapi bagiku, semua benda itu begitu manis dan istimewa. Ya, istimewa. Bisa kubilang benda-benda pemberiannya itu jauh lebih berarti ketimbang mobil yang sedang kukendarai ini. Kalau aku disuruh memilih antara kehilangan mobil ini atau benda-benda itu, aku akan memilih kehilangan mobil ini. Menurutmu aku gila? Ya, mungkin saja. Bertahun-tahun ini segala sesuatu tentangnya memang kerapkali membuatku gila.

 
Pukul tiga sudah lewat ketika mesin mobil kumatikan. Aku lelah. Ingin sekali kulepaskan segala yang menempel di tubuhku ini lalu berdiri sekian lamanya di bawah guyuran air bersuhu sedang. Di sana aku akan memutar musik dan bernyanyi semauku. Aku tak peduli jika tetangga sebelah terganggu olehku.

Sesungguhnya aku bersyukur, merasa beruntung di usiaku yang baru menginjak tiga puluh ini aku sudah bisa meraih beberapa hal yang dulunya kucita-citakan: aku bekerja di sebuah penerbitan besar di ibu kota sebagai editor; aku dihadiahi mobil putih-cantik atas prestasiku satu tahun terakhir; aku memiliki rumah di kawasan elit di kota yang dijuluki kota hujan ini. Aku senang. Aku menikmati hidupku ini. Tapi di balik semua itu, entahlah, selalu saja aku merasa ada sesuatu yang menggangguku. Ibarat Robert Langdon yang menyadari dirinya telah salah menafsirkan salah satu kode Leonardo da Vinci dan membuatnya gagal mencegah kematian seorang kandidat Paus berikutnya, begitulah yang kurasakan. Kadang-kadang aku berpikir, aku memang benar-benar telah melakukan kesalahan.

Aku ingat di perayaan hari jadi kami yang kedua, di salah satu kedai kopi di Kota X, aku pernah berseloroh dengan berkata, “Tolong belikan aku sebuah rumah.” Dia tersenyum. Dia tahu aku hanya membual dan menggodanya. Kami saat itu masih sama-sama pengangguran dan meskipun ia tengah merintis karirnya sebagai penulis namun ia tentulah belum memiliki cukup uang untuk itu. Tapi dia berkata juga, “Suatu saat nanti aku akan membeli sebuah rumah untuk kita tinggali bersama.” Aku tersenyum. Meskipun itu kuanggap bualan semata, tetap saja aku senang mendengar bualan itu terlontar darinya. “Perempuan-perempuan yang pernah ada di kehidupanmu sebelum kamu bertemu aku tentunya beruntung,” kataku, “diperlakukan sebaik ini olehmu.” Ia langsung menyergah. “Kamu keliru,” katanya, “hanya kepadamu aku sebaik ini.” Lagi-lagi aku tersenyum. “Ngegombal aja,” kataku. “Jangan-jangan ke setiap mantanmu kamu bilang begitu,” lanjutku. “Ya nggak lah,” sergahnya lagi. “Ah, bohong,” sahutku. Sesungguhnya saat itu aku hanya bermaksud menggodanya. Tak lebih. Tapi rupanya, ia terganggu. Aku bisa melihat itu dari raut mukanya yang berubah muram, juga dari sorot matanya yang tak lagi liar menyergapku. “Maafin aku,” kataku kemudian. Ia hanya mengangguk Aku tak suka jika ia sudah merasa tersakiti seperti itu.

Beberapa kali aku membuat ia merasa tersakiti dan setelahnya dihinggapi rasa sesal yang sulit sekali hilang. Kadang dia mengeluh, mengatakan saat itu juga bahwa dia merasa tersakiti. Lebih sering dia diam, tak meresponsku, dan membuatku merasa diabaikan. Jujur saja aku lebih suka dia mengatakan langsung saat itu juga ketimbang diam memendamnya dan menunggu aku menyadarinya suatu saat. Dihantui rasa bersalah itu sungguh tak nyaman, seperti berada dalam ruang sempit dan kau merasa dinding-dinding itu mendekatimu dan berusaha menghimpitmu. Ketika akhirnya aku melontarkan permintaan maaf, dia bilang dia telah memaafkanku, sejak lama. Aku jadi semakin merasa bersalah. Di saat-saat seperti itu aku jadi berpikir kalau dia memang terlalu baik untukku, kalau dia sesungguhnya pantas mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari diriku, seseorang yang bisa memperlakukannya dengan lebih baik. Tapi dia akan berkata, “Aku tak menginginkan yang lebih baik. Aku menginginkanmu.” Ah, kata-kata manis. Begitulah kalau pasanganmu seorang penulis puisi yang juga penulis cerita; akan teramat sering kau mendengar kata-kata yang membuatmu terbuai. Salah-salah kau bisa tertidur dan tak bangkit lagi untuk seratus tahun ke depan, seperti salah satu kisah yang ditulis oleh Grimm bersaudara.

 
Dia kini telah menghasilkan beberapa buku. Meski tak satupun dari buku-bukunya itu ada yang best seller atau pernah terpampang di etalase berlabel “terlaris” di Gramedia, aku menyukainya. Sangat. Dan sejujurnya, dalam penilaianku, buku-bukunya itu masih lebih berkualitas ketimbang beberapa buku best seller atau terlaris itu. Lagipula memang, seperti yang dikeluhkannya dulu, label “best seller” di negeri ini sering menipu. Ada rumor label itu bisa dibeli. Sebagai buktinya, kau akan menemukan buku-buku berlabel “best seller” yang tak pernah sekalipun terpampang di etalase “terlaris”. Sedangkan label “terlaris” itu sendiri—yang berarti telah sangat banyak orang yang membelinya—tak bisa menjadi tolak ukur kualitas sebuah buku. Itu lebih kepada disukai banyak orang atau tidak, diminati banyak orang atau tidak, diterima banyak orang atau tidak. Jika kau menulis sebuah buku yang isinya tak sejalan dengan pakem yang ada, jangan harap bukumu akan bertengger di etalase itu.

Dan seperti itulah buku-buku yang ditulisnya. Idealismenya selalu saja membuatnya menciptakan sesuatu yang tak lazim. Tak heran jika tak satu pun dari buku-bukunya itu pernah bertengger di etalase “terlaris” atau dilabeli “best seller”.

Tapi seperti yang kubilang tadi, aku menyukainya. Sangat. Sampai sekarang aku selalu bergegas setiap kali kudengar kabar buku terbarunya telah terpampang di Gramedia. Tak satu pun buku-bukunya itu kulewatkan. Tak satu pun. Dan kini buku-bukunya itu berderet di rak buku di kamarku, di sebuah ruang yang memang kusediakan khusus untuk buku-bukunya itu. Aku yakin, dia masih akan menghasilkan banyak buku lagi. Dan suatu hari nanti, bisa saja, salah satu bukunya itu membuatnya meraih penghargaan tertinggi dalam dunia kepenulisan—khususnya sastra—yang digelutinya: Nobel prize. Dan jika itu terjadi, aku tentunya akan luar biasa bangga kepadanya. Lebih bangga dari yang sudah-sudah. Meski… ya… hmm… ah, sudahlah.

Setelah mandi aku tak langsung tidur, meski sesungguhnya aku begitu lelah. Aku hanya berbaring. Sesekali melihat jam. Sesekali melihat buku-buku itu. Aku pun akhirnya mengambil salah satu dari buku-buku itu dan memutuskan untuk membacanya lagi. Buku yang kuambil ini, adalah yang paling berharga dari buku-bukunya yang kupunya. Di buku ini tertulis namaku. Di buku ini tertulis kata-kata persembahan yang ditujukannya padaku. Seketika, ingatanku terseret ke enam tahun lalu, ke detik-detik ketika buku itu kusentuh untuk pertama kalinya, kuciumi untuk pertama kalinya. Dan tiba-tiba, saat ini, aku mengharapkan dia berada di kamar ini, terbaring menyamping di hadapanku, menciumku, membacakan dengan tenang salah satu cerpennya di buku ini.

 
Pukul lima sore. Hujan turun. Beberapa saat yang lalu seorang temanku meneleponku, menanyakan apakah aku akan pergi ke gereja atau tidak. Kubilang tidak. Lagipula aku sudah tak pernah lagi mengikuti misa. Sejak lama. Terakhir kali aku mengikuti misa justru saat dia menemaniku. Lucu sekali. Saat itu bahkan dia sendiri yang mempunyai ide itu. Aku hanya mengabulkan keinginannya untuk melihat-lihat isi gereja dan merasakan suasana misa. Di sepanjang misa berlangsung, sepasang matanya tak pernah berhenti mengamati apa saja yang terjadi. Dasar penulis.

“Lain kali ajak aku ke misa lagi ya,” katanya saat itu, setelah misa usai. Aku mengangguk dan tersenyum. “Kamu tak keberatan kan aku ikut misa seperti tadi?” tanyanya kemudian. “Siapa tahu kamu justru merasa tak nyaman, khawatir kalau-kalau ada temanmu yang memergokimu membawa seorang ‘penyusup’ ke acara sakral seperti itu. Kalau iya, bilang saja. Aku bisa ngerti kok.” Aku menggeleng. “Aku justru senang kamu ikut misa seperti tadi, menemaniku,” kataku. Dia tampak bahagia mendengar ucapanku itu. “Aku akan menemanimu ikut misa lagi,” ucapnya yakin.

Namun ternyata itu tak pernah terjadi. Misa saat itu adalah misa pertama sekaligus terakhir kami. Aku pun setelahnya benar-benar tak pernah lagi mengikuti misa, sampai kini. Salah satu teman terdekatku—yang beberapa saat lalu menelepon itu—berkata bahwa keenggananku mengikuti misa bisa jadi karena aku takut itu akan menyadarkanku akan ketidakhadirannya, bahwa dia tak lagi menemaniku di prosesi sakral itu. Awalnya kutepis dugaannya itu. “Alasan itu terlalu konyol dan mengada-ada,” kataku. Tapi suatu pagi aku memikirkannya, dan entah kenapa hal itu terasa benar. Begitu benar. Dan aku kembali bertanya kepada diriku sendiri apakah memang aku telah melakukan kesalahan. Pagi itu, di ruas tol Jagorawi, aku melajukan mobilku sambil menahan tangis. Aku teringat suatu malam saat kami makan malam bersama di Solaria Botani Square. Itu adalah makan malam terakhir kami.

Pada makan malam terakhir kami itu, aku memintanya untuk tak pernah memikirkanku lagi, untuk tak pernah melakukan sesuatu untukku lagi, untuk tak pernah menghubungiku lagi dan membiarkanku pelan-pelan berusaha melupakannya. Kami berbeda. Keyakinan kami berbeda. Dan di negara ini, jalan keluar untuk itu tak ada. Aku lagi-lagi menanyakan padanya seperti apa jalan keluar itu jika memang ada. Dan dia belum juga bisa menjawabnya. Dia hanya berkata bahwa suatu saat dia akan menemukannya. “Pasti!” katanya. Tapi aku sudah lelah. Aku tak mau lagi dihinggapi rasa bersalah karena pada akhirnya aku tak akan bisa menjadi istrinya. Tak mau. Aku pun berdiri dan meninggalkannya di meja itu. Sayup-sayup aku seperti mendengar dia memanggilku. Tapi, aku tak menoleh. Tidak saat itu. Tidak beberapa belas detik setelahnya. Tidak beberapa puluh detik setelahnya.

Dan sesungguhnya, aku tak pernah mengira dia saat itu akan benar-benar pergi. Sebelumnya, beberapa kali hal serupa terjadi, dan dia tak pernah sesenti pun menjauh dariku. “Aku terlalu menyayangimu. Aku tak mungkin meninggalkanmu,” itulah yang selalu dia katakan. Tapi kali itu, dia pergi. Dia meninggalkanku, seperti yang kuminta darinya malam itu.

Mungkinkah sesungguhnya dia lelah karena aku terus mengeluhkan hal yang sama, karena aku lagi-lagi memintanya untuk meninggalkanku? Mungkinkah dia jadi membenciku, setelah malam itu?

Kadang aku merasa dugaanku itu benar, apalagi setelah aku tahu dia kini adalah pasanganmu, orang yang tak lama lagi akan menjadi suamimu. Apakah sengaja dia melakukannya? Maksudku, bisa jadi selama ini sebenarnya dia tak pernah meninggalkanku dan selalu mengawasiku; dia hanya tak membiarkan aku menyadarinya. Dan ketika akhirnya dia tahu bahwa kita berteman dekat, bahwa kau adalah salah satu dari sedikit orang yang kusayangi di hidupku ini, dia pun memutuskan untuk menjalin hubungan denganmu, dengan maksud membalas sakit hatinya padaku. Bagaimana? Bukankah itu masuk akal? Ya, bukankah itu masuk akal?

Tapi bisa jadi itu hanya dugaan konyol. Aku berpikir seperti itu pastilah karena aku pernah mencintainya, dan masih mencintainya. Meskipun aku telah melepasnya bertahun-tahun lalu, bisa jadi ternyata aku tak pernah benar-benar melepasnya. Jarak, waktu, pada saat-saat tertentu, memang terasa ilusif. Kita merasakan sesuatu di detik ini dan kita langsung teringat bahwa perasaan seperti ini terakhir kali melingkupi kita bertahun-tahun yang lalu. Jeda selama bertahun-tahun itu seperti sesuatu yang kosong; seperti sebuah ruang yang tak berarti apa-apa. Dan ketika kita terjebak pada keadaan seperti itu, kita cenderung membiarkan diri kita terisap pada titik di waktu yang telah lalu itu; sebuah titik di mana segala hal baik nan menyenangkan itu masih bisa kita genggam dan nikmati; sebuah titik di mana segala sesuatunya belum semenyedihkan seperti saat ini.

Kau tahu, kini aku jadi bertanya-tanya, bagaimana seandainya beberapa hari yang lalu kuceritakan semua ini padamu? Masih akankah kau mengirimiku kartu undangan pernikahanmu itu? Tidak. Tidak. Jangan berpikir bahwa aku jadi membencimu gara-gara hal ini. Itu hakmu. Menerima pinangannya adalah sepenuhnya hakmu. Aku tetap teman baikmu, dan akan selalu seperti itu. Biarlah aku mengenang dia yang akan menjadi suamimu itu sebagai seseorang yang dulu pernah membuatku bahagia. Tak lebih. Aku memang masih mencintainya, masih sangat mencintainya, namun aku paham betul bahwa cinta bukanlah segala-galanya. Yang paling penting adalah: aku harus melanjutkan hidupku.(*)

Bogor, 2012-2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s