Sekadar Surat di Akhir Tahun

/1/

Hampir tujuh tahun lamanya aku tidak bertatap-muka dengan adikku. Semalam, ketika kami akhirnya mengobrol via skype, aku merasa sedang berhadapan dengan seseorang-yang-aku-sama-sekali-tak-mengenalnya.

Tentunya kamu tahu, hubunganku dengan adikku mulai memburuk saat ia tahu aku benar-benar menjalin hubungan denganmu, seorang imigran dari Dunia Ketiga yang juga memeluk suatu agama. Aku ingat betul pernah menceritakan hal ini di suatu percakapan-sehabis-persenggamaan kita. Dan tentunya, kamu pun tahu, hubungan kami mencapai titik terendahnya di saat aku memutuskan untuk mengikutimu ke negeri ini, lantas menikah denganmu dengan tata cara yang kamu kehendaki. Sejak aku menjadi istrimu, aku masih sesekali bertukar-kabar dengan ibuku dan ayahku. Tapi dengan adikku, tidak.

Sampai detik ini aku tak bisa memastikan apa sesungguhnya yang membuat adikku begitu membenciku—katakanlah begitu—atas pilihanku itu. Apakah karena aku menikahi seorang imigran, seseorang yang berasal dari suatu negara yang secara kelas berada jauh di bawah negara asal kami? Ataukah karena si imigran itu memeluk suatu agama, dan untuk menikah dengannya aku mau tak mau ikut memeluk agama tersebut? Ataukah karena pernikahan yang kupilih itu membuatku menjauh secara harfiah darinya dan ayah-ibuku? Sejujurnya, aku begitu penasaran akan hal ini, namun bagaimanapun selama tujuh tahun itu aku tak punya kesempatan untuk menanyainya langsung. Tidak satu kesempatan pun—sebab ia memutus jalur informasi di antara kami juga memasang penghalang yang tebal nan tak tertembus. Semalam, ketika akhirnya kami kembali bicara, aku merasa ia begitu asing dan aku tak mungkin begitu saja menanyainya tentang hal itu.

Aku sama sekali tak keberatan dengan kenyataan bahwa aku jadi memeluk suatu agama—agamamu. Dan aku sama sekali tak menyesali pilihanku itu. Aku berkata seperti ini sebab kupikir dari ketiga alasan tadi alasan inilah yang paling mendekati sasaran—kalau bukan tepat sasaran. Sikapku terhadap agama terbilang cair. Bahkan, di saat-saat tertentu, sikap cair itu berkembang jadi tak peduli. Karena itulah aku tak merasa terkejut atau heran atau shocked ketika dulu kamu memintaku untuk ikut memeluk agamamu (agar kita bisa menikah secara sah). Memeluk agama atau tidak, bagiku seperti halnya memasang nametag atau tidak. Melakukannya atau tak melakukannya hampir-hampir tak mengubahku. Memang, oleh orang-orang di sekitarku aku mungkin akan terlihat (sedikit) berbeda, tetapi sejatinya aku masihlah aku-yang-sama; tak ada yang berubah dari diriku selain keberadaan nametag itu. Ini tentunya dikarenakan aku memeluk agama tanpa membiarkan diriku terjebak dalam ritual-ritual atau rutinitas-rutinitas yang umum dikaitkan dengan agama tersebut.

Kamu tidak suka aku mengemukakan sesuatu seperti ini. Kamu pernah mengatakannya dulu. Bagaimanapun, menurutmu, orang-orang beragama menilai agama yang dianutnya itu sebagai sesuatu yang suci, agung, dan karenanya memeluk agama bagi mereka adalah sesuatu yang dilakukan dengan kesungguhan, dan di dalamnya termasuk memeluk agama itu secara total, secara menyeluruh. Itu berarti selain mengatakan dirimu memeluk suatu agama kamu pun harus ikut melakukan ritual-ritual yang berkaitan dengan agama tersebut. Merepotkan. Jujur saja aku melihat itu merepotkan. Dan untunglah kamu tidak memaksaku menjadi seperti itu. Kamu cukup puas dengan kenyataan bahwa aku ikut memeluk agamamu dan dengan itu kita bisa menikah dan menjalani rumah tangga di negeri ini, negeri asalmu. Barangkali, kamu mempertimbangkan kecenderungan orang-orang di negeri asalku dalam memandang agama dan orang beragama.

Sekarang kita kembali ke masalah adikku. Semalam, ia mengatakan bahwa ia ingin sekali bertemu denganku, secara langsung, benar-benar langsung. “Ada sesuatu istimewa yang ingin kubicarakan denganmu,” ujarnya. Aku tak tahu mengapa ia menggunakan kata “istimewa” dan bukannya “penting”. Mungkin ada sesuatu di baliknya. Seketika, di benakku berkelebat wajah ayahku dan ibuku. Kutanyakan padanya apakah sesuatu istimewa itu berkaitan dengan mereka atau tidak. Ia bilang, “Tidak.”

Percakapan via skype kami itu berlangsung selama kira-kira satu jam. Ketika kupikirkan sekarang, aneh juga waktu bisa berlalu selama itu, sedangkan nyatanya kami hampir-hampir tak membahas hal berarti selain saling menanyakan kabar dan ingatan-ingatan masa silam. Katakanlah, itu sebuah upaya untuk membuat kami kembali mengenal satu sama lain. Di akhir percakapan kami, kukatakan padanya bahwa Natal tahun ini aku mungkin akan menghabiskan waktu di sana, bersama ayahku dan ibuku, atau mungkin bersama teman-teman lamaku. Ia memintaku segera menghubunginya jika aku sudah berada di sana.
 

/2/

Sejak kita menikah, sejak aku resmi tinggal di negeri ini sebagai istrimu yang sah, aku berusaha keras membekali diriku dengan hal-hal yang akan memudahkanku beradaptasi. Bahasa ibumu, misalnya, aku pelajari dengan giat; dengan sangat giat sampai-sampai dalam seharinya kamu mendapatiku berkali-kali berdiri di depan cermin dan berbicara dengan bayanganku sendiri dalam bahasa ibumu itu. Pernah suatu ketika kamu tertawa terpingkal-pingkal usai mengamati tingkahku itu. Bisa jadi, menurutmu, logat yang kupakai saat itu masih jauh dari sempurna dan karena itulah apa-apa yang kukatakan itu terdengar aneh dan begitu lucu. Kamu baru berhenti tertawa—itu pun pelan-pelan—setelah aku ngambek dan duduk di kursi meja-makan dan memandangi jendela seolah-olah yang kulihat di luar sana adalah pemandangan di kota kelahiranku.

Setelah kemampuanku berbahasa-ibumu itu cukup baik, aku memaksakan diri membaca karya-karya sastra yang ditulis dalam bahasa tersebut. Tentu saja, di dalamnya termasuk cerita-ceritamu.

Aku jatuh-suka pada cerita-ceritamu yang kubaca dalam bahasa ibuku dan kukira itulah kemudian yang membuatku jatuh-suka (dan selanjutnya jatuh-cinta) kepadamu. Dalam sebuah ceritamu yang kubaca dulu itu, kamu menulis seperti ini: “Ketika kita meninggalkan seseorang, kita sesungguhnya meninggalkan diri kita yang telanjur menyatu bersama seseorang itu. Kita pergi, namun kita bukan hanya meninggalkan, melainkan juga kehilangan. Kita kehilangan sebagian dari diri kita dan karenanya kita menjadi diri kita yang lain, yang tidak lagi persis sama, atau bahkan jauh berbeda. Kita mungkin mengira pada apa yang kita lakukan itu kita adalah subjek, bukannya objek. Namun kita keliru. Bisa jadi kita memang subjek, namun di saat yang sama kita adalah objek. Kita baru menyadarinya setelah kita melakukannya sekian kali dan kita mendapati diri-kita-saat-ini tidaklah sama dengan diri-kita-sebelum-kita-melakukannya.” Cerita ini, kutemukan dalam sebuah majalah sastra yang memang kerap kubeli sewaktu di sana. Ketika aku akhirnya bertemu denganmu—hampir setahun kemudian, kalimat-kalimat itu seketika terngiang dan aku mulai membayangkan kamu mengucapkannya tepat di hadapanku. Tepat di hadapanku. Dan ketika kita akhirnya bersama-sama, aku menjadi paham: kamu memang menjadi dirimu saat kamu menulis cerita itu. Sederhananya, kamu tidak membual atau berpura-pura. Dan itulah salah satu alasan aku dengan mudahnya menerima ajakanmu untuk menikah hampir tujuh tahun yang lalu.

Sekarang, teringat hal itu, aku merasa aneh. Waktu telah berlalu bertahun-tahun namun aku seperti baru saja melewati beberapa hari. Aku jatuh-suka padamu, kita bertemu, kita bersama-sama, aku mengikutimu ke negeri ini dan kita menikah, dan tiga tahun lalu kita bercerai. Ya, tiga tahun lalu. Luar biasa. Di dalam diriku seolah-olah ada mesin dan dengan sendirinya ia membuatku melupakan semua itu sekian lama. Atau mungkin, aku yang dulu memberikan perintah itu kepadanya. Tiga tahun, tujuh tahun, itu sungguh bukan ruang-waktu yang pendek. Percakapan via skype dengan adikku semalamlah agaknya yang memicu terkuaknya ingatan-ingatan masa silamku itu. Dan sebagai efek sampingnya, ingatan-ingatanku yang lainnya pun ikut terkuak, baik itu yang lebih silam atau belum lama. Salah satunya: ingatan tentang hari-hari terakhir kita sebagai suami-istri.
 

/3/

Dengan segala hal baik yang kukemukakan tentangmu tadi, siapa pun barangkali tak akan mengira bahwa kamu pada akhirnya menyakitiku. Empat tahun sudah sejak kita menikah. Aku sudah lancar betul berbicara dalam bahasa ibumu dan kamu sudah mengajakku ke berbagai tempat dan memperkenalkanku kepada teman-teman penulismu. Aku masih mencintaimu, dan kamu masih mencintaiku. Setidaknya itulah yang kamu katakan padaku di persenggamaan terakhir kita. Lalu kabar buruk itu kuterima: kamu sudah sejak lama menjalin hubungan istimewa dengan seorang perempuan yang adalah manajermu.

Sebagai seseorang yang mencintaimu dan percaya padamu, aku tentunya tak begitu saja menelan kabar yang kuterima itu. Kamu tidur dengan perempuan lain? Oke. Meskipun itu cukup mengejutkan, tapi aku bisa saja menerimanya, atau menganggapnya tak pernah terjadi. Tapi bahwa kamu tidur (dan menjalin hubungan istimewa) dengan perempuan itu, ia yang aku sudah sangat sering bertemu dengannya, ia yang umurnya enam belas tahun di bawahmu dan (saat itu) masih (berstatus) mahasiswa itu, aku sulit menerimanya. Atau bahkan, tak bisa menerimanya. Sekuat apa pun aku mengingkari hal itu, kenyataannya aku begitu terganggu olehnya, sampai-sampai selama enam hari berturut-turut aku mengalami mimpi buruk yang nyaris sama: di sebuah pagi, ketika aku bercermin, aku mendapati diriku di cermin itu kian samar dan akhirnya hilang, dan di titik inilah perempuan itu muncul, perlahan-lahan. Dan ketika aku menyaksikannya dengan mata kepalaku sendiri (kamu, di sebuah kamar kos, tengah bersenggama dengan perempuan itu), aku seperti kehilangan kesadaranku, atau sebagian besar diriku. Aku tak tahu apa yang kulakukan saat itu. Apakah aku memuntahimu dengan caci-maki dan sumpah serapah? Apakah aku menghampiri perempuan itu dan aku menjambak rambutnya? Apakah aku mengambil lampu-belajar dan melemparkannya kepada kalian? Ataukah aku terdiam saja menahan tangan-bahuku yang gemetar dan menangis tanpa suara dan selanjutnya pergi meninggalkan kamar itu? Entahlah. Aku tak bisa mengingatnya. Lebih tepatnya, aku tak bisa memastikannya. Bagi diriku-kini semua itu terasa nyata seakan-akan semuanya benar-benar terjadi secara paralel, dalam waktu yang persis sama. Yang pasti, dua mingguan setelah itu kita bersepakat untuk bercerai; kamu datang ke rumah dan dengan sangat formal meminta maaf dan berjanji tak akan pernah lagi menunjukkan batang-hidungmu di hadapanku. Kamu bahkan melontarkan permintaan maafmu itu dalam bahasa ibuku—mungkin untuk membuatku percaya bahwa kamu bersungguh-sungguh. Sejujurnya, barangkali dikarenakan kebersungguh-sungguhanmu itu, aku sedikit-sedikit gemetar dan akhirnya menangis selepas kamu pergi.

Rumah ini, buku-bukumu, dan semua yang ada di sini, kamu berikan padaku. “Ini setidaknya untuk mengurangi sedikit saja rasa bersalahku padamu.” Itulah yang kamu katakan—dalam bahasa ibuku. Aku ingat betul di tiga minggu pertama setelah kepergianmu aku tak memasuki ruang-kerjamu, dan bahkan menganggap ruangan itu tak ada. Di hari kedua atau ketiga, aku menguncinya, dan kunci itu kusimpan di lemari es, di dalam freezer. Ketika aku mengambilnya kembali, aku harus bersusah-payah sebab ia seperti telah menyatu dengan freezer itu.
 

/4/

Bicara tentang ceritamu yang tadi kusinggung, baru saja aku membacanya lagi. Semalam, sekitar satu jam setelah percakapan via skype dengan adikku itu selesai, aku mencari-cari majalah sastra itu di lemari buku di ruang-kerjaku. (Cukup memakan waktu, sebab majalah itu rupanya berada di deretan paling bawah dan paling dalam, tergabung dengan catatan-catatan harian lamaku.) Yang membuatku ngebet membacanya lagi adalah karena dulu kita membahasnya bersama-sama di kencan pertama kita—jika itu bisa disebut kencan. Tadi kubilang aku jatuh-suka pada cerita tersebut saat aku pertama kali membacanya. Usai kita sama-sama membahasnya di kencan pertama kita itu, aku kembali jatuh-suka dengan tingkatan yang lebih tinggi.

Kamu membuka ceritamu itu dengan sebuah scene yang sulit kuabaikan: seorang lelaki, digambarkan sedang berbicara dengan dirinya sendiri, dan mereka berdua dalam keadaan telanjang bulat seperti habis bersenggama; lalu lelaki itu tiba-tiba mencekik dirinya di hadapannya, dengan kuat, dengan sangat kuat, sehingga sosok itu tak bergerak lagi—mati; tak lama setelah itu sosok tersebut berubah wujud jadi serpihan-serpihan yang kemudian bergerak menghampirinya, lantas meresap ke dalam dirinya, menyatu dengannya; scene ini diakhiri dengan penggambaran detail kelegaan si lelaki mendapati sosok yang kini terbaring kaku di hadapannya adalah salah satu perempuan yang pernah ditinggalkannya.

Di kencan pertama kita itu kamu menjelaskan bahwa cerita sangat mungkin akan bergerak di wilayah yang jauh berbeda seandainya kelegaan si lelaki tak digambarkan secara detail, dan akan lebih jauh berbeda lagi jika sosok perempuan itu tidak ada. “Kelegaan si lelaki ikut membentuk ‘latar’, secara dominan, sedangkan dihadirkannya si perempuan, meski singkat, menjadi semacam titik-henti di mana adegan pembunuhan itu mendarat dan meninggalkan jejak—yang kelak akan mengubah ‘kelegaan’ tadi menjadi ‘penyesalan’.” Penjelasan yang rumit, namun entah kenapa saat itu aku memahaminya. Benar-benar memahaminya. Kamu, lewat ceritamu itu, berusaha menunjukkan bahwa pemahaman yang disertai “iman” seringkali keliru, dan upaya-upaya untuk “menghapus” yang sudah ada tak menjanjikan kebahagiaan, ataupun sekadar kehidupan yang lebih baik; masa lalu dan hal-hal yang telanjur lampau ada di sebuah kamar yang kita pasti tidak akan baik-baik saja jika (kembali) berada di sana untuk waktu yang lama. Si lelaki, dalam ceritamu itu, pada akhirnya menyadari bahwa dengan melenyapkan sisa-sisa dirinya (yang tertinggal di tiap-tiap perempuan yang pernah dipacarinya) maka ia sesungguhnya juga melenyapkan dirinya sendiri.

Bagian yang paling aku suka dari ceritamu itu adalah saat si narator memunculkan dirinya di partisi ketiga, di mana di situ ia menjelaskan pandangan-pandangannya tentang si tokoh utama—lelaki tadi—dan pembunuhan-pembunuhan yang telah dan akan dilakukannya. “Wahai pembaca yang budiman, kalian keliru jika mengira ia seorang lelaki yang jahat; kalian bahkan keliru jika sedikit saja percaya bahwa ia telah (dan akan) melakukan pembunuhan-pembunuhan. Ia sejatinya hanya sedang berusaha ‘menghapus’ sisa-sisa dirinya, yang diyakininya telanjur menyatu dengan orang-orang yang pernah ia cintai dan hidup bersamanya. Ia melakukannya, sebab ia ingin terbebas dari serangan masa silam, yang dengan itu ia bisa melangkah maju tanpa sedikit pun merasa ragu. Dan sebab ia adalah tipe orang yang melihat hanya dirinya satu-satunya sosok berharga dalam hidup yang dijalaninya, ia tak menahan dirinya dari melukai dan mengorbankan orang-orang lain meski mereka dulu pernah begitu istimewa di matanya.” Dulu sekali, jauh sebelum kita bertemu, aku pernah memosisikan diriku seperti itu.

Sejauh mana sebuah cerita bisa masuk ke dalam diri pembaca dan “menyala” di sana adalah salah satu hal yang kita bahas di kencan pertama kita. “Menurutku, itu bukan sesuatu yang bisa diukur, sebab pengalaman dan sensitivitas tiap-tiap pembaca pastilah berbeda.” Begitulah yang kukatakan saat itu. Kamu mengoreksinya dengan berkata, “Detail pengalaman tiap-tiap orang memang berbeda, tetapi di atasnya, secara umum, kesamaan itu ada. Jika otentisitas adalah sebuah struktur kecil dengan daya jangkau yang sangat terbatas, maka ia berada di dalam sebuah struktur besar dengan daya jangkau yang jauh di atasnya, yang dengan itu ia bisa merangkul begitu banyak ingatan dari banyak kepala, begitu banyak pengalaman dari banyak orang. Bahkan bisa jadi, pada tingkatan tertentu, struktur tersebut mampu merangkul sesuatu semacam pengalaman-yang-belum-ada, atau ingatan-yang-akan-terbentuk-beberapa-tahun-lagi. Kamu bisa menyebutnya efek reinkarnasi, de javu, alam-bawah-sadar-kolektif, atau yang lainnya. Intinya adalah, pengalaman manusia bisa dikumpul-satukan, sebab bagaimanapun mereka terbuat atau berasal dari sesuatu yang sama juga bergerak di ruang-hidup yang sama.” Sungguh koreksi yang panjang, dan berbelit-belit. Tetapi saat itu aku merekam percakapan kita dan setelahnya aku menuliskan beberapa hal penting dari percakapan itu dalam buku catatan harianku—koreksimu itu termasuk salah satunya. Karena itulah, aku bisa mengemukakannya kembali dengan detail dan percaya diri.
 

/5/

Sebelum aku mengingat terlalu jauh dan terjebak di masa silam, aku akan sedikit bercerita tentang kehidupanku di tiga tahun terakhir. Setelah aku bukan lagi istrimu, aku membenamkan diriku ke dalam apa pun yang bisa membuatku sibuk. Tawaran penerjemahan satu per satu kuterima, baik itu dari kedutaan ataupun dari perusahaan-perusahaan yang namanya selalu mengingatkanku pada negeri asalku. Kebetulan, beberapa temanmu ada yang begitu baik padaku; mereka membantuku ikut terlibat dalam acara-acara kesusastraan yang berkaitan dengan kesusastraan di negeri asalku. Di beberapa festival, aku bahkan diposisikan sebagai pembicara. Dan sambutan yang kuterima dari audiensi selalu hangat dan cenderung jenaka. Kadang-kadang, semua hal baik ini membuatku berpikir untuk menghabiskan sisa hidupku di negeri ini meski itu tanpa dirimu atau lelaki penggantimu.

Mulai Februari tahun ini, hampir sepuluh bulan yang lalu, aku menambah kesibukanku dengan mengajar di sebuah lembaga pengajaran bahasa asing—bagi orang-orang di negeri ini. Tentu saja, di sana aku mengajarkan bahasa ibuku. Bayarannya tidak besar dan orang-orang di sana sama sekali tidak istimewa; mereka tidak membuatku bersemangat atau tertawa-tawa atau ingin menghabiskan waktu di sana lebih lama dari yang semestinya. Tapi setidaknya, aku jadi punya teman baru; orang-orang yang bisa kutemui dan mau meluangkan waktu untuk mengobrol denganku—seringkali dalam bahasa ibuku. Dan konyolnya, di salah satu kelas terbaru yang kututori, salah satu muridku agaknya menyukaiku dan menginginkanku.

Aku tidak sedang membual atau melebih-lebihkan. Pengalaman yang kumiliki sudah jauh dari cukup untuk membuatku menyadari sesuatu semacam itu. Awalnya, muridku itu—ia laki-laki—kerap memandangiku begitu lama bahkan setelah aku selesai menyampaikan materi. Lama-lama, ia mulai sering tersenyum, dan mulai berani melontarkan pertanyaan—sekadar untuk membuatku bicara sambil menatapnya. Selanjutnya, ia benar-benar mengajakku bicara, di luar kelas, bahkan di luar kursusan itu—via aplikasi ponsel seperti WhatsApp. Memang ia belum sampai pada menyatakan bahwa ia menyukaiku—atau mencintaiku?—tapi kupikir di dalam benaknya ia sudah melakukannya sekian kali.

Aku harus jujur bahwa hal tersebut sedikit membuatku senang. Mengetahui bahwa dirimu disukai, dicintai, diinginkan, bagaimanapun sesuatu yang menyenangkan. Aku sesekali membiarkan diriku terjebak dalam khayalan-khayalan nakal seperti berciuman dengan lelaki itu dan setelahnya aku merasa konyol. Aku di akhir tiga puluhan, dan aku berfantasi seperti itu dengan seorang anak SMA. Seandainya di dalam benakku kelak aku melakukan simulai persenggamaan dengannya aku tentu akan lebih merasa konyol lagi. Bagaimanapun, aku sedang berada di negeri ini. Sedikit-banyak aku juga sudah terpengaruh oleh petuah-petuahmu dulu yang intinya adalah menjaga diri (sikap, penampilan, ucapan) di negara ini (seperti) lebih ditekankan bagi para perempuan (ketimbang para lelaki).

Tentang hal ini, beberapa hari yang lalu aku mengalaminya. Aku pulang dari tempat kursus lebih cepat tiga jam dari biasanya—sekitar pukul lima sore—sebab salah satu muridku yang mengambil kelas privat mengabariku ia tak bisa datang karena ada urusan mendadak. Aku meninggalkan tempat kursus itu sendirian. (Biasanya aku pulang bersama para tutor yang lain.) Tak ada masalah, sebenarnya. Toh aku sudah hidup cukup lama di negeri ini dan aku hapal betul rute angkutan umum dan cara-cara mainnya. Berhadapan dengan orang-orang yang “menilaiku” asing pun aku sudah terbiasa. Tetapi di dalam bis yang kutumpangi sore itu, sesuatu yang tak biasanya, sesuatu yang sebelumnya tak pernah kualami, terjadi. Di sisa perjalanan aku begitu tak nyaman dan setibanya di rumah aku langsung ke kamar mandi dan menyalakan shower.

Jadi begini. Seorang lelaki yang baru saja naik dari halte X duduk di kursi di sampingku. Ia menyapaku dengan senyuman dan anggukan, dan aku balik menyapanya. Kupikir akan berakhir di situ interaksi kami, namun ternyata tidak. Sekitar lima menit kemudian, lelaki itu menanyakan sesuatu yang begitu menggangguku. Sebelumnya selama lima menit itu aku merasakan ia tak henti-henti memandangiku dan sesekali tersenyum.

Yang ditanyakan lelaki itu adalah ini: “Kalau dihitung sampai sekarang, sudah berapa banyak orang yang ngajak ML?”

Aku tidak tahu apakah orang itu mabuk atau tidak. (Agaknya tidak, sebab bau napasnya biasa saja.) Atau mungkin ia mengira aku orang-asing-baru dan karenanya tak akan memahami betul pertanyaannya itu. Atau mungkin, ia pikir aku tipe perempuan seperti itu. Selepas melontarkan pertanyaan koplak itu ia tersenyum menunjukkan barisan giginya yang tak sedap dipandang, dan aku tak habis pikir bagaimana ia masih bisa terus memandangiku meski aku merespons ketidak-pantasan-sikapnya itu dengan menunjukkan raut muka masam dan mata memicing tajam. Setelah sekian lama, setelah aku tak mengacuhkannya dan hanya menatap ke luar jendela, ia merogoh ponsel di saku celananya, dan membenamkan diri ke dalam apa pun itu yang ada di ponsel tersebut. Bisa jadi ia membuka facebook, dan menulis status yang intinya menggambarkan apa yang baru saja ia lakukan itu.

Kesampingkanlah dua dugaan pertamaku tadi, dan kini aku punya satu dugaan lain: lelaki kampret itu mungkin terlampau sering menonton JAV. Ketika melihatku, ia mungkin langsung teringat salah satu aktris JAV kesayangannya, atau bahkan salah satu episode atau tayangan favoritnya. Aku tidak sedang menghakimi kegemarannya itu, dan sejujurnya aku sama sekali tak peduli. Tapi, bahwa ia seakan-akan menyama-ratakan diriku dengan perempuan-perempuan yang dilihatnya di video-video itu, itu tak bisa kuterima. Memang ada sejumlah lelaki yang dengannya aku pernah berkali-kali ML (aku menggunakan kata ini dengan maksud menyudutkan lelaki-kurang-piknik itu), tapi itu tidak berarti aku begitu longgar akan aktivitas seksual, dan karenanya ia tak bisa melihatku seperti halnya ia melihat aktris-aktris JAV itu. Dan lebih jauh lagi, setelah kita bersama-sama, aku memperlakukan aktivitas seksual secara lebih dewasa dan cenderung kudus. Karena itulah, di mataku, lelaki itu benar-benar goblok.
 

/6/

Sudah cukup banyak juga aku bercerita. Dan, sudah cukup lama juga waktu berlalu. Hingga saat penerbangan hanya tersisa tujuh puluh dua menit. Aku mungkin akan bercerita tentang satu hal lagi sebelum mengakhiri surat-pertamaku-untukmu-sejak-kita-berpisah ini.

Sesungguhnya, aku sudah ingin mengemukakan hal ini padamu sejak lama. Atau mungkin, lebih tepatnya, mengajakmu bicara soal hal ini. Seperti yang kubahas di awal-awal tadi, hubunganku dengan adikku mencapai titik terendahnya saat aku mengikutimu ke negeri ini. Interaksi dan ikatan kami berakhir di titik itu. Dan aku, meskipun pada awalnya sempat begitu memikirkannya, kenyataannya bisa melanjutkan hidupku tanpa terbebani atau terganggu oleh hal itu. Aku hidup dan hari-hariku baik-baik saja. Seolah-olah, terputus atau tidaknya interaksi dan ikatan kami sama sekali tak memberikan pengaruh terhadap hari-hariku setelahnya.

Jauh sebelum kita berpacaran, aku pernah menjalin hubungan intim dengan tiga lelaki—tentunya dalam kurun waktu yang berbeda. Dua tahun. Atau bahkan satu setengah tahun. Itulah rentang waktu tiga hubungan tersebut. Dengan mudahnya aku berpisah dengan lelaki pertama dan begitu juga dengan lelaki kedua dan lelaki ketiga. Rasa sakit? Rasa sedih? Pastinya ada. Pastinya benar-benar ada. Tapi aku tidak terlarut dan terjebak di dalamnya. Hari demi hari berganti dan aku semakin melepaskan diri dari keadaan negatif itu. Hari demi hari terus berganti, dan aku seolah-olah tak pernah menjalani hubungan intim tadi atau merasa sedih karenanya.

Sekilas mungkin hal ini terdengar baik. Apa pun yang kualami, seburuk apa pun itu, aku pada akhirnya akan terbebas darinya (dan bahkan melupakannya) dan melanjutkan hidupku. Ini seperti sebuah tanda bahwa aku seseorang yang kuat. Sebuah parameter yang dominan. Tapi apakah benar begitu? Bagaimana kalau justru sebaliknya? Bagaimana kalau ternyata itu adalah sesuatu yang buruk dan aku akan menyadarinya suatu hari kelak?

Jika kutelusuri jauh ke belakang, aku menjadi seperti itu agaknya dikarenakan sesuatu teramat buruk yang dulu kualami. Ini masih soal hubungan percintaan. Lelaki itu adalah orang yang kusukai sejak tahun pertama di universitas. Ketika ia akhirnya memintaku menjadi pacarnya, aku begitu senang, dan setelahnya kami menjalani hari-hari penuh kebahagiaan. Ia orang yang baik, juga santun, dan ceria. Hubungan kami bertahan bertahun-tahun. Bahkan ketika aku sudah lulus dari universitas dan bekerja di sebuah penerbitan pun, hubungan itu masih bertahan. Kelak ketika aku mengetahui ia terlibat dalam sebuah pembunuhan aku begitu terkejut dan meninggalkannya.

Kalau tidak salah, korban pembunuhan itu adalah seorang perempuan berusia tiga puluh dua tahun; seorang karyawan sebuah perusahaan periklanan. Aku tak tahu bagaimana perempuan itu bisa sampai terhubung dengan pacarku, apakah lewat situs kencan atau apa. Yang jelas, mereka bertemu di lapangan parkir sebuah department store, pada malam hari, dan setelah terjadi adu mulut pacarku menarik perempuan itu ke dalam mobil dan di situlah ia kemudian mencekik perempuan itu hingga mati. Kepada polisi, juga di persidangan, pacarku bersikeras mengatakan bahwa ia menyesali perbuatannya. Motifnya murni kecemburuan dan kemarahan (yang berlebih). Di saat mulai mencekik si perempuan, ia dalam keadaan menyetubuhinya-dengan-pemaksaan.

Untuk seseorang yang kukenal begitu baik, peristiwa ini terlalu gila, dan karenanya terdengar tak masuk akal, yang karena itu aku tak memercayainya dan mati-matian mengingkarinya. Tapi penyelidikan dan persidangan bagaimanapun membuktikan kebenarannya, dan pacarku sendiri tak berusaha mengelak. Tidak sedikit pun. Kepadaku ia hanya mengatakan satu hal: “Maaf.” Aku mengamatinya (raut mukanya, bahasa tubuhnya, cara bicaranya) selama di persidangan dan aku bersumpah ia bukan sosok yang selama bertahun-tahun itu aku kenal.

Pacarku mendekam di penjara, dan aku memutuskan untuk meninggalkannya. Tidak sekali pun aku menjenguknya. Tidak sekali pun aku menulis surat untuknya atau meneleponnya. Nomornya kuhapus dari daftar kontak. Setiap benda pemberiannya kukumpulkan dan kubuang begitu saja. Tiga hari, lima hari, dan aku tak menangis. Tidak setetes pun. Tapi entah kenapa aku merasa hampa, kosong, dan jauh dari kata lega. Aku bahkan tak bisa memastikan apakah saat itu aku benar-benar melanjutkan hidupku atau tidak.

Satu hal begitu mengusikku saat itu, yakni kenyataan bahwa aku tidak benar-benar mengenal kekasihku sendiri, seseorang yang telanjur kuanggap sebagai bagian dari diriku. Sampai hari pembunuhan itu terjadi, kami masih berinteraksi sebagaimana biasanya. Dua hari sebelumnya, kami bahkan bercinta, di kamar apartemenku. Keterangan-keterangan yang tertera di sejumlah berita menegaskan bahwa pacarku dan perempuan itu sudah saling mengenal sejak lama, dan bahwa kedekatan mereka tidaklah biasa-biasa saja. Dan aku pun jadi berpikir: jangan-jangan ketika ia bercinta denganku itu ia sesungguhnya baru saja bercinta dengan perempuan itu atau sebaliknya.

Aku sempat mengambil cuti gara-gara hal ini. Dari pagi hingga sore, aku tak keluar kamar dan hanya berbaring di kasur sambil menonton televisi. Berita tentang pembunuhan itu, dua-tiga kali muncul, dan aku seperti terpaksa menyimaknya dengan saksama. Di satu berita salah satu keluarga korban mengatakan hukuman yang dijatuhkan kepada pacarku kurang berat. Menurutnya, lelaki bejat seperti pacarku harusnya dihukum mati saja.

Ketika berusaha menenangkan diri seperti itu, aku justru dihinggapi rasa bersalah, rasa sakit, rasa takut, dan rasa-rasa negatif lainnya. Malam harinya, meski sungguh lapar, aku mencukupkan diri dengan menyeduh cup-noodle, dan selanjutnya membenamkan diri dalam selimut, dan berusaha tidur. Tapi aku tak bisa tidur. Sampai pagi tiba, aku tak bisa tidur. Aku pun dengan sendirinya memikirkan berbagai hal soal pembunuhan yang dilakukan pacarku itu, termasuk soal bagaimana aku bisa tak mencium perselingkuhannya dengan korban, yang bisa jadi sudah berjalan selama tiga bulan, atau tujuh bulan, atau sebelas bulan. Merasa penat, aku akhirnya ke kamar mandi, berendam. Di sanalah aku menyadari (dan mengakui) betapa menyedihkannya sesungguhnya aku saat itu. Akulah memang yang meninggalkan lelaki itu, tetapi bisa jadi, ia sudah terlebih dahulu meninggalkanku jauh sebelum itu. Jauh, sebelum itu.

Berbekal pengalaman ini aku mengubah cara pandangku terhadap hidupku, juga diriku. Jika ada seseorang yang benar-benar istimewa dalam hidupku ini, yang pantas kuperlakukan dengan istimewa, itu adalah aku, diriku sendiri. Orang-orang lain bagaimanapun bisa mengecewakanku, dan mereka akan mengecewakanku. Hanya diriku sendirilah yang tak akan mengecewakanku. Dan begitulah, ketika lama setelah itu aku kemudian bertemu orang-orang baru, aku tak menilai meninggalkan/ditinggalkan mereka adalah sesuatu yang pelik. Dan karena itulah, ketika aku pertama kali berhadapan dengan ceritamu yang kubahas tadi itu, aku seketika menyukainya.
 

/7/

Izinkan aku bercerita tentang satu hal lagi. Tak perlu khawatir soal penerbanganku. Waktu masih ada dan aku merasa hanya saat inilah aku bisa mengemukakannya padamu.

Adikku, mulai memberiku perhatian dan memperlakukanku dengan hangat kira-kira satu bulan setelah pembunuhan itu. Sebelumnya, meskipun hubungan kami baik-baik saja, dalam arti tak ada pertengkaran atau perselisihan, kami sama sekali tidak dekat, bahkan tidak akrab. Kami seperti sepasang telur yang dikeluarkan induk ayam yang sama namun berbeda dalam warna dan bahkan corak, dan bahkan isi. Semasa kecil pun kami tak banyak menghabiskan waktu bersama-sama (baca: bermain dan bersenang-senang bersama). Aku ingat pernah mengamati album foto keluarga dan mendapati sedikit sekali foto yang menghadirkan aku dan ia secara bersamaan.

Kala itu adikku meneleponku di jam makan siang dan aku mengangkatnya tanpa ekspektasi apa pun. Dugaanku, ia hanya akan menanyakan hal-hal trivial soal keluarga, soal ayah dan ibu dan semacamnya. Tak pernah terlintas di benakku bahwa adikku akan mengajakku bicara tentang keterlibatan pacarku dalam pembunuhan itu dan kondisi kejiwaanku setelahnya.

“Kamu tahu, apa yang sedang kamu alami ini bisa jadi sebuah titik tolak, sebuah batu pijakan, sebuah awal dari fase hidupmu selanjutnya,” ujar adikku, setelah ia puas—atau justru bosan?—menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan seputar pembunuhan itu. “Aku pernah mengalami sesuatu semacam itu, dulu, yakni saat seseorang yang kucintai mengajakku bunuh diri dengan cara melompat dari atap sebuah losmen. Aku menolaknya, dan membujuknya untuk mengenyahkan pikiran bunuh diri. Pada saat itu aku berhasil. Sayangnya tiga hari kemudian ia benar-benar mencoba bunuh diri dengan cara seperti itu, dan ia mati. Peristiwa itu terjadi di sekolah saat jam istirahat dan aku sempat melihat kelebat sosoknya yang meluncur cepat di balik jendela.

“Bagaimana pikiran sinting itu bisa sampai terbit di benaknya, itu bermula dari berubah buruknya perlakuan ayahnya suatu hari. Ia seorang piatu, dan ia hanya hidup berdua saja dengan ayahnya itu. Praktis, perubahan tersebut membuatnya kehilangan rasa nyaman, rasa aman, gairah, bahkan alasan untuk terus hidup. Aku tak tahu apakah ia melebih-lebihkan tapi ia bilang ayahnya itu beberapa kali melakukan pelecehan seksual terhadapnya. Dan sewaktu-waktu, lelaki itu konon memanggilnya dengan nama yang asing; nama seorang perempuan, tapi bukan yang berasal dari negeri ini.”

Aku sama sekali tak menduga adikku akan menceritakan sesuatu segelap itu kepadaku, dan ia menceritakannya di percakapan pertama kami yang benar-benar percakapan. Sosok yang dimaksudkannya itu, adalah teman kencannya, teman belajarnya, teman tidurnya. (Aku baru ngeh saat itu kalau adikku lesbian.) Ia selanjutnya melontarkan sebuah kalimat yang agaknya adalah nasihat, atau lebih tepatnya peringatan: “Waspadalah selalu dengan orang-orang beragama dan pastikan kamu tak jatuh cinta pada salah satu dari mereka.” Teman kencannya itu rupanya mencari tahu penyebab berubahnya perlakuan ayahnya dan ia meyakini itu dikarenakan ayahnya itu gagal memperistri seorang perempuan yang kepadanya ia telah memberikan sejumlah banyak hal—termasuk uang dan benda-benda berharga. Perempuan itu, memeluk suatu agama, dan pada akhirnya ia menjadikan hal ini sebuah alasan mutlak yang membuatnya menghancurkan impian si lelaki—perempuan itu tiba-tiba mewajibkan si lelaki untuk menjadi orang beragama sebagai syarat dari penerimaannya. Tak lama kemudian, perempuan ini pulang ke negeri asalnya, begitu saja, tanpa meninggalkan apa pun selain sebuah surat-tulisan-tangan yang isinya hanya sebentuk apologia yang ditutup dengan pengakuan bahwa ia sejak awal tak pernah berniat menikah dengannya.

Mengapa aku menceritakannya di sini? Itu untuk membantumu memahami dua hal. Pertama, reaksi atau sikap atau pilihan yang diambilnya atas pernikahan kita adalah sesuatu yang wajar; ia memiliki motif yang kuat dan kita tak bisa menyangkalnya. Kedua, percakapan yang benar-benar percakapan itu merupa sebuah garis start dari berubahnya wujud interaksi kami sebagai kakak-adik; ia jadi sangat memperhatikanku, dan aku membalas perhatiannya itu. Maka kini kamu pun bisa dengan mudah membayangkan betapa kecewa dan marahnya ia saat aku akhirnya bertolak ke negeri ini, dalam rangka membina rumah tangga denganmu. Pada saat itu aku mungkin tengah memasuki fase hidupku yang lainnya. Aku “melupakan” adikku seperti halnya aku “melupakan” pacar pertamaku itu. Dan ketika kita akhirnya bercerai, di mana di situ aku mungkin sedang memasuki fase hidupku yang lainnya lagi, aku pun sepertinya “melupakanmu” sebagaimana halnya aku “melupakan” mereka.
 

/8/

Pertanyaannya kini adalah: apakah aku baik-baik saja? Atau, lebih tepatnya: apakah aku normal-normal saja? Kubayangkan suatu saat nanti aku memasuki sebuah fase lainnya dari hidupku dan ketika fase ini kemudian berakhir aku kembali melupakan bahwa fase tersebut pernah ada, bahwa aku pernah berada di dalamnya dan terlarut di sana, dan menikmatinya. Baik untukku, sebab dengan begitu aku bisa terus hidup dan terus hidup. Barangkali begitu. Tetapi benarkah, seseorang sepertiku, seseorang yang mudah melupakan apa yang pernah ada, seseorang yang bisa mengeluarkan diri dari krisis tanpa perlu berdarah-darah, seseorang yang menganggap meninggalkan seseorang (dan sebuah titik) bukanlah sesuatu yang pelik, terus hidup? Bagaimana seandainya hidupku ternyata sudah terhenti, sejak lama?
 

/9/

Ketika kita meninggalkan seseorang, kita sesungguhnya meninggalkan diri kita yang telanjur menyatu bersama seseorang itu. Kita pergi, namun kita bukan hanya meninggalkan, melainkan juga kehilangan. Kita kehilangan sebagian dari diri kita dan karenanya kita menjadi diri kita yang lain, yang tidak lagi persis sama, atau bahkan jauh berbeda. Kita mungkin mengira pada apa yang kita lakukan itu kita adalah subjek, bukannya objek. Namun kita keliru. Bisa jadi kita memang subjek, namun di saat yang sama kita adalah objek. Kita baru menyadarinya setelah kita melakukannya sekian kali dan kita mendapati diri-kita-saat-ini tidaklah sama dengan diri-kita-sebelum-kita-melakukannya.

Maafkan aku menuliskannya lagi, dan maafkan aku meragukannya di sini. Barangkali saat aku meninggalkan pacar pertamaku yang terlibat pembunuhan itu, apa yang kamu katakan itu benar. Aku bisa merasakannya. Tapi saat aku meninggalkan pacar-pacarku setelahnya, juga saat aku meninggalkan adikku (dan kemudian dirimu), apa yang kurasakan sedikit berbeda—atau mungkin jauh berbeda. Alih-alih meninggalkan diriku yang telanjur menyatu dengan mereka, aku justru merelakan diriku yang telanjur menyatu itu. Meninggalkan, bukan merelakan. Aku menyadari hal itu dan aku (tetap) melakukannya. Dalam situasi ini, kamu tak bisa menyebutku kehilangan, sebab aku yang melepaskan, sebab aku yang merelakan. Bahwa setelahnya aku menjadi diriku yang baru dan berbeda itu mungkin benar. Tapi satu hal: bagaimana aku menyikapi hal ini membuatku tak memiliki alasan untuk terjebak di masa lalu atau tergerak untuk menyambangi masa lalu dan “menyelesaikan yang belum selesai”. Aku berada pada posisi berdiri yang berbeda dengan si tokoh utama dalam ceritamu itu.
 

/10/

Natal tahun ini aku akan berada di negeri asalku, menikmati musim dingin, menikmati kota yang ramai dan penuh warna merah dan penuh cahaya, menikmati malam yang seolah-olah lebih panjang dan lebih lapang, menikmati kehangatan yang meruap dari pasangan-pasangan yang berlalu-lalang di sepanjang trotoar. Ini akan menjadi kepulangan pertamaku dalam empat tahun. Terakhir kali aku pulang, menemui ayah-ibuku, kala itu kamu menemaniku, dan kita sempat mengalami malam yang penuh gerak dan penuh bunyi di sebuah penginapan murah di dekat stasiun. Adikku tak menunjukkan batang hidungnya, bahkan tak mencoba menghubungiku, namun itu tak menggangguku; sampai aku kembali menginjakkan kaki di negeri ini aku tak sedikit pun memikirkannya dan semua baik-baik saja. Kali ini, tentunya berbeda. Aku dan adikku akan bertemu dan kami akan mengobrol selama berjam-jam, mungkin di bar, atau di taman, atau di tempat rekreasi. Harus kuakui aku antusias. Mungkin benar dugaanku bahwa aku sedang akan memasuki fase lain dalam hidupku. Sebuah fase lain yang (semoga) lebih baik dan lebih “terang” dari yang sudah-sudah.

Kamu sendiri bagaimana? Kamu tentu tak akan merayakan Natal sebab perempuan yang bersamamu kini satu agama denganmu dan lahir serta tumbuh-besar di negeri ini. Ketika kita masih bersama-sama pun, kamu tak merayakan Natal, kecuali sebelum kita menikah. Mungkin ini akan terdengar cengeng nan melankolis tapi saat ini aku ingin sekali melihatmu, dan mendengar suaramu, dan menyerap tatapan lembut matamu, dan membiarkan jari-jarimu mengusap-sentuh bibir basahku. Kalau kamu mau menghampiriku di mimpiku nanti, aku tak akan keberatan dan malah mensyukurinya.

Aku harap suratku ini tak mengusikmu. Aku berdoa untuk kebahagiaanmu meski sejujurnya aku tahu persis itu sama sekali tak ada kaitannya denganku dan tak akan memberikan pengaruh terhadap hidupku. Terima kasih sudah bersabar dan membaca suratku ini sampai selesai. Maaf jika ternyata terlalu panjang.(*)
 

Dramaga-Bojongpicung, 14-16 Desember 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s