Diproteksi: Pertemuan Kesekian

Tidak ada kutipan karena ini adalah pos yang dilindungi password. Lanjutkan membaca Diproteksi: Pertemuan Kesekian

Iklan

Kejadian-kejadian pada Layar*

—untuk Avianti Armand SEBUAH layar. Sebuah biru yang dominan. Di sudut kanan agak ke bawah, sesosok lelaki. Ada benda-benda serupa burung lamat beterbangan dari kanan tengah ke kiri atas, dari sebentuk rimbun pohon dengan daun-daun gemuk menuju semacam langit yang masih hampa. Hanya ada kepak yang gamak. Lelaki itu mendengkur. Seseorang di sampingnya, sesosok perempuan, serupa perempuan, mengatur desah napasnya untuk tak mengendap jadi mimpi … Lanjutkan membaca Kejadian-kejadian pada Layar*

Congklak*

SEMUA ini bermula dari permintaan istriku yang tak masuk akal suatu malam. Ia membangunkanku pada suatu dini hari, dan seolah-olah sesuatu yang buruk baru saja terjadi, ia menggoyang-goyangkan tubuhku memaksaku membuka mata dan meresponnya. “Ada apa?” tanyaku, separuh malas. Alih-alih langsung menjawabnya, ia memintaku untuk benar-benar membuka mata dan bangkit terduduk. Sedikit kesal, aku melakukan apa yang dimintanya itu. Apa yang dikatakannya kemudian sungguh membuatku … Lanjutkan membaca Congklak*

Seseorang yang Mengamati Dirinya Sendiri di Masa Depan*

LELAKI itu baru saja masuk ke sebuah restoran di Jalan Pajajaran dan ia melihat perempuan itu telah menunggu di sana dan menyambut tatapan lelaki itu dengan senyuman. “Sudah lama?” Barangkali itulah yang diucapkan lelaki itu sebelum ia sampai di meja itu dan mereka pun saling melepas seringai yang lebih terkesan hangat ketimbang dingin. “Tidak juga.” Barangkali itulah jawaban perempuan itu. Sepasang kekasih itu kemudian terlibat … Lanjutkan membaca Seseorang yang Mengamati Dirinya Sendiri di Masa Depan*

Seorang Lelaki dan Sebuah Cermin*

IA tak habis pikir bagaimana bisa cermin itu terpasang utuh di dinding kamarnya padahal ia baru saja memecahkannya beberapa jam sebelumnya. Ia ingat, pecahan-pecahan cermin itu berserakan di lantai kamarnya, membuatnya menyesali apa yang dilakukannya itu sebab ia harus mengumpulkan dan membuang pecahan-pecahan cermin itu dan karena itulah ia sedikit terlambat menjemput pacarnya dan karenanya perempuan itu memarahinya. Selain itu, telunjuk tangan kanannya pun terluka … Lanjutkan membaca Seorang Lelaki dan Sebuah Cermin*

Orang-orang yang Setia*

AKU menggeliat mengeluarkan suara manja, dan seperti biasa, ia tak menoleh. Aku pun bangkit. Kubiarkan selimut yang semula menempel di dada akhirnya terjatuh. Dingin memang. Tapi itu justru memberiku cukup alasan untuk bersegera merangkak mendekatinya dan menekankan payudaraku ke punggungnya. “Sudah terbangun cukup lama?” tanyaku. Ia masih saja tak menghiraukanku dan tampak serius menatap layar laptopnya yang penuh sesak oleh kata-kata. Aku dan lelaki ini … Lanjutkan membaca Orang-orang yang Setia*